
Tenang saja. Judul di atas tidak benar-benar menafikan keberadaan perempuan lainnya. Melalui judul itu, penulis hanya ingin menegaskan bahwa tidak ada perempuan serupa Maryam. Pada seris sebelumnya, penulis menyinggung sedikit tentang salah satu keistimewaan Maryam: dialah satu-satunya wanita yang Allah sebutkan namanya secara literal dalam al-Quran. Tidak ada nama perempuan lain selain Maryam. Tentu hal ini bukan tanpa alasan. Allah swt tidak akan berfirman mengenai sesuatu melainkan ada pesan dan pelajaran di dalamnya.
Pilihan bahasa dalam al-Quran bukan sekadar pemilihan diksi biasa. Kekayaan khazanah Bahasa Arab menjadi keistimewaan sendiri baginya dalam mengisyaratkan dan menerjemahkan firman Tuhan. Begitu pun penyebutan nama tokoh, baik tokoh teladan atau pun tokoh pembangkang. Dalam hal ini, Maryam ditampilkan oleh Allah swt sebagai hamba wanita kebanggaan-Nya. Namanya dijadikan salah satu tajuk surat dan sebutannya terulang sebanyak 34 kali dalam al-Quran. Sementara wanita lainnya tak satu pun dibunyikan ejaan huruf namanya. Tanpa terkecuali ibunya sendiri yang hanya dikisahkan dalam al-Quran bagaimana ia mengandung, melahirkan sampai menamakan dan mendoakan Maryam serta keturunannya.
Seperti yang dijanjikan pada tulisan sebelumnya, penulis akan mencoba menyuguhkan himpunan faidah dan mengungkap sedikit rahasia dari penyebutan nama Maryam secara terang dalam al-Quran yang diterka oleh ulama kontemporer terkemuka di bidang tafsir seperti Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, Dr. Ali Jumuah dan Dr. Ridha Jundiyyah.
- Dari sudut pandang psikologi sosial, penduduk Arab pada saat itu memiliki tradisi menyamarkan nama dan memberikan julukan kepada istri-istrinya. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk menjaga mereka dari kehendak jahat orang lain. Di samping itu, kecemburuan laki-laki masyarakat Arab telah sampai pada taraf mereka tidak ingin ada lisan lelaki lain yang menyebut nama istrinya. Dari perspektif ini, al-Quran seolah mengaminkan tradisi mereka sebagai sebuah kebaikan yang mesti dilestarikan. Hal ini juga menunjukkan betapa al-Quran memuliakan perempuan dengan tidak menyebutkan namanya, melainkan untuk sebuah hikmah. Bukan untuk menyingkirkan peran wanita dari panggung dunia.
- Sementara dari sudut pandang teologi, penyebutan nama Maryam merupakan bentuk antitesis dari tuduhan orang-orang kafir kepada Tuhan, sosok suci Maryam dan putra tunggalnya, Isa. Mereka mengatakan bahwa Allah swt beristri dan memiliki anak. Ada juga yang menganggap Tuhan bersemayam dalam diri Isa. Subhanallah. Sehingga penyebutan Maryam dalam al-Quran membantah dan mematahkan itu semua. Hal tersebut dapat kita ketahui dari bagaimana Allah swt menceritakan tentang siapa Maryam, siapa ayah dan ibunya dan siapa anaknya, seperti dalam surat al-Baqarah ayat 87, Ali Imran ayat 36, Ali Imran ayat 42, Ali Imran ayat 45, dan at-Tahrim ayat 12. Agar orang kafir tidak lagi menganggapnya seperti apa yang selama ini mereka yakini.
- Dalam disiplin ilmu Ulum al-Quran dirumuskan bahwa di antara gaya bahasa yang digunakan al-Quran saat menceritakan sebuah kisah adalah dengan menyamarkan penokohan di dalamnya. Biasanya hanya disebutkan julukan atau pun ciri khasnya. Seperti contohnya kisah tujuh pemuda bersama anjingnya yang tertidur di dalam gua selama tiga abad lamanya. Tidak disebutkan satu pun di antara mereka identitasnya. Silahkan cari contoh serupa dalam kisah lainnya yang dimuat dalam al-Quran. Sebab mengetahui namanya pun tidak memberikan sebuah hikmah yang signifikan, dan biasanya penyamaran identitas dalam al-Quran merupakan sebuah isyarat bahwa peristiwa atau penokohan tersebut dapat terulang pada zaman dan tempat yang berbeda. Artinya, tidak memiliki kekhususan. Sebaliknya, ada pun penyebutan nama dalam al-Quran, merupakan tanda kekhususan dan kelangkaan peristiwa mau pun penokohan. Seperti halnya Maryam. Apa yang beliau alami dari tanda kebesaran Allah swt dan kemuliaan yang diletakkan pada keluarga, dirinya dan putranya merupakan keistimewaan yang tidak akan terulang pada manusia lainnya. Kesucian Maryam dari sentuhan laki-laki mana pun diklaim langsung oleh Allah swt lewat pengakuannya dalam surat Ali Imran ayat 47 dan surat Maryam ayat 20.
