Nasionalisme ala Rasulullah Saw

Dalam rangka memeriahkan hari lahirnya bangsa Indonesia, bendera merah putih mulai membumbung tinggi bukan hanya pada tiang yang terpampang di depan rumah warga, bahkan jalanan, gapura, kendaraan, dan fasilitas umum lainnya juga dilumuri dengan merah putih. Semoga pemandangan seperti ini tidak hanya sebatas euforia sia-sia yang menghamburkan biaya. Namun, menjadi simbol dan pemantik rasa nasionalisme yang harus tertanam dan bangkit pada tiap-tiap generasi yang menumpang tuah pada negeri ini. Sehingga, lagi-lagi kegiatan apel kemerdekaan tahunan harus berperan besar dalam membawa pesan-pesan kemerdekaan lewat setiap sesi acara yang terselenggara.

Sebagai umat Islam, kita memiliki Rasulullah ﷺ sebagai teladan sempurna dalam nasionalisme. Meski tanpa formalitas upacara rutinan, rasa kebangsaan Rasulullah ﷺ sebagai warga asli penduduk Mekkah begitu melekat terpatri dalam hatinya secara naluriah. Hal itu dibuktikan dan diabadikan oleh riwayat hidupnya yang tercatat runtun dalam kitab-kitab sirah nabawiyyah.

Melihat keadaan negeri yang kian hari kian tak terperi, rasanya saat ini kita butuh untuk kembali mengangkat nilai-nilai nasionalisme ke permukaan agar tidak terkubur oleh ideologi asing yang mengintervensi kesetiaan dan cinta tanah air warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lantas, apa saja teladan Rasulullah ﷺ dalam hal nasionalisme?

Cinta Tanah Air

Al-Jurjani (816 H) dalam at-Ta’rifat mendefinisikan kata الوطن (tanah air) sebagai tempat lahir seseorang dan tempat di mana ia tinggal. Berdasarkan pengertian ini, maka Mekkah dan Madinah keduanya merupakan tanah airnya Rasulullah ﷺ. Mekkah adalah tempat di sana Rasulullah ﷺ dilahirkan, dan Madinah karena di sanalah ia menetap hingga ajal mendekapnya.

Kecintaannya pada Mekkah terekam jelas pada jejak hidupnya yang disaksikan oleh kawan maupun lawan, bahkan susunan batu Ka’bah yang kerap menyalaminya. Dalam peristiwa hijrahnya ke Madinah yang pada saat itu disebut Yatsrib, sesaat sebelum kepergiannya, beliau mematung di perbatasan kota Mekkah, memandang dalam-dalam setiap sudut kota seraya berkata:

“Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang paling baik dan dicintai oleh Allah. Kalau bukan karena kaummu yang mengusirku, niscaya aku takkan pergi darimu.”

Kisah ini diabadikan oleh at-Tirmidzi (279 H) dalam kitab al-Manaqib. Perkataan semacam ini tidak keluar melainkan dari wadah hati yang dipenuhi rasa cinta. Hadits tersebut sekaligus menegaskan keutamaan Mekkah di antara tempat-tempat di belahan bumi lainnya.

Ibnu Hajar al-Asqalani (852 H) dalam kitab al-Mathalib al-‘Aliyah meriwayatkan hadits mauquf, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu (40 H) berkata bahwa ia sungguh mengetahui bahwa bagian bumi yang paling dicintai oleh Allah SWT adalah Ka’bah dan sekitarnya. Ibnu Hajar juga meriwayatkan hadits lain dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu (68 H) bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah Swt menurunkan 100 rahmat setiap hari. 60 di antaranya khusus untuk orang-orang tawaf, 20 untuk penduduk Mekkah, 20 lainnya untuk seluruh manusia.”

Serupa tapi tak sama, dikisahkan bahwa Rasulullah ﷺ setiap kali tiba di perbatasan kota Madinah setelah melakukan safar, beliau kerap memandangi dinding-dinding Madinah. Apabila beliau sedang menunggangi unta, ia mempercepat langkahnya. Jika tunggangannya bukan unta, ia menggerak-gerakkannya karena cintanya kepada Madinah. Seperti yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (256 H) dalam Shahih-nya.

