Apakah Kita Benar-Benar Semakin Pintar?

Beberapa waktu lalu, saat mengikuti Rapat Evaluasi Bulanan di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, saya mendapatkan satu istilah menarik dari penuturan Prof. Ismatu Rofi, Ph.D. Beliau menyinggung tentang Flynn Effect dan fenomena kebalikannya yang dikenal sebagai Reverse Flynn Effect.

Entah kenapa, istilah itu terus terngiang di kepala saya. Saya pun penasaran dan mencoba mencari tahu lebih jauh. Membaca beberapa artikel dan penelitian, lalu mencoba menghubungkannya dengan apa yang kita lihat sehari-hari. Tentang anak-anak kita, tentang pendidikan, tentang teknologi, bahkan tentang cara kita sendiri menjalani kehidupan.

Ternyata, persoalannya menarik. Sederhananya, Flynn Effect adalah fenomena meningkatnya skor tes IQ dari satu generasi ke generasi berikutnya. Fenomena ini banyak diteliti oleh James R. Flynn. Selama sebagian besar abad ke-20, ditemukan bahwa generasi yang lahir lebih belakangan cenderung memperoleh skor tes kecerdasan lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Angkanya sering disederhanakan sekitar 3 poin IQ per dekade. Sebuah meta-analisis besar oleh Trahan dan koleganya (2014), misalnya, menemukan kenaikan rata-rata sekitar 2,31 poin IQ per dekade secara keseluruhan, dengan angka yang mendekati 3 poin pada beberapa tes kecerdasan modern.

Pertanyaannya kemudian: apakah manusia memang semakin pintar? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Perubahan yang terjadi dalam waktu beberapa generasi terlalu cepat jika hanya dijelaskan dari faktor genetis. Ada banyak kemungkinan lain: pendidikan yang semakin baik, nutrisi dan kesehatan yang meningkat, lingkungan yang semakin kompleks, semakin banyaknya pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir abstrak, hingga semakin terbiasanya manusia menghadapi berbagai bentuk informasi dan persoalan.

Dengan kata lain, lingkungan tempat kita hidup ikut “melatih” otak kita. Namun kemudian muncul sesuatu yang menarik. Di beberapa negara, tren kenaikan tersebut mulai melambat. Bahkan dalam sejumlah penelitian, skor pada generasi berikutnya justru mengalami penurunan. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai Reverse Flynn Effect atau negative Flynn effect.

Penelitian Bratsberg dan Rogeberg (2018) di Norwegia menjadi salah satu yang cukup menarik. Mereka menemukan pola kenaikan, kemudian titik balik, lalu penurunan skor pada kelompok kelahiran berikutnya. Analisis mereka juga memberikan bukti kuat bahwa perubahan lingkungan memainkan peran penting.

Tentu kita harus berhati-hati membaca fenomena ini. Reverse Flynn Effect bukan berarti anak-anak zaman sekarang semakin bodoh. Temuannya berbeda antara satu negara dengan negara lainnya, antara periode yang satu dengan periode berikutnya, bahkan antara jenis kemampuan kognitif yang diukur. Jadi kurang tepat jika kemudian kita menggunakannya untuk menghakimi sebuah generasi.

Justru bagi saya, pertanyaan yang lebih menarik adalah: Apa yang sedang terjadi dengan lingkungan tempat kita tumbuh dan belajar?

Pertanyaan ini membawa saya kepada kehidupan kita hari ini. Coba perhatikan. Kita mungkin sedang hidup pada zaman dengan akses pengetahuan terbesar sepanjang sejarah manusia.

Tidak tahu sesuatu? Google. Tidak mengerti pelajaran? YouTube. Tidak tahu jalan? Google Maps. Ingin menerjemahkan bahasa asing? Ada aplikasi. Mau mencari ide, membuat rangkuman, bahkan menyelesaikan sebuah pekerjaan? Sekarang ada AI.

