
A’isyah merupakan istri Rasulullah ﷺ yang paling muda di antara istri-istrinya yang lain. Beliau diberikan kecerdasan yang luar biasa. Kabar akan kecerdasannya membuat beliau dijuluki sebagai ash-Shahabiyyah al-Faqihah, ahli fikih perempuan dari kalangan sahabat. Kisah yang menarasikan tentang keunggulannya sebagai perempuan tersebar luas di antara halaman al-Quran dan kitab-kitab hadits. Melalui tulisan ini, penulis mencoba menarik beberapa kisah ikonik yang melekat kuat dengan kepribadian A’isyah. Dari kisah-kisah itulah kita akan mengeja kewanitaan Ummu al-Mukminin, A’isyah.
Di antara banyak kisah-kisahnya, peristiwa yang dikenal dengan sebutan Hadits al-Ifki adalah yang paling masyhur. Pasalnya, pada peristiwa itu, Rasulullah ﷺ dan istrinya, A’isyah tertimpa tuduhan fitnah yang tak pernah terbayangkan. Allah swt mengabadikan kisahnya dalam al-Quran surat an-Nur mulai dari ayat 11. Allah swt membuka kisah dengan klaim tegas bahwa tuduhan keji yang mencemarkan kesucian keluarga Rasulullah ﷺ dan umatnya merupakan kebaikan bagi mereka. Selain itu Allah swt juga memberikan ancaman azab bagi penabur fitnah dan kebohongan.
إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ
عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah kelompok di antara kamu (juga). Janganlah kamu mengira bahwa peristiwa itu buruk bagimu, sebaliknya itu baik bagimu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat.
Selain diabadikan dalam al-Quran, kisah ini juga mendapat perhatin khusus dari para perawi hadits. Sehingga alur ceritanya secara lengkap dituturkan melalui riwayat hadits yang sahih, seperti yang diriwayatkan panjang-lebar oleh Imam al-Bukhari.
Dalam kitab Fathu al-Bari syarah Shahih al-Bukhari, al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa peristiwa yang menimpa A’isyah itu terjadi pada saat perang al-Muraisi’, peperangan antara umat muslim melawan pasukan Bani Mustaliq. Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri dalam kitab sirah-nya yang masyhur, ar-Rahiq al-Makhtum menerangkan bahwa perang itu terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah.
Dalam hadits riwayat al-Bukhari, beliau mengumpulkan beragam jalur riwayat yang mengisahkan kejadian pilu yang menimpa A’isyah. Kesemuanya, saling melengkapi membentuk alur cerita yang sempurna untuk dipahami lebih utuh. Pangkal riwayat hadits ini bahkan berujung pada A’isyah sebagai tokoh utama.
Kisah bermula ketika A’isyah menceritakan kebiasaan Rasulullah ﷺ yang mengundi nama-nama istrinya setiap kali beliau hendak melakukan safar. Nama-nama yang keluar itulah yang akan menemani perjalanan Rasulullah ﷺ.
