Sowan ke Mihrab Peradaban

 Catatan reflektif Ahmad Moehdor al-Farisi sepulang sowan dari kediaman Dr. K.H. M. Ilyas Marwal, M.M., D.E.S.A.

Sowan selalu mengajarkan kepadaku bahwa perjalanan paling jauh bukanlah soal jarak, melainkan soal adab. Hari itu aku membersamai Pak Kiai Zahid, Mudir al-Ma’had Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, melangkah dengan hati yang ditundukkan, menuju rumah Dr. Kiai Ilyas. Aku datang bukan sebagai siapa-siapa, hanya seorang guru pesantren yang sedang menenteng rasa ingin tahu dan menggenggam dahaga akan makna. Sejak di gerbang kediaman Dr. Kiai Ilyas, perasaan takzim sudah lebih dulu mengetuk dada. Seakan ada sunyi yang meminta agar langkah diperlambat.

Rumah itu tidak menyambut dengan kemewahan, melainkan dengan ketenangan. Dindingnya tak bersuara, namun menyimpan banyak percakapan. Udara di sekitarnya terasa teduh, seperti doa yang baru saja selesai dipanjatkan. Aku merasakan keheningan yang matang, bukan kosong, melainkan penuh. Seolah rumah itu telah lama berdamai dengan waktu.

Begitu melangkah ke ruang tamu, mataku seketika tertawan. Rak-rak buku memeluk seluruh dinding, melingkar tanpa sela, berputar dari sudut ke sudut seperti wirid panjang yang tak pernah mengenal jeda. Jilid-jilid tua dan baru berdiri rapat, saling bersandar, menyerupai santri-santri yang duduk bersila dalam halaqah tak bertepi, khusyuk menunggu giliran disapa ilmu. Tak ada dinding yang bernapas kosong, setiap jengkalnya telah dilapisi huruf, makna, dan jejak perenungan panjang. Di hadapan pemandangan itu aku tercekat—sebab keindahan di ruangan ini tidak bersuara, namun menekan dada dengan hening yang sarat kebijaksanaan.

Sebagai seseorang yang mencintai buku, aku merasa seolah pulang ke rumah yang lain. Buku-buku di ruangan itu bukan sekadar benda mati, melainkan jejak panjang perjalanan akal dan batin manusia. Setiap punggung buku tampak seperti memanggil, menawarkan percakapan yang belum selesai. Dalam benakku terbayang malam-malam sunyi yang dilalui pemilik rumah ini, ditemani cahaya lampu yang redup dan halaman-halaman yang dibuka dengan penuh kesabaran. Ruang tamu itu pun terasa seperti mihrab peradaban—tempat ilmu dirawat dengan khidmat dan cinta.

Ruang tamu Dr. Kiai Ilyas terasa seperti ruang peralihan, tempat orang melepaskan riuh dunia luar sebelum memasuki dunia batin. Dinding-dinding yang penuh buku segera mengingatkanku pada pesan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, bahwa ilmu tanpa adab hanyalah api tanpa cahaya—menyala, tetapi tak menerangi. Buku-buku di ruangan itu seolah tidak ingin dibuka dengan tergesa, mereka menunggu tangan yang sabar dan niat yang jernih. Saat aku duduk, ada dorongan halus untuk merendahkan suara batin sendiri. Di ruang ini, ilmu tidak menuntut untuk dikuasai atau ditaklukkan. Ia hanya ingin didekati dengan hormat, sebab dari keheninganlah adab lahir, dan dari adab ilmu menemukan cahayanya.

Rak-rak buku yang memeluk dinding itu menyimpan perjumpaan lintas zaman. Kitab-kitab lama berdampingan dengan buku-buku baru, tanpa saling menyingkirkan, justru saling menguatkan. Dari sana tampak bagaimana ruang tamu ini merawat tradisi tanpa memusuhi perubahan. Ia seperti sungai yang terus mengalir, meski batu-batu di dasarnya berbeda bentuk. Ilmu di tempat ini tidak kaku, melainkan berakar kuat. Dan akar, sebagaimana mestinya, tumbuh ke dalam—diam-diam memberi kehidupan—bukan sibuk menonjol di permukaan.

