
Dalam pengantar terjemahan buku Mengapa Kaum Muslimin Mundur (1992) dijelaskan bahwa Amir Syakib Arsalan adalah seorang politikus Muslim yang memiliki pengaruh besar di dunia Islam. Ia bukan hanya tokoh pergerakan politik, tetapi juga intelektual, pejuang, dan penulis produktif. Dengan kecerdasan dan ketajaman analisisnya, Arsalan mampu membela kepentingan umat sekaligus menghadirkan gagasan penting bagi kebangkitan Islam.
Sekilas Sosok Amir Syakib Arsalan
Pada abad ke-14 H/ke-20 M, nama Arsalan kerap hadir lewat tulisan-tulisannya di surat kabar berbahasa Arab, khususnya di Mesir, serta melalui karya-karya yang menggugah semangat pembaruan. Ia menyoroti kelemahan umat, menyerukan kebangkitan, dan mengingatkan pentingnya mempertahankan agama di tengah tekanan kolonialisme.
Riwayat hidupnya juga memperlihatkan kiprah global. Ia pernah diasingkan oleh kolonial Perancis, tetapi pada saat yang sama diangkat sebagai delegasi Suriah dalam sidang Liga Bangsa-Bangsa di Swiss. Ini menunjukkan perannya tidak hanya di ranah intelektual, melainkan juga dalam percaturan politik internasional.
Salah satu karyanya yang berpengaruh adalah kitab لماذا تأخر المسلمون ولماذا تقدم غيرهم (Mengapa Umat Islam Mundur dan Mengapa Umat Lain Maju). Karya ini berisi analisis kritis terhadap kondisi kemunduran umat Islam, sekaligus ajakan agar para pemimpin dan ulama melakukan evaluasi diri. Arsalan menulis buku tersebut pada masa ketika banyak negara di Asia dan Afrika masih berada dalam cengkeraman kolonialisme, sehingga gagasannya memiliki relevansi kuat dengan konteks perjuangan anti-penjajahan. Meskipun demikian, beberapa analisanya masih relevan jika melihat konteks kekinian.
Menjawab Pertanyaan Seorang Ulama Borneo, Kalimantan
Latar belakang penulisan karya tersebut berawal dari pertanyaan Syekh Muhammad Basyuni ‘Imran, Imam Kesultanan Sambas, Borneo (Kalimantan, Indonesia). Melalui perantaraan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, pengasuh majalah al-Manar di Mesir, ia menyampaikan dua pertanyaan utama:
Apa yang menyebabkan kaum Muslimin mengalami kemunduran dan kehilangan martabat, padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan hanya milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Allah Swt menyatakan dengan firman-Nya dalam kitabnya pada surat al-Munafikun ayat 8:
..وَلِلَّهِ ٱلْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ..
“…dan kemuliaan itu bagi Allah dan bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman..”
Dimanakah “kemuliaan” orang-orang yang telah beriman (kaum muslimin) sekarang ini?. Adakah benar bagi seorang yang mengaku beriman, bahwa ia menjadi seorang yang “mulia”, walaupun keadaan hina-dina, tidak ada daripadanya sedikit pun dari pada sebab-sebab yang mendatangkan kemuliaan.
Faktor apa yang melatarbelakangi kemajuan bangsa-bangsa Barat, Amerika, dan Jepang, serta apakah mungkin kaum Muslimin meraih kemajuan serupa tanpa keluar dari batas-batas ajaran Islam?
Pertanyaan tersebut kemudian disampaikan kepada Arsalan di Lausanne, Swiss, untuk mendapatkan jawaban yang tajam dan komprehensif. Jawaban Arsalan dimuat dalam majalah al-Manar, lalu dihimpun menjadi sebuah buku yang pertama kali diterbitkan pada 1349 H/1930 M. Pertanyaan yang diajukan Syekh Muhammad Basyuni ‘Imran sejatinya merefleksikan persoalan besar yang hingga kini tetap relevan: mengapa umat Islam yang dahulu berjaya kini tertinggal dari bangsa lain?. Arsalan menjawab dengan tegas bahwa penyebab utama kemunduran bukanlah ajaran Islam itu sendiri, melainkan umat Islam yang meninggalkan substansi ajarannya. Dengan demikian, solusi kebangkitan terletak pada usaha menghidupkan kembali ruh Islam dalam kehidupan umat.
Dalam konteks pendidikan Islam kontemporer, khususnya di lingkungan pesantren, gagasan Arsalan tetap memiliki urgensi. Pesan utama yang ditawarkannya adalah perlunya generasi muslim menyadari bahwa kemuliaan tidak diberikan secara otomatis, tetapi harus diperjuangkan melalui iman, ilmu pengetahuan, serta kesungguhan dalam membangun peradaban. Dengan menjadikan karya Arsalan sebagai cermin reflektif, santri dan pendidik dapat merumuskan strategi baru bagi lahirnya generasi yang berdaya saing, berkarakter, serta berkontribusi dalam peradaban global.