قَالَتْ عَائِشَةُ: فَأَقْرَعَ بَيْنَنَا فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا فَخَرَجَ فِيهَا سَهْمِي، فَخَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بَعْدَمَا أُنْزِلَ الْحِجَابُ، فَكُنْتُ أُحْمَلُ فِي هَوْدَجِي
وَأُنْزَلُ فِيهِ. فَسِرْنَا، حَتَّى إِذَا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مِنْ غَزْوَتِهِ تِلْكَ وَقَفَلَ دَنَوْنَا مِنْ الْمَدِينَةِ قَافِلِينَ آذَنَ لَيْلَةً بِالرَّحِيلِ، فَقُمْتُ حِينَ آذَنُوا بِالرَّحِيلِ
فَمَشَيْتُ حَتَّى جَاوَزْتُ الْجَيْشَ، فَلَمَّا قَضَيْتُ شَأْنِي أَقْبَلْتُ إِلَى رَحْلِي فَلَمَسْتُ صَدْرِي فَإِذَا عِقْدٌ لِي مِنْ جَزْعِ ظَفَارِ قَدْ انْقَطَعَ، فَرَجَعْتُ فَالْتَمَسْتُ
عِقْدِي فَحَبَسَنِي ابْتِغَاؤُهُ
A’isyah bercerita: “Pada suatu hari beliau mengundi nama-nama kami untuk suatu peperangan yang beliau lakukan, maka keluar namaku hingga aku turut serta bersama Rasulullah ﷺ setelah turun ayat hijab. Aku dibawa didalam sekedup dan ditempatkan didalamnya. Setelah itu, kami semua berjalan menuju medan peperangan. Usai memenangkan peperangan, kami semua kembali pulang. Tatkala mendekati Kota Madinah, Rasulullah ﷺ memerintahkan pasukannya agar menghentikan perjalanan dan beristirahat sejenak. Setelah berhenti, aku keluar dari sekedup dan berjalan menjauhi rombongan untuk menunaikan keperluan. Setelah kembali ke tempat peristirahatan, aku meraba dadaku dan menyadari bahwa kalungku yang terbuat dari batu Yaman putus. Akhirnya, aku pun kembali ke tempat di mana aku menjatuhkan biji kalung itu dan aku disibukkan oleh pencarian.”
Saat A’isyah tengah sibuk mencari pecahan kalungnya, pasukan yang bertugas membawa sekedupnya, menaikkan tanduh bertirai itu ke atas unta yang ditunggangi A’isyah. Mereka mengira bahwa A’isyah berada di dalamnya. Pada masa itu, perempuan-perempuan bertubuh ringan dan tidak terlalu berat. Mereka tidak banyak makan daging dan hanya makan beberapa suap makanan saja. Sehingga para pengangkut tidak mencurigai ringannya sekedup A’isyah ketika mengangkat dan membawanya ke atas punggung unta. Padahal, pada saat itu, A’isyah hanyalah perempuan yang masih belia. Lalu mereka menggiring unta dan berjalan. Sementara ia baru mendapatkan kembali kalungnya setelah pasukan telah berlalu.
A’isyah melanjutkan ceritanya:
فَجِئْتُ مَنَازِلَهُمْ وَلَيْسَ بِهَا مِنْهُمْ دَاعٍ وَلَا مُجِيبٌ، فَتَيَمَّمْتُ مَنْزِلِي الَّذِي كُنْتُ بِهِ، وَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ سَيَفْقِدُونِي فَيَرْجِعُونَ إِلَيَّ، فَبَيْنَا أَنَا جَالِسَةٌ فِي
مَنْزِلِي غَلَبَتْنِي عَيْنِي فَنِمْتُ، وَكَانَ صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْجَيْشِ، فَأَصْبَحَ عِنْدَ مَنْزِلِي، فَرَأَى سَوَادَ إِنْسَانٍ نَائِمٍ
فَعَرَفَنِي حِينَ رَآنِي، وَكَانَ رَآنِي قَبْلَ الْحِجَابِ، فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي، فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي، وَوَاللهِ مَا تَكَلَّمْنَا بِكَلِمَةٍ، وَلَا
سَمِعْتُ مِنْهُ كَلِمَةً غَيْرَ اسْتِرْجَاعِهِ، وَهَوَى حَتَّى أَنَاخَ رَاحِلَتَهُ، فَوَطِئَ عَلَى يَدِهَا، فَقُمْتُ إِلَيْهَا فَرَكِبْتُهَا، فَانْطَلَقَ يَقُودُ بِي الرَّاحِلَةَ حَتَّى أَتَيْنَا
الْجَيْشَ مُوغِرِينَ فِي نَحْرِ الظَّهِيرَةِ وَهُمْ نُزُولٌ
Aku mendatangi tempat di mana mereka berhenti. Namun, ternyata tak ada satu pun orang yang berada di sana. Akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu di tempat mereka menurunkanku dari tungganganku dan aku mengira, barang kali mereka akan menyadari kehilanganku, sehingga mereka kembali ke tempat di mana mereka meninggalkanku. Ketika berada dalam penantian, tak terasa mataku tak kuasa menahan kantuk hingga membuatku terlelap. Tatkala aku terlelap, terdengar suara derap langkah mendekat, ternyata adalah Shafwan bin al-Mu’atthal as-Sulami sedang menyisir pasukan dari belakang. Setelah dari jauh memperhatikan, ia mengenaliku tepat saat sebelum aku mengenakan penutup wajahku. Sontak saja aku terbangun mendengar ucapan istirja’nya (Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun) dan aku lekas menutupi wajahku dengan hijab. Demi Allah, kami tidak berbincang barang satu kata dan aku pun tidak mendengar satu pun kata keluar dari lisannya selain ucapan istirja’nya. Kemudian ia lekas mendudukkan tunggangannya hingga Shafwan merunduk tepat di kaki tunggangannya agar A’isyah dapat dengan mudah menaikinya. (Namun, A’isyah ternyata tidak membutuhkannya.) Aku pun berdiri dan menunggangi unta tersebut. Kemudian kami berjalan, sementara Shafwan menuntun tungganganku sampai akhirnya kami menyusul pasukan yang sedang beristirahat di tepian sungai di bawah terik matahari.
Dari sanalah fitnah mulai tersebar dan orang-orang munafik meniupkan hal yang semula hanya asap hingga menjadi api fitnah yang membakar. Di ujung ayat 11 surat an-Nur, Allah swt mengancam orang yang paling besar mengambil bagian dalam menyebarkan fitnah yang keji ini dengan azab yang pedih. Sebagaimana Allah swt berfirman:
وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Adapun orang yang mengambil peran besar di antara mereka, dia mendapat azab yang sangat berat.
Dalam hadits di atas, Imam al-Bukhari menyebutkan bahwa orang yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, yang dikenal sebagai pemimpin orang-orang munafik. Sementara putranya yang juga bernama Abdullah merupakan di antara sahabat terbaik Rasulullah ﷺ seperti yang disampaikan oleh Syekh Badruddin al-Aini dalam kitabnya Umdah al-Qari syarah Shahih al-Bukhari.
Dugaan tersebut didasarkan oleh kesaksian Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam ra. beliau mengatakan bahwa Abdullah menggali-gali tuduhan keji dan melebih-lebihkannya. Ia tidak menghentikan siapa pun yang membicarakan tuduhan yang menimpa A’isyah. Bahkan ia membenarkan apa pun yang ia dengar tentang keburukan yang dibuat-buat oleh orang munafik. Lebih dari itu, ia justru malah menyebarkan tuduhan tanpa bukti tersebut.
Setibanya di Madinah, A’isyah menderita sakit selama sebulan sejak kejadian itu. Sementara orang-orang masih saja membicarakan apa yang selama ini tersebar di antara mereka dari tuduhan miring tentang A’isyah. Malangnya, ia benar-benar tidak menyadarinya sedikit pun, bahwa saat itu orang-orang sedang mencemari kesuciannya sebagai istri Rasulullah ﷺ. Dengarlah bagaimana A’isyah mulai menyadari adanya kejanggalan yang ada antara dirinya dengan suami tercinta, Rasulullah ﷺ.
وَهْوَ يَرِيبُنِي فِي وَجَعِي أَنِّي لَا أَعْرِفُ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ اللُّطْفَ الَّذِي كُنْتُ أَرَى مِنْهُ حِينَ أَشْتَكِي، إِنَّمَا يَدْخُلُ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَيُسَلِّمُ، ثُمَّ
يَقُولُ: كَيْفَ تِيكُمْ ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَذَلِكَ يَرِيبُنِي وَلَا أَشْعُرُ بِالشَّرِّ
Aku mulai merasakan ada kejanggalan saat sedang menderita sakit, aku tidak mendapatkan perhatian yang biasa diberikan Rasulullah ﷺ kepadaku kala aku sakit. Beliau hanya datang menemuiku dan mengucapkan salam. Kemudian bertanya singkat “Bagaimana kabarmu?” lalu pergi begitu saja. Itulah yang mengganjal di hatiku. Sementara aku tidak tahu di mana salahku.
Kisah berlanjut ketika A’isyah pulih dari sakitnya, ia pergi keluar bersama Ummu Misthah menuju tempat yang biasa kami gunakan untuk membuang hajat. Pada saat itu, adat orang Arab tidak membuat toilet di dalam mau pun di dekat rumah. Mereka mencari tempat yang jauh, tersembunyi dan tidak keluar melainkan hanya pada malam hari saat orang-orang berada di dalam rumahnya. Usai menunaikan hajat, kami kembali. Di tengah perjalanan pulang itu, Ummu Misthah tersandung kainnya sendiri dan terjatuh. Lalu mulutnya secara spontan mengucapkan sumpah serapah kepada seseorang yang tidak lain adalah putranya sendiri, Misthah bin Utsatsah. “Celakalah Misthah!” Mendengar ucapan itu, A’isyah keheranan dan berkata:
بِئْسَ مَا قُلْتِ أتَسُبِّينَ رَجُلاً شَهِدَ بَدْرَاً
“Buruk sekali ucapanmu. Apakah engkau mencela seseorang yang telah ikut serta pada perang Badar?”
Menjelaskan alasannya berkata demikian, Ummu Misthah bertanya balik kepada A’isyah: “Tidakkah kau tahu apa yang telah dikatakan oleh Misthah tentangmu?” Pada saat itulah Ummu Misthah bercerita panjang-lebar kepada A’isyah dan membuatnya mengerti apa yang saat ini sedang menimpa dirinya.
Semenjak saat itu, sesak yang semula hanya duga, perlahan berubah menjadi wujud yang semakin nyata. Pada peristiwa ini, Allah swt hendak memperlihatkan sisi lemah A’isyah yang tak kuasa menutup mulut orang di sekitarnya yang terus menerus menggunjing dirinya. Hal itu tercermin dari bagaimana A’isyah menggambarkan betapa berat harinya setelah mengetahui apa yang dibicarakan orang tentang dirinya. Bagaimana tidak? ia dituduh melakukan kekejian yang tidak pantas dan tidak pernah dilakukan oleh perempuan sebaik dirinya.
فَازْدَدْتُ مَرَضًا عَلَى مَرَضِي، فَلَمَّا رَجَعْتُ إِلَى بَيْتِي دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَسَلَّمَ، ثُمَّ قَالَ: كَيْفَ تِيكُمْ؟ فَقُلْتُ لَهُ: أَتَأْذَنُ لِي أَنْ آتِيَ أَبَوَيَّ؟
قَالَتْ: وَأُرِيدُ أَنْ أَسْتَيْقِنَ الْخَبَرَ مِنْ قِبَلِهِمَا، قَالَتْ: فَأَذِنَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَقُلْتُ لِأُمِّي: يَا أُمَّتَاهُ، مَاذَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ؟ قَالَتْ: يَا بُنَيَّةُ، هَوِّنِي
عَلَيْكِ، فَوَاللهِ لَقَلَّمَا كَانَتِ امْرَأَةٌ قَطُّ وَضِيئَةً عِنْدَ رَجُلٍ يُحِبُّهَا، لَهَا ضَرَائِرُ، إِلَّا كَثَّرْنَ عَلَيْهَا. قَالَتْ: فَقُلْتُ: سُبْحَانَ اللهِ، أَوَلَقَدْ تَحَدَّثَ النَّاسُ بِهَذَا؟
قَالَتْ: فَبَكَيْتُ تِلْكَ اللَّيْلَةَ حَتَّى أَصْبَحْتُ لَا يَرْقَأُ لِي دَمْعٌ وَلَا أَكْتَحِلُ بِنَوْمٍ، ثُمَّ أَصْبَحْتُ أَبْكِي
Bertambahlah rasa sakit di atas sakitku. Ketika aku pulang ke rumah, Rasulullah ﷺ mendatangiku seraya mengucap salam. Lalu, ia bertanya tentang bagaimana keadaanku. Bukan menjawab, aku malah meminta izin kepadanya untuk menjumpai kedua orang tuaku. Aku hendak memastikan kabar yang beredar tentang diriku dari keduanya. Akhirnya, Rasulullah ﷺ mengizinkanku. Ketika bertemu ibuku, aku bertanya kepadanya: “Wahai Ibu, apa yang sedang dibicarakan orang-orang?” Beliau menjawab: “Duhai, putriku. Tenanglah. Demi Allah, sedikit sekali seorang wanita cantik yang hidup bersama seorang laki-laki yang mencintainya serta memiliki para madu, melainkan mereka akan mengganggunya.” Mendengar jawaban ibu, aku hanya bisa mengucapkan tasbih sembari keheranan bertanya: “Apakah orang-orang benar-benar membicarakan hal hina ini?” Pada malam itu, aku hanya bisa menangis. Air mataku tidak mau mengering dan keduanya tidak dapat terlelap. Aku terus menangis hingga pagi menjelang.