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ
Dia (Maryam) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?”
قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا
Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana (mungkin) aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada seorang (laki-laki) pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang pelacur?”
Perhatikan kedua ayat di atas ketika Allah swt menggunakan lafaz بَشَر. Jika berhenti pada makna terjemahan, kita hanya akan mendapatkan arti secara harfiah saja. Namun, jika menggali lebih dalam tentang pemaknaannya dari segi linguistik Bahasa Arab, kita akan mendapatkan sebuah rahasia yang terkandung dari pemilihan diksi tersebut. Kata بَشَر diterjemahkan pada konteks ayat di atas sebagai seorang laki-laki. Padahal dalam Bahasa Arab, penyebutan laki-laki lebih umum dibasahakan dengan kata رجل. Sementara kata بَشَر lebih tepat diterjemahkan dengan kata manusia secara umum, mengcangkup laki-laki dan perempuan, anak-anak atau dewasa, dan semua jenis manusia lainnya. Pertanyaannya adalah mengapa pada ayat yang menyucikan Maryam dari segala bentuk perzinaan, Allah swt menggunakan kata بَشَر dan bukan رجل? Ini adalah isyarat bahwa kata بَشَر digunakan sebagai bentuk penafian yang kuat dari semua jenis pelecehan manusia mana pun kepada Maryam. Hal ini benar-benar menegaskan bahwa kejadian serupa tidak akan dialami oleh perempuan mana pun selain Maryam.
Jika hari ini kita mendapatkan banyak berita adanya perempuan mengenakan atribut keislaman kemudian hamil tanpa diketahui siapa pelakunya, lalu tiba-tiba ia mengaku mengalami hal serupa dengan apa yang dialami Maryam, maka ketahuilah itu adalah dusta dan pencemaran terhadap kesucian Maryam. Menutupi perbuatan hinanya dengan kemuliaan yang hanya dikhususkan kepada Maryam seorang. Sekali lagi, tiada perempuan seperti Maryam.
Kemarilah sejenak, kita telaah lebih dalam dan membuka pelan-pelan firman Tuhan yang berkenan memperkenalkan secara langsung kepada kita tentang siapa sosok perempuan bernama Maryam dalam al-Quran. Maryam merupakan anak dari pasangan Imran dan Hannah. Keduanya merupakan hamba-hamba Allah yang salih. Imran mendidik keluarganya dengan penuh hikmah dalam menanamkan nilai tauhid pada tiap anggota keluarganya. Hingga Allah swt menjadikan keluarganya salah satu di antara keluarga terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia. Bahkan, Ali Imran yang berarti keluarga Imran dijadikan salah satu nama surat dalam al-Quran, sebagaimana kita ketahui bersama. Allah swt menyatakan dalam surat Ali Imran ayat 33:
اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىٓ اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran atas seluruh alam (manusia pada zamannya masing-masing).
Hal ini mengisyaratkan bahwa kesalihan Maryam tidak terwujud begitu saja. Melainkan terbentuk dari pendidikan dan tidak lepas dari pengaruh lingkungan keluarganya. Sehingga tidak heran, bagaimana Allah swt mengabadikan kisah Maryam semenjak ia masih berada dalam kandungan ibunya hingga momen penamaan dirinya dan doa keselamatan untuknya serta anak keturunannya yang tulus keluar dari lisan ibunda.
