Rasulullah, Aku Datang
Sunlit large green dome with vertical ribbing and a gold finial atop a white base and crenellated parapet, with an ornate minaret visible to the right.


Aku pernah mendengar tentang cintamu yang mendahului keberadaanku bahkan sebelum di alam rahim. Lama sekali sebelum hari ini, ikrar cintamu padaku mengalir abadi menutur lewat lisan pecinta murni. Ketika itu, kau bersabda:

ودِدْتُ أنَّا قدْ رَأَيْنا إخْوانَنا

Seandainya bisa, aku ingin sekali bertemu dengan saudara-saudaraku.

Keheranan mendengar ungkapan itu, sahabat di sekelilingmu yang menjadi saksi ikrar itu sampai bertanya: ‘Bukankah kami saudaramu, wahai Rasulullah ﷺ?’ Kemudian tanpa menyinggung, Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Kalian adalah sahabatku. Adapun yang kumaksud dengan saudara-saudara kita adalah mereka yang datang setelah ketiadaanku.’ Menghabiskan rasa penasarannya, mereka kembali bertanya: ‘Kalau begitu, bagaimana caramu mengenali umat yang datang setelahmu, wahai Rasulullah ﷺ?’ Bukan menjawab, engkau malah membalas pertanyaan itu dengan pertanyaan: ‘Bagaimana pendapat kalian tentang seseorang yang memiliki kuda putih di antara gerombolan kuda hitam. Tidakkah ia mengenali yang mana kudanya?’. Spontan mereka menjawab: ‘Pasti ia mengenalinya dengan mudah, Wahai Rasulullah ﷺ’. Mengusaikan percakapan itu, Rasulullah ﷺ mengungkapkan: ‘Begitulah aku akan mengenali umatku yang tak sempat bersua denganku. Pada hari kiamat, mereka datang dengan terang benderang bekas basuhan wudhu pada tubuhnya. Dengan begitu, aku akan mudah mengenali mereka di antara banyaknya manusia.’

Semoga yang engkau maksud sebagai saudara dalam sabdamu itu salah satunya adalah aku. Tapi kalau benar, apa yang bisa kulakukan untuk paling tidak membalas cintamu meski tidak setara? Bagaimana caraku mencintaimu yang belum pernah kunikmati keindahannya? Bagaimana caramu mencintaiku yang bahkan wujudku saja belum berbentuk manusia? Aku ingin juga merindu sepertimu yang sangat ingin mengusaikan siksa berpisah dengan jumpa. Rasa berdosa karena mencampakkan cintamu sudah sejak lama menggerogoti kemanusiaanku. Aku malu dengan sebongkah batu di Mekkah yang kerap menyapamu dengan salam kala keharumanmu melewati pekarangan tanahnya. Jabir bin Samurrah ra. mengisahkan tentang betapa kuasanya cintamu yang memaksa keras batu keluar dari kodratnya sebagai makhluk tak berkata. Sedang aku yang berlisan hampir kelu dari limpahan selawat dan salam untukmu. Jabir juga bercerita tentang kasih sayangmu yang menyeluruh. Aku tahu itu dari ketulusanmu yang selalu menerima cinta dari apa dan siapa pun. Sehingga yang mencintaimu tidak pernah pulang dengan hati hampa. Bahkan batu pun beruntung menerima balas kasihmu yang menyediakan baginya tempat khusus dalam ingatanmu dan dengan bangga kau sebut dia dalam kenanganmu:

إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ. إِنِّي لأعرفه الآن

Sungguh, aku benar-benar mengenali batu di Mekkah yang selalu menyalamiku bahkan sejak sebelum aku diutus. Sungguh, hingga kini pun aku masih mengenalinya.

