
Isra Mikraj sering dipahami sebagai peristiwa ketika Rasulullah saw. menerima mandat agung berupa kewajiban salat. Namun sejatinya, peristiwa itu bukan sekadar perjalanan ruang, melainkan perjalanan makna, sebuah lintasan eksistensial dari dunia yang terbatas menuju hadirat Yang Tak Terbatas. Di dalamnya tersimpan pelajaran tentang bagaimana manusia dapat “naik” dari realitas material menuju kesadaran ilahiah.
Dari perspektif spiritual-imaniah, Isra Mikraj adalah kisah cinta paling agung dalam sejarah umat manusia, perjalanan Sang Kekasih (Nabi Muhammad saw.) menuju Yang Maha Dicintai (Allah Swt). Dalam setiap kisah cinta sejati, perjumpaan selalu melahirkan pemberian. Maka salat bukanlah sekadar kewajiban, tetapi hadiah perjumpaan, jalan agar umat Muhammad pun dapat merasakan “Mikraj ruhani” setiap hari. Melalui salat, manusia diajak keluar dari hiruk-pikuk dunia, naik menuju keheningan dan kedamaian yang penuh makna.
Namun di sinilah paradoks zaman modern muncul. Hadiah paling berharga justru sering dianggap beban. Manusia mampu tenggelam berjam-jam dalam layar gawai, tetapi merasa berat berdiri sekitar kurang lebih lima menit di hadapan Tuhannya. Ini menunjukkan bahwa krisis kita bukan pada waktu, melainkan pada orientasi makna. Hati yang terpikat oleh dunia akan sulit merasakan nikmatnya salat, sebagaimana mata yang silau akan sulit menikmati cahaya lembut fajar.
Sementara dari perspektif rasional-ilmiah, Isra Mikraj menyentuh batas-batas tertinggi imajinasi sains. Dalam fisika modern, ruang dan waktu bukan lagi realitas mutlak. Teori relativitas Einstein membuktikan bahwa waktu dapat melambat, ruang dapat melengkung, dan perjalanan yang secara klasik mustahil bisa menjadi mungkin dalam kondisi tertentu. Dalam kosmologi, dikenal konsep wormhole, time dilation, dan dimensi ekstra, semua ini membuka kemungkinan bahwa alam semesta jauh lebih luas dan kompleks daripada yang bisa dijangkau oleh indera biasa.
Isra Mikraj, dengan demikian, dapat dipahami sebagai perjalanan yang melampaui struktur ruang-waktu konvensional, sebuah peristiwa yang berada di wilayah di mana hukum fisika yang kita kenal tidak lagi menjadi satu-satunya penentu. Ia bukan bertentangan dengan rasio, melainkan justru menantang rasio untuk terus berkembang. Sains yang sejati tidak menutup kemungkinan, tetapi selalu membuka diri terhadap realitas yang lebih dalam. Di sinilah Isra Mikraj menjadi jembatan antara iman dan akal. Ia mengajarkan bahwa semesta ini bukan hanya kumpulan partikel, tetapi juga ayat-ayat Tuhan. Dan manusia bukan hanya tubuh biologis, tetapi makhluk ruhani yang memiliki potensi untuk “naik” melampaui dirinya sendiri.
Karena itu, peristiwa Isra Mikraj tidak pernah kering dari inspirasi. Ia adalah kisah tentang perjalanan manusia dari yang kasat mata menuju yang Maha Nyata, dari yang sementara menuju Yang Abadi. Dan salat, sebagai oleh-oleh terbesar dari perjalanan itu, adalah undangan harian agar setiap insan beriman dapat mengalami Mikrajnya sendiri, naik dari dunia menuju Tuhan, dari kebisingan menuju makna, dari keterpisahan menuju kehadiran Ilahi.
