Tidak Betah di Pesantren, Mengelola Fase Kritis Menuju Kematangan


Hampir setiap pesantren pernah menghadapi situasi ini. Seorang santri datang dengan mata yang berkaca-kaca, suara yang lirih, lalu berkata, “Saya tidak betah di pondok.” Bagi sebagian orang, keluhan tersebut mungkin terdengar biasa. Namun bagi seorang bapak/ibu asuh, musyrif/musyrifah, guru, maupun orang tua, ungkapan itu adalah sinyal yang tidak boleh diabaikan.

Perasaan tidak betah bukanlah sekadar persoalan kenyamanan. Jika ditangani secara keliru, ia dapat berkembang menjadi keinginan meninggalkan pesantren, mogok mengikuti kegiatan, kehilangan semangat belajar, bahkan meninggalkan luka psikologis yang bertahan lama. Sebaliknya, apabila disikapi dengan bijaksana, fase ini justru sering menjadi pintu masuk menuju kedewasaan. Tidak jarang, santri yang pada masa awal mondok dipenuhi keluhan justru mengalami perubahan paling besar. Setelah berhasil melewati proses adaptasi, mereka tumbuh menjadi pribadi yang menikmati ritme kehidupan pesantren dan menjadikannya sebagai rumah kedua.

Jangan Jadikan Pulang sebagai Jalan Keluar Pertama
Naluri setiap orang tua tentu ingin menghilangkan kesedihan anaknya. Akan tetapi, rasa sayang tidak selalu diwujudkan dengan memenuhi setiap keinginan. Dalam kondisi yang tidak membahayakan keselamatan jiwa maupun kesehatan, kepulangan sebaiknya bukan menjadi solusi pertama.

Pesantren adalah ruang pendidikan kehidupan. Di sanalah anak belajar menghadapi berbagai ketidaknyamanan yang kelak juga akan dijumpainya di masyarakat. Karena itu, yang perlu dibangun bukan kebiasaan menghindari masalah, melainkan kemampuan mengelolanya.

Pepatah Jawa mengenal istilah rojo tego, yakni ketegasan yang lahir dari kasih sayang. Orang tua dan pesantren boleh merasa iba, tetapi tetap teguh mendampingi anak agar bertahan melewati fase adaptasi. Dengan demikian, anak memperoleh kesempatan belajar bahwa tidak semua kesulitan harus diakhiri dengan meninggalkan medan perjuangan.

Orang Dewasa Harus Berjalan dalam Satu Irama
Sering kali persoalan menjadi lebih rumit bukan karena beratnya kehidupan di pesantren, melainkan karena adanya dua pesan yang saling bertolak belakang. Di pesantren, anak didorong untuk bersabar dan bertahan. Namun ketika menghubungi orang tua, ia justru mendengar, “Kalau memang berat, pulang saja.”

Dalam kondisi seperti ini, anak hampir pasti memilih pilihan yang paling nyaman. Tanpa disadari, ia belajar bahwa setiap tekanan dapat diakhiri dengan mencari jalan keluar tercepat. Lama-kelamaan terbentuk pola menghindari masalah, ketergantungan emosional kepada orang tua, serta keyakinan bahwa setiap keluhan akan selalu menghasilkan pengecualian.

Karena itu, sinergi antara orang tua dan pesantren merupakan fondasi yang tidak boleh retak. Anak membutuhkan satu arah pendidikan, bukan dua komando yang saling bertentangan. Ketika orang tua mempercayai proses pembinaan di pesantren sekaligus menguatkan keputusan para pengasuh, anak akan merasakan stabilitas emosional. Sebaliknya, intervensi yang tidak selaras bukan hanya melemahkan kewibawaan Bapak/Ibu Asuh, musyrif/musyrifah, tetapi juga dapat mengganggu budaya disiplin yang menjadi ruh pendidikan pesantren.

Dengarkan Sebelum Memberikan Nasihat
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah terburu-buru memberi ceramah ketika santri mengeluh. Kalimat seperti, “Namanya juga mondok, harus kuat,” atau “Dulu ustaz/ustazah juga mengalami hal yang sama,” sesungguhnya tidak salah. Namun, kalimat yang benar pun bisa menjadi tidak efektif jika disampaikan pada waktu yang keliru.

Pada saat hati sedang sesak, seseorang lebih membutuhkan telinga yang mau mendengar daripada mulut yang terus berbicara. Mulailah dengan menerima perasaannya. Mulailah dengan kalimat yang mengundang santri untuk membuka hatinya, seperti “Saya ingin mendengarkan ceritamu. Menurutmu, apa yang paling membuatmu merasa belum nyaman selama di pesantren?” Pendekatan seperti ini membantu santri merasakan bahwa ia sedang dipahami, bukan dihakimi atau sekadar dinasihati. Pendekatan ini menciptakan suasana yang lebih hangat sehingga santri merasa aman untuk mengungkapkan isi hatinya. Sering kali mereka sebenarnya bukan benar-benar ingin pulang, melainkan hanya ingin diyakinkan bahwa ada orang yang memahami pergumulannya.

