Keluarga Semesta
Family of four, two women in hijabs and two men, smiling and sharing a warm meal around a candlelit dining table.

Pernahkah terbayangkan bahwa kita adalah serpihan dari sebuah bintang yang meledak miliaran tahun lalu? Saya mengetahui hal tersebut justru ketika sedang menikmati sarapan bersama keluarga. Ada anak, menantu, cucu, hingga pengasuh yang menjaga cucu-cucu selama orang tuanya bekerja.

Astrofisikawan Neil deGrasse Tyson berucap, “Kita adalah cara alam semesta untuk mengenali dirinya sendiri.”

Memerhatikan mereka dari ujung meja, saya memandang mereka bukan sekadar kumpulan orang bergaris keturunan yang sama, melainkan sebuah ekosistem yang berimbang dalam kedinamisan. Dimulai dari yang paling senior—yakni saya—hingga cucu termuda, kita semua tersusun oleh atom. Menyadari hal tersebut membuat hati ini terhenyak: tidak ada ruang sedikit pun untuk ego atau dogma kaku di ruang keluarga ini. Kita hanyalah “percikan” dari sumber yang satu.

Namun, di balik kebahagiaan menyaksikan tiga generasi ini berkumpul, ada satu ruang kosong yang selalu mengetuk dada. Seorang istri, seorang ibu, seorang nenek—telah lebih dahulu pergi meninggalkan kami. Di saat momen paling bahagia sekalipun, rasa sedih itu selalu menyelinap. Saya pun menunduk sebentar dalam hati, berharap Almarhumah bisa melihat kami dari alam yang berbeda, ikut merasakan kebahagiaan keluarga kecil ini. Alfatihah… Semoga Almarhumah mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

Kebahagiaan di meja makan itu membuktikan bahwa energi tidak pernah musnah, ia hanya berpindah. Saya menyebutnya sebagai “Hukum Termodinamika Cinta.” Saat kita duduk bersama tanpa beban, denyut jantung kita seirama, ketegangan menghilang, dan jiwa kita menjelajah ke frekuensi yang lebih tinggi.

Di usia yang menginjak 71 tahun ini saya menolak jika angka itu menjadi batasan. Insya Allah fisik masih merasa kebalikan numerik dari usia. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengisinya, menjaga raga agar tetap kukuh selama menjadi singgasana bagi ruh yang tak meluruh dalam putaran waktu. Oleh karena itu saya memelihara kebugaran dengan cara sederhana: jogging dan latihan beban. Saya ingin menunjukkan kepada cucu-cucu, bahwa kakek mereka masih tangguh mengarungi hidup.

Tulisan ini mungkin hanya seperti sebuah jarum di tengah lautan literasi yang ada. Tapi cukup untuk menjahit cerita agar tidak hilang ditelan waktu. “Selamat sarapan untuk orang-orang tercinta,” gumam saya kala itu di meja makan. “Tetaplah menjadi bintang yang bersinar di orbitnya masing-masing, tapi tetap punya ruang untuk gravitasi cinta di meja ini.”

Di pengujung tulisan pemula ini, saya mengutip kata-kata pujangga Chairil Anwar dalam puisi “Aku” yang legendaris: “Aku ingin hidup 1000 tahun lagi.” Bukan karena takut mati, tetapi karena ada terlalu banyak cinta di meja makan ini yang belum selesai saya bagikan. Inilah motivasi hidup: terus melangkah, terus menulis, terus mencintai, sampai Sang Pencipta sendiri yang secara lembut menghentikan langkah kita.

Pangkat, 17 April 2026
Dede Rachman