H.M. Zainuddin dalam artikel berjudul Isra Mikraj Nabi Muhammad Saw: dari sains modern hingga salat, yang dipublikasikan di website UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menegaskan bahwa banyak keraguan terhadap kebenaran Islam bukan muncul karena Islam itu sendiri lemah, tetapi karena cara pandangnya yang keliru. Selama ini, persoalan islam sering diuji dengan epistemologi Barat yang bersifat sekuler, yakni tradisi keilmuan yang sejak awal memisahkan realitas dari Tuhan, makna dari wahyu, serta fakta dari nilai-nilai transenden. Pendekatan semacam ini tidak mampu menangkap dimensi metafisik dan transenden yang inheren dalam teks-teks wahyu Al-Qur’an, termasuk peristiwa Isra Mikraj. Oleh karena itu, jika Islam hendak dikaji secara ilmiah, maka kajian itu harus dibangun atas kerangka epistemologi ilmu Islam, yang mengakui wahyu sebagai sumber kebenaran di samping rasio dan pengalaman, bukan sekadar paradigma sekuler yang menyingkirkan aspek transenden sejak mula.
Masih menurut H.M. Zainuddin, dalam studi Islam, setidaknya terdapat dua pendekatan besar. Pertama, pendekatan rasional–spekulatif-idealistik, yakni pendekatan filosofis yang digunakan untuk memahami teks-teks yang menyentuh wilayah metafisika, tentang Tuhan, malaikat, ruh, akhirat, dan peristiwa-peristiwa transenden seperti Mikraj Nabi Muhammad Saw. Pada wilayah ini, rasio tidak bertugas untuk “membuktikan” secara empiris, melainkan untuk menyadari keterbatasannya dan membuka diri pada kebenaran wahyu. Karena realitas metafisik memang tidak tunduk pada instrumen laboratorium.
Kedua, pendekatan rasional-empirik (scientific), yaitu pendekatan terhadap teks-teks yang berbicara tentang sunnatullah (hukum-hukum alam), ayat-ayat kauniyah, hukum-hukum syariat, serta sejarah umat manusia. Pada wilayah ini, akal, observasi, eksperimen, dan analisis historis justru sangat relevan, karena Islam sendiri mendorong manusia untuk membaca alam semesta sebagai tanda-tanda (ayat) kebesaran Tuhan.
Dalam kerangka inilah peristiwa Mikraj Nabi Muhammad Saw harus diposisikan. Perjalanan beliau dari Masjid al-Aqsha menuju Sidrat al-Muntaha dalam waktu yang sangat singkat adalah peristiwa metafisik sekaligus kosmik. Ia berada pada wilayah yang melampaui pengalaman manusia biasa dan tidak dapat direduksi menjadi sekadar fenomena fisika atau mimpi psikologis. Karena itu, tidak mengherankan jika kaum Quraisy dahulu, dan sebagian manusia modern sekarang, meresponsnya dengan penolakan. Ada yang mengatakan itu hanya mimpi, ada yang menganggap hanya perjalanan ruhani tanpa jasad. Namun jumhur ulama Ahlus Sunnah meyakini bahwa Mikraj terjadi pada diri Rasulullah saw. secara utuh, dengan ruh dan jasad, berdasarkan kekuatan nash dan konsistensi teologi Islam. Wallāhu a‘lam.
Dari perspektif filsafat ilmu, Mikraj mengajarkan satu hal mendasar, tidak semua realitas dapat diperas ke dalam tabung reaksi rasio-empirik. Ada wilayah keberadaan yang hanya dapat dijangkau oleh wahyu dan iman. Dan justru di sanalah, Islam menunjukkan kedalaman epistemologinya, bahwa ilmu bukan hanya tentang apa yang dapat diukur, tetapi juga tentang apa yang dapat dimaknai. Dengan demikian, Mikraj bukanlah tantangan bagi akal, melainkan panggilan agar akal mengenali batasnya, lalu berjalan bersama wahyu menuju pemahaman yang lebih utuh tentang semesta dan Tuhan.
Banyak cendekiawan dan ilmuwan Muslim berupaya membaca dan menafsirkan peristiwa Isra Mikraj melalui disiplin ilmu yang mereka kuasai, sembari tetap menyadari bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT, dan hanya Dia Yang Maha Mengetahui hakikat segala sesuatu.
Dalam Tafsir Ilmi yang secara khusus mengkaji tema waktu dalam perspektif Al-Qur’an dan sains, sebuah karya kolaboratif antara Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dijelaskan pemikiran Prof. Dr. Achmad Baiquni, seorang guru besar fisika di FMIPA Universitas Gadjah Mada yang menekuni bidang High Energy Particle Physics. Achmad Baiquni dikenal melalui dua karyanya yang berpengaruh, yaitu Al-Qur’an, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (1994) dan Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman (1996). Di dalam buku pertamanya, ia secara khusus mengemukakan pandangannya mengenai peristiwa Isra Mikraj, yang menjadi salah satu rujukan penting dalam upaya memahami hubungan antara wahyu, waktu, dan realitas kosmik.
“Karena dalam peristiwa Isra dan Mikraj Rasulullah melihat hal-hal yang tidak dapat terjadi di alam kita ini, maka kita dapat mengatakan bahwa perjalanan itu berlangsung di alam lain. Kita tidak dapat mengasosiasikan langit-langit yang dikunjunginya malam itu dengan planetplanet tetangga kita di dalam tata surya. Usaha semacam itu, yang dilakukan beberapa orang di lingkungan umat Islam, sebenarnya merupakan tindakan yang dapat menodai kesucian Isra dan Mikraj. Sebagai muslim kita meyakini adanya alam-alam lain, yaitu alam gaib, yang tidak berhubungan dengan kita, sehingga tidak dapat kita teliti hukum hukum pengaturannya.”(1994:114-115)
Dalam Tafsir Ilmi tentang waktu dalam perspektif Al-Qur’an dan sains, dijelaskan bahwa Achmad Baiquni mulai membaca peristiwa Isra Mikraj melalui kemungkinan adanya “alam lain” atau dimensi lain tempat peristiwa itu berlangsung. Setelah terpengaruh oleh buku Life after Life karya Dr. Moody, yang mendokumentasikan pengalaman orang-orang yang pernah mati klinis. Baiquni cenderung berpandangan bahwa Isra Mikraj dialami Rasulullah saw. secara ruhiah. Menurutnya, kemampuan melihat dan mendengar tidak mutlak bergantung pada organ fisik, karena roh pun dapat mengalami persepsi. Ia menegaskan bahwa jika suatu peristiwa terjadi melalui hukum-hukum alam yang belum kita ketahui atau dalam dimensi gaib yang berada di luar jangkauan ilmu, maka mukjizat itu memang tidak dapat diuji secara rasional, melainkan diterima dengan iman.
Pandangan lain terhadap kemungkinan rasionalitas Isra Mikraj disampaikan oleh Prof. Dr. Ahmad Syalabi, sejarawan Muslim dari Mesir. Menulis pada era awal penjelajahan antariksa, ia menyatakan bahwa meskipun Isra Mikraj terasa sulit diterima oleh generasi masa lalu, peristiwa itu menjadi jauh lebih mudah dipahami oleh generasi modern yang telah menyaksikan manusia mampu mengirim satelit seperti Sputnik I mengelilingi bumi dengan kecepatan luar biasa. Dengan kata lain, kemajuan sains justru membuka ruang baru bagi akal untuk menerima kemungkinan peristiwa-peristiwa yang dahulu dianggap mustahil.
Pada awal abad ke-21, ilmu pengetahuan, khususnya fisika nuklir, fisika partikel berenergi tinggi, fisika kuantum, dan astrofisika, telah berkembang dengan sangat pesat, dan banyak ilmuwan Indonesia kini menguasai disiplin-disiplin mutakhir tersebut, di antara mereka terdapat para pakar Muslim yang dengan kesadaran keimanan menaruh perhatian mendalam pada ayat-ayat kauniyah Al-Qur’an serta pada peristiwa Isra Mikraj sebagai fenomena agung yang terus menantang sekaligus menginspirasi kajian ilmiah.