Aku malu pada sebatang pangkal kurma yang membuat lebih dari 40 sahabat Rasulullah ﷺ merinding mendengar rintihannya karena tak lagi digunakan sebagai mimbar Rasulullah ﷺ setelah dibuatkan yang baru. Serupa tapi tak sama, cintanya pada sang kekasih merobek batasannya sebagai tumbuhan tak bermata untuk menangisi kepergian Rasulullah ﷺ. Sedang aku setiap hari hanya menambah tebal hijab pandanganku dari keindahanmu dengan dosa dan keringnya air mata. Padahal, jika bukan karena bujukanmu yang memeluknya laksana pelukan kasih ayah pada anaknya, niscaya pangkal pohon itu akan terus menangis hingga huru-hara kiamat yang menghentikannya. Seperti sabdamu:

لَوْ لَمْ أَحْتَضِنْهُ لَحَنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Jika aku tidak memeluknya, niscaya ia akan terus menangis hingga datang hari kiamat.

Aku juga malu pada Uhud, onggokan batu yang menggunung. Kekokohannya tidak menghalangi cintamu bersemayam di dalamnya. Aku tidak tahu bagaimana dia mencintaimu. Pendengaranku tidak pernah menerka salamnya, tidak pula menduga tangisan kerinduannya. Aku hanya tahu tentang guncangannya saat engkau bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman bertengger di puncaknya. Entah, apakah itu tanda kebahagiaannya karena dipijaki kaki yang pernah menyentuh semesta di atas langit ke tujuh? Atau hanya fenomena alam biasa yang kebetulan terjadi begitu saja. Bagaimana engkau menerjemahkan guncangan itu, wahai Rasulullah ﷺ? Apakah engkau menangkapnya sebagai bagian dari ekspresi cintanya sampai engkau harus menyuruhnya untuk tenang, seraya berkata:

اثْبُتْ أُحُدُ فإنَّما عَلَيْكَ نَبِيٌّ وصِدِّيقٌ وشَهِيدَانِ

Diamlah, Uhud. Sesungguhnya di atas punggungmu ada seorang nabi, Shiddiq (Abu Bakar) dan dua orang syahid (Umar dan Utsman).

Karena itukah engkau mengungkapkan cintamu padanya?

إِنَّ أُحُدًا جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ

Sesungguhnya Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.

Sekeras apa hatiku yang sedikit pun tidak terguncang ketika diperdengarkan namamu? Adakah ia lebih batu dari Uhud? Wahai, Uhud. Beri tahu aku bagaimana bisa keteguhanmu goyah tak kuasa menahan gejolak rindumu padanya?

Ada banyak lagi kisah lainnya yang menjadi bukti ikatan kuat yang terjalin antara alam semesta dengan kekasihnya, Muhammad ﷺ. Kisah itu tidak dituturkan sebagai dongeng dari mulut ke mulut saja. Lebih dari itu, mereka adalah jelmaan tentara Tuhan yang ditugaskan untuk memberikan pelajaran bagi siapa saja yang hendak mengenal siapa sosok penyelamat hidupnya di dunia fana dan alam baka. Agar manusia mengerti bagaimana alam memperlakukan manusia sempurna ini. Benarlah Tuhan yang mengutusnya sebagai rahmat (kasih sayang) untuk semesta alam.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat (kasih sayang) untuk sekalian alam. (Q.S al-Anbiya’ : 107)