Setiap Keluhan Memiliki Akar Masalah
Tidak ada perilaku yang muncul tanpa sebab. Demikian pula rasa tidak betah. Sebagian santri kesulitan berpisah dari keluarga sehingga mengalami homesick. Ada yang tertekan oleh dinamika pergaulan dengan teman atau kakak kelas. Sebagian lainnya kewalahan menghadapi tuntutan akademik, ritme kegiatan yang padat, atau aturan yang terasa begitu ketat.

Karena itu, penyelesaian tidak boleh dilakukan secara seragam. Bapak/Ibu Asuh, musyrif/musyrifah perlu menggali cerita di balik keluhan tersebut melalui dialog yang hangat, sekaligus mengamati perubahan perilaku sehari-hari. Dari situlah penyebab sebenarnya dapat dikenali sehingga solusi yang diberikan benar-benar menyentuh akar persoalan, bukan hanya meredakan gejalanya.

Hadirkan Sosok yang Dipercaya
Tidak semua santri mudah membuka isi hatinya kepada Bapak/Ibu Asuh, musyrif/musyrifah. Ada kalanya mereka lebih nyaman berbicara kepada guru tertentu, kakak kelas yang dewasa, atau alumni yang dahulu pernah mengalami fase serupa.

Pengalaman memiliki kekuatan yang sulit digantikan teori. Ketika seorang senior berkata, “Dulu saya juga pernah merasa ingin pulang, tetapi sekarang saya bersyukur bisa bertahan,” kalimat itu sering kali jauh lebih menyentuh daripada nasihat yang panjang. Figur seperti ini menjadi bukti nyata bahwa kesulitan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses pembentukan diri.

Bantu Mereka Menemukan Tempat Bertumbuh
Tidak sedikit santri yang merasa jenuh bukan karena pesantren gagal menghadirkan lingkungan yang baik, melainkan karena mereka belum menemukan ruang yang memungkinkan bakat, kreativitas, dan energi positifnya tumbuh menjadi karya, prestasi, serta kontribusi yang bermakna bagi dirinya maupun orang lain. Maka, salah satu ikhtiar yang sangat efektif ialah memfasilitasi bakat dan minat mereka. Tidak semua santri memperoleh kebahagiaan dari ruang yang sama. Ada yang kembali bersemangat ketika dipercaya memimpin organisasi, ada yang menemukan ketenangan melalui tilawah, ada pula yang mengekspresikan dirinya lewat olahraga, seni, kepenulisan, penguasaan bahasa, maupun aktivitas positif lainnya yang membuat mereka merasa berarti.

Ketika seorang santri mulai menyadari bahwa dirinya mampu berkarya dan memberi manfaat, fokus pikirannya perlahan bergeser. Ia tidak lagi sibuk mengulang kalimat, “Aku tidak sanggup,” melainkan mulai berkata, “Ternyata aku bisa berkembang di sini.” Perubahan cara memandang diri inilah yang sering menjadi titik balik munculnya rasa percaya diri.

Bangun Makna melalui Kisah Orang-Orang Hebat
Dalam tradisi pendidikan Islam, kisah bukan sekadar hiburan. Ia merupakan sarana membentuk cara berpikir. Ceritakan bagaimana para ulama terdahulu menempuh perjalanan panjang demi memperoleh ilmu. Ada yang meninggalkan kampung halaman selama bertahun-tahun, hidup dalam keterbatasan, bahkan harus menghadapi berbagai ujian sebelum akhirnya menjadi cahaya bagi umat.

Sebagaimana dijelaskan oleh dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, Karya Burhanuddin Az-Zarnuji, kesungguhan, kesabaran, dan ketahanan dalam menuntut ilmu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan seorang penuntut ilmu. Nilai yang sama juga banyak ditekankan dalam berbagai kitab turats.

Ketika kisah-kisah tersebut disampaikan dengan penuh makna, santri akan mulai memandang kesulitannya dari sudut yang berbeda. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai korban keadaan, tetapi sebagai pribadi yang sedang ditempa oleh proses pendidikan.

Berikan Ruang untuk Mengeluarkan Beban Emosi
Emosi yang dipendam terlalu lama ibarat air dalam bendungan. Semakin penuh, semakin besar risiko meluap. Karena itu, santri memerlukan ruang yang aman untuk mengekspresikan isi hatinya. Sebagian lebih nyaman berbicara langsung, sementara yang lain lebih mudah menuangkannya melalui tulisan, jurnal harian, atau catatan refleksi.

Melepaskan emosi bukan berarti memanjakan kelemahan. Justru inilah cara yang sehat agar tekanan psikologis tidak berubah menjadi ledakan perilaku. Ketika beban batin berkurang, daya tahan mental pun meningkat.

