
Setiap tanggal 21 April, kita mengenang Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Sosok yang memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, berpikir, dan berdaya. Namun seiring waktu, makna Kartini sering kali dipersempit—seolah hanya mereka yang berkarier di ruang publik yang layak disebut sebagai “Kartini masa kini”. Padahal, perjuangan tidak selalu berada di panggung yang terlihat.
Hari ini, saya justru ingin memaknai Hari Kartini dari sudut yang lebih dekat. Lebih personal. Lebih nyata. Tentang seorang perempuan di rumah saya.
Istri saya, Tresna Ningsih, adalah seorang perempuan yang memiliki gelar magister Akuntansi. Ia pernah bekerja di lingkungan kampus, juga di lembaga pemerintahan. Dunia profesional bukan hal yang asing baginya. Ia memiliki kapasitas, pengalaman, dan peluang untuk terus berkarier.
Namun pada satu titik, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Ia memilih untuk memfokuskan diri menjadi ibu rumah tangga.
Mengurus tiga anak kami: Salman, Zakiyah, dan Qonita.
Bagi sebagian orang, keputusan ini mungkin terlihat sederhana. Bahkan ada yang menganggapnya sebagai “mundur” dari karier. Tetapi bagi saya, keputusan ini justru adalah bentuk keberanian yang tidak semua orang mampu mengambil.
Karena menjadi ibu rumah tangga bukanlah pilihan yang mudah. Ia adalah peran tanpa jam kerja. Tanpa cuti.Tanpa promosi jabatan. Dan sering kali tanpa apresiasi yang cukup.
Namun di balik itu, ada pekerjaan yang sangat fundamental. Mendidik anak. Membentuk karakter. Menanamkan nilai. Menjadi ruang aman bagi keluarga. Jika kita jujur, di sinilah fondasi masa depan dibangun.
Seorang anak yang tumbuh dengan nilai yang baik, dengan kasih sayang yang cukup, dengan perhatian yang utuh—tidak lahir begitu saja. Ada peran besar seorang ibu di dalamnya. Dan itu adalah pekerjaan yang tidak bisa diukur dengan angka. Tidak muncul dalam laporan keuangan. Tidak terlihat dalam grafik performa. Namun dampaknya terasa sepanjang kehidupan.
Di sinilah saya belajar bahwa menjadi Kartini tidak selalu berarti berada di luar rumah. Kartini adalah tentang perjuangan. Tentang pilihan. Tentang kontribusi. Dan setiap perempuan memiliki medan juangnya masing-masing.
Kita perlu mengapresiasi perempuan yang berjuang di dunia pendidikan—para guru dan dosen yang setiap hari mencerdaskan generasi, menanamkan nilai, dan membuka wawasan. Kita juga perlu menghargai perempuan di dunia kesehatan—dokter, perawat, bidan—yang hadir di saat-saat paling krusial dalam kehidupan manusia.
Di dunia bisnis dan profesional, ada perempuan-perempuan yang memimpin organisasi, mengelola perusahaan, mengambil keputusan strategis, dan menciptakan lapangan kerja. Di sektor publik, ada perempuan yang mengabdikan diri di pemerintahan, merancang kebijakan, dan melayani masyarakat.
Tidak kalah penting, ada perempuan-perempuan yang menjadi pelaku usaha kecil, yang mungkin tidak dikenal luas, tetapi setiap hari berjuang menghidupi keluarga. Ada pula mereka yang berkarya di bidang kreatif, sosial, dan komunitas—menggerakkan perubahan dari lingkup yang mungkin kecil, tetapi berdampak besar.
Dan ada juga—yang sering luput dari sorotan—perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga. Perempuan yang mungkin tidak memiliki “jabatan” secara formal, tetapi memegang peran yang sangat menentukan. Perempuan yang tidak tampil di panggung publik, tetapi menjadi fondasi dari banyak keberhasilan yang kita lihat di luar.
Tresna mungkin tidak lagi duduk di ruang rapat. Tidak lagi menyusun laporan formal. Namun setiap hari, ia sedang “mengelola” sesuatu yang jauh lebih kompleks: manusia.
Ia membentuk kebiasaan, mengajarkan nilai, mendampingi tumbuh kembang, dan menghadirkan kehangatan yang tidak tergantikan.
Dan dari situlah, saya melihat Kartini, bukan di panggung besar, tetapi di ruang-ruang kecil yang penuh makna.
Hari Kartini seharusnya bukan hanya tentang mengenang satu tokoh, tetapi juga tentang menghargai setiap perempuan yang sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
Karena pada akhirnya, perjuangan tidak selalu harus terlihat besar untuk menjadi berarti.
Dan mungkin, Kartini hari ini tidak hanya satu nama. Ia bisa ada di kantor. Di sekolah. Di rumah sakit. Di pasar. Di ruang usaha kecil. Dan di rumah. Ia bisa adalah siapa saja.
Termasuk… istri saya, Tresna Ningsih. Love U Much…