Sebuah Kuburan Tua

Debu mengepul di jalur menuju Makkah. Ribuan prajurit berbaris rapih di belakang pemimpin mereka. Ini bukan perjalanan biasa. Ini rombongan besar dengan tujuan besar. Lalu disebuah tempat bernama abwa, seluruh barisan itu tiba-tiba berhenti. Rasulullah saw. turun dari kendaraannya. Tidak ada yang mengerti kenapa. Tidak ada musuh di depan. Tidak ada perintah untuk beristirahat. Matahari masih tinggi dan perjalanan masih panjang.


Beliau berjalan menjauh dari rombongan, menuju sebuah gundukan tanah tua yang tidak berarti apa-apa bagi siapa pun di sana. Kecuali bagi satu orang, di bawah tanah itu terbaring seorang wanita saleh bernama Aminah binti Wahab. Ya betul, ialah ibu kandung Rasulullah saw. Beliau wafat di tempat ini saat perjalanan pulang dari Madinah. Meninggalkan seorang anak laki-laki berusia 6 tahun sendirian di tengah gurun. 6 tahun! Anak itu bahkan belum sempat mengenal ibunya dengan utuh. Sekarang anak itu sudah menjadi seorang Rasul.
Ia telah menaklukkan hati bangsa Arab. Ia memimpin ribuan pasukan. Wahyu turun kepadanya dari Rabb-Nya.

Puluhan tahun telah berlalu sejak Ibunya dikuburkan di sini. Tapi berdiri di depan gundukan tanah ini, beliau seolah kembali menjadi anak berusia 6 tahun. Hari itu, ditengah perjalanan besar dengan ribuan pasukan dibelakangnya. Rasulullah berhenti hanya untuk satu hal “Menemui Ibunya”.

Beliau mendekat ke makam tua itu. Membersihkan tanahnya. Duduk di sampingnya. Ribuan pasang mata memandang dari kejauhan, menunggu dengan hening. Dan kemudian sesuatu terjadi yang tidak pernah mereka bayangkan akan mereka saksikan. Tangis Rasulullah saw. pecah. Bukan tangis yang ditahan. Bukan air mata yang diseka diam-diam. Bahu beliau berguncang. Suaranya terdengar sampai ke barisan belakang. Manusia paling mulia yang pernah diciptakan Allah, menangis sejadi-jadinya di atas kuburan ibunya.

Dan sesuatu menjalar di antara ribuan prajurit itu. Mereka tidak tahu Sayyidah Aminah, mereka tidak pernah melihat wajahnya. Sebagian besar bahkan belum lahir saat ia wafat. Tapi satu persatu, mereka mulai menangis. Ribuan orang menangis tersedu-sedu di padang pasir, karena satu orang merindukan ibunya.

Setelah beberapa lama, Rasulullah saw berdiri. Beliau menoleh ke arah para sahabatnya yang basah wajahnya, lalu berkata dengan suara masih bergetar: “Aku meminta izin kepada Tuhanku untuk menziarahi kubur ibuku, dan Dia mengizinkanku”. Lalu beliau menambahkan satu kalimat yang mengubah hukum bagi seluruh umat setelahnya: “Maka ziarahilah kubur, karena sesungguhnya ia mengingatkan kalian pada kematian! “.

Dari air mata seorang anak yang merindukan ibunya, lahirlah sebuah sunnah yang dijalankan miliaran manusia hingga hari ini. Rasulullah saw. adalah manusia paling kuat dalam sejarah. Beliau menghadapi pengusiran, pengeroyokan, kehilangan anak dan pengkhianatan. Beliau tidak pernah runtuh. Tapi di depan kuburan ibunya, beliau tidak menahan apa pun. Kuat mental bukan berarti tidak boleh hancur.

Kita sering diajarkan untuk cepat pulih. Sudah setahun, harusnya sudah ikhlas. Sudah 5 tahun, kok masih menangis? Orang bertanya kenapa kamu belum move on?. Rasulullah saw. menangis puluhan tahun setelah ibunya wafat. Di hadapan ribuan orang. Tanpa malu sedikitpun. Karena kehilangan orang tua bukan luka yang sembuh. Ia hanya berubah bentuk, dari tangis setiap hari, menjadi rindu yang datang tiba-tiba di saat kamu paling tidak siap.

Menangis merindukan orang tuamu bukan tanda kamu lemah. Itu bahasa cinta yang bahkan Rasulullah saw. pun tidak sanggup menahannya.

“Ya Rabb jika engkau mengizinkan, pertemukan hamba dengan orang tua hamba walau hanya sedetik lewat mimpi, hingga rindu ini bisa dituntaskan untuk sementara. . .”

Sumber: Shahih Muslim No. 975, Sunan Ibnu Majah No . 1572