Tanamkan Ketergantungan kepada Allah Swt
Pada akhirnya, kekuatan terbesar seorang santri tidak terletak pada banyaknya teman ataupun dekatnya keluarga, melainkan pada kedekatannya dengan Allah. Biasakan mereka memperbanyak doa, berdzikir, memperbaiki kualitas salat, dan memohon pertolongan-Nya dalam setiap kesulitan. Pendidikan spiritual semacam ini akan melahirkan ketenangan batin, keberanian menghadapi ujian, serta kemandirian yang tidak bergantung sepenuhnya kepada manusia.

Sebagaimana firman Allah,
Dan mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Dalam khazanah tasawuf dan pendidikan Islam, hati yang selalu terhubung kepada Allah akan lebih kokoh menghadapi berbagai perubahan keadaan dibanding hati yang hanya bergantung kepada lingkungan.

Pendampingan Harus Menjadi Bagian dari Sistem
Menangani santri yang sedang mengalami kesulitan tidak cukup hanya mengandalkan empati sesaat. Pendampingan harus dilakukan secara sistematis. Setiap keluhan sebaiknya didokumentasikan dengan baik, kapan mulai muncul, faktor penyebab yang diduga, bentuk pendampingan yang telah dilakukan, siapa yang menjadi pendamping, hingga perkembangan yang terlihat dari waktu ke waktu.

Pendekatan seperti ini membuat proses pembinaan tidak bergantung pada ingatan seseorang, melainkan menjadi bagian dari sistem pendidikan yang berkelanjutan. Dengan demikian, setiap santri memperoleh perhatian yang proporsional dan perkembangan mereka dapat dipantau secara lebih objektif.

Pada akhirnya, tujuan utama pendidikan pesantren bukan sekadar membuat santri merasa nyaman, tetapi membentuk pribadi yang matang, tangguh, dan berakhlak mulia. Rasa tidak betah hanyalah satu fase dalam perjalanan panjang tersebut. Jika dikelola dengan kebijaksanaan, fase yang semula dipenuhi keluhan justru dapat berubah menjadi titik lahirnya ketangguhan. Dari sanalah tumbuh generasi yang tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, karena mereka telah belajar bahwa setiap ujian adalah bagian dari proses Allah dalam mendidik hamba-Nya.

Al-Faruq, Abu Abdurrahman. 2020. Cara Nabi SAW Mendidik Anak Laki-Laki. Yogyakarta: Pro U-Media.
Al-Ghazali. 2011. Ihya’ ‘Ulum al-Din. Diterjemahkan oleh Ibnu Ibrahim Ba’adillah. Jakarta: Republika.
Arishanti, Novrizki, dan Amalia Juniarly. 2019. “Hardiness, Penyesuaian Diri dan Stres pada Siswa Taruna.” Psikoislamedia: Jurnal Psikologi 4(2): 151-163. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Psikoislam/article/view/5309/ (Diakses 2 Juli 2026).
Az-Zarnūjī, Burhān al-Dīn. 2009. Ta’lim al-Muta’allim. Diterjemahkan oleh Abdul Kadir Aljufri. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Huda, N., dan M. Hamim. 2018. Mondok sebagai Potret Cinta Tanah Air. Kediri: Santri Salaf Press.
Kasturi, Taufik, dan Faza Izzudin Nuha. 2026. Psikologi Pengasuhan di Pesantren dan Sekolah Berasrama. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2024. Tujuh Karakter Pengasuh Pesantren. Solo: Penerbit DEA.
Mandres, I., dan P. Santoso. 2025. Musyrif Teladan. Solo: Penerbit DEA.
Nawawi, Imam. 2018. Adabul ‘alim wal muta’allim. Diterjemahkan oleh Hijrian A. Prihantoro. Yogyakarta: Diva Press.
Rajasam, Wahab. 2023. Enam Bekal bagi Pendidik dan Pengasuh. Bekasi: Khazanah Fawaid.
Stoltz, Paul G. 2018. Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Diterjemahkan oleh T. Hermaya. Jakarta: Grasindo.
Sudarisman, S. S., M. R. W. Muharram, dan I. F. Apriani. 2025. “Analisis Kebutuhan Bahan Ajar berbasis Pendekatan Open-ended muatan Productive Struggle pada Bilangan Cacah di Sekolah Dasar.” Didaktika 31(2). https://journal.umg.ac.id/index.php/didaktika/article/view/9932 (Diakses 2 Juli 2026).
‘Ulwan, Abdullah Nashih. 2020. Tarbiyatul Aulad fil Islam. Diterjemahkan oleh Arif Rahman Hakim. Sukoharjo: Insan Kamil.
Yoga, Miarti. 2018. Adversity Quotient: Agar Anak Tak Gampang Menyerah. Solo: Tiga Serangkai.