Dalam kajian fisika modern, baik fisika kuantum, astrofisika, maupun rekayasa nuklir, peristiwa Isra Mikraj dapat dipahami melalui pendekatan antar dimensi. Prof. Dr. Thomas Djamaluddin, pakar astrofisika Indonesia, dalam sejumlah tulisannya sejak dekade 1990-an (sebagaimana dirujuk dalam Tafsir Ilmi: Penciptaan Jagat Raya dalam Perspektif Al-Qur’an dan Sains, 2010) menjelaskan bahwa perjalanan Rasulullah saw. lebih tepat dipahami sebagai perpindahan antar dimensi, bukan sekadar perpindahan ruang fisik. Manusia hidup dalam dimensi ruang-waktu empat dimensi, panjang, lebar, tinggi, dan waktu, yang membatasi cara kita mengukur jarak, gerak, dan peristiwa. Isra Mikraj, dalam kerangka ini, adalah perjalanan dari satu struktur ruang-waktu ke struktur ruang-waktu lain yang lebih tinggi. Hal ini juga dijelaskan dalam bukunya yang berjudul Semesta Pun Berthawaf (2018) bahwa satu pendekatan yang dilakukan untuk menjelaskan perihal Isra Mikraj adalah dengan melakukan pendekatan konsep ekstradimensi, meski pendekatan ini juga belum tentu benar.
Dalam Tafsir Ilmi tentang waktu dalam perspektif Al-Qur’an dan sains, dijelaskan bahwa Untuk memudahkan pemahaman, Djamaluddin memberi analogi dunia dua dimensi berbentuk huruf “U” besar yang dihuni makhluk seperti semut. Bagi semut dua dimensi, berpindah dari satu ujung ke ujung lain harus menempuh jarak yang sangat panjang, tetapi bagi manusia tiga dimensi, semut itu dapat diangkat dan dipindahkan secara langsung, karena ia dibawa keluar dari dunianya menuju dimensi yang lebih tinggi. Demikianlah gambaran sederhana perjalanan antar dimensi: Rasulullah saw. diperjalankan oleh Allah keluar dari batasan ruang-waktu biasa menuju dimensi-dimensi realitas yang lebih tinggi, sehingga lintasan yang secara normal mustahil menjadi mungkin dalam kehendak-Nya.
Ir. Agus Mustofa, seorang pakar Nuclear Engineering, dalam bukunya Terpesona di Sidratul Muntaha (2005) menjelaskan bahwa pemilihan Malaikat Jibril sebagai pendamping Rasulullah saw. dalam peristiwa Isra Mikraj memiliki makna fisik yang dalam. Jibril diciptakan dari cahaya, demikian pula Buraq sebagai wahana perjalanan. Karena tersusun dari cahaya, keduanya secara teoritis mampu bergerak dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 kilometer per detik. Mustofa menegaskan bahwa dalam fisika modern, hanya entitas yang sangat ringan, yakni foton, partikel penyusun cahaya, yang dapat bergerak dengan kecepatan setinggi itu tanpa mengalami kehancuran. Karena itu, makhluk yang berbadan cahaya seperti malaikat dan Buraq tidak menghadapi kendala untuk melesat pada kecepatan ekstrem tersebut.
Masalah muncul ketika kita meninjau posisi Rasulullah saw sebagai manusia yang tubuhnya tersusun dari materi bermassa. Dalam fisika, jika benda bermassa dipercepat mendekati kecepatan cahaya, gaya yang timbul akan melampaui energi ikat (binding energy) yang menyatukan partikel-partikel penyusunnya. Tubuh manusia tersusun berlapis-lapis, dari jaringan, sel, molekul, atom, hingga partikel subatom, yang semuanya bertahan sebagai satu kesatuan karena energi ikat. Ketika percepatan makin tinggi, gaya yang melawan energi ikat itu semakin besar, hingga pada titik tertentu struktur tubuh akan terurai dan tercerai menjadi partikel-partikel dasarnya. Di sinilah Isra Mikraj kembali menegaskan hakikatnya sebagai mukjizat ilahi, sebuah peristiwa di mana hukum-hukum fisika tunduk kepada kehendak Allah, sehingga Rasulullah SAw dapat menempuh perjalanan kosmik tanpa kehilangan keutuhan jasad dan jiwanya.
Dr. Agus Purwanto, pakar fisika kuantum, dalam Ayat-Ayat Semesta (2008) menjelaskan bahwa menurut Teori Relativitas Khusus Einstein, hanya entitas yang tidak bermassa, yakni cahaya atau foton, yang dapat bergerak dengan kecepatan cahaya. Karena itu, jika Isra Mikraj ditelaah murni dengan kerangka relativitas, akan muncul kesimpulan bahwa yang dapat bergerak secepat cahaya hanyalah unsur non-materi, sehingga sebagian menafsirkan bahwa peristiwa itu dialami Rasulullah Saw secara ruhani. Bahkan, menurut perhitungan relativistik, benda bermassa yang dipercepat mendekati kecepatan cahaya akan mengalami kehancuran struktural.
Untuk menjawab problem ini, Agus Mustofa menawarkan apa yang ia sebut “skenario rekonstruksi” berbasis teori annihilasi dalam fisika nuklir dan kuantum. Dalam teori ini, ketika materi bertemu antimateri, keduanya saling meniadakan dan berubah menjadi energi murni berupa sinar gamma, sebaliknya, energi itu dapat kembali membentuk pasangan materi–antimateri.
Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan anti proton, atau elektron dengan positron (antielektron maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan enen masing-masing 0,511 MeY untuk pasangan partikel elektron, dan 938 MeY untuk pasangan partikel proton sebaliknya, jika ada seberkas smar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi 2 buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukkan bahwa materi memang bisa diubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi (Mustofa, 2005: 20).
Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan medan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi dua buah pasangan partikel seperti di atas. Hal ini menunjukan bahwa materi memang bisa berubah menjadi cahaya dengan cara tertentu, yang disebut sebagai reaksi Annihilasi. Dengan pendekatan ini maka keraguan akan peristiwa agung Isra Mikraj akan terjawab. Teori annihilasi ini merupakan salah satu dari beberapa pendekatan yang disampaikan oleh para ilmuan muslim untuk menjelaskan peristiwa agung Isra Mikraj dalam tinjauan sains- meskipun apa yang para ilmuan itu sampaikan bisa bernilai benar atau kebalikannya.
Mustofa menafsirkan bahwa sebelum Isra, Rasulullah Saw mengalami proses penyucian dan pembedahan oleh Malaikat Jibril, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis sahih, yang kemudian dipahami sebagai momen transformasi tubuh fisik beliau menjadi substansi bercahaya, sehingga kualitas eksistensinya diselaraskan dengan Jibril dan Buraq yang memang berbadan cahaya.
Dengan tubuh yang telah berada dalam keadaan bercahaya, Rasulullah Saw bersama Jibril dan Buraq, menurut skenario ini, dapat melesat dengan kecepatan cahaya sekitar 300.000 km per detik, sehingga jarak Mekah–Palestina dapat ditempuh dalam waktu amat singkat. Dalam fisika teoretis dan kosmologi kuantum, perjalanan pada atau melampaui kecepatan cahaya secara hipotetis berkaitan dengan pelipatan ruang-waktu (space-time folding), yang memungkinkan penembusan batas-batas waktu dan dimensi. Inilah yang oleh Mustofa dipakai untuk menjelaskan mengapa Rasulullah Saw dapat menyaksikan berbagai realitas, baik yang lampau maupun yang akan datang, selama perjalanan Isra Mikraj, sembari tetap berada dalam kesadaran penuh, mengamati, berdialog dengan Jibril, serta mengingat seluruh pengalaman itu untuk disampaikan kembali kepada umatnya.
Pada akhirnya, upaya memahami Isra Mikraj melalui perspektif sains bukanlah untuk mereduksi mukjizat menjadi sekadar fenomena fisika, melainkan untuk menyadarkan kita bahwa alam semesta ini jauh lebih luas, dalam, dan lebih misterius daripada yang mampu dijangkau oleh indera dan persamaan matematis. Ketika fisika modern berbicara tentang ruang-waktu yang melengkung, dimensi ekstra, dan energi cahaya, sesungguhnya ia sedang menyentuh batas-batas pengetahuan manusia, batas yang justru menjadi pintu bagi kehadiran wahyu. Isra Mikraj mengajarkan bahwa ilmu dan iman bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sayap yang membawa manusia terbang menuju pemahaman yang lebih utuh tentang realitas dan Sang Pencipta.
Wallāhu A‘lam Bisshawab