Ketika Anak Berkata, “Aku Tidak Betah di Pesantren”: Memahami Adaptasi, Bukan Tergesa Menjemput Pulang


Kalimat “Aku tidak betah di pesantren” mungkin menjadi salah satu kalimat yang paling menggetarkan hati orang tua. Ada orang tua yang mendengar ungkapan itu dan langsung merasakan sesak di dada. Tidak sedikit yang kemudian dihantui pertanyaan, “Apakah kami salah memilih pesantren?, Apakah anak kami belum siap?, Ataukah lingkungan pesantrennya memang kurang baik?”

Padahal, dalam banyak kasus, rasa tidak betah justru merupakan bagian yang sangat wajar dari sebuah proses bertumbuh. Perasaan itu tidak selalu menunjukkan adanya kesalahan dalam memilih lembaga pendidikan, tidak pula menandakan kelemahan mental anak, apalagi menjadi bukti bahwa pesantren yang dipilih tidak berkualitas. Sering kali, itu hanyalah bahasa lain dari sebuah fase adaptasi.

Coba bayangkan kehidupan seorang anak sebelum memasuki pesantren. Rumah telah menjadi pelabuhan paling aman dalam perjalanan hidupnya. Di setiap sudutnya, terukir kenangan tentang kasih sayang yang selalu siap menyambut, melindungi, dan menenangkan. Banyak kebutuhan telah dipersiapkan oleh orang tua. Saat menghadapi kesulitan, selalu ada ayah atau ibu yang siap membantu. Ketika melakukan kesalahan, ada keluarga yang menjadi tempat berlindung. Rumah adalah ruang yang penuh kenyamanan sekaligus zona aman. Lalu, dalam waktu yang relatif singkat, seluruh pola kehidupan itu berubah.

Ia harus belajar mengurus dirinya sendiri. Teman-temannya adalah orang-orang yang sebelumnya tidak pernah dikenal. Kamar tidur kini dihuni bersama banyak orang dengan karakter yang berbeda. Jadwal harian menjadi lebih disiplin dan teratur. Waktu bangun lebih pagi, aktivitas berlangsung hampir sepanjang hari, kesempatan menyendiri jauh lebih sedikit, bahkan menu makanan pun tidak lagi dapat dipilih sesuka hati.

Perubahan sebesar itu tentu bukan sesuatu yang ringan bagi seorang anak. Apalagi jika sebelumnya ia terbiasa hidup dengan gawai di tangan, bebas memainkan telepon pintar, menonton video, berselancar di media sosial, atau menghabiskan waktu dengan permainan digital. Ketika semua kebiasaan itu mendadak dibatasi bahkan dihentikan, otak dan emosinya membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Adversity Quotient: Ketika Ketahanan Diuji
Di sinilah kita perlu menyelami sebuah konsep yang sangat relevan yaitu Adversity Quotient (AQ) yang dipopulerkan oleh Paul G. Stoltz, PhD. Dalam bukunya yang monumental, Stoltz mendefinisikan AQ sebagai kecakapan seseorang dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan, sebuah ukuran tentang seberapa kuat seseorang bertahan ketika badai kehidupan menerpa. Beliau membagi manusia ke dalam tiga kelompok berdasarkan responsnya terhadap kesulitan: quitters (yang mudah menyerah), campers (yang berhenti di tengah jalan), dan climbers (para pendaki sejati yang terus melangkah meski jalannya terjal).

Yang menarik, Stoltz menegaskan bahwa AQ adalah kapasitas yang bisa dilatih, dibangun, dan ditingkatkan, terutama pada masa-masa formatif seperti remaja. Dan pesantren, dengan segala dinamikanya, adalah laboratorium paling ideal untuk melatih AQ seorang anak. Mengapa? Karena di pesantren, anak dihadapkan pada berbagai “rintangan” kecil yang berulang setiap hari, bangun di tengah malam untuk salat, mengantre makan, berbagi kamar dengan banyak orang, menghadapi teguran dari pengasuh, dan tetap tersenyum di tengah lelah. Inilah “medan latihan” bagi ketahanan jiwa.

Stoltz juga mengajarkan bahwa kunci utama AQ adalah control, ownership, reach, dan endurance, yang ia singkat dengan CORE. Ketika anak mengeluhkan ketidaknyamanannya, ia sebenarnya sedang menghadapi empat tahapan besar yang akan membentuk karakternya, yaitu:

Control, sejauh mana ia merasa masih memiliki kendali atas situasinya. Anak yang AQ-nya tinggi akan berpikir, “Aku mungkin tidak bisa mengubah aturan pesantren, tapi aku bisa mengubah caraku menyikapinya.”

Ownership, sejauh mana ia mau bertanggung jawab atas keadaannya. Bukan menyalahkan pesantren, bukan menyalahkan orang tua, tetapi bertanya, “Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat keadaan ini lebih baik?”

Reach, sejauh mana ia membiarkan kesulitan ini merembet ke aspek lain hidupnya. Anak dengan AQ tinggi tidak akan membiarkan rasa tidak betahnya merusak semangat belajarnya, hubungannya dengan teman, atau ibadahnya.

Endurance, sejauh mana ia memandang durasi kesulitan ini. Apakah ia menganggapnya sebagai bencana abadi, atau sekadar fase yang akan berlalu? Inilah yang membedakan antara anak yang bertahan dan anak yang menyerah.

Dalam konteks ini, orang tua bukanlah pelatih yang harus turun ke lapangan dan menyelesaikan setiap masalah anak. Orang tua adalah spectator yang bijak, yang memberi semangat dari pinggir lapangan, tetapi membiarkan anaknya bermain, terjatuh, dan bangkit sendiri. Justru di situlah AQ anak terasah.

Karena itu, tangisan, keluhan, atau ucapan “aku tidak betah” sering kali bukanlah tanda bahwa anak ingin menyerah. Itu adalah ekspresi alami dari seseorang yang sedang belajar berdamai dengan perubahan besar dalam hidupnya. Sayangnya, justru di sinilah orang tua sering kali keliru membaca keadaan.

Begitu mendengar anak menangis melalui sambungan telepon atau mengeluh ingin pulang, sebagian orang tua langsung terbawa emosi. Dengan niat mengasihi, mereka berkata, “Kalau memang tidak betah, ya sudah, pulang saja.”

Kalimat itu terdengar penuh kasih. Namun tanpa disadari, pesan yang diterima anak bisa berbeda. Ia belajar bahwa setiap kali menghadapi kesulitan, jalan keluarnya adalah menghindar. Padahal kehidupan tidak selalu menyediakan pilihan untuk mundur ketika keadaan terasa berat. Respons yang jauh lebih menenangkan adalah mengakui lebih dahulu perasaan anak tanpa memperkuat keinginannya untuk menyerah.

Orang tua dapat mengatakan: “Tidak apa-apa kalau kamu merasa rindu rumah. Perasaan itu sangat manusiawi dan hampir semua anak yang sedang belajar jauh dari keluarga pernah mengalaminya.”. Itu menunjukkan bahwa kamu mencintai keluarga.” Lalu lanjutkan dengan kalimat yang membangun daya juangnya, “Tetapi Ayah dan Bunda juga percaya kamu sedang belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri dan lebih kuat. Setiap hari yang berhasil kau lalui adalah kemenangan kecil yang pantas dirayakan. Insya Allah, kamu mampu melewati semua ini.

Kalimat seperti itu memiliki kekuatan ganda. Ia merasa dipeluk oleh pemahaman orang tua, sekaligus dikuatkan oleh kepercayaan bahwa dirinya sanggup menghadapi masa-masa penuh tantangan. Inilah bentuk kepedulian yang menenangkan hati anak, sekaligus menumbuhkan ketangguhannya.Dalam tradisi pendidikan Islam, pembentukan karakter memang tidak pernah lahir dari kenyamanan semata. Dalam khazanah keilmuan Islam, menuntut ilmu dipandang sebagai perjalanan spiritual yang menuntut tiga modal utama: kesabaran dalam menghadapi ujian, latihan yang tak kenal lelah, dan penguasaan diri di tengah segala godaan.

Dalam Ta’lim al-Muta’allim, Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji menjelaskan bahwa keberhasilan menuntut ilmu sangat bergantung pada kesabaran dalam menghadapi berbagai kesulitan (ash-shabru). Seorang penuntut ilmu tidak cukup hanya memiliki kecerdasan, tetapi juga harus memiliki daya tahan untuk tetap istiqamah meskipun menghadapi berbagai tantangan selama proses belajar. Kesulitan bukanlah penghalang ilmu, melainkan salah satu jalan menuju kematangannya.

Senada dengan itu, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ’Ulum al-Din mengingatkan bahwa jiwa manusia tidak akan terbiasa kepada kebaikan tanpa latihan (riyadhah) dan pembiasaan (ta’dib). Pendidikan bukan sekadar proses menambah pengetahuan, melainkan membentuk karakter melalui disiplin yang dilakukan secara terus-menerus. Pada awalnya latihan terasa berat, tetapi lambat laun ia akan berubah menjadi kebiasaan yang melahirkan akhlak mulia.

Karena itulah, rasa tidak nyaman yang dialami santri baru sering kali justru menjadi bagian dari pendidikan itu sendiri. Bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menumbuhkan daya lenting (resilience), kemandirian, serta kemampuan menghadapi berbagai situasi kehidupan. Tentu saja, orang tua tetap perlu membedakan antara proses adaptasi yang normal dan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih serius.

Pada fase adaptasi, seorang santri mungkin masih sering menangis, tetapi emosinya cepat kembali stabil. Ia mengaku rindu rumah, namun tetap mampu menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. Ia meminta lebih sering dihubungi orang tua, sesekali mengeluh lelah atau tidak betah, tetapi tetap mengikuti kegiatan pesantren. Nafsu makannya mungkin sedikit menurun dalam beberapa hari pertama, namun kemudian berangsur pulih. Meski sesekali mengeluh, ia tetap berinteraksi, bercanda, belajar, dan perlahan mulai menemukan kenyamanan di lingkungan barunya.

Semua itu merupakan dinamika yang lazim dijumpai pada masa-masa awal kehidupan di pesantren. Sebaliknya, ada beberapa tanda yang tidak boleh diabaikan. Misalnya, anak menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sosial, menolak makan selama beberapa hari, sama sekali tidak mau mengikuti aktivitas, mengalami keluhan fisik yang berulang tanpa penyebab medis yang jelas, atau terus-menerus menunjukkan ekspresi putus asa yang tidak kunjung membaik. Kondisi seperti ini memerlukan komunikasi yang lebih intens antara orang tua, musyrif, guru, dan pihak pesantren agar dapat segera ditemukan solusi terbaik.

Oleh sebab itu, tidak setiap keluhan harus direspons dengan keputusan untuk membawa anak pulang. Kadang-kadang yang paling dibutuhkan anak bukanlah jalan keluar yang instan, melainkan keyakinan bahwa ada orang tua yang tetap percaya pada kemampuannya menghadapi tantangan.

Dalam dunia pendidikan, ada istilah productive struggle, kesulitan yang justru menjadi sarana pertumbuhan. Anak yang selalu diselamatkan dari setiap rasa tidak nyaman berisiko kehilangan kesempatan belajar menghadapi kenyataan hidup. Sebaliknya, anak yang didampingi dengan penuh kasih, tetapi tetap diberi ruang untuk berjuang, akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh, lebih mandiri, dan lebih siap menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Maka, selama tanda-tanda yang muncul masih berada dalam batas proses adaptasi yang normal, orang tua perlu belajar menjadi “tega” dalam arti yang positif. Bukan tega karena tidak peduli, melainkan tega karena percaya bahwa anak sedang bertumbuh. Sebab tujuan pendidikan bukanlah menciptakan kehidupan yang selalu nyaman bagi anak. Pendidikan sejati adalah menyiapkan mereka agar mampu tetap berdiri ketika kenyamanan itu tidak lagi tersedia.

Kelak, ketika mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya, dunia kerja, keluarga, masyarakat, bahkan berbagai ujian kehidupan yang tidak pernah dapat diprediksi, bekal terbesar yang mereka miliki bukanlah karena dahulu semua kesulitan dihilangkan oleh orang tua. Bekal itu lahir karena mereka pernah belajar melewati masa-masa sulit, dan berhasil membuktikan kepada diri sendiri bahwa mereka mampu mengatasinya.

Mungkin suatu hari nanti, anak tidak lagi mengingat betapa sering ia menangis pada minggu-minggu pertama di pesantren. Namun ia akan selalu mengingat bahwa ada ayah dan ibu yang memilih untuk tetap percaya pada kekuatannya. Dan sering kali, kepercayaan orang tua itulah yang menjadi awal lahirnya pribadi-pribadi yang kokoh menghadapi kehidupan.

Sumber Bacaan:

Al-Faruq, Abu Abdurrahman. 2020. Cara Nabi SAW Mendidik Anak Laki-Laki. Yogyakarta: Pro U-Media.
Al-Ghazali. 2011. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Diterjemahkan oleh Ibnu Ibrahim Ba’adillah. Jakarta: Republika.
Arishanti, Novrizki, dan Amalia Juniarly. 2019. “Hardiness, Penyesuaian Diri dan Stres pada Siswa Taruna.” Psikoislamedia: Jurnal Psikologi 4(2): 151-163. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Psikoislam/article/view/5309/ (Diakses 2 Juli 2026).
Az-Zarnūjī, Burhān al-Dīn. 2009. Ta’lim al-Muta’allim. Diterjemahkan oleh Abdul Kadir Aljufri. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Huda, N., dan M. Hamim. 2018. Mondok sebagai Potret Cinta Tanah Air. Kediri: Santri Salaf Press.
Kasturi, Taufik, dan Faza Izzudin Nuha. 2026. Psikologi Pengasuhan di Pesantren dan Sekolah Berasrama. Surakarta: Universitas Muhammadiyah
Mandres, I., dan P. Santoso. 2024. Tujuh Karakter Pengasuh Pesantren. Solo: Penerbit DEA.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2025. Musyrif Teladan. Solo: Penerbit DEA.
Nawawi, Imam. 2018. Adabul ‘alim wal muta’allim. Diterjemahkan oleh Hijrian A. Prihantoro. Yogyakarta: Diva Press.
Rajasam, Wahab. 2023. Enam Bekal bagi Pendidik dan Pengasuh. Bekasi: Khazanah Fawaid.
Stoltz, Paul G. 2018. Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Diterjemahkan oleh T. Hermaya. Jakarta: Grasindo.
Sudarisman, S. S., M. R. W. Muharram, dan I. F. Apriani. 2025. “Analisis Kebutuhan Bahan Ajar berbasis Pendekatan Open-ended muatan Productive Struggle pada Bilangan Cacah di Sekolah Dasar.” Didaktika 31(2). https://journal.umg.ac.id/index.php/didaktika/article/view/9932 (Diakses 2 Juli 2026).
‘Ulwan, Abdullah Nashih. 2020. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Diterjemahkan oleh Arif Rahman Hakim. Sukoharjo: Insan Kamil.
Yoga, Miarti. 2018. Adversity Quotient: Agar Anak Tak Gampang Menyerah. Solo: Tiga Serangkai.
Kasturi, Taufik dan Nuha, Faza Izzudin. 2026. Psikologi Pengasuhan di Pesantren dan Sekolah Berasrama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.