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (35) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ ۖ وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (36)
(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada di dalam kandunganku murni untuk-Mu (berkhidmat di Baitulmaqdis). Maka, terimalah (nazar itu) dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Ketika melahirkannya, dia berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal, Allah lebih tahu apa yang dia (istri Imran) lahirkan. “Laki-laki tidak sama dengan perempuan. Aku memberinya nama Maryam serta memohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari setan yang terkutuk.” (Ali Imran : 35-36)
Allah swt melihat ketulusan Hannah dan menerima nazarnya dengan penerimaan yang baik berupa putri tercintanya untuk dijadikan abdi-Nya. Namun, dalam al-Quran, Imran tidak diceritakan penokohannya seperti apa. Justru, yang ditonjolkan adalah Zakariya selaku suami dari bibinya. Beliaulah yang Allah swt amanahkan untuk mengasuh Maryam kecil. Sehingga Maryam tumbuh dalam naungan dan bimbingan sang utusan Tuhan. Tidak seperti anak-anak seusianya, Maryam lebih sering menghabiskan waktunya di mihrab, tempat ia berkhalwat dan bermunajat kepada Allah swt. Hingga tiba saatnya Allah swt menunjukkan kepadanya di antara tanda-tanda kuasa-Nya. Hal itu bermula dari bagaimana Allah swt memberi makan Maryam tanpa perantara dan menjadikan Zakariya sebagai saksinya. Keajaiban itu terjadi berulang kali.
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا ۖ كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَـٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Dia (Allah) menerimanya (Maryam) dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria. Setiap kali Zakaria masuk menemui di mihrabnya, dia mendapati makanan di sisinya. Dia berkata, “Wahai Maryam, dari mana ini engkau peroleh?” Dia (Maryam) menjawab, “Itu dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. (Ali Imran : 37)
Tidak cukup sampai di situ, bentuk kemuliaan yang Allah berikan kepada Maryam terus melimpah. Ketekunannya dalam beribadah dan penjagaan dirinya dari rupa-rupa dosa, membuatnya terpilih sebagai wanita yang disucikan dan diunggulkan dari perempuan sejagat raya ini.
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ (42) يٰمَرْيَمُ اقْنُتِيْ لِرَبِّكِ وَاسْجُدِيْ وَارْكَعِيْ مَعَ الرّٰكِعِيْنَ (43)
(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas seluruh perempuan di semesta alam (pada masa itu). (Ali Imran : 42-43)
Hingga pada puncaknya, Allah swt memberikan sesuatu yang membuat Maryam sendiri kebingungan tentang apa yang Tuhan berikan kepadanya: anugerah atau musibah? Benar sekali. Hal itu adalah saat hari ketika Allah swt mengamanahkan Maryam untuk mengandung bakal calon hamba pilihan Allah swt yang akan menjadi salah satu tanda kebesaran-Nya.
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِّنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ (45) وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ (46)
(Ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, “Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (kelahiran anak yang diciptakan) dengan kalimat dari-Nya, namanya Isa Almasih putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat serta termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah). Dia berbicara dengan manusia (sewaktu) dalam buaian dan ketika sudah dewasa serta termasuk orang-orang saleh.” (Ali Imran : 45-46)
Itulah yang membuat Maryam gusar kebingungan. Di samping keistikamahannya beribadah dan kedisiplinannya menjaga diri dari perbuatan hina, Allah swt justru mengujinya dengan sesuatu yang menjadi musuh alaminya, sesuatu yang paling dihindarinya: hamil tanpa bersuami. Kebingungan Maryam terekam jelas dalam al-Quran. Bagaimana tidak? Ia benar-benar dipaksa untuk menerima sesuatu yang menurut batas kemampuan akalnya adalah hal yang mustahil. Padahal, ini bukan hal mustahil yang pertama kali dialami Maryam. Bukankah sebelumnya ia kerap kali diberi makanan oleh Tuhan tanpa uluran tangan? Dalam tafsir bahkan dikatakan bahwa makanan yang ia peroleh bukan makanan yang selazimnya ada pada waktunya. Seperti mendapatkan buah yang hanya tumbuh di musim dingin pada saat musim panas. Itu saja sudah tidak masuk akal. Namun, kali ini Maryam benar-benar heran bukan kepalang.
قَالَتْ رَبِّ اَنّٰى يَكُوْنُ لِيْ وَلَدٌ وَّلَمْ يَمْسَسْنِيْ بَشَرٌۗ قَالَ كَذٰلِكِ اللّٰهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُۗ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Dia (Maryam) berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?” Dia (Allah) berfirman, “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.” Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata padanya, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. (Ali Imran : 47)
قَالَتْ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (20) قَالَ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ ۖ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا ۚ وَكَانَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا (21)
Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana (mungkin) aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada seorang (laki-laki) pun yang menyentuhku dan aku bukan seorang pelacur?” Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu sangat mudah bagi-Ku dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda (kebesaran-Ku) bagi manusia dan rahmat dari Kami. Hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.” (Maryam : 20-21)
Kisah Maryam bertransisi dari surat Ali Imran ke surat Maryam. Di sanalah kelanjutan kepiluan Maryam dikisahkan Tuhan. Kebingungan Maryam bertambah ketika ruh ditiupkan ke dalam rahimnya dan janin semakin hari menunjukkan perkembangannya. Saat itu yang ada dalam pikirannya adalah apa yang harus ia katakan kepada orang-orang saat mereka mulai menyadari kejanggalan ini? Dalam tafsir Ibnu Katsir diriwayatkan bahwa benar saja, saat kehamilannya mulai tak lagi dapat ia sembunyikan dan desas-desus di sekitarnya semakin lantang menunjukkan kecurigaan terhadap apa yang menimpa Maryam, ia akhirnya dengan berat hati memilih untuk mengasingkan diri menghindari pandangan tajam yang mencecarnya dan menutup rapat pendengaran dari tuduhan-tuduhan menyakitkan. Dengan keadaan payah di tengah hamil tuanya, Maryam jalan seorang diri menjauh dari tempat yang bukan rumahnya.
فَحَمَلَتْهُ فَانْتَبَذَتْ بِهٖ مَكَانًا قَصِيًّا
Maka, dia (Maryam) mengandungnya, lalu mengasingkan diri bersamanya ke tempat yang jauh. (Maryam : 22)
Muncul pertanyaan, apakah kehamilan Maryam yang tidak lazim benar-benar seperti kehamilan wanita pada umumnya atau berlaku baginya keadaan khusus? Mengingat Maryam tidak seperti wanita lainnya dan bahkan di awal dikatakan bahwa ia merupakan wanita pilihan yang disucikan dan diunggulkan Tuhan. Menjawab pertanyaan itu, Ibnu Katsir memberikan pandangannya berasas nas al-Quran dan hadits yang beliau paparkan dalam tafsirnya dan sampai pada sebuah kesimpulan:
فالمشهور الظاهر – والله على كل شيء قدير – أنها حملت به كما تحمل النساء بأولادهن
Pendapat yang lebih masyhur dan jelas adalah bahwa Maryam mengandung Isa sebagaimana para wanita mengandung anak-anaknya. -Allah swt Mahakuasa atas segala sesuatu-
Pernyataan ini ditulis untuk kemudian kita bangun di atasnya sebuah analisa tentang keadaan psikologis Maryam yang pada saat itu sedang hamil. Jika benar demikian adanya, bahwa Maryam mengalami fase kehamilan seperti yang dirasakan wanita lainnya, maka bolehlah kita menganggapnya benar-benar merasakan derita kepayahan perempuan hamil yang Allah sifatkan dalam al-Quran surat Luqman ayat 14.
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ
Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah (Luqman : 14)
Atas dasar yang kuat ini, kita dapat berasumsi bahwa pada saat Maryam terpaksa mengasingkan diri, ia tertatih-tatih dengan keadaan lemah tak berdaya layaknya perempuan yang sedang hamil tua. Al-Quran sampai menggambarkan keadaan wanita hamil itu dengan deskripsi وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ: derita di atas derita, perjuangan di atas perjuangan. Pada saat keletihan sudah mencapai batasnya, peluh sudah habis menetes, kaki melemah untuk melanjutkan langkahnya lagi dan rasa sakit ingin melahirkan menjalar ke sekujur tubuhnya, Maryam menjatuhkan tubuh lunglainya pada pohon kurma dan di bawah teduhnya, ia menunjukkan sisi kewanitaannya kepada kita melalui keluh kesahnya:
فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا
Rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, “Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan (selama-lamanya).” (Maryam : 23)
Bisa kita bayangkan, betapa Allah swt ingin menunjukkan kepada kita tentang kepedihan seperti apa yang sedang dilanda oleh Maryam melalui kata-katanya yang secara terang mengharapkan kematian dirinya sebelum kejadian memilukan itu menimpanya. Dari titik inilah kita akan mengeja huruf kewanitaan Maryam.
Kita mulai dari awal lagi. Pembaca yang sabar membaca tulisan ini hingga pada paragraf ini, ketahuilah bahwa bagian permulaan dari tulisan ini berisi tentang kemuliaan dan kedudukan Maryam dalam Islam. Mulai dari kekhususan penyebutan namanya sebagai satu-satunya perempuan yang disebut berulang kali namanya bahkan dijadikan salah satu nama surat dalam al-Quran, kabar tentang kesucian dan keunggulannya di atas semua perempuan, hingga ketekunannya dalam beribadah kepada Allah swt dan kedisipilinannya menjaga kehormatan dirinya. Kesemuanya itu adalah untuk sampai pada paragraf ini. Penulis hendak menunjukkan bahwa wanita yang bertengger di atas puncak kesalehan seorang hamba adalah tetap seorang wanita. Ada kewanitaan yang tidak bisa ia tinggal dan tanggalkan bahkan dengan kesucian dan keunggulannya.
Perhatikan bagaimana ia mengeluh pada saat dalam kondisi yang mungkin pada hari ini lebih tepat diistilahkan dengan sebutan distress yang berakibat pada preeklamsia. Ia sampai berharap kematian untuk dirinya sendiri. Sungguh mengerikan sekali. Jika ditinjau dari sudut pandang akidah, ucapan semacam itu merupakan salah satu bentuk kekufuran lisan seperti yang dijelaskan gamblang dalam kitab Sullam at-Taufiq yang ditulis oleh Abdullah bin Husein bin Thahir Ba’alawi. Karena dianggap sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang sudah Allah tetapkan dari takdirnya. Sungguh ucapan semacam itu tidak dapat saya bayangkan bahkan tidak pantas keluar dari lisan seorang Maryam. Dalam kajian tasawuf sering kali bentuk protes yang diungkapkan lewat ucapan mau pun tindakan yang dilakukan oleh seorang hamba yang telah diangkat sebagai wali Allah, dapat mengakibatkan tercabutnya anugerah kewalian yang Allah swt berikan kepadanya. Jika perlu bukti konkret untuk meyakini pernyataan tersebut, mari ikuti penulis melanjutkan tulisan ini.
Lihatlah bagaimana dari awal Allah swt sudah membahasakan ujian Maryam berupa kehamilan Isa sebagai bentuk kabar gembira yang Allah berikan kepadanya. Dia mengajarkan kepada kita untuk memilih bahasa yang paling baik ketika berkomunikasi dengan wanita. Bahkan untuk hal yang bersifat mukjizat yang di dalamnya pasti terdapat kebaikan. Begitu pula seharusnya kita ketika hendak meminta istri melakukan sesuatu yang menjadi kemaslahatan bersama dalam rumah tangga. Hendaknya kita memilih diksi yang paling baik. Bagian dari pada upaya menghindari kesalahpahaman. Sebab sering kali maksud baik kita dipahami dengan maksud yang tidak pernah kita maksudkan hanya karena ada satu kata yang menyinggung perasaanya. Benar-benar hanya karena satu kata. Bukan karena satu kalimat. Itulah mengapa memilih diksi yang tepat dalam berkomunikasi dengan kaum wanita menjadi sangat penting. Pada surat Ali Imran ayat 45, Allah swt berfirman:
إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ
Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu.
Tidak hanya itu, setelah mendapatkan keluhan Maryam atas apa yang ia alami dari beratnya ujian yang Allah berikan kepadanya, alih-alih menegurnya, Allah swt malah membujuk dan menghiburnya dengan suguhan kurma muda dan mata air kecil yang mengalir di bawah kakinya. Masya Allah.