Persis hari ini, 26 tahun yang lalu tepatnya, tangisan pertamaku pecah menandakan awal mula kehidupan baru setelah usai menghabiskan jatah rezeki di alam rahim. Selain tangisanku yang memekakkan telinga, kata ibu ada suara lain yang menyambut syukur kehadiranku. Pada lantunan itu, aku dibisikkan dan dikenalkan tentang dua nama, bahkan sebelum aku tahu siapa nama ayah dan ibuku. Nama itu adalah nama-Nya dan namamu, wahai Rasulullah ﷺ. Seolah tangisan suci itu berasal dari ketakutanku meraba gelap dunia ini, dan namamu perlahan mengurai isak yang mulai menyesakkan dada. Hingga hari ini, setelah sedikit banyak merasakan getirnya, azan pertama di hidupku itu akhirnya menyadarkan bahwa penawarnya adalah mendengarkan tentangmu. Tentang bagaimana kesantunanmu meluruhkan hati musuh yang begitu tega mengecammu, sebelum akhirnya ketangkasanmu meruntuhkan gagah raganya. Tentu, kesadaran itu tidak lahir begitu saja. Ayah-ibu serta guru memiliki peran besar menghadirkannya ke relung hati yang terdalam. Kesadaran itulah yang akhirnya membawaku pada muara keluhuran akhlakmu, dan aku menolak menikmati kesejukannya sendiri. Oleh sebab itu, lewat tulisan-tulisan semacam ini, jemariku menuangkan seteguk keindahan akhlakmu untuk siapa saja yang dahaga akan teladanmu. Entah sudah sampai tulisan yang ke berapa, secara kebetulan saja, tulisan tentangmu kali ini sedikit berbeda. Rasanya, tulisan yang sudah-sudah seperti rayuan dan rengekan yang sedang mencoba mencuri perhatianmu sebelum akhirnya hari ini engkau mengundangku ke taman surgamu tepat di hari kelahiranku. Ini menjadi kado terindah sepanjang masa. Bagaimana tidak? Hadiahku adalah dirimu. Muhammad ﷺ. Sosok yang namanya setiap detik menggema di seluruh belahan dunia melalui kumandang azan bersanding dengan nama-Nya. Nama yang kerasulannya menentukan keislaman seorang hamba dihadapan Tuhan. Tuan rumah yang tidak pernah mengecewakan tetamunya. Kekasih yang apabila diminta tidak pernah berkata tidak. Seperti yang diceritakan Jabir bin Abdullah:

ما سُئِلَ رَسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ شيئًا قَطُّ، فَقالَ: لَا

Rasulullah ﷺ tidak pernah sekali pun ketika dimintakan sesuatu kemudian beliau berkata: ‘Tidak’

Wahai Rasulullah ﷺ, izinkan aku bertamu untuk beberapa saat saja. Aku tahu, peziarahmu bukan hanya aku. Di antara jutaan pecandumu, jadikanlah aku salah satu yang kau sediakan sepetak tanah untuk simpuh meski di pelataran. Wahai, Rasulullah ﷺ, jika pekat dosaku menghalangi langkah putihku menuju kesucianmu, maka kepada siapa aku harus berlindung di balik penghakiman Tuhan? lisan siapa yang kujadikan panjangan doa mengharap ampunan-Nya? justru karena noda dosa itulah aku bermaksud datang ke haribaanmu. Sebab aku pernah mendengar janji Allah yang menjamin ampunan-Nya bagi siapa pun yang engkau mohonkan ampun untuknya. Kalau tidak salah, begini bunyinya:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَّحِيمًا

Seandainya mereka (orang-orang munafik) setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Nabi Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (an-Nisa’ : 64)

Tentang kebenaran ayat ini, Ibnu Katsir menceritakan kisah ‘Utbiy (255 H) yang pada saat itu sedang berada di pekarangan kubur Rasulullah ﷺ. Kemudian datanglah seorang laki-laki dari antah-berantah, seraya menghaturkan salam kepada Baginda Nabi ﷺ: ‘Assalamu ‘Alayka Yaa Rasulullah.. Sesungguhnya aku pernah mendengar Allah Swt berfirman (membacakan ayat di atas)’. Lantas orang asing itu melanjutkan rengekannya: ‘Saat ini aku datang kepadamu memohon istighfarmu untuk dosa-dosaku, memohon syafa’atmu kepada Allah swt.’ Sebelum pergi, ia menggubah bait syair indah yang mengusaikan ziarahnya.

يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالقَاعِ أَعْظُمُهُ* فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ القَاعُ وَالأَكَمُ

Wahai sebaik-baik jasad yang dikuburkan di tanah yang kuagungkan ini, maka menjadi harum serta indahlah tanah dan perbukitan karena keharumannya.

نَفْسِي الفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ* فِيْهِ العَفَافُ وَفِيْهِ الجُوْدُ وَالكَرَمُ

Diriku menjadi tebusan bagi kubur yang engkau huni. Di dalamnya terdapat kesucian, kedermawanan, dan kemuliaan.

أَنْتَ الحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفَاعَتُهُعِنْدَ الصِّرَاطِ إِذَا مَا زَلَّتِ القَدَمُ

Engkaulah kekasih yang diharapkan syafaatnya, di saat melewati jembatan (shirat) ketika kaki-kaki tergelincir.

وَ صَاحِبَاكَ فَلَا أَنْسَاهُمَا أَبَدًامِنِّي السَّلَامُ عَلَيْكُمْ مَا جَرَى القَلَمُ

Dan kedua sahabatmu (Abu Bakar dan Umar), aku tidak akan pernah melupakan mereka selamanya, salam sejahtera dariku untuk kalian, selama pena masih mengalir (menulis).

Setelah melihatnya pergi, ‘Utbi kemudian tertidur. Dalam mimpinya, ia melihat Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Wahai ‘Utbi, kejarlah lelaki tersebut. Sampaikan kabar gembira dan katakan padanya bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya.’

Ketulusan cintanya pada Rasulullah ﷺ mengabadikan puisi romansanya hingga hari ini. Bait-bait kerinduan itu, kini terpahat di 4 pilar kamar yang memeluk jasad muliamu. Lewat kisah ini, seolah Allah ingin memperlihatkan kepada jagat raya tentang kepastian ampunan dari-Nya bagi hamba yang datang memohon istighfarmu tanpa kepentingan dunia.
Wahai Rasulullah ﷺ, jika benar engkau tidak pernah menolak permintaan, maka pada waktu yang singkat ini, pintaku hanya istighfarmu untukku dan kekasih yang hadir dalam tengadahku. Semoga dengan itu, Tuhan-mu berkenan menggugurkan catatan yang memalukan dalam kitab hisabku, serta menggantinya sebagai amal kebajikan. Sehingga dosaku yang menggunung beralih fungsi menjadi bentuk investasi pahala. Sebab, aku pernah mendengar-Nya berfirman:

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Furqan : 70)

ذَاكَ قُبَابٌ طَيْبَةٌ مَدِيْنَةُ نَبِيْنَا * طَابَتْ ثَرَاهَا بِرَسُوْلِ مُحَمَّدٍ عَلَيْهِ سَلَامُنَا

Itulah kubah Madinah, kediaman Rasulullah ﷺ.. Tanahnya menjadi baik karena Nabi Muhammad ﷺ.. salam kami bagimu.. wahai Rasulullah ﷺ

يَارَسُوْلَ الله مِنَ الْبُعْدِ وَصَلْنَا * يَارَسُوْلَ الله لَالِغَيْرِكَ مَقْصَدُنَا

Wahai Rasulullah ﷺ.. dari jauh kami datang.. Wahai Rasulullah ﷺ tiada maksud kedatangan kami selain engkau

يَارَسُوْلَ الله عِنْدَ بَابِكَ وَقَفْنَا * يَارَسَوْلَ الله اِفْتَحْ بَابَكَ لَنَا

Wahai Rasulullah ﷺ.. di hadapan pintumu kami berdiri.. Wahai Rasulullah ﷺ.. sudilah kiranya engkau membukanya untuk kami

يَارَسُوْلَ الله إِنِّى اُحِبُّكَ فَاقْبَلْنَا * يَارَسُوْلَ الله ذِكْرُكَ شِفَاءٌ لَنَا

Wahai Rasulullah ﷺ.. sungguh aku begitu mencintaimu, maka terimalah.. Wahai Rasulullah ﷺ sebutanmu adalah penawar bagi kami

يَارَسُوْلَ الله اِسْمُكَ نُوْرٌ لَنَا * يَارَسُوْلَ الله حَيْثُمَا كُنَّا وَاَوْلَادَنَا

Wahai Rasulullah ﷺ.. namamu adalah cahaya bagi kami.. dimana pun kami beserta anak-anak kami

يَارَسُوْلَ الله اِسْتَجِبْ دُعَانَا وَنِدَأَنَا * يَارَسُوْلَ الله مِنْ خَيْرِ جُوْدِكَ جُدْلَنَا

Wahai Rasulullah ﷺ jawablah panggilan dan seruan kami.. Wahai Rasulullah ﷺ berdermalah kepada kami dari sebaik-baik kedermawananmu
Wahai Rasulullah ﷺ, aku datang.

Madinah al-Munawwarah, 25 Rajab 1447 H