Aroma bukhur yang mengalir perlahan terasa seperti pengingat halus bahwa ilmu tidak pernah lepas dari niat yang menghidupkannya. Dalam keheningan itu, pesan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Futūḥ al-Ghaib hadir dengan lembut, bahwa membersihkan hati adalah pintu pertama sebelum memperbanyak pengetahuan. Wanginya tidak menusuk, tidak pula memabukkan; ia menenangkan, seperti nasihat yang bekerja diam-diam di dalam dada. Buku-buku di dinding tampak laksana tasbih yang berhenti sejenak di sela zikir panjangnya. Setiap halaman yang pernah dibuka seolah menyimpan doa yang tak diucapkan, namun sungguh-sungguh dipanjatkan. Di ruang tamu ini, membaca terasa seperti sujud yang dipanjangkan—dan aku duduk di antara kata dan makna, belajar mengecilkan diri agar ilmu berkenan singgah.

Semakin lama aku berada di sana, ruang tamu itu terasa seperti seorang guru yang tak gemar berbicara. Ia mengajarkanku lewat diamnya. Aku teringat kisah-kisah Jalaluddin Rumi dalam Mathnawi, tentang bagaimana makna sering justru lahir ketika kata-kata disisihkan, ketika hati belajar mendengar tanpa suara. Rak-rak buku di ruangan itu tidak mendesak untuk segera dibuka, ia hanya mengajarkan kesetiaan pada proses. Seperti ilmu yang datang dengan sendirinya saat hati telah cukup lapang untuk menerimanya. Aku pun merasa sedang dilatih untuk tidak tergesa ingin menjadi pandai. Sebab kedalaman, rupanya, tumbuh perlahan dari kesabaran—dan ruang tamu ini merawat kesabaran itu dengan penuh kasih dan ketenangan.

Di ruang tamu itu, pandanganku pada rak-rak buku berubah, dipenuhi rasa takzim yang sebelumnya tak kusadari. Ada kesadaran pelan bahwa buku-buku ini tidak sedang menunggu untuk ditaklukkan, melainkan dihormati. Aku teringat ajaran Kiai Hasyim Asy’ari tentang cara ilmu tumbuh, yaitu bukan dari kecerdasan semata, melainkan dari adab dan kerendahan hati yang dijaga dengan sungguh-sungguh. Rak-rak di dinding itu seolah menjadi saksi hidup ajaran tersebut. Tak satu pun buku tampak ingin dipamerkan atau dibaca dengan tergesa. Semuanya seperti menunggu kesiapan hati orang yang mendekat. Di ruang tamu ini, aku belajar kembali bahwa adab selalu berjalan lebih dulu daripada pengetahuan—dan dari adab itulah keberkahan ilmu perlahan bermula.

Diam yang mengendap di ruang tamu itu terasa bekerja perlahan, menyentuh batin tanpa suara. Dalam keheningan itulah aku teringat nasihat Imam al-Ghazali kepada seorang muridnya dalam Ayyuha al-Walad bahwa pikiran yang terus dipacu tanpa jeda hanya akan melelahkan jiwa. Aku duduk dan merasakan bagaimana sunyi di ruang ini menjernihkan, bukan mengosongkan. Tak ada dorongan untuk segera berbicara atau memamerkan kepandaian. Rak-rak buku justru mengajakku menunda penilaian dan memperpanjang perenungan. Sebab, sebagaimana jalan para sufi, memahami bukan perkara cepat, melainkan perkara tepat. Dan ruang tamu ini mengajarkan ketepatan itu dengan caranya sendiri, yaitu melalui diam yang penuh makna.

Di antara rak-rak yang penuh itu, aku merasakan betapa pentingnya keluasan pandang dalam merawat tradisi. Buku-buku yang beragam di ruang tamu ini menjadi gambaran nyata dari keluasan tersebut. Perbedaan tidak disingkirkan, justru diberi tempat untuk berdampingan dengan wajar. Dari sana aku belajar bahwa ilmu yang sehat tidak tumbuh dari rasa takut, melainkan dari keterbukaan. Ruang tamu ini tidak menghakimi isi buku-bukunya. Ia hanya menyediakan ruang yang lapang, agar setiap gagasan dapat bernapas dan tumbuh sebagaimana mestinya.