فَنَادٰىهَا مِنْ تَحْتِهَآ اَلَّا تَحْزَنِيْ قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا (24) وَهُزِّيْٓ اِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسٰقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّاۖ (25) فَكُلِيْ وَاشْرَبِيْ وَقَرِّيْ عَيْنًاۚ (26)
Dia (Jibril) berseru kepadanya dari tempat yang rendah, “Janganlah engkau bersedih. Sungguh, Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak kepadamu. Makan, minum, dan bersukacitalah engkau. (Maryam : 24-26)
Melalui keluh kesah Maryam yang merajuk, seolah Allah swt ingin mengajarkan kepada kita, kaum laki-laki agar menormalisasi reaksi negatif yang keluar dari seorang wanita yang sedang kalut dalam kelelahan dan kepayahan. Begitulah cara Allah swt, Tuhan yang menciptakan wanita mengajarkan kepada kita bagaimana memperlakukan mereka. Ketika mendapatkan mereka sedang menampakkan apa yang hari ini diistilahkan dengan mood swing, maka tidak seharusnya kita berlaku kasar padanya, atau bahkan menganggapnya sebagai sebuah tindakan pembangkangan dan kedurhakaan. Justru, sebaliknya. Bujuk dan hiburlah ia hingga senyumnya kembali merekah di pipi meronanya. Jika Maryam saja bisa sampai mengatakan hal yang demikian, apalagi perempuan yang hari ini menemani kita di rumah. Dia bukan Maryam, dan kita bukan Tuhan. Berat memang. Tapi begitulah Tuhan mengajarkan.
Itu satu hal, dan ini adalah hal lainnya. Para pembaca yang budiman. Izinkan saya mengajukan pertanyaan mendasar yang seharusnya sudah menjadi pengetahuan umum bagi seorang muslim: Siapakah nabi yang pernah ditelan ikan? Pertanyaan ini merupakan kunci yang akan membuka relasi antara kisah nabi yang merupakan jawaban pertanyaan tersebut dengan kisah Maryam yang sedang kita bahas. Sekaligus, pertanyaan di atas juga titik balik bagi kita yang sudah sejak lama mengaku muslim: apakah kita cukup peduli dengan ensiklopedia keislaman yang kita miliki? Semoga pertanyaan kecil itu mampu memantik semangat belajar kita untuk mencari tahu lebih banyak tentang Islam. Jawabannya adalah Nabi Yunus alaihissalam.
Rasulullah ﷺ pernah menyebut tentang Yunus dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim. Dalam haditsnya, Rasulullah ﷺ mengenalkan kita tentang siapa nabi yang pernah ditelan ikan itu. Beliau adalah Yunus bin Matta, salah seorang nabi dan rasul yang Allah swt abadikan kisahnya dalam al-Quran. Penulis tidak akan menjelaskan panjang lebar bagaimana teladan kisahnya. Kita hanya akan meminjamnya sebagai pembanding dari apa yang dialami Maryam. Tahukah kalian, apa yang membuatnya tertelan ikan? Simak baik-baik firman Allah swt tentangnya dalam surat al-Anbiya ayat 87.
وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
(Ingatlah pula) Zun Nun (Yunus) ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya. Maka, dia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis, “Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim.”
Ayatnya secara zahir menggambarkan bagaimana ia pergi, lalu kemudian Allah swt menegurnya. Tersisa pertanyaan lain, dari apa atau siapa Yunus pergi dan mengapa ia pergi? Ath-Thabari dan al-Qurtubi dalam tafsirnya mengungkap bahwa Yunus pergi meningalkan kaumnya karena pembangkangan dan pendustaan yang mereka lakukan kepadanya. Setelah mendapatkan penolakan dari kaumnya, Yunus dijanjikan oleh Allah swt bahwa Dia akan mengazab kaumnya pada hari yang telah ditentukan. Mendapatkan peringatan itu, Yunus memperingatkan kaumnya akan datangnya azab Allah kepada mereka karena telah menolak dakwah utusan-Nya. Tanpa sepengetahuan Yunus, pada malam hari kaumnya kompak berbondong-bondong keluar rumah berkumpul di tanah lapang membawa keluarganya masing-masing untuk bertaubat kepada Allah swt dan Allah pun menerima taubatnya sehingga menunda turunnya azab. Mengetahui hal itu, Yunus sangat kecewa karena merasa dipermainkan oleh kaumnya yang suka berpura-pura dan berdusta. Oleh karena itu ia pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, tanpa seizin Allah swt. Sebab kekecewaannya atas ketentuan Allah swt kepada kaumnya itulah Allah swt menegur hamba pilihan-Nya dengan memenjarakannya di dalam perut ikan selama kurang lebih 40 hari 40 malam.
Serupa tapi tak sama, kisah Maryam dan Yunus memiliki kesamaan motif: kekecewaan terhadap ketentuan Tuhan. Kekecewaan Maryam nampak dari ucapannya, sementara Yunus nampak dari tindakannya. Nah, dari dua kesamaan ini, kita akan mendapatkan perlakuan yang berbeda dari Allah swt kepada kedua hamba terbaik-Nya ini. Sebagaimana kita ketahui, Yunus ditelan ikan karena berpaling dari ketetapan Tuhan. Sementara itu, lihatlah pada pembahasan sebelumnya, bagaimana Allah swt memperlakukan Maryam setelah apa yang ia ucapkan dari keluh kesahnya.