Kembali kepada Islam yang Hidup dan Menghidupkan
Menurut Arsalan, sumber kemunduran umat adalah jauhnya mereka dari nilai Islam. Islam sejatinya memberi fondasi kemuliaan melalui akidah, syariat, dan akhlak. Namun, jika agama hanya diposisikan sebagai simbol tanpa ruh, maka umat akan kehilangan arah.
Rasulullah ﷺ menegaskan dalam hadis yang diriwayatkan Imam Malik dalam kitab al-Muwaththa’, jilid 4, pada bab Takdir, hadis 1773, meriwayatkan hadis sebagai berikut:
“Aku tinggalkan dua perkara pada kalian; selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat: Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.”
Demikian pula Imam al-Ghazali dalam terjemah Ihya’ Ulumiddin menekankan: “Negara (pemerintah) dan Agama laksana dua saudara kembar. Agama merupakan fondasi, sedang negara adalah penjaganya. Tanpa fondasi, agama akan runtuh, dan tanpa penjaga, negara akan tersia-siakan.”
Pesan ini menegaskan perlunya integrasi antara nilai agama dan tata kelola dunia. Agama menjadi ruh, sedangkan dunia menjadi media pengabdian.
Sejalan dengan hal tersebut, Imam Syafi’i berpesan dalam diwannya yang begitu indah:
رَأَيتُ العِلمَ صاحِبُهُ كَريمٌ
وَلَو وَلَدَتهُ آباءٌ لِئامُ
Aku melihat, pemilik ilmu itu senantiasa mulia,
meskipun ia terlahir dari ayah yang hina.
لَيسَ يزالُ يَرفَعُهُ إِلى أَن
يُعَظِّمَ أَمرَهُ القَومُ الكِرامُ
Ilmu akan terus mengangkat derajatnya,
hingga orang-orang terhormat memuliakan kehadirannya.
وَيَتَّبِعونَهُ في كُلِّ حالٍ
كَراعي الضَأنِ تَتبَعُهُ السَوامُ
Manusia pun mengikuti jejaknya dalam segala keadaan,
laksana kawanan domba yang mengikuti sang gembala.
فَلَولا العِلمُ ما سَعِدَت رِجالٌ
وَلا عُرِفَ الحَلالُ وَلا الحَرامُ
Seandainya tiada ilmu, takkan bahagia kehidupan,
dan tak pula dikenal batas halal maupun haram.
Imam Syafi’i dalam bait-bait diwannya di atas, menegaskan bahwa ilmu akan selalu meninggikan derajat pemiliknya, bahkan jika ia berasal dari keluarga sederhana. Tanpa ilmu, manusia takkan bahagia, dan batas halal-haram pun takkan dikenal.
Dalam penjelasan Diwan Imam Syafi’i yang dikupas oleh Dr. Imil Badi’ Ya‘qub, ditegaskan bahwa kehidupan manusia berporos pada tiga orientasi: (1) dunia semata, (2) akhirat semata, atau (3) dunia sekaligus akhirat. Kesemuanya hanya akan tertata jika diikat dengan syariat agama. Dunia bukan tujuan akhir, tetapi ladang amal bagi kehidupan akhirat. Karena itu, pengelolaan dunia harus dilakukan dengan ilmu, ibadah, dan kekhalifahan.
Pendidikan yang Menyatukan Konsep Integrasi Ilmu
Salah satu kritik Arsalan adalah keterbelakangan umat dalam ilmu. Pada masa keemasan, ulama menguasai tidak hanya ilmu agama, tetapi juga sains, filsafat, kedokteran, dan astronomi. Ketika tradisi ini hilang, umat pun terpuruk.
Maka generasi Muslim, khususnya santri, harus menghidupkan kembali tradisi integrasi ilmu: mendalami agama sekaligus menguasai sains modern. Pesantren harus melahirkan ulama-intelektual, sosok yang beriman teguh dan ahli dalam ilmu kontemporer, agar umat dapat berperan dalam percaturan global (global player).
Etos Kerja dan Disiplin sebagai Jalan Kemajuan
Arsalan mengecam mentalitas malas yang menjangkiti sebagian umat. Ketika bangsa lain membangun dengan kerja keras, umat Islam kerap berlindung pada fatalisme. Padahal Allah di dalam surat al-Ra’ad ayat 11 telah berfirman:
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ..
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
Maka, membangun peradaban Islam yang maju dimulai dari keberanian santri dan generasi muslim untuk berjuang dalam ilmu, akhlak, dan amal. Dari pesantren, peradaban mulia itu bisa kembali menyinari dunia.
Selanjutnya terkait etos kerja, dalam kitab Syu’abul Iman karya Imam al-Baihaqi, Rasulullah SAW melalui sabdanya:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)
Artinya: Dari Aisyah r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (profesional)”. (HR. Baihaqi, Thabrani).
