Ketika Kesalehan Anak Berawal dari Kesalehan Orang Tua

Ada satu kisah dalam Al-Qur’an yang barangkali tidak pernah selesai kita kagumi, kisah Nabi Ismail as. ketika harus berhadapan dengan sebuah ujian yang bagi kebanyakan manusia terasa begitu berat. Bayangkan seorang anak menerima kabar dari ayahnya bahwa dirinya akan menjalani sebuah perintah Allah yang sangat besar. Namun yang keluar bukanlah protes, kemarahan, atau penolakan. Justru sebuah kalimat yang menunjukkan kedalaman iman: “…Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (Q.S. Ash-Shaffat: 102).

Kita mungkin bertanya-tanya, dari mana lahir ketaatan sedalam itu?. Jawabannya barangkali bukan semata-mata karena Ismail adalah anak yang istimewa. Di balik keteguhan seorang anak, ada rumah yang sejak awal memperkenalkan makna ketundukan kepada Allah. Sebelum Ismail belajar taat kepada Allah, ayahnya, Nabi Ibrahim as., telah lebih dahulu menjalani jalan ketaatan. Allah berfirman: “(Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (Q.S. Al-Baqarah: 124)

Ketaatan Ibrahim bukanlah satu peristiwa. Ia adalah perjalanan panjang, ia taat ketika harus meninggalkan kaumnya. Ia tetap teguh ketika dilemparkan ke dalam api. Ia bersedia meninggalkan keluarganya di lembah yang tandus. Dan ketika datang ujian yang menyentuh sesuatu yang paling dicintainya, ia pun belajar kembali bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segala cinta.

Maka, ketika kita melihat keteguhan Ismail, sesungguhnya kita sedang menyaksikan buah dari sebuah proses pendidikan yang panjang. Sebelum anak belajar taat, orang tua belajar berserah, kisah itu tidak berhenti pada Ibrahim. Ada sosok lain yang tak kalah menggetarkan, Ibunda Hajar. Ketika Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di sebuah lembah yang tidak berpenghuni. Allah berfirman:

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya (dan berada) di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim: 37)

Hajar mengejarnya dan bertanya apakah Allah yang memerintahkan semua itu. Ketika Ibrahim mengisyaratkan bahwa demikianlah perintah Allah, Hajar tidak lagi memperpanjang keluhannya. Ia berkata:

فَقالَتْ: يا إبْرَاهِيمُ، أَيْنَ تَذْهَبُ وتَتْرُكُنَا بهذا الوَادِي الَّذي ليسَ فيه إنْسٌ ولَا شَيءٌ؟ فَقالَتْ له ذلكَ مِرَارًا، وجَعَلَ لا يَلْتَفِتُ إلَيْهَا، فَقالَتْ له: آللَّهُ الَّذي أَمَرَكَ بهذا؟ قالَ: نَعَمْ، قالَتْ: إذَنْ لا يُضَيِّعُنَا

“Wahai Ibrahim. Mau kemana kau pergi, meninggalkan kami di lembah ini di mana tak ada siapa-siapa atau apa pun di sekitar (tanah tandus)?” Dia berulang kali bertanya padanya, tapi dia tidak menoleh (untuk menjawab). Dia kemudian bertanya kepadanya: “Apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan itu?” Dia berkata: “Ya.” Dia berkata: “Maka Dia tidak akan meninggalkan kita (untuk hilang).” (H.R Bukhari)

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kekuatan iman yang luar biasa. Hajar tidak sedang mengatakan bahwa keadaan itu mudah. Ia hanya memilih untuk percaya bahwa di balik sesuatu yang sulit dipahami manusia, ada hikmah dan penjagaan Allah. Dari rumah seperti inilah kemudian tumbuh Ismail. Karena itu, tidak mengherankan apabila Al-Qur’an beberapa kali memperlihatkan keterkaitan antara kesalehan orang tua dan kebaikan yang Allah hadirkan bagi anak. Dalam kisah perjalanan Nabi Musa as., misalnya, Allah menjelaskan tentang sebuah harta yang dijaga untuk dua anak yatim:

“…Dan ayah mereka adalah seorang yang saleh…” (QS. Al-Kahfi: 82)

Para ulama sejak dahulu telah banyak mengingatkan bahwa kesalehan orang tua dapat menjadi sebab hadirnya penjagaan dan keberkahan Allah bagi keturunannya. Maka, ketika kita berharap anak menjadi baik, pertanyaan pertama mungkin bukan, “Bagaimana membuat anak saya berubah?”Melainkan, “Perubahan apa yang harus saya mulai dari diri saya?”

Jangan Hanya Bertanya Apa yang Didapat Anak dari Pesantren
Ada orang tua yang gelisah ketika melihat anaknya mulai sulit diarahkan. Sudah dinasihati, masih membantah. Sudah diajak beribadah, masih berat. Sudah masuk pesantren, tetapi ketika pulang sikapnya belum seperti yang diharapkan. Lalu muncul pertanyaan, “Mengapa anak saya belum berubah? Bukankah dia sudah mondok?”

Pertanyaan itu wajar. Tetapi mungkin ada satu pertanyaan lain yang juga perlu kita hadirkan, “Selama anak saya mondok, apakah saya sebagai orang tua juga ikut bertumbuh?”. Inilah pertanyaan yang lebih dalam. Sebab pendidikan anak bukan pekerjaan yang bisa diserahkan seluruhnya kepada pesantren. Pesantren mendidik, guru membimbing, bapak asuh/musyrif, ibu asuh/musyrifah mendampingi, lingkungan membentuk. Tetapi rumah tetap menjadi ruang pendidikan yang sangat menentukan.

Jangan sampai kita berharap pesantren melahirkan anak yang santun, sementara di rumah anak lebih sering mendengar bentakan. Jangan berharap anak belajar menghormati orang lain, sementara ia menyaksikan orang tuanya mudah merendahkan. Jangan berharap anak rajin beribadah, sementara ia jarang melihat orang tuanya bersungguh-sungguh dalam ibadah.

Dan jangan hanya menanyakan kepada anak, “Kamu sudah berubah belum?” Sesekali, mungkin lebih baik kita bertanya kepada diri sendiri, “Sejak anakku mondok, apakah aku menjadi orang tua yang lebih dekat kepada Allah?”

Pesantren Bukan Pabrik Anak Saleh
Pesantren bukan pabrik yang menerima bahan mentah lalu beberapa tahun kemudian mengeluarkan produk bernama “anak saleh”. Pesantren juga bukan bengkel tempat anak yang dianggap bermasalah ditinggalkan agar diperbaiki. Ia pun bukan laundry yang bertugas mencuci seluruh “kotoran” pendidikan dari rumah. Pesantren adalah ruang proses.

Di sana anak belajar. Jatuh, bangkit, salah, memperbaiki diri, mencoba lagi, belajar hidup bersama, mengenal disiplin, memahami tanggung jawab, dan perlahan membangun karakter. Bahkan pendidikan para nabi pun berlangsung dalam proses yang panjang. Perhatikan doa Nabi Ibrahim: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat...” (Q.S. Ibrahim: 40).

Ada sesuatu yang sangat menarik dalam doa tersebut. Ibrahim tidak langsung berkata, “Ya Allah, jadikan anakku saleh.” Ia memulai dengan, “Jadikanlah aku…”. Seolah-olah Al-Qur’an sedang mengajarkan kepada kita bahwa pendidikan anak sering kali harus dimulai dari kesediaan orang tua untuk mendidik dirinya sendiri.

Anak Membawa Dua Dunia
Tidak sedikit anak yang ketika berada di pesantren tampak tertib, sopan kepada guru, menghormati musyrif/musrifah, bapak/ibu asuh, mampu mengikuti aturan, dan menjaga adab. Namun ketika kembali ke rumah, perilakunya berubah. Mengapa? Salah satu jawabannya adalah karena rumah bukan sekadar tempat anak tinggal. Rumah adalah lingkungan emosional yang paling dekat dengan dirinya.

Di pesantren, ia mungkin bertemu aturan. Tetapi di rumah, ia bertemu dengan suasana hati, cara bicara, kebiasaan, dan hubungan emosional orang-orang yang paling ia cintai.

Jika komunikasi di rumah lebih banyak diwarnai bentakan, celaan, ancaman, atau perbandingan dengan anak lain, anak bisa belajar bahwa hubungan berarti tekanan. Ia mungkin menjadi defensif, keras, atau memilih menutup diri. Ini bukan ajakan untuk menyalahkan orang tua. Ini adalah ajakan untuk bercermin bersama. Sebab tidak ada orang tua yang sempurna. Yang ada adalah orang tua yang mau terus belajar.

Anak Belajar Taat dari Apa yang Ia Saksikan
Ada pelajaran yang sering terlupakan dalam pendidikan anak, keteladanan berbicara jauh sebelum nasihat. Anak tidak hanya mendengarkan bagaimana kita mengajarkan adab. Ia memperhatikan bagaimana kita menjalani adab itu. Ia melihat bagaimana ayah berbicara kepada kakek dan neneknya. Ia memperhatikan bagaimana ibu memperlakukan orang tuanya. Ia menyaksikan bagaimana ayah dan ibu menyelesaikan perbedaan. Ia melihat bagaimana orang tua meminta maaf ketika salah. Ia menyaksikan apakah ibadah hanya menjadi perintah untuk dirinya, atau memang menjadi kebutuhan bagi orang tuanya.