Ibnu Hajar dalam Fathu al-Bari menjelaskan bahwa hadits tersebut merupakan dalil tentang keutamaan kota Madinah dan disyariatkannya untuk mencintai tanah air dan merindukannya. Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang dapat merindukan tempat di mana ia dibesarkan. Hal sederhana seperti makanan khas saja misalnya, mampu membangkitkan gairah seseorang untuk segera pulang ke tempat di mana makanan itu berasal.

Maka, memahami kecintaan Rasulullah ﷺ kepada kota Mekkah dan Madinah tidaklah sulit dan mustahil. Jika karena makanan saja seseorang bisa cinta pada sebuah negara, maka bagaimana tidak kepada tempat yang menjadi saksi turunnya wahyu Sang Pencipta, tempat yang mendapatkan pandangan khusus dari keluasan rahmat-Nya.

Persaudaraan Setanah Air

Mencintai penduduk dari negeri yang dicintai merupakan bagian kecil dari konsekuensi mencintai. Semua objek yang terlibat dengannya akan ikut tenggelam dalam samudera cinta. Begitulah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ kepada penduduk kota Mekkah saat melakukan penaklukan dan pembebasan Mekkah dari penguasa jahiliyah dan praktik syirik.

Ibnu Hisyam (213 H) dalam Sirah-nya mengabadikan momen kemenangan umat Islam saat dengan gagah memadati kota Mekkah dan menggemakan langitnya dengan gemuruh nama Allah. Pada tahun ke-8 hijriyah, Rasulullah ﷺ bersama 10.000 pasukan militer muslimin melakukan penaklukan kota Mekkah. Setibanya di sana, beliau tawaf di atas tunggangannya, lalu masuk ke dalam Ka’bah dan membersihkannya dari berhala. Setelah itu, beliau berdiri di pintu Ka’bah seraya berkata:

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menaklukkan pasukan sekutu sendirian. Ketahuilah! Seluruh kehormatan, darah, dan kekayaan yang didakwakan itu berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali pelayan Ka’bah dan pemberi minuman kepada jamaah haji. Wahai, orang-orang Quraisy! Sesungguhnya, Allah telah menghapuskan kedigdayaan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang kalian. Semua manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah.”

Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan surat al-Hujurat ayat 13:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Setelah itu, beliau bersabda:

“Wahai masyarakat Quraisy, menurut kalian apa yang akan aku lakukan kepada kalian?”

Mereka menjawab:

“Kebaikan. Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”

Mendengar itu, Rasulullah ﷺ menimpali mereka dengan jawaban yang menggembirakan:

“Pergilah, kalian aku bebaskan.”

Amnesti yang diputuskan oleh Rasulullah ﷺ kepada warga Mekkah yang dahulu kerap menzalimi beliau, menghina, mendustainya, memboikot, dan mengasingkannya merupakan ekspresi belas kasih yang lahir dari kecintaan beliau kepada mereka sebagai sesama saudara setanah air.

Lihatlah betapa kuasanya Rasulullah ﷺ saat itu untuk membanjiri Mekkah dengan darah mereka yang kezalimannya meninggalkan bekas mendalam di hati. Beliau dengan pasukan siap tempurnya tidak memberi kesempatan dan harapan bagi penduduk Mekkah untuk sekadar bertahan diri. Mereka yang teguh dalam keangkuhannya memilih untuk lari dari kasih sayang Muhammad ﷺ pada hari yang disebut sebagai Yaum al-Marhamah (hari kasih sayang).