Semakin lama aku berada di sana, ruang tamu itu terasa seperti simpul sanad yang hidup. Aku teringat petuah Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarij al-Salikin tentang perjalanan ruhani yang bertahap dan tidak bisa dilompati. Rak-rak buku itu seperti tangga-tangga sunyi yang mengajarkan kesabaran dalam menapaki ilmu. Tidak semua harus dibaca hari ini, tidak semua harus dipahami sekarang. Ada ilmu yang baru berbicara ketika waktu dan jiwa telah sejalan. Dan ruang tamu Dr. Kiai Ilyas merawat kesadaran itu tanpa suara.

Duduk di ruang tamu itu, aku merasa diajak bercermin dengan cara yang lembut. Rak-rak buku di dinding seakan diam-diam mengajukan pertanyaan tentang hubunganku sendiri dengan ilmu. Di tengah suasana itu, terlintas ajaran Paulo Freire tentang pendidikan yang lahir dari kesadaran dan perjumpaan, bukan dari penjejalan pengetahuan semata. Ruang tamu Dr. Kiai Ilyas menghadirkan perjumpaan itu tanpa suara. Buku-buku dari berbagai peradaban berdiri berdampingan, seolah mengingatkan bahwa seorang guru tidak seharusnya membatasi diri pada satu cakrawala. Sebab keluasan bacaan menumbuhkan keluasan empati, dan dari empatilah pendidikan menemukan pijakannya yang paling manusiawi.

Aku membayangkan, seandainya setiap guru memiliki ruang batin seperti ruang tamu ini—tenang, terbuka, dan ramah pada perbedaan. Di sini aku teringat pesan Kiai Ahmad Dahlan dalam Tali Pengikat Hidup tentang ilmu yang seharusnya menggerakkan manusia untuk berbuat, bukan membekukannya dalam kepuasan merasa tahu. Rak-rak buku ini tidak membuatku merasa kecil, sebaliknya, ia mengajakku untuk terus bertumbuh. Dari ruang inilah aku memahami bahwa seorang guru bukanlah penjaga kebenaran yang berdiri kaku di depan, melainkan penunjuk jalan yang melangkah lebih dulu. Ia memberi teladan, lalu mengajak murid menyusul dengan gembira. Dan begitulah ruang tamu ini bekerja—menggerakkan, tanpa memaksa.

Sebagai guru pesantren, aku merasakan panggilan untuk menata ulang cara mendidik. Mengajar ternyata tidak cukup hanya dengan menyampaikan pelajaran, tetapi juga dengan menghadirkan teladan dalam mencintai ilmu. Dr. Kiai Ilyas tidak mengajak orang membaca lewat perintah, melainkan lewat kehadiran rak-rak buku yang bersahaja. Ruang tamu ini menjadi bukti bahwa bacaan lintas peradaban tidak menjauhkan iman, justru menguatkannya. Dari sinilah santri belajar memandang dunia dengan lebih luas tanpa kehilangan pijakan. Ilmu pun hadir sebagai jembatan yang menghubungkan, bukan tembok yang memisahkan.

Aku membayangkan para santri duduk di ruang seperti ini, dikelilingi buku dan keteladanan. Mereka tidak dipaksa mencintai bacaan, melainkan diajak berkenalan dengannya secara alami. Di sini, pendidikan terasa berangkat dari keluasan pandang dan kearifan, bukan dari paksaan. Guru yang gemar membaca akan menularkan kegemaran itu tanpa banyak kata. Ia menuntun santri menyeberangi zaman dengan bekal yang cukup. Dan ruang tamu Dr. Kiai Ilyas telah memberi contoh paling tenang tentang bagaimana hal itu dilakukan.

Aku pulang dari ruang tamu itu dengan langkah yang terasa lebih lambat. Bukan karena lelah, melainkan karena ada sesuatu yang tertinggal di dalam dada. Rak-rak buku di sana menyadarkanku betapa sering seorang guru—termasuk diriku sendiri—terlalu sibuk mengajar hingga lupa untuk terus bertumbuh. Dalam benak terlintas kebijaksanaan Ibnu ‘Atha’illah dalam Al-Hikam tentang hati yang larut dalam peran, hingga lupa menengok perjalanan batinnya sendiri. Kesadaran itu datang pelan, seperti senja yang hadir tanpa meminta disambut. Ruang tamu itu seakan berbisik bahwa ilmu yang tidak dirawat dengan kesadaran akan mudah berubah menjadi rutinitas. Dan rutinitas, pada akhirnya, adalah bentuk kesepian yang paling sunyi.

Aku membayangkan wajah para santri yang datang dengan mata penuh harap. Mereka tidak hanya menunggu penjelasan, tetapi juga arah. Dr. Kiai Ilyas menunjukkan bahwa arah itu lahir dari pergaulan panjang dengan buku dan kesediaan untuk terus belajar. Keluasan bacaan, aku sadari, menjaga keilmuan agar tetap peka terhadap kehidupan sekitar. Tanpa itu, seorang guru bisa menjadi keras tanpa disadari. Ruang tamu ini membuatku gentar pada kemungkinan berhenti membaca—takut menjadi pengajar yang hanya mengulang pelajaran lama, sementara hati perlahan menutup.

Kesedihan itu tidak hadir sebagai penyesalan, melainkan sebagai panggilan yang pelan namun jujur. Rak-rak buku di ruang tamu itu membuka luka halus tentang kemalasanku sendiri dalam menempuh sunyi. Aku mulai sadar bahwa mencintai ilmu menuntut kesediaan untuk sendiri—untuk tidak selalu dipuji, tidak selalu terlihat sibuk, dan tidak selalu merasa penting. Ruang tamu ini menyimpan kesunyian yang mahal, kesunyian yang kerap dihindari karena menuntut kejujuran pada diri sendiri. Padahal, di sanalah seorang guru dilahirkan kembali. Dan pada keberanian itulah, diam-diam, aku merasa rindu.

Aku duduk lama dalam ingatan tentang ruang tamu itu. Aroma bukhur, keheningan, dan deretan buku menyatu, menjelma seperti doa yang tak diucapkan. Dalam suasana itulah terlintas ajaran Abu Hasan al-Shadhili dalam Hizb al-Bahr tentang hati yang menemukan tenangnya ketika ia belajar berserah, bukan menggenggam segalanya dengan cemas. Perasaan sedih dan syukur hadir bersamaan. Sedih karena menyadari jarak antara yang seharusnya dan yang selama ini dijalani. Bersyukur karena masih diberi penanda untuk kembali. Dan ruang tamu Dr. Kiai Ilyas, dengan segala kesenyapannya, menjadi tanda itu—mengajak pulang dengan cara yang lembut.

Saat hendak meninggalkan rumah itu, aku tidak membawa apa-apa selain ingatan yang sengaja kupeluk erat. Rak-rak buku, aroma bukhur, dan diam yang panjang tetap tinggal di sana, namun pengaruhnya ikut berjalan bersamaku. Aku sadar, tidak semua perjumpaan harus ditutup dengan kesimpulan. Ada pertemuan yang cukup disimpan sebagai pengingat agar langkah tidak tergesa dan hati tidak mengeras. Ruang tamu itu telah bekerja dalam diriku, tanpa janji, tanpa tuntutan. Ia hanya meninggalkan bekas. Dan bekas itulah yang pelan-pelan berubah menjadi doa.

Tuhan, jika suatu hari aku kembali lupa pada sunyi, ingatkan aku pada ruang tamu itu. Pada dinding yang dipenuhi buku, pada diam yang mengajar tanpa suara. Jangan biarkan aku menjadi guru yang kenyang oleh kata-kata, tetapi lapar pada makna. Anugerahkan kepadaku kesabaran untuk membaca dan kerendahan hati untuk terus belajar. Jika aku letih, izinkan aku beristirahat di antara halaman-halaman yang jujur. Dan bila waktuku tiba untuk mengajar, biarlah ilmu mengalir dariku dengan adab, bukan dengan kesombongan.