Perspektif Waktu
Car driving on an elevated highway toward a city skyline at sunrise with directional signs and Indonesian text overlay.

Setiap hari kerja, saya menempuh perjalanan dari rumah di Tangerang menuju Sunter—sekitar 65 km sekali jalan. Jika pulang-pergi, kurang lebih 130 km. Waktu tempuhnya? Berangkat sekitar 1,5 jam, pulang bisa 2 sampai 3 jam, tergantung kondisi lalu lintas. Totalnya, bisa 3,5 hingga 4,5 jam di jalan setiap hari.

Suatu kali, ada yang bertanya, “Berarti mas Latief banyak buang-buang waktu di jalan ya?”

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Bahkan terasa logis. Namun semakin saya jalani, saya menyadari bahwa pertanyaannya bukan tentang berapa lama waktu yang kita habiskan di jalan, tetapi tentang bagaimana kita memperlakukan waktu itu.

Karena tidak semua waktu di jalan adalah “waste the time”. Ada perbedaan mendasar dalam cara kita memaknai waktu.

Waste the time adalah ketika waktu benar-benar terbuang tanpa nilai. Killing the time adalah ketika kita hanya “membunuh waktu”, melakukan sesuatu sekadar agar waktu cepat berlalu. Using the time adalah ketika kita menggunakan waktu dengan sadar. Dan yang lebih tinggi lagi, investing the time—ketika waktu yang kita gunakan hari ini memberi dampak di masa depan.

Di sinilah perspektif menjadi penting. Karena perjalanan yang sama, bisa memiliki makna yang berbeda—tergantung bagaimana kita mengisinya.

Jika hanya duduk, mengeluh, dan menunggu sampai tiba, mungkin benar: itu adalah waktu yang terbuang. Namun jika diisi dengan hal yang bernilai, maka jalan yang sama bisa menjadi “kelas berjalan”.

Saya merasakan sendiri hal itu. Bahkan, buku pertama saya, Diaryberry, lahir justru dari perjalanan di bus kota. Ditulis menggunakan Blackberry, di tengah perjalanan, di sela-sela waktu yang sering dianggap “tidak produktif”. Mungkin terdengar sederhana, tetapi dari situlah saya belajar bahwa ruang tidak membatasi karya. Justru keterbatasan sering melahirkan kreativitas.

Perjalanan yang sama yang dianggap membuang waktu, justru bisa melahirkan sesuatu yang bernilai. Sejak itu, saya mencoba mengubah waktu di jalan menjadi ruang belajar dan refleksi.

Saya menyiapkan playlist video pembelajaran—tentang leadership, komunikasi, dan pengembangan diri. Ketika kondisi memungkinkan, saya mendengarkan sambil menyetir, atau menonton saat menjadi penumpang.

Saya juga sering mengikuti webinar atau diskusi online. Teknologi hari ini memungkinkan kita “hadir” di ruang belajar, bahkan ketika kita sedang berada di jalan.

Tidak hanya itu, perjalanan juga menjadi waktu untuk membangun relasi. Saya rutin menelepon keluarga—sekadar menanyakan kabar, mendengar cerita anak-anak, atau berbincang dengan istri. Hal-hal sederhana, tetapi sering kali sulit dilakukan di tengah kesibukan.

Di momen tertentu, perjalanan juga menjadi ruang refleksi. Tanpa distraksi, kita bisa berpikir lebih jernih. Merenungkan hari yang telah dilalui, atau merancang langkah berikutnya.

Namun ada satu hal yang semakin saya sadari, yang mungkin lebih dalam dari sekadar produktivitas. Bahwa waktu tidak hanya bernilai duniawi. Ia juga bisa bernilai spiritual.

Ketika perjalanan ini saya niatkan sebagai bagian dari ibadah—sebagai ikhtiar mencari nafkah, sebagai bentuk tanggung jawab, sebagai ruang untuk berdzikir, bersyukur, dan merenung—maka waktu di jalan tidak lagi sekadar perjalanan fisik. Ia menjadi perjalanan makna.

Setiap menit tidak hanya bernilai produktivitas, tetapi juga bernilai pahala. Setiap lelah bisa menjadi bagian dari ibadah. Setiap perjalanan menjadi ladang amal.Di sinilah perspektif berubah total.

Yang tadinya dianggap “membuang waktu”, justru bisa menjadi waktu yang paling bernilai—bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat.

Tentu, ini bukan berarti semua waktu harus diisi dengan produktivitas tanpa henti. Kita tetap butuh jeda. Ada saatnya menikmati perjalanan, mendengarkan musik, atau sekadar diam.

Namun yang perlu kita jaga adalah kesadaran. Bahwa kita punya pilihan. Apakah kita ingin mengeluh sepanjang perjalanan, atau memanfaatkannya? Apakah kita ingin “membunuh waktu”, atau menggunakannya? Atau bahkan… menginvestasikannya?

Karena pada akhirnya, hidup kita bukan hanya tentang waktu yang kita miliki. Tetapi tentang bagaimana kita mengisinya.

Mungkin kita tidak selalu bisa memilih di mana kita berada.
Tetapi kita selalu bisa memilih apa yang kita lakukan dengan waktu kita.

Dan bagi saya, jalan dari Tangerang ke Sunter bukan lagi sekadar perjalanan. Ia adalah ruang belajar. Ruang membangun relasi. Ruang berkarya. Dan ruang ibadah.

Di jalan yang sama, setiap hari—saya belajar bahwa waktu tidak harus terbuang. Ia bisa dimanfaatkan. Bahkan, diinvestasikan.