OKNUM KIAI ITU…
Sunset over a calm sea with floating dead fish and an infographic titled "MAFSADATNYA TAK SESEDERHANA PIDANA BIASA" summarising harms to female students, ruined kiai reputation, pesantren stigma, legal processing, warnings against generalisation, and religion's vulnerability to abuse.

Tindakan tercela oknum pengasuh (kiai) salah satu pesantren di Kabupaten Pati, mafsadatnya tak sesederhana pidana biasa: masa depan puluhan santri putri usia belia yang jadi korban; nama baik kiai; dan stigma buruk pesantren di ruang publik. Pada diri oknum kiai itu? Dia oleh publik dianggap sebagai sosok yang jatuh dari martabat moralnya.

Tak mudah memulihkan dampak mafsadat kelakukan “oknum kiai” itu karena berlapis-lapis, terlebih di era media digital seperti sekarang ini. Tapi, untuk adilnya, orang tak boleh terlalu gampang melakukan generalisasi. Ibarat melihat beberapa ekor bangkai ikan mengapung di permukaan laut, lalu bukan berarti seisi laut bangkai semua.

Oknum itu layak dihukum seberat-beratnya, baik secara moral maupun hukum. Tapi jangan pula agama dan pesantrennya ikut dihukum–meski insiden itu layak jadi bahan muhasabah pengasuh semua pesantren. Sikap resmi PB NU agar segera diproses secara hukum, adalah langkah yg benar.

Ajaran prinsipil agama mulia pada dirinya, tapi pada saat yang sama ia juga rentan dimanipulasi untuk hasrat duniawi yang tak sejalan bahkan terlarang. Bisa berupa hasrat harta, hasrat kuasa, hasrat seksual (libido), bahkan bisa hasrat ketiganya sekaligus!

Sejarah agama-agama (ditulis para ahli dalam banyak buku) tak pernah benar-benar sepi dari peristiwa dekaden atas nama kuasa agama. Misalnya, bukan rahasia lagi, ada masa kasus-kasus perundungan seksual yang berulang di Vatikan (gereja) memantik kehebohan. Tak terkecuali rupa-rupa intrik kepentingan di dalamnya.

Bahkan di Barat, tema-tema penyimpangan berkedok agama di lingkungan gereja tak jarang diangkat di layar film dalam nada satir yang getir.

Agama ibarat sebilah pisau tajam. Di tangan orang yg benar ia jadi solusi, di tangan orang yang salah ia jadi problem.

Sebuah catatan Buya Taftazani di laman facebook