
Tentu tidak ada orang tua yang benar-benar tega membiarkan anaknya tergores luka. Hanya saja, lambat laun, waktu akan menyadarkan setiap yang beranak bahwa pada akhirnya, kehidupan akan memaksa dan menundukkan semua anak yang mulai meninggi. Suka rela atau pun tidak, dunia akan mendewasakannya lewat pilu.
Hari ini, Ahad 19 Juli 2026 barangkali akan menjadi momen bersejarah bagi sebagian anak dan sepasang ayah-ibunya yang memberanikan diri dan dengan sadar menaruh jauh buah hatinya di tempat yang bukan rumahnya. Sejak mentari bertandang di ufuk Timur, kendaraan beroda empat mulai memenuhi tanah lapang Dza Izza. Langkah kaki kecil yang bertekad sesak menapaki medan juang, lengkap dengan wajah lugunya yang sekilas menampung air mata.
Nampak dari kejauhan keluarga yang sebentar lagi dipisahkan jarak itu berbondong-bondong datang membawa seperangkat keperluan sang pejuang kecil untuk bekal menaklukan perang perdananya. Senyum antusias itu disambut hangat oleh kakak-kakak ketua kamar dan bapak-ibu asuh yang siap mengawal perjalanan panjang memburu kemuliaan di Dza ‘Izza. Kamar yang baru didandani semula hening, perlahan dipecahkan oleh riuh suara tebal orang tua yang ditimpa suara cempreng anak kecil yang lalu lalang membantu membereskan alat tempurnya. Ada yang mulai dari kasur empuknya, ada yang sibuk menyampul buku tulisnya, ada juga yang hanya duduk diam termenung menikmati sisa kebersamaan.
Sampai ketika bayangan tepat berada di bawah kaki, satu persatu mulai meninggalkan ruangan. Mencari momen dan spot yang bagus untuk mengabadikan pelepasan anak yang siap melangkah menyusuri jalan takdirnya sendiri. Tidak sedikit yang tak kuasa menyimpan perih di dada saat menyadari ternyata hari ini adalah harinya. Sebagai ayah beranak satu, aku coba memahami bagaimana hari ini bisa menjadi hari yang mengharukan bagi mereka. Sosok mungil yang dulu untuk telungkup pun sulit, kini bukan hanya mampu berlari, bahkan mulai malam ini dan malam-malam selanjutnya, ia akan berusaha lelap di atap yang berbeda. Genggamannya yang dulu hanya seruas jari, tak terasa sudah beberapa tahun belakangan ini, ia berjalan sendiri tanpa bergantung pada tuntunan ayah-ibunya. Namun, bukan tanpa alasan orang tua yang akhirnya bulat memutuskan untuk menitipkan tumbuh kembang putra putrinya di Pondok Pesantren Dza Izza. Kesadaran akan pentingnya pendidikan berkarakter dan penanaman nilai-nilai agama dalam kehidupan yang akhirnya menguatkan hati mereka melepaskan busur panahnya, melesat menuju kehendak luhurnya menggapai cita-cita.
Disela-sela perenungan itu, ada dua anak santri baru menghampiriku sembari melempar senyum malunya lantas menyapa: ‘Om, boleh poto kita gak, Om?’ Sontak saja aku yang sedang melamun berwajah datar memalingkan pandangan menyambut senyumnya dengan senyum serupa dan menjawab seruannya: ‘Oh, iya boleh.’ Setelah membaca wajah lumrahnya, aku langsung mengenali, dua sejoli itu adalah Rafa dan Sidqi. Rekah senyumnya melambangkan semangat juang yang tidak main-main, meski dua hari yang lalu masih terlihat riang bermain mengendarai sepeda listriknya.
Kebahagiaan serupa juga terpancar dari wajah-wajah santri lainnya. Alih-alih bergembira, aku malah penasaran mencari pecah tangis seorang anak yang merengek pulang dan menolak ditinggal. Rasanya, sepuluh tahun lalu, pemandangan santri baru yang lari mengejar mobil ayah/ibunya adalah pemandangan yang wajar. Tapi hari ini nampaknya semua bersuka cita. Saling rela dan mengikhlaskan, melepaskan tanpa mengendurkan ikatan. Jika ada tetesan kesedihan yang jatuh, itu adalah air mata yang menguatkan langkah perjuangan. Semoga ini menjadi pertanda baik bagi generasi Islam yang datang belakangan. Sebab, Tuhan tidak pernah membuat seseorang memiliki kehendak baik melainkan Dia memang sedang menuntunnya kepada kebaikan yang lain.