Dalam kajian Islam, bekerja secara profesional harus dilandasi dengan sikap-sikap yang dimiliki dan diteladankan oleh Rasulullah. Sikap itu meliputi: sidq, amanah, fathonah dan tabligh. Cak Nur (Nurcholish Madjid) dalam karyanya Islam Doktrin dan Peradaban, turut memberikan pemikirannya terkait masalah etos kerja, profesional dan profesionalisme seorang muslim.
Menurut Cak Nur pembahasan mengenai pandangan Islam tentang etos kerja ini barangkali dapat dimulai dengan usaha menangkap makna sedalam-dalamnya terhadap sabda Nabi yang amat terkenal bahwa nilai setiap bentuk kerja itu tergantung kepada niat-niat yang dipunyai pelakunya. Jika tujuannya tinggi (seperti tujuan mencapai ridla Allah) maka ia akan mendapatkan nilai kerja yang tinggi, dan jika tujuannya rendah (seperti, misalnya, hanya bertujuan memperoleh simpati sesama manusia belaka), maka setingkat tujuan itu pulalah nilai kerjanya yang didapatkannya.
Sabda Nabi SAW. itu menegaskan bahwa nilai kerja manusia tergantung kepada niat yang mendasari kerja tersebut. Tinggi-rendah nilai kerja itu diperoleh seseorang sesuai dengan tinggi-rendah nilai niat yang dimilikinya. Dan niat adalah suatu bentuk pilihan dan keputusan pribadi yang dikaitkan dengan sistem nilai yang dianut dan diyakininya.
Persatuan sebagai Pilar Peradaban
Arsalan secara tersirat menegaskan bahwa perpecahan adalah biang kelemahan umat. Fanatisme sempit dan konflik internal membuat umat mudah dipecah. Dalam terjemah kitab Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, pada bab 27 tentang Menjunjung Kehormatan Umat Islam Serta Menjelaskan Hak-Hak Mereka, Menyantuni Dan Mengasihi Mereka. Nabi Muhammad Saw, bersabda:
المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا.
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya laksana bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Bukhari-Muslim).
Pesantren harus menanamkan semangat ukhuwah agar santri tidak terjebak fanatisme sempit, melainkan menjadi perekat umat.
Kemandirian Politik dan Ekonomi
Arsalan secara tersirat berpendapat bahwa kemandirian ekonomi adalah syarat mutlak kemerdekaan politik. Sejalan dengan hal tersebut, Ibn Khaldun pun menegaskan, kekuasaan hanya dapat tegak dengan ‘ashabiyyah dan harta. Karena itu, umat Islam harus membangun kemandirian ekonomi dan politik, agar tidak bergantung pada bangsa lain.
Santri dan pemuda muslim harus diarahkan menjadi wirausahawan produktif, sekaligus berperan aktif dalam politik untuk menegakkan keadilan dan menjaga kedaulatan.
Menguasai Teknologi dengan Berbasis Nilai
Arsalan menekankan pentingnya umat Islam memanfaatkan ilmu dan teknologi modern. Penolakan terhadap ilmu dengan alasan “barat” hanya akan membuat umat semakin tertinggal. Namun, penguasaan teknologi harus diiringi dengan nilai-nilai Islam agar tidak terseret arus kerusakan moral.
Generasi Muslim harus menguasai teknologi digital, kecerdasan buatan, energi terbarukan, bioteknologi, dan ilmu kontemporer lainnya. Dengan demikian, umat Islam dapat berkontribusi pada peradaban global, sambil tetap menjaga akhlak dan spiritualitas. Prinsip yang harus dipegang adalah اَلْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ, hikmah adalah milik orang beriman, di mana pun ia menemukannya, ia berhak mengambilnya.
Akhlak Mulia sebagai Pondasi Peradaban
Tanpa akhlak mulia, ilmu dan kekuasaan hanya akan melahirkan kehancuran. Akhlak adalah ruh yang membuat ilmu dan teknologi menjadi maslahat, bukan mudarat. Generasi Muslim, khususnya santri, harus menjadikan akhlak sebagai identitas utama: integritas, jujur, amanah, adil, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Inilah di antara fondasi peradaban yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga mulia secara spiritual. Peradaban Islam yang sejati adalah peradaban yang memadukan antara kemajuan lahiriah dan kesucian batiniah.
Penutup
Refleksi atas gagasan Syakib Arsalan memberi kita peta jalan yang jelas: umat Islam mundur bukan karena ajaran Islam, tetapi karena meninggalkannya. Generasi Muslim masa kini, terutama santri yang sedang ditempa di pesantren, memiliki tugas besar untuk mengembalikan kejayaan Islam.
Kembali kepada Islam dengan pemahaman yang benar, membangun pendidikan integratif, menumbuhkan etos kerja, menjaga persatuan, menegakkan kemandirian, menguasai teknologi, dan menjunjung tinggi akhlak mulia, semuanya adalah jalan menuju kemuliaan.
Wallahu a’lam bi al-shawab