Perbedaan perlakuan dari kedua kisah ini benar-benar membuat saya tercengang. Pasalnya, keduanya memiliki kesamaan sebab, namun berbeda akibatnya. Muncul pertanyaan, apa yang mendasari perbedaan perlakuan Tuhan terhadap kedua kisah yang cenderung memiliki kesamaan latar belakang? Jika kembali kepada klaim Tuhan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan dalam surat Ali Imran ayat 36, maka kemungkinan terbesar hal yang melandaskan perbedaan perlakuan Allah swt kepada kedua hamba pilihan-Nya ini adalah karena Yunus laki-laki dan Maryam wanita. Begitu bukan?
Dari perlakuan khusus Allah swt kepada Maryam, kita belajar bahwa apa yang terdengar menyakitkan dari mulut seorang perempuan, atau bahkan terdengar seperti hinaan yang menjatuhkan, atau lebih dari itu, ia hendak mengakhiri hubungan, memutuskan ikatan, menuntut perceraian, itu bukanlah hal yang benar-benar mereka inginkan. Sering kali itu hanya luapan emosi yang tak kuasa ia tahan dalam kondisi yang benar-benar melelahkan hati dan pikiran. Sehingga terkadang mulutnya menerjemahkan dengan tajam apa yang ia rasakan tanpa memikirkan dampaknya. Barang kali ia hanya membutuhkan satu pelukan hangat yang mulai terasa dingin, atau perhatian yang sudah jarang. Kesibukan bekerja jangan sampai membuat kita lupa bahwa jiwa dan raganya juga punya hak atas kita. Jangan mengatasnamakan pekerjaan untuk memuaskan kesenangan pribadi dan melupakan kesenangan dirinya.
Kesenangannya tidak diwujudkan dengan nominal uang dan materi lainnya saja. Lebih dari itu, ia membutuhkan kita yang bisa jadi hanya tinggal kita saja yang ia miliki setelah kita menikahi dan membawanya pergi jauh dari kehangatan keluarga, saudara dan teman-temannya. Saya pernah mendengar kalimat indah sekali dari seorang pendakwah bernama Ahmad bin Jindan. Ia berkata jika seandainya kebaikan yang istri miliki hanyalah kesediannya ikut bersama suaminya ke tempat yang bukan rumahnya, itu sudah cukup. Kita belum tentu mampu melakukannya dan kita takkan pernah mengerti bagaimana rasanya karena tak pernah berada di posisinya.
Ia tumbuh dan berkembang di bawah lindungan dan kasih sayang ayah-ibunya, dibesarkan dengan perhatian mereka, lalu kemudian kita datang mengambilnya, membawanya melangkah bersama kita, mewajibkannya mengurus dan menjaga rumah dan anak-anak kita, dan ia memilih menghabiskan sisa usianya bersama orang yang belum tentu sebaik, secinta, sesayang dan setulus kedua orang tuanya. Sungguh itu sudah merupakan sebuah pengorbanan yang besar. Maka dari kisah Maryam yang dibawa pergi menjauh dari rumahnya oleh ketetapan Tuhan yang hendak menjadikannya tanda kuasa-Nya, kita harus belajar lebih banyak untuk memaklumi dan menormalisasi keluh kesahnya menjalani hari-hari berat yang mereka lalui.
Berakhlaklah dengan akhlak Allah swt kepada Maryam. Dekati dan hibur mereka dengan kata-kata yang baik serta hal-hal yang membuatnya senang. Terkadang, menjadi hamba Allah yang saleh bukan hanya tentang bagaimana melaksanakan ritual ibadah formal. Bersikap baik kepada istri, mungkin saja menjadikan kita lebih dekat dengan Allah dari pada yang rajin salat dan puasa. Mengakhiri tulisan ini, saya bawakan hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh imam-imam ahli hadits seperti Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan al-Hakim tentang anjuran berbuat baik kepada istri-istri kita di rumah.
خيرُكُم خَيرُكُم لأَهْلِهِ وأَنا خيرُكُم لأَهْلي
Sebaik-baiknya orang di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya. Dan aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada istriku.