Mengemban amanah sebagai wali kelas 1C tahun ajaran 2026-2027 membuatku berada di ambang senang sekaligus kesedihan: senang bisa menemani langkah awal perjuangan dengan niat yang murni menuntut ilmu, meraih derajat tinggi, sedih karena takut gagal membuat jiwa dan raganya menetap lebih lama di sini. Aku yakin dari sudut pandang yang lain, bapak-ibu wali santri pun merasakan hal yang demikian. Hanya saja dalam bentuk yang berbeda. Begitu pula anak-anak kita yang wangi ayah-ibunya sudah pergi bersama tenggelamnya matahari. Lewat tulisan ini, biarkan aku menerjemahkan isi hati mereka untuk izin berpamitan, meminta doa restu dan rida ayah-bunda. Agar dalam perjuangan yang baru saja dimulai, mereka diberikan kekuatan dan ketangguhan menghadapi guncangan dan terpaan ujian.
‘Ayah, Ibu. Terima kasih sudah mengantarku hingga ke titik ini. Aku tahu, ini tidak akan mudah bagi kita. Tapi yakinlah, aku mampu menjalaninya tanpa hadirmu, Yah, Bu. Aku juga tahu, sejatinya kalian tak pernah mengizinkan jarak memisahkan kita, meninggalkanku jauh kedinginan merindukan hangatnya peluk kasih tulus kalian. Keberanian ini aku lakukan semata-mata karena aku sadar bahwa cepat atau lambat aku akan sendiri. Meski demikian, semoga bersama kita di dunia tidak sementara.
Ayah, Ibu. Jika saja sampai saat membaca paragraf ini kalian belum juga tenang melepasku di tempat ini, kuberi tahu bahwa aku tidak sendiri. Ada teman yang juga baru saja membuka lembaran barunya di sini, ada kakak kamar yang memandu petualanganku di medan juang ini, ada juga bapak/ibu asuh yang sudi menggantikan peran kalian sebagai orang tua selama aku meniti jalan ini. Kuharap kekhawatiran tak pernah mengganggu aktivitas kalian di sana.
Ayah, Ibu. Jika suatu hari rindu melanda hingga mengusir kantuk dan merusak ketenangan kalian, doakan aku. Sebut namaku tepat sebelum kalian membacakan al-Fatihah. Aku pun akan melakukan hal yang sama. Semoga doa kita bertemu di pelataran langit dan lekas meredakan rindu yang kita derita. Meski setelah ini kita tak lagi setiap hari bersua di rumah seperti sebelumnya, akan tetapi ini hanya cara kita untuk lebih menghargai sebuah kebersamaan dan bukan untuk saling melupakan. Percayalah, ruang dan waktu masih akan memberikan kita kesempatan merayakan perjumpaan.
Ayah, Ibu. Sekali lagi terima kasih selama ini sudah mendidik dan membentukku menjadi seperti yang hari ini. Rasanya, kakiku sudah cukup kuat dan inilah saatnya bagiku untuk berdiri di atas kaki sendiri. Meski bukan berarti tak ada kerikil yang membuatku tersandung saat berlari. Bukankah Ayah dan Ibu yang mengajarkan bahwa jatuh itu adalah sebuah keniscayaan? Paling tidak, di sini aku diajarkan untuk tak pernah berhenti bangun setelah jatuh dan tertimpa. Kemudian melanjutkan jalan untuk menyelesaikan apa yang aku mulai. Karena itu, Ayah, Ibu, Ananda mohon doa dan ridanya. Tak ada yang aku sesali selain peluk perpisahan yang seharusnya bisa lebih lama dari pada yang tadi kulakukan. Ayah, Ibu, aku pamit dan izinkan aku jatuh untuk bangkit.