Bisa kita bayangkan, betapa peliknya keadaan yang saat itu dihadapkan oleh A’isyah. Ia tidak pernah mengira, kalungnya yang hilang akan menempatkannya pada situasi yang membingungkan ini. Bahkan, dalam hadits panjangnya diterangkan bahwa konflik meluas hingga hampir saja membuat dua kaum yang sedari dulu hidup di antara perselisihan kembali saling membunuh. Siapa lagi kalau bukan kaum Aus dan Khazraj. Rasulullah ﷺ juga tidak dapat berbuat banyak selain menunggu wahyu dan bermusyawarah kepada sahabat terbaiknya seperti Ali bin Abi Talib, Usamah bin Zaid dan Barirah. Namun, nahas wahyu tidak juga turun menjernihkan masalah yang semakin keruh.
A’isyah masih berada di dalam rumah ayah-ibunya. Ia menjalani hari-harinya penuh dengan air mata. Tak terasa terhitung sudah dua malam matanya sembab dan tidak tidur. Sampai ia mengira bahwa air matanya telah kering terkuras. Belum usai dari tangisannya, tiba-tiba saja Rasulullah ﷺ datang ke rumah Abu Bakar yang tidak lain adalah ayahnya A’isyah. Sejak berita buruk itu tersiar, Rasulullah ﷺ tidak bersikap seperti biasanya. Hari itu, ia menjumpai A’isyah di rumah ayah ibunya, namun tidak duduk berada di dekatnya. Setelah ia mengambil tempat duduknya, beliau mengucapkan kalimat syahadat lalu bersabda:
يَا عَائِشَةُ، إِنَّهُ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً، فَسَيُبَرِّئُكِ اللهُ، وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرِي اللهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ، فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ
ثُمَّ تَابَ، تَابَ اللهُ عَلَيْهِ
“Wahai, A’isyah. Sesungguhnya telah sampai kepadaku berita tentangmu. Jika engkau memang benar terbebas dari tuduhan itu, niscaya Allah swt pasti akan membebaskanmu. Namun, jika memang engkau telah berdosa, maka mohon ampunlah kepada Allah swt dan bertaubatlah kepada-Nya. Karena sesungguhnya seorang hamba yang mengakui kesalahannya kemudian ia bertaubat, maka pasti Allah swt akan menerima taubatnya.”
Momen ini mengajarkan kita sebagai seorang suami agar tetap berkepala dingin dalam situasi apa pun. Ambil jalan tengah yang paling baik dan jangan sampai membuat keputusan dalam keadaan marah. Hal itu hanya akan membuat kita menyesali pilihan yang ditentukan dengan tidak sadar dan matang. Di tengah kemelut fitnah yang mencederai kehormatan istrinya, beliau tetap tenang dan bersikap sebagai seorang suami sejati yang menasihati istri dengan kebaikan. Tidak menghardik, tidak pula menghakimi.
Setelah Rasulullah ﷺ menyempurnakan kalimatnya, giliran A’isyah yang berbicara. Ia meminta pembelaan dari ayah-ibunya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah keraguan dan kebingungan. Sehingga ia benar-benar tersudut, tak ada saksi yang membela, bahkan ayah-ibunya sendiri. Pada saat itu A’isyah hanya mampu berkata:
وَأَنَا جَارِيَةٌ حَدِيثَةُ السِّنِّ لَا أَقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ كَثِيرًا: إِنِّي وَاللهِ لَقَدْ عَلِمْتُ: لَقَدْ سَمِعْتُمْ هَذَا الْحَدِيثَ حَتَّى اسْتَقَرَّ فِي أَنْفُسِكُمْ وَصَدَّقْتُمْ بِهِ، فَلَئِنْ قُلْتُ
لَكُمْ: إِنِّي بَرِيئَةٌ، لَا تُصَدِّقُونِي، وَلَئِنِ اعْتَرَفْتُ لَكُمْ بِأَمْرٍ، وَاللهُ يَعْلَمُ أَنِّي مِنْهُ بَرِيئَةٌ، لَتُصَدِّقُنِّي، فَوَاللهِ لَا أَجِدُ لِي وَلَكُمْ مَثَلًا إِلَّا أَبَا يُوسُفَ حِينَ
قَالَ: ﴿فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ﴾ ثُمَّ تَحَوَّلْتُ وَاضْطَجَعْتُ عَلَى فِرَاشِي، وَاللهُ يَعْلَمُ أَنِّي حِينَئِذٍ بَرِيئَةٌ، وَأَنَّ اللهَ مُبَرِّئِي
بِبَرَاءَتِي
Aku hanyalah perempuan belia yang tidak banyak membaca al-Qur’an. Demi Allah, aku sungguh tahu kalian telah mendengar tuduhan ini hingga tanpa sadar kalian membenarkannya. Seandainya aku mengatakan bahwa aku terbebas dari tuduhan ini, kalian pasti tidak akan percaya padaku. Namun, jika seandainya aku mengakui hal tersebut, niscaya kalian akan mempercayainya. Demi Allah, aku sungguh tidak menemukan permisalan yang tepat untuk kalian selain seperti ketika Nabi Ya’qub, ayah Nabi Yusuf berkata: “Bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Sungguh hanya Allah penolong dari apa yang kalian katakan” Kemudian aku berpaling dan berbaring di atas tilamku. Sungguh, pada saat itu Allah saja yang mengetahui bahwa aku terbebas dari tuduhan itu. Allah-lah pembebasku.
Setelah percakapan menegangkan itu senyap, tak ada satu pun yang bangun dari tempat duduknya. Semua hanya diam termenung bingung harus melakukan apa dan bagaimana. Hingga tak lama kemudian, Rasulullah ﷺ mendapatkan wahyu dari Allah swt di rumah Abu Bakar. Hal itu terlihat dari bagaimana Rasulullah ﷺ gemetar hebat dan keringatnya mengucur seperti buliran mutiara. Padahal pada saat itu adalah musim dingin. Itu dikarenakan beratnya firman Tuhan yang ia terima berupa pembebasan A’isyah dari Allah swt. Padahal A’isyah hanya berandai-andai agar Allah swt hendak memberikan jalan keluar masalah ini dengan paling tidak memberi isyarat atas terbebasnya ia dari tuduhan orang-orang melalui mimpi Rasulullah ﷺ. Namun, lebih dari itu, ternyata Allah swt malah menurunkan ayat suci al-Qur’an yang akan dibaca sepanjang masa. Dengarlah bagaimana responnya ketika mengetahui hal tersebut.
وَاللهِ مَا كُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ اللهَ مُنْزِلٌ فِي شَأْنِي وَحْيًا يُتْلَى، لَشَأْنِي فِي نَفْسِي كَانَ أَحْقَرَ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ اللهُ فِيَّ بِأَمْرٍ، وَلَكِنْ كُنْتُ أَرْجُو أَنْ يَرَى
رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي النَّوْمِ رُؤْيَا يُبَرِّئُنِي اللهُ بِهَا
Demi Allah, aku tidak mengira bahwa Allah akan menurunkan ayat yang membicarakan permasalahanku ini berupa wahyu yang dibaca (al-Qur’an). Sungguh sebenarnya masalahku ini terlalu remeh untuk dijadikan firman Tuhan. Aku hanya berharap, Rasulullah ﷺ mendapatkan mimpi dari Allah yang membebaskanku dari tuduhan ini.
Setelah sempurna menerima wahyu, Rasulullah ﷺ memancarkan wajah bahagianya lantas tersenyum seraya berkata:
يَا عَائِشَةُ، أَمَّا اللهُ فَقَدْ بَرَّأَكِ
Wahai, A’isyah. Sungguh Allah swt telah membebaskanmu.
Semua yang hadir di rumah itu gembira bukan kepalang setelah satu bulan lamanya dibuat gaduh oleh desas-desus fitnah yang merebak di Madinah kala itu. Bukan apa, tuduhan keji itu menodai kesucian keluarga Rasulullah ﷺ, rumah tangga yang tidak dibangun kecuali atas takwa. Memecah keheningan, sang ibunda, Ummu Ruman memerintahkan putrinya, A’isyah untuk berdiri menghampiri Rasulullah ﷺ. Namun, lihatlah apa yang dikatakan A’isyah:
وَاللهِ لَا أَقُومُ إِلَيْهِ، فَإِنِّي لَا أَحْمَدُ إِلَّا اللهَ
Demi Allah, aku tidak akan berdiri menghampirinya. Sungguh, aku tidak akan berterima kasih kepada siapa pun selain hanya kepada Allah swt.
Bahkan dalam riwayat lain yang diceritakan oleh Ummu Ruman, ibu A’isyah seperti yang dinukil dalam kitab Fathu al-Bari syarah Shahih al-Bukhari karya Ibnu Hajar al-Asqalani, A’isyah berkata seperti ini ketika tahu wahyu tentang kebebasan dirinya telah diturunkan:
بِحَمْدِ اللَّهِ لَا بِحَمْدِ أَحَدٍ وَلَا بِحَمْدِكَ
Terima kasih dan pujian hanya untuk Allah. Tidak untuk siapa pun, tidak juga untukmu (Rasulullah ﷺ).
Sampailah kita pada titik kewanitaan A’isyah. Kisah panjang ini, sungguh benar-benar telah diringkas dari kisah aslinya yang lebih panjang diceritakan oleh A’isyah dalam haditsnya. Penulis hanya mengambil bagian-bagian genting saja yang menggambarkan betapa A’isyah menunjukkan sisi lemahnya sebagai wanita, sekaligus kekokohan prinsipnya atas kebenaran dirinya yang pada saat itu diragukan oleh semua orang di sekitarnya. Akibatnya, setelah terbukti benar dan tidak bersalah, ia sampai tidak sudi berterima kasih kepada siapa pun selain kepada Allah swt sebagai satu-satunya wujud yang mengetahui kebenaran A’isyah.
Pembaca tentu tahu sekali bagian mana dari A’isyah yang akan kita soroti pada tulisan ini sebagai sisi kewanitaannya. Ya, sikap tak acuhnya kepada Rasulullah ﷺ setelah disampaikan kepadanya sepuluh ayat dalam surat an-Nur yang berisi tentang pembelaan dan kebebasannya dari tuduhan. Apakah sikap dinginnya itu muncul karena Rasulullah ﷺ meragukannya? Atau apakah karena Rasulullah ﷺ menunjukkan kecemburuannya saat ia mendengar berita miring tentang istrinya? Bukankah seharusnya sangat wajar jika Rasulullah ﷺ mengekspresikan sikap cemburu kepada istrinya yang saat itu dituding orang melakukan penyimpangan? Rasulullah ﷺ juga tidak mendapatkan penjelasan apa pun dari A’isyah. Meski demikian, beliau tetap berusaha bersikap proporsional dan bijak menghadapi masalah yang sedang menimpa keluarganya.
Rasanya tidak pantas, jika Rasulullah ﷺ diperlakukan demikian oleh istrinya. Padahal, jika diamati lebih dalam, A’isyah sungguh takkan pernah bisa mendapatkan kebebasan dan pembelaan Allah swt melainkan melalui perantara Rasulullah ﷺ sebagai penerima wahyu. Bagaimana bisa A’isyah tidak berterima kasih dan malah merajuk kepadanya?
Di sinilah Allah swt ingin mengajarkan kepada kita melalui perantara teladan Rasulullah ﷺ dalam bersabar menghadapi istri. Setelah mendapatkan perlakuan seperti itu, Rasulullah ﷺ tidak lantas meninggikan dirinya yang berjasa sebagai perantara Tuhan dan utusan-Nya. Bisakah kita bayangkan, jika Nabi Muhammad ﷺ yang disebut sebagai makhluk sempurna secara mutlak saja diperlakukan seperti itu oleh istrinya, lalu bagaimana kita? A’isyah merajuk kepada Rasulullah ﷺ tepat setelah ayat Allah swt turun membela dirinya. Padahal, mudah sekali bagi Allah swt untuk menegurnya ketika enggan berterima kasih kepada Rasulullah ﷺ dengan menurunkan ayat lainnya. Namun, nyatanya Allah swt membiarkan itu terjadi seolah itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh seorang perempuan. Ironi sekali.
Dari sudut pandang yang lain, A’isyah merupakan seorang perempuan cerdas yang mengetahui hukum-hukum fikih, khususnya yang berkaitan tentang fikih kewanitaan seputar haid, dan sejenisnya. Di kalangan ahli hadits, A’isyah merupakan salah seorang Muktsir al-Hadits, kalangan sahabat yang banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ. Itulah yang menjadi salah satu hikmah dari pernikahannya dengan Rasulullah ﷺ. Padahal, istri Rasulullah ﷺ bukan beliau seorang. Namun, hari ini tercatat beliaulah yang paling banyak menjaga dan mewariskan ilmu Rasulullah ﷺ. Bahkan, dalam banyak hal A’isyah sering mengoreksi kekeliruan Abu Hurairah yang juga merupakan Muktsir al-Hadits.
Jika seorang perempuan setingkat A’isyah yang terkenal dengan kealiman, kesalihan dan kesuciannya saja berani merajuk kepada manusia terbaik pilihan Tuhan, Nabi Muhammad ﷺ. Maka bagaimana dengan perempuan yang saat ini berada di balik bilik kamar kita? Sungguh kita para suami benar-benar harus lebih memaklumi kebengkokan istri yang kerap terjadi di dalam rumah tangga. Selama tidak sampai pada perkara nusyuz, atau pelanggaran syariat, berluas hatilah terhadap kesempitan kondisi yang tercipta dari kesalahan yang tak pernah kita lakukan.
Perhatikan bagaimana Allah swt membela dan membebaskan A’isyah dengan menurunkan sepuluh ayat panjang dalam surat an-Nur. Ayat-ayat suci itu mengabadikan kisah pilu yang berawal dari kalung hilangnya. Seakan Allah swt hendak mengisyaratkan kepada kita kaum Adam bahwa perempuan punya ingatan yang tajam tentang apa yang pernah ia lalui dari suka mau pun duka. Kisah lama yang bahkan kita pun benar-benar sudah melupakannya, suatu hari akan diangkat kembali pada tempat dan waktu yang tepat menurutnya.
اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌࣖ
Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka (yang baik) itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia. (QS. an-Nur : 26)
Jika hari ini banyak suami-suami yang berbicara tentang harga diri, lantas kemudian menjadikannya landasan untuk berbuat semena-mena kepada istrinya atas perlakuan yang menurutnya merendahkan martabatnya sebagai kepala keluarga, maka sungguh Rasulullah ﷺ lebih layak mempertahankan dan menjaga keluhuran kedudukannya yang bukan hanya sebagai kepala keluarga. Namun, juga sebagai penghulu alam semesta. Walau demikian, justru yang kita temukan malah sebaliknya. Beliau tidak bersikap defensif dan malah memaklumi perlakuan istrinya sebagai bagian dari kebengkokan alaminya. Hal itu tidak sedikit pun mengurangi harga dirinya sebagai seorang utusan Tuhan. Semoga sedikit banyak kita dapat meneladani keluhuran akhlaknya memperlakukan wanita.