Karena itu, terkadang pendidikan terbaik bukanlah menambah panjang nasihat, tetapi memperbanyak contoh nyata. Barangkali anak tidak selalu mengingat kalimat-kalimat panjang yang kita sampaikan. Tetapi ia akan mengingat bagaimana ayahnya memperlakukan ibunya, bagaimana ibunya menghormati orang tua, bagaimana keluarganya menghadapi masalah, dan bagaimana rumah itu menghadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Mari Mencari “Ismail” di Dalam Diri Kita
Kisah Ismail bukan sekadar kisah tentang seorang anak yang luar biasa taat. Ia adalah cermin bagi keluarga. Jika kita mendambakan anak yang dekat dengan Allah, mungkin kita perlu bertanya seberapa dekat kita dengan-Nya. Jika kita ingin anak menghormati orang tua, mari kita tunjukkan kepadanya bagaimana menghormati orang tua. Jika kita ingin anak menjaga lisannya, mari kita periksa terlebih dahulu bagaimana lisan kita berbicara kepadanya. Jika kita ingin anak memiliki kesabaran, mari kita hadirkan kesabaran itu dalam cara kita mendidiknya. Dan jika kita ingin pesantren membantu melahirkan generasi yang beriman, beradab, dan berkarakter, mari kita jadikan rumah sebagai tempat pertama yang menyemai nilai-nilai tersebut.

Sebab pada akhirnya, pendidikan anak bukan hanya tentang ke mana kita mengirimnya, tetapi juga tentang siapa yang ia lihat setiap hari ketika ia pulang. Mungkin inilah salah satu hikmah terbesar dari kisah Ibrahim, Hajar, dan Ismail. Anak yang saleh tidak lahir hanya dari nasihat yang baik. Ia tumbuh dari lingkungan yang baik, doa yang tidak putus, proses yang panjang, dan terutama keteladanan orang tua yang terlebih dahulu berusaha menjadi baik.

Maka sebelum kita bertanya, “Mengapa anak saya belum seperti Ismail?” Barangkali Allah sedang mengajak kita bertanya lebih dalam, “Sudahkah aku belajar menjadi Ibrahim?”, “Sudahkah aku belajar menjadi Hajar?”. Karena boleh jadi, jalan menuju anak yang lebih baik tidak selalu dimulai dengan memperbaiki anak. Bisa jadi, ia dimulai ketika orang tua berani memperbaiki dirinya sendiri.

Sumber Bacaan

Al-Faruq, Abu Abdurrahman. 2020. Cara Nabi SAW Mendidik Anak Laki-Laki. Yogyakarta: Pro U-Media.
Al-Ghazali. 2011. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Diterjemahkan oleh Ibnu Ibrahim Ba’adillah. Jakarta: Republika.
al-Nawawī, Abū Zakariyyā Yaḥyā bin Syaraf. 1431 H. Al-Arba’īn al-Nawawiyyah. Suriah: Dār al-Ghautsānī.
An-Nawawi, Imam. 2013. Terjemah Riyadhus Shalihin (Jilid 2). Jakarta: Pustaka Amani.
Az-Zarnūjī, Burhān al-Dīn. 2009. Ta’lim al-Muta’allim. Diterjemahkan oleh Abdul Kadir Aljufri. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Covey, Stephen R. 2013. 7 Kebiasaan Orang yang Sangat Efektif: 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Edisi Revisi. Tangerang Selatan: Penerbit Binarupa Aksara.
Huda, N., dan M. Hamim. 2018. Mondok sebagai Potret Cinta Tanah Air. Kediri: Santri Salaf Press.
Kasturi, Taufik, dan Faza Izzudin Nuha. 2026. Psikologi Pengasuhan di Pesantren dan Sekolah Berasrama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an Kemenag. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2024. Tujuh Karakter Pengasuh Pesantren. Solo: Penerbit DEA.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2025. Musyrif Teladan. Solo: Penerbit DEA.
Nawawi, Imam. 2018. Adabul ‘alim wal muta’allim. Diterjemahkan oleh Hijrian A. Prihantoro. Yogyakarta: Diva Press.
Rajasam, Wahab. 2023. Enam Bekal bagi Pendidik dan Pengasuh. Bekasi: Khazanah Fawaid.
‘Ulwan, Abdullah Nashih. 2020. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Diterjemahkan oleh Arif Rahman Hakim. Sukoharjo: Insan Kamil.
Yoga, Miarti. 2018. Adversity Quotient: Agar Anak Tak Gampang Menyerah. Solo: Tiga Serangkai.
Zakaria, M. 2023. Kitab Pengasuhan: Pesantren Cahaya, Tanpa Marah, Tanpa Hukuman, Tanpa Bullying, Pesantrenku Surgaku. Belitung: Maktabah Fajrul Islam.