
Seperti desain awalnya, Program I’zaz ini dititikberatkan fokusnya kepada perbaikan bacaan al-Qur’an. Mengaminkan hal itu, panitia merancang kegiatan Tahsin al-Qur’an yang dilaksanakan setiap hari menjelang Maghrib pada dua pekan pertama sejak kedatangan para santri Ahlul Izzah di Vila La Ghofla.
Kajian ini lebih banyak diisi dengan praktek dari pada teori. Jika dipersentasekan 70 : 30. Sebab, seharusnya teori sudah banyak mereka dapatkan di dalam kelas pada pelajaran tajwid. Karenanya kajian ini dibentuk sebagai upaya pengaplikasian dari materi yang sudah diajarkan. Selain itu, juga dikarenakan durasi kajian yang relatif singkat. Sehingga materi benar-benar dibuat sangat padat tanpa mengurangi sedikit pun esensinya.
Ada empat bahasan yang menjadi target pelaksanaan kajian tahsin untuk santri baru Dza Izza. Pertama, Tahsin al-Fatihah. Kedua, mengenal dan memahami cara membaca huruf-huruf tahajji. Ketiga, mengenal dan memahami cara membaca qiraat gharibah dalam al-Qur’an riwayat Hafs. Keempat, mengenal dan memahami kesunnahan sujud tilawah saat membaca ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an riwayat Hafs.
Tahsin al-Fatihah
Barang kali ada yang bertanya, mengapa surat al-Fatihah? Tidak lain adalah karena ia merupakan salah satu rukun salat yang mesti dibaca dengan baik dan benar. Jika tidak, maka akan mengurangi kesempurnaan salat. Bahkan, dapat mengakibatkan batalnya salat jika dianggap tidak memenuhi salah satu rukunnya. Pada tema kajian ini, saya fokus kepada perbaikan kesalahan umum yang sering terjadi ketika membaca surat al-Fatihah. Dari kesalahan-kesalahan yang ditemukan, saya memetakannya menjadi beberapa materi yang akan dipelajari dan dipraktekkan anak-anak. Berikut konten kajian Tahsin al-Fatihah.

Itmam al-Harakat (menyempurnakan harakat: fathah, dhammah & kasrah)
Seperti dalam Bahasa Indonesia yang terdapat huruf-huruf vokal, begitu pun dalam Bahasa Arab. Hanya saja ia merupakan tanda baca dan bukan huruf. Fathah (A) disempurnakan dengan membuka mulut, Kasrah (I) disempurnakan dengan memperlihatkan gigi, dan Dhommah (U) disempurnakan dengan memonyongkan kedua belah bibir. Materi ini diletakkan paling awal karena dianggap paling mudah untuk secara instan dipahami dan dipraktekkan. Meski mudah, nyatanya masih banyak dari kita yang tanpa sadar belum menyempurnakan harakat saat membaca al-Qur’an. Sehingga mengurangi keindahannya.
Menerapkan bacaan al-Qar’u (menyempurnakan bacaan ghunnah pada huruf nun & mim saat sukun atau disukunkan)
Bahasan ini jarang ada selain pada kitab-kitab induk dalam ilmu qiraat. Itulah mengapa menjadi sangat jarang dibahas oleh guru-guru tajwid. Padahal, bacaan ini sangat banyak sekali kita temukan dalam al-Qur’an, tanpa terkecuali dalam surat al-Fatihah. Al-Qar’u adalah bacaan yang menyempurnakan makhraj huruf Mim dan Nun kala sukun atau disukunkan dengan membunyikan dengung melalui rongga hidung. Mengapa hanya dua huruf itu saja? Karena memang hanya dua huruf itulah yang memiliki dua makhraj (tempat keluar), salah satunya melalui rongga hidung. Mengapa harus didengungkan ketika dalam keadaan sukun atau disukunkan? Agar huruf Mim tidak terdengar seperti huruf Ba’ karena makhrajnya sama-sama dari kedua belah bibir, dan huruf Nun tidak terdengar seperti huruf Lam karena makhrajnya sama-sama dari ujung lidah yang ditempelkan ke gusi atas bagian depan.
Menerapkan sifat hams, tawassuth & tanda baca tasydid
Ada banyak sifat-sifat huruf yang harus dipelajari. Namun, dari banyaknya sifat huruf, kita mulai dari sifat-sifat huruf yang terdapat dalam surat al-Fatihah. Perlu diketahui, sifat-sifat huruf harus dikeluarkan saat huruf dalam keadaan sukun atau disukunkan. Sukun hanya menghilangkan bunyi vokal dari huruf tersebut dan tidak boleh menghilangkan sifat aslinya. Itulah mengapa dalam keadaan sukun, huruf harus dikeluarkan sifatnya agar tetap ada entitasnya dalam ayat al-Qur’an.
Huruf-huruf Hams ada 10. Huruf-huruf itu terhimpun dalam kalimat (فَحَثَّهُ شَخْصٌ سَكَتَ). Cara membacanya dengan mengalirkan nafas pada saat melafazkan huruf-huruf tersebut ketika sukun atau disukunkan. Huruf-huruf tawassuth ada 5. Huruf-huruf itu terkumpul dalam kalimat (لِنْ عُمَرَ). Cara membacanya dengan menahan bunyi huruf saat dalam keadaan sukun selama kurang lebih satu harakat. Sementara huruf yang bertasydid, harus dibaca dengan menekankan pelafalan huruf seakan sedang membaca dua huruf yang sama. Jika tidak dibaca demikian, maka sama seperti mengurangi satu huruf. Karena tasydid adalah ibarat dari gabungan dua huruf yang serupa.

Membedakan huruf bibir dan selainnya
Di antara 28 huruf hijaiyah, hanya ada 4 huruf yang diperbolehkan untuk menggerakkan bibir. Pasalnya, keempat huruf ini keluar dari bibir. Sehingga menghajatkan untuk adanya pergerakan bibir. Jika tidak, maka keempat huruf tersebut tidak dapat dilafalkan dengan sempurna. Keempat huruf itu adalah (ب، ف، م، و) Ba’, Fa’, Mim dan Wawu. Selain dari pada empat huruf ini, keluar dari dalam mulut. Sehingga tidak perlu menggerakkan bibir saat melafalkannya.
Menerapkan panjang bacaan yang sesuai
Dalam ilmu tajwid, panjang bacaan secara umum terbagi menjadi tiga durasi: 2 harakat, 4 harakat dan yang terpanjang 6 harakat. Bilangan durasi panjang bacaan ini adalah rumusan para ulama qiraat dalam menggambarkan perkiraan panjang bacaan. Pada asalnya, para sahabat hanya mencontohkannya secara spontan dari Rasulullah ﷺ tanpa menghitung durasi panjangnya dengan bilangan-bilangan di atas. Seperti penjelasan Syekh Ali Busylaghim, pakar qiraat asal Tunisia. Pada kajian ini, santri Dza Izza dikenalkan dan dicontohkan langsung cara membaca Mad Thabi’i sepanjang 2 harakat, Mad Wajib sepanjang 4 harakat dan Mad Lazim sepanjang 6 harakat.
Mengenal dan memahami cara membaca huruf-huruf tahajji
Huruf Tahajji atau juga disebut huruf al-Muqata’ah adalah huruf-huruf hijaiyah yang biasanya terdapat pada pembukaan surat dalam al-Qur’an. seperti contohnya (الم، ن، ق، طه، يس). Para santri Dza Izza lebih dulu dikenalkan dengan pengelompokan huruf-huruf tahajji menjadi dua bagian: huruf Mad Harfi Mustaqqal dan Mad Harfi Mukhaffaf. Huruf Mad Harfi Mustaqqal terkumpul dalam kalimat (نَقُصَ عَسَلُكُمْ), Nun, Qaf, Shad, ‘Ain, Sin, Lam, Kaf dan Mim). Huruf-huruf ini dibaca sepanjang 6 harakat dengan memperhatikan huruf tajwid yang disebabkan oleh huruf terakhir pada huruf al-Muqata’ah. Misalnya, (الم) dibaca (أَلِفْ لَامْ مِّيْمْ) di sana terdapat huruf mim sukun yang setelahnya huruf mim. Maka berlaku hukum tajwid Idghom Mimi. Sedangkan huruf Lam dan Mim masing-masing dibaca sepanjang 6 harakat. Ada pun huruf-huruf Mad Harfi Mukhaffaf terkumpul dalam kalimat (حَيٌّ طَهُرَ). Kelima huruf ini hanya dibaca sepanjang dua harakat. Misalnya, seperti dalam ayat pertama surat Taha, (طه) dibaca (طَاهَا).
Mengenal dan memahami cara membaca qiraat gharibah dalam al-Qur’an riwayat Hafs
Qiraat Gharibah artinya, bacaan yang dibaca dengan cara tertentu dengan kaidah khusus di dalam al-Qur’an riwayat Imam Hafs. Tentunya, hal ini menjadi perlu untuk dipelajari karena cara bacanya tidak sama dengan bacaan pada ayat-ayat lainnya. Berikut macam-macam qiraat gharibah dalam al-Qur’an riwayat Hafs.
Imalah (Hud : 41)
Imalah secara bahasa artinya condong. Sedangkan menurut istilah ilmu qiraat, Imalah adalah membaca huruf berharakat fathah dengan membunyikan huruf vokal ‘E’, condong kepada harakat tasydid. Contohnya ada pada surat Hud ayat 41.
بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰ۪ىهَا
Perhatikan huruf Ra’ yang berharakat fathah. Semestinya dibaca Majeroha. Namun, berdasarkan kaidah qiraat Hafs, kalimat itu seharusnya dibaca Majereha, dengan suara vokal ‘E’.
Isymam (Yusuf : 11)
Isymam secara bahasa artinya mencium. Sedangkan menurut istilah qiraat, Isymam adalah membaca huruf Nun tasydid berharakat fathah dengan memonyongkan bibir sekejap. Contoh bacaannya ada pada surat Yusuf ayat 11.
لَا تَأْمَنَّ۫ا
Saktah (al-Kahfi : 1), (Yasin : 52), (al-Qiyamah : 27), (al-Mutaffifin : 14)
Saktah secara bahasa artinya diam. Secara istilah qiraat, saktah adalah bacaan berhenti sejenak selama dua harakat pada ayat-ayat saktah dalam al-Qur’an riwayat Hafs. Contohnya ada pada ayat-ayat berikut ini.
عِوَجًاࣝ (1) قَيِّمًا
مِنْ مَّرْقَدِنَاࣝ هٰذَا
وَقِيْلَ مَنْࣝ رَاقٍۙ
كَلَّا بَلْࣝ رَانَ
Idgham Kabir (Hud 42)
Idgham secara bahasa artinya memasukkan sesuatu. Secara istilah qiraat, idgham adalah meleburkan satu huruf ke dalam huruf yang ada setelahnya. Bedanya dengan idgham pada umumnya, Idgham Kabir adalah memasukkan huruf Ba’ ke dalam huruf Mim yang ada setelahnya. Hal ini dikarenakan keduanya memiliki makhraj yang sama: Syafatain, kedua belah bibir. Kaidah khusus ini seharusnya memudahkan pembaca al-Qur’an ketika membaca ayat 42 surat Hud berikut ini.
يّٰبُنَيَّ ارْكَبْ مَّعَنَا
Tashil (Fushshilat : 44)
Tashil secara bahasa artinya memudahkan. Ada pun menurut istilah qiraat, tashil artinya membaca huruf hamzah dengan melunakkannya. Hal ini terjadi karena bertemunya dua huruf hamzah yang memiliki sifat syiddah. Tentu akan menyulitkan pembaca. Karenanya diberlakukan kaidah khusus berupa bacaan tashil. Contoh bacaannya ada dalam surat Fushilat ayat 44.
ءَا۬عْجَمِيٌّ
Naql (al-Hujurat : 11)
Naql secara bahasa artinya berpindah. Secara istilah qiraat, naql adalah memindahkan harakat suatu huruf ke huruf sebelumnya. Contohnya ada pada surat al-Hujurat ayat 11.
بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ
Izhar Mutlak (al-Baqarah : 85), (al-An’am : 99), (ar-Ra’d : 4), (ash-Shaf : 4)
Izhar secara bahasa artinya jelas. Secara istilah adalah membaca dengung huruf nun sukun atau tanwin dengan jelas. Namun, pada kaidah Izhar mutlak ini, mestinya kaidah yang berlaku pada ayat-ayat berikut ini adalah hukum idghom bighunnah. Hal itu dikarenakan adanya nun sukun setelahnya huruf waw. Namun, pada ayat-ayat ini, tetap dibaca izhar. Itulah mengapa disebut Izhar Mutlak.
فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ
قِنْوَانٌ
صِنْوَانٌ وَّغَيْرُ صِنْوَانٍ
بُنْيَانٌ
Mengenal dan memahami kesunnahan sujud tilawah saat membaca ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an riwayat Hafs
Rangkaian kegiatan tahsin al-Qur’an ditutup dengan materi kesunnahan sujud tilawah ketika membaca ayat-ayat sajadah. Tentu, karena sunnah, maka tidak berdosa jika tidak melakukannya. Baik di dalam atau pun di luar salat. Pada waktu-waktu tertentu, sujud tilawah tidak dianjurkan untuk dilakukan. Seperti ketika matahari tepat berada di atas kepala, setelah ashar dan selepas subuh. Pada waktu-waktu tersebut diharamkan untuk melakukan salat mutlak. Ulama mengajarkan jika pada waktu tersebut kita membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah, maka disunnahkan untuk bertasbih sebanyak empat kali. Berikut ayat-ayat sajadah dalam al-Qur’an riwayat Hafs.
إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ (الأعراف : 206)
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ (الرعد : 15)
يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (النحل : 50)
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا (الإسراء : 109)
إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا (مريم : 58)
وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ (الحج : 18)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الحج : 77)
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا (الفرقان : 60)
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (النمل : 26)
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (السجدة : 15)
فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ (فصلت : 38)
وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ (ص : 24)
فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا (النجم : 62)
وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ (الانشقاق : 21)
كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب (العلق : 19)
Semoga kajian tahsin pada Program I’zaz tahun ini membawa banyak manfaat untuk santri baru Dza Izza khususnya, dan seluruh santri Dza Izza pada umumnya. Kajian tahsin ringkas ini, tidak lain hanyalah ibarat langkah awal mereka memperbaiki bacaan al-Qur’an sebelum lebih jauh menjelajah ilmu qiraat yang lebih sempurna nantinya. Semoga pengajar dan pelajarnya termasuk ke dalam golongan hamba terbaik yang disabdakan Rasulullah ﷺ dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. (HR. Al-Bukhari)