Meski demikian, Rasulullah ﷺ sedikit pun tidak membahayakan keadaan mereka, bahkan menjamin keamanan bagi siapa saja yang masuk ke dalam rumah Abu Sufyan, mengunci pintu rumahnya masing-masing, dan yang berada di masjid. Penaklukan semacam ini belum pernah tercatat dalam sejarah mana pun. Tidak ada pertumpahan darah dan tidak ada perintah untuk menjarah. Beliau malah memberikan kebebasan tanpa syarat ketika masyarakat setempat bersangka baik terhadap apa yang akan dilakukan beliau kepada mereka, lalu menyebutnya sebagai saudara yang baik dan anak dari saudara yang baik.

Mekkah-lah rahim yang mempersatukan tali persaudaraan antara Rasulullah ﷺ, bahkan ayah beliau dengan penduduk Mekkah. Atas nama persaudaraan, beliau melakukan apa yang beliau lakukan pada hari penaklukan.

Nasionalisme dalam Konteks Kekinian

Kedua teladan di atas harus ada penerapannya dalam konteks kehidupan hari ini sebagai bukti bahwa ajaran Rasulullah ﷺ selalu relevan di setiap tempat dan zaman.

Seperti yang diisyaratkan di atas, melihat realitas generasi hari ini yang semakin jauh dari nilai-nilai nasionalisme, menyebabkan hilangnya kebanggaan sebagai warga Negara Indonesia. Mereka merasa lebih terhormat ketika sedang melestarikan budaya asing yang bahkan sering tidak sesuai dengan norma yang berlaku di Indonesia. Lebih dari itu, mereka sampai pada titik malu untuk berkontribusi dalam menjaga warisan luhur Ibu Pertiwi dan memandangnya sebagai satu hal yang kuno.

Hal semacam ini harus ditanggulangi dengan menggalakkan gerakan-gerakan yang berpotensi meminimalisir lunturnya identitas seseorang dari kewarganegaraannya. Seperti membuat kebijakan yang memfilter budaya asing yang tidak sesuai dengan kultur dan norma di Indonesia, menyisipkan pendidikan kewarganegaraan di setiap jenjang akademi sebagai wadah yang mengenalkan generasi muda kepada budaya otentik, dan memberdayakan mereka untuk turut serta dalam menjaga dan melestarikannya.

Sehingga dengan demikian, upaya tersebut dapat kembali menanam dan membangkitkan rasa kebangsaan dan kebanggaan dalam setiap sanubari warga Indonesia.

Selain itu, kecintaan terhadap sesama warga negara dapat diekspresikan lewat sikap toleransi antar pemeluk agama, suku, dan budaya. Perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk bermusuhan atau potensi terjadinya perpecahan. Justru, perbedaan seharusnya disikapi sebagai keberagaman yang saling melengkapi dan menyempurnakan.

Rasulullah ﷺ menyinggung hal ini dalam khutbah terakhirnya yang diabadikan kitab Nur al-Yaqin karya al-Khudhari (1345 H), beliau menegaskan bahwa Tuhan kita satu. Kita berasal dari satu bapak, yaitu Adam alaihissalam. Setiap kita bernasab kepada Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang ajam (non-Arab) kecuali dengan takwa.

Bukan hanya antar warga sesama sebagai personal, mencintai pribumi juga harus terjalin antar pemangku jabatan di negeri ini dengan rakyatnya. Dari perspektif ini, pemimpin harus mengungkapkan cintanya kepada rakyat lewat kebijakan dan undang-undang yang dirancang untuk mensejahterakan mereka dan menegakkan keadilan pada setiap lapisan masyarakat secara merata tanpa pandang kasta, untuk terciptanya suasana rukun dan sentosa di setiap sudut daerah.

Dengan begitu, akan lebih mudah bagi rakyat untuk patuh dan taat terhadap ketetapan yang disahkan oleh para pimpinan. Tindakan anarkis, kriminal, dan pelanggaran norma perlahan menurun bersamaan dengan meningkatnya fungsional struktur pemerintahan yang berlaku di Indonesia.

Semoga dengan menerapkan sedikit teladan ini, 80 Tahun Indonesia tidak perlu tongkat untuk tetap berjalan tegap menuju masa emasnya.