Saudara Sehidup Semati
Black-and-white photo of an open Quran showing Arabic script and decorative page borders on a wooden stand, with a string of prayer beads draped along the centrefold.

CerPen (Cerita Pesantren) seri ketujuh

Tepat setelah jaros yang menandakan selesainya waktu belajar malam berbunyi para santri yang sedari tadi khusyuk menjalani ritual belajar mandiri mulai merapikan kembali buku dan catatan yang dibawanya. Sebagian ada yang langsung bergegas pergi menuju kantin untuk segera mengisi perutnya setelah kepalanya terisi penuh oleh deret rumus fisika dan hafalan juz ‘amma. Ada juga yang terlihat santai melipat sajadah sembari membereskan sisa-sisa makanan ringan dan minumannya. Di bawah kubah masjid itu, di malam yang terang dan tenang, semuanya berjalan dengan penuh irama sederhana.

Saung-saung yang berbaris rapih di sekitaran masjid kini mulai sepi dari diskusi, para santri yang barusan memenuhinya, telah merapikannya kembali dan memastikan tidak ada yang tertinggal selain kenang dan kesaksian para saung bahwa mereka pernah berjuang di jalan sunyi ini demi meraih cita dan rida Ilahi.

Setelah Ustaz Hamas rampung menyalami santri-santri yang baru saja belajar dengannya, ia terlihat berjalan menuju gedung Al-Qudsi, asrama tempat di mana anggota kelasnya tinggal. Atho dan Majid bersegera mengikuti gurunya dari belakang, dengan penuh kerendahan hati mereka berjalan pelan seraya mendekap erat kitab di dadanya, dan pandangannya tertunduk fokus pada alunan ritmis langkah wali kelasnya itu. Aqil dan Mughni masih belum berpindah dari posisinya, melanjutkan obrolan mereka tentang konsep diskusi Fikih terbuka yang rencananya akan diadakan minggu depan. Sedangkan Nawi langsung ngibrit kembali ke asrama, sepertinya dia sudah tak sabar untuk mendekap erat guling kesayangannya dan bersedekap di balik selimut beludrunya.

Setibanya di depan asrama, ustaz Hamas meminta Atho dan Majid untuk mengumpulkan beberapa anggota kelasnya yang lain yang juga tinggal di asrama Al-Qudsi.

“Mereka yang hidup di dalam budaya pesantren percaya pada nilai yang tertanam di balik sebuah disiplin dan peraturan yang menyelimuti tiap sudut kehidupan di dalam pesantren. Sesederhana disiplin penggunaan kaos kaki berwarna hitam atau larangan untuk mengenakan kemeja selain kemeja formal, sejatinya para santri sedang diajarkan untuk terbiasa dengan standar penggunaan pakaian-pakaian formal agar jika suatu saat nanti diperlukan, mereka sudah tak kaku lagi untuk tampil necis dan elegan. Seperti yang pernah disampaikan oleh Pak Kyai ‘Walaupun kita hidup dan belajar di kampung, tetapi para santri tidak boleh kampungan. Mereka harus memiliki pengetahuan global dan mampu bersaing dalam kancah internasional.’ Oleh karena itu, kalian para santri, harus memiliki etos juang yang besar serta resilience skills yang kuat. Etos juang itu kalian butuhkan untuk terus bergerak, meniti langkah demi langkah, menaiki satu demi satu anak tangga menuju tujuan hidup yang kalian cita-citakan. Akan tetapi semua proses yang akan kalian lewati pasti tidaklah mudah, masalah akan muncul di tengah jalan datang silih berganti, cobaan dan ujian menunggu kalian di depan. Maka pada saat itulah resilience skills kalian dibutuhkan, kemampuan untuk berdiri tegap bertahan dan pantang mundur ke belakang sekalipun masalah yang kalian hadapi seribu kali lebih besar dari gunung-gunung tertinggi. ”

Seperti biasa, setiap selesai belajar malam ustaz Hamas selalu menyempatkan diri untuk menemui anggota kelasnya di kamar-kamar mereka sekedar untuk menyapa dan mengetahui kabar anak-anaknya. Sesekali ia memeriksa kerapian lemari dan kasurnya, ada kalanya juga ia mengumpulkan mereka di pelataran kamar untuk mengingatkan kembali disiplin dan sunah-sunah pondok yang wajib mereka tunaikan, serta tak jarang ia mengumpulkan anak-anaknya itu untuk memberikan sedikit wejangan inspiratif seperti yang sedang dilakukannya malam ini.

Dari seorang guru Fikih, kini ia berperan layaknya seorang ayah yang sedang menasihati anaknya, memberikan bekal-bekal kehidupan yang kelak akan mereka bawa untuk menjemput kehidupan masa depan yang diharapkan. Meski Ustaz Hamas sendiri belum memiliki seorang anak, seringkali nasihat-nasihat yang disampaikan mengesankan sebaliknya, nasihatnya sering kali mengena, masuk ke dalam lubuk hati para santri, menyiratkan sosok seorang ayah bijak dengan segudang pengalamannya. Padahal ia baru saja menikah. Barangkali itulah yang akan terjadi jika seseorang selalu membuka hati dan pikirannya dengan jernih untuk membaca semua yang ditangkap oleh mata dan telinga. Pada saat itu ia akan mampu untuk segera menyadari bahwa semua yang terjadi hari ini adalah referensi terbaik untuk dijadikan rujukan bagi setiap tindakan di kemudian hari. Ustaz Hamas kemudian teringat oleh salah satu tulisan seorang penyair ternama yang berjudul Setiap Kata Adalah Rumah dimana setiap peristiwa yang tersimpan di dalamnya hanya mampu disingkap dengan jiwa dan hati yang bersih.

“Terima kasih, anak-anak, atas perhatiannya. Setelah ini silahkan kalian bersiap untuk istirahat. Sebelum tidur jangan lupa untuk berwudhu terlebih dulu lalu membaca ayat kursi. Usahakan amalan ini kalian dawamkan, semogaaa … Sebentar, lemari itu milik siapa, ya?” Kalimatnya terpotong seketika dan tatapannya tertuju pada salah satu lemari santri yang terletak tepat di sebelah pintu kamar. Jaraknya sekitar tujuh meter dari tempat Ustaz Hamas berkumpul dengan anggotanya.

“Itu milik Majid, Ustaz.” Jawab Atho sambil menunjuk ke arah Majid yang duduk di sebelah kanan Ustaz Hamas.

“Benar itu milikmu, Majid?”

“Iya benar, Ustaz, itu lemari saya.”

“Al-Qur’an dan sepatu yang ada di atasnya juga milikmu?”

“Kalau Al-Qur’annya punya saya, Ustaz, tapi kalau sepatunya saya tidak tahu punya siapa. Salah malah baru lihat kalau ada sepatu di atas lemari saya.”

“Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu pindahkan sepatunya. Astaghfirullah…” Seraya mengelus-elus dadanya, tatapan Ustaz Hamas fokus kepada Al-Qur’an di atas lemari tersebut. Setelah Majid selesai memindahkan sepatu tersebut dan menata letak Al-Qur’annya dengan baik ia kembali duduk di tempatnya semula.

“Nak, Al-Qur’an itu kalamullah, oleh karenanya ia disebut sebagai kitab suci dan kesuciannya tidak hanya sebatas pada dirinya sendiri melainkan juga karena fadilahnya yang dapat menyucikan siapapun yang memuliakan Al-Qur’an. Bukan hanya sekadar membacanya dengan kefasihan lisan semata tetapi tidak pernah melibatkan hatinya setiap kali ia mendarasnya. Pergaulilah Al-Qur’an dengan pergaulan yang baik, jadikanlah ia sebagai sahabatmu di dunia niscaya Al-Qur’an akan datang sebagai syafaat di hari akhir nanti bagi siapapun yang bersahabat dengannya. Bukankah ustaz Darwis sudah mengajarkan kalian tentang ini dalam kajian kitab At-Tibyān Fī Ādābi Hamalati Al-Qur’ān?”

“Alhamdulillah sudah, ustaz.”

Ustaz Hamas menerangkan bahwa adab terhadap Al-Qur’an itu mencakup banyak hal mulai dari bagaimana kita menyimpannya, membawanya, membacanya, hingga saat kita hendak mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Saat kita berinteraksi dengan Al-Qur’an kita dianjurkan untuk mengkondisikan baik keadaan lahir maupun batin kita, karena itu Islam mensyariatkan agar kita berwudhu terlebih dahulu. Berwudhu sebelum berinteraksi dengan Al-Qur’an dapat menjadi media penyucian diri dan hati, dengan begitulah sejatinya Al-Qur’an menjalankan perannya sebagai kitab suci yang mensucikan. Semakin sering kita membaca Al-Qur’an maka akan semakin sering juga kita bersuci. Manusia itu terlahir dalam keadaan suci, namun kehidupan di dunia banyak memberikan noda hitam pada kain putih yang kita kenakan semenjak lahir ke dunia. Maka sudah sepatutnya kita terus bermujahadah agar kelak saat Tuhan memanggil kita kembali, kita menghadap-Nya dalam keadaan yang sama sebagaimana saat kita dilahirkan ke dunia, suci hatinya dan bersih jiwanya.

“Lantas apa hubungannya dengan sepatu itu, Ustaz? Menagapa tidak boleh diletakkan di samping Al-Qur’an?”

“Sudah sepatutnya, nak, kita memuliakan Al-Qur’an dan menjaganya dari semua hal yang berpotensi merendahkan apalagi melecehkan marwah Al-Qur’an, sebab Al-Qur’an itu kalamullah, apa yang tertulis di dalamnya adalah wahyu yang disampaikan kepada Rasul-Nya, bukan hasil karya pemikiran manusia. Dan kita wajib untuk mengimani bahwa seluruh ayat-ayatnya adalah Haq, kebenaran abadi, petunjuk bagi umat manusia serta pembeda antara yang benar dan yang batil. Lantas bagaimana mungkin kita tidak memuliakan Al-Qur’an jika terhadap barang-barang istimewa yang kita miliki saja kita sangat menjaganya? Jika kamu memiliki baju branded yang sangat kamu suka, apa mungkin kamu membiarkannya tergeletak begitu saja di atas rak sepatumu? Tentu tidak, bukan? Maka begitupun perhatianmu terhadap Al-Qur’an harus melebihi perhatianmu terhadap apapun yang kamu miliki. Memang sebesar itulah perintah untuk memuliakan Al-Qur’an sampai-sampai ulama sepakat seandainya seseorang meletakkan Al-Qur’an di tempat yang penuh dengan kotoran, na’udzubillah, maka orang itu telah kafir. Imam Abi Zakariya Yahya mengutip pendapat yang menyatakan haram hukumnya mengotori Al-Qur’an. Bahkan disunnahkan kepada seseorang yang diberikan kepadanya Al-Qur’an untuk berdiri sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadapnya.”

“Selain larangan untuk meletakkan sepatu sejajar dengan Al-Qur’an, kira-kira apalagi ya, Ustaz?”

Dari balik jendela kamar di samping tempat Ustaz Hamas dan anak-anaknya berkumpul terlihat beberapa santri berusaha mencuri-curi nasihat yang disampaikan. Angin malam sedikit lebih kencang dari biasanya namun rasa takdim kepada guru dan ilmu yang sedang disampaikan tidak menciutkan tubuh mungil mereka untuk tegar menerima setiap untaian hikmah dari sang guru.

“Nak, bahkan Naṣ yang secara eksplisit melarang akan hal itupun tidak akan kamu temui. Kita tidak perlu pusing-pusing mencari dali-dali yang melarang ini dan itu dalam persoalan memuliakan Al-Qur’an, cukup bagi kita memahami dan mengimani bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, maka sudah semestinya akal dan hati kita bekerja untuk senantiasa meninggikan Al-Qur’an, membacanya, mempelajarinya, dan mengamalkannya, serta menjauhi segala bentuk interaksi kita terhadap Al-Qur’an yang berpotensi merendahkan kedudukan Al-Qur’an. Tentang bagaimana seharusnya kita meletakkan Al-Qur’an di tempat yang tinggi, misalnya, artinya secara harfiah Al-Qur’an harus diletakkan di tempat yang tinggi posisinya. Dan secara maknawiyah, artinya kita harus menempatkan Al-Qur’an di tempat-tempat yang mulia dan dengan cara yang mulia juga. Jangan kamu sejajarkan Al-Qur’an dengan sepatu, sandal, ataupun kaus kaki karena semahal apapun barang-barang tersebut adalah benda-benda yang kita pakai di bawah kaki kita dan budaya kita sepakat mengasumsikan benda-benda seperti itu dengan konotasi yang bermakna merendahkan. Begitupun dengan barang-barang lainnya yang menghadirkan kesan ‘rendah’ sekalipun harganya selangit. Adab seperti ini oleh Syekh Yusuf Al-Qaradhawi disebut dengan Adab Aqliyah.”

Rasanya ingin sekali ustaz Hamas menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang disampaikan oleh Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Kaifa Nata’amal Ma’a Al-Qur’an itu, namun tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Sudah saatnya para santri kembali ke kamar mereka masing-masing dan segera beristirahat.

“Ketahuilah, nak, seberapa sering kita membersamai Al-Qur’an saat di dunia, sesering itulah Al-Qur’an akan datang membersamai kita di saat tak ada satupun orang yang dapat menemani kesendirian kita di alam kubur nanti. Maka jadikanlah Al-Qur’an sebagai saudara sehidup semati.”

“Allahummarḥamnā bil qur’ān waj’alhu lanā imāman wa nūran wa hudan wa raḥmah. Allahumma dzakkirnā minhu mā nusīnā wa ‘allimnā minhu mā jahilnā warzuqnā tilāwatahu ānā’allaili wa aṭrofannahār. Waj’alhu lanā ḥujjatan yā Robbal ‘ālamīn. Āmin.”