Semua semakin mudah. Tetapi di situlah paradoksnya. Apakah semakin mudah mendapatkan jawaban berarti kita semakin pintar? Belum tentu.

Saya kadang melihat anak-anak sekarang begitu cepat mencari jawaban. Ketika mendapatkan tugas, dalam hitungan detik mereka bisa menemukan jawabannya di internet. Bahkan sekarang tinggal bertanya kepada AI. Tetapi kalau kemudian ditanya, “Kenapa jawabannya begitu?” Belum tentu mereka mampu menjelaskan.

Di sinilah saya mulai melihat persoalannya bukan pada teknologi. Teknologi luar biasa membantu manusia. Persoalannya adalah jangan sampai teknologi mengambil alih proses berpikir kita.

Dulu ketika tersesat, kita harus mengingat jalan, membaca tanda, atau bertanya kepada orang. Sekarang kita tinggal mengikuti suara dari aplikasi navigasi. Dulu ketika tidak tahu arti sebuah kata, kita membuka kamus. Sekarang cukup mengetik. Dulu ketika mendapatkan tugas, kita membaca beberapa buku untuk mencari jawabannya. Sekarang jawaban bisa muncul dalam hitungan detik.

Tentu saya tidak sedang mengajak kita kembali ke zaman tanpa teknologi. Justru sebaliknya. Gunakan teknologi sebanyak mungkin. Tetapi gunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir, bukan menggantikan aktivitas berpikir.

Di sinilah menurut saya Flynn Effect dan Reverse Flynn Effect menjadi refleksi penting bagi kita sebagai orang tua. Kadang karena sayang kepada anak, kita ingin membuat semuanya mudah. Anak kesulitan mengerjakan sesuatu, kita bantu. Anak tidak tahu, kita beri jawabannya. Anak bosan, kita berikan gadget. Anak punya masalah dengan temannya, kita yang menyelesaikan.

Niatnya tentu baik. Namun tanpa sadar, jangan-jangan kita sedang mengambil kesempatan anak untuk berlatih menghadapi masalah. Sesekali ketika anak bertanya, “Ayah, jawabannya apa?” Mungkin jangan langsung dijawab. Kita bisa balik bertanya: “Kalau menurut kamu bagaimana?”. “Kenapa kamu berpikir begitu?”. “Kalau cara itu tidak berhasil, ada cara lain nggak?”.

Pertanyaan sederhana seperti ini justru bisa menjadi “gym” bagi otak anak. Karena seperti otot, kemampuan berpikir perlu dilatih. Anak-anak kita tidak hanya membutuhkan lebih banyak jawaban. Mereka membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk menemukan jawaban.
Hal yang sama berlaku di sekolah. Ini menjadi tantangan bagi para guru. Dulu, guru menjadi salah satu sumber utama pengetahuan. Hari ini, seorang siswa bisa menemukan informasi tentang materi yang sedang diajarkan gurunya hanya dalam beberapa detik.

Karena itu, peran guru semakin penting—tetapi perannya berubah. Guru bukan hanya orang yang memberikan informasi. Guru adalah orang yang membantu murid memahami informasi. Membantu mereka bertanya. Membantu mereka berdiskusi. Membantu membedakan informasi yang benar dan salah. Membantu menghubungkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya. Dan yang paling penting, membantu mereka belajar berpikir.

Dalam konteks pesantren, refleksi ini menurut saya menjadi semakin relevan. Kita tentu ingin santri memiliki kedalaman ilmu agama, adab yang baik, spiritualitas yang kuat, serta karakter yang kokoh. Tetapi mereka juga akan hidup di dunia yang berbeda dengan dunia kita hari ini.

Mereka akan menghadapi AI, otomatisasi, perubahan pekerjaan, persaingan global, banjir informasi, dan berbagai persoalan yang mungkin hari ini bahkan belum kita bayangkan. Maka selain mengajarkan apa yang harus dipikirkan, pendidikan juga harus mengajarkan bagaimana cara berpikir.

Begitu pula di dunia kerja. Saya sering melihat orang yang sangat pintar ketika pertama kali masuk perusahaan. Gelarnya bagus. Kompetensinya bagus. Pengalamannya juga bagus.

Namun beberapa tahun kemudian, dunia berubah. Teknologi berubah. Pelanggan berubah. Cara bekerja berubah. Lalu pengetahuan yang dulu membuat kita unggul perlahan menjadi biasa. Di sinilah saya semakin percaya bahwa kompetensi penting hari ini bukan hanya apa yang kita ketahui, tetapi juga seberapa cepat kita mampu belajar kembali.

Kita mengenalnya dengan istilah learning agility. Mau belajar sesuatu yang baru. Berani mengakui bahwa cara lama mungkin sudah tidak relevan. Mau bertanya kepada orang yang lebih muda. Mau membaca lagi. Mau mengikuti pelatihan lagi. Bahkan mau mengatakan: “Saya belum tahu. Saya harus belajar.”

Kalimat sederhana, tetapi semakin sulit diucapkan ketika seseorang merasa sudah senior. Dari sinilah pembahasan Flynn Effect dan Reverse Flynn Effect akhirnya membawa saya kepada refleksi yang lebih personal.

Mungkin pertanyaan terpenting bukan: “Apakah generasi sekarang lebih pintar daripada generasi sebelumnya?”. Bukan pula: “Apakah IQ manusia sedang naik atau turun?”. Tetapi: “Apakah lingkungan yang kita bangun membuat manusia semakin suka berpikir atau justru semakin malas berpikir?”

Sebagai orang tua, lingkungan seperti apa yang kita bangun di rumah? Sebagai guru, apakah kelas kita membuat siswa penasaran atau sekadar sibuk menghafal? Sebagai pemimpin, apakah pekerjaan yang kita berikan membuat orang berkembang atau hanya mengulang rutinitas? Dan sebagai pribadi, apakah kemudahan teknologi membuat kita semakin pintar atau justru membuat kita semakin bergantung?

Saya sendiri merasa pertanyaan terakhir ini penting. Hari ini saya bisa menggunakan AI untuk membantu menulis, mencari ide, merangkum informasi, dan berdiskusi. Itu luar biasa. Tetapi saya juga harus terus mengingatkan diri sendiri: jangan sampai alatnya semakin pintar, tetapi saya semakin jarang berpikir.

Mungkin itulah pelajaran terbesar yang saya dapatkan setelah mendengar penuturan Prof. Ismatu Rofi, Ph.D. Dalam rapat hari itu dan kemudian mencoba menelusuri Flynn Effect lebih jauh.

Flynn Effect memberikan harapan bahwa lingkungan yang baik dapat membantu manusia mengembangkan kemampuan kognitifnya. Reverse Flynn Effect memberikan peringatan bahwa kemajuan itu tidak otomatis berlangsung selamanya.

Dan di antara keduanya, ada tanggung jawab kita. Sebagai orang tua. Sebagai guru. Sebagai pemimpin. Sebagai pekerja. Dan sebagai pembelajar sepanjang hayat. Karena jangan sampai rumah kita semakin smart. Ponsel kita semakin smart. Mobil semakin smart. Sekolah semakin digital. Kantor semakin canggih. Dan AI semakin pintar. Tetapi manusianya justru semakin malas berpikir.

Teknologi seharusnya membuat kita mampu pergi lebih jauh, bukan membuat kemampuan kita berjalan sendiri menjadi semakin lemah. Karena pada akhirnya, masa depan mungkin bukan milik mereka yang mengetahui paling banyak. Informasi sudah tersedia di mana-mana.

Masa depan justru akan menjadi milik mereka yang mau terus belajar, mampu berpikir lebih dalam, berani mempertanyakan, mampu beradaptasi, dan memiliki kebijaksanaan untuk menggunakan seluruh kecanggihan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat.