
Catatan Sublim Ahmad Moehdor al-Farisi
Aku lahir dari sebuah kampung yang barangkali tidak tercatat dalam banyak peta, tetapi di sanalah semesta pertamaku dibentangkan. Di sana, tanah bukan sekadar tanah. Ia adalah tempat manusia belajar merendahkan kaki. Sawah bukan sekadar hamparan hijau. Ia adalah sekolah pertama tentang kesabaran. Dan orang tua bukan sekadar mereka yang melahirkan, melainkan dua manusia yang diam-diam mengajarkan bagaimana seseorang seharusnya menjadi manusia.
Bapak dan ibuku adalah orang kampung. Petani. Mereka tidak pernah mengenalkan kepadaku teori tentang filsafat kehidupan, tetapi setiap hari mereka mempertontonkan filsafat itu dalam kesederhanaan. Bapak mengajariku bahwa hidup tidak harus tinggi untuk menjadi mulia. Ibu mengajariku bahwa cinta tidak selalu perlu diucapkan; terkadang ia cukup diwujudkan dengan tangan yang tak pernah berhenti bekerja, dengan nasi yang selalu tersedia di meja, dengan doa yang diam-diam dipanjatkan ketika anak-anaknya bahkan belum tahu bahwa dirinya sedang didoakan.
Dari mereka aku mengenal satu ungkapan yang sampai hari ini masih menjadi semacam kompas di dalam dada: unggah-ungguhing rasa lan tata krama. Menjaga rasa sebelum menjaga kata. Menghormati sebelum meminta dihormati. Mendahulukan kasih sebelum kepentingan diri sendiri. Sebab bagi mereka, hidup bukan tentang siapa yang paling tinggi, paling pintar, atau paling banyak memiliki. Hidup adalah tentang siapa yang masih mampu menaruh hormat kepada manusia lain. Kemudian aku pergi. Seperti banyak anak kampung lainnya, aku meninggalkan tanah yang membesarkanku untuk mengejar sesuatu yang dahulu kukira berada jauh di luar sana.
Aku pergi ke kota. Ternyata di kota hidup berjalan lebih cepat. Orang-orang berbicara tentang target, pencapaian, jabatan, gelar, karier, dan masa depan. Waktu dihitung dengan jadwal. Kesuksesan diukur dengan angka. Bahkan kadang-kadang manusia sendiri lupa bahwa dirinya adalah manusia karena terlalu sibuk mengejar sesuatu yang mereka sebut keberhasilan.
Aku pun tumbuh di dalam dunia itu. Aku belajar. Aku membaca. Aku menempuh pendidikan hingga menyelesaikan magister dalam Studi Islam Interdisipliner. Aku kemudian mengabdikan diri di sebuah lembaga sebagai pendidik. Hari-hari dipenuhi pekerjaan, tanggung jawab, rapat, tulisan, anak-anak didik, dan berbagai urusan yang menuntut diselesaikan. Perlahan, aku mulai terbiasa dengan kehidupan kota. Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ikut pindah bersamaku, yaitu hatiku.
Sebagian dari diriku tetap tinggal di sebuah rumah sederhana di kampung. Tetap berada di halaman tempat ibu pernah memanggil namaku. Tetap berada di jalan kecil yang dahulu kulewati dengan kaki telanjang. Tetap berada di tanah yang mengajarkanku bahwa manusia, sehebat apa pun ia kelak, pada akhirnya akan kembali menjadi debu. Mungkin itulah sebabnya manusia tidak pernah benar-benar bisa meninggalkan rumah. Sebab rumah bukan hanya tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat sebagian jiwa kita ditinggalkan.
Hari-hari kemudian membawa kabar yang membuat langkahku terhenti. Ibu sakit. Kali ini bukan sekadar sakit yang bisa ditunggu hingga reda. Ibu membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Dan tiba-tiba, semua yang selama ini terasa penting menjadi seperti mengecil. Pekerjaan yang menumpuk masih ada. Tanggung jawab masih ada. Jadwal masih ada. Dunia tetap berjalan seperti biasa. Tetapi di dalam diriku, ada suara yang jauh lebih tua daripada seluruh kesibukan itu. Suara yang pernah kudengar ketika masih kecil. Suara seorang ibu. Dan suara itu seolah berkata, “Pulanglah.”
Aku terdiam. Barangkali inilah salah satu cara Tuhan mengajarkan manusia tentang prioritas. Kadang-kadang Tuhan tidak mengubah keadaan kita. Ia hanya mengubah cara kita memandangnya. Sakitnya ibu membuatku melihat kembali apa yang selama ini tertutup oleh kesibukan. Bahwa ada pekerjaan yang bisa ditunda, tetapi ada panggilan kasih yang tidak seharusnya dilewatkan. Maka aku mengambil cuti beberapa hari. Aku pulang. Bukan sebagai seorang magister. Bukan sebagai seorang pendidik. Bukan sebagai seseorang yang memiliki jabatan atau tanggung jawab di sebuah lembaga. Aku pulang hanya sebagai seorang anak. Dan mungkin, di hadapan ibu, itulah gelar yang paling tinggi yang pernah kumiliki.
Ada sesuatu yang aneh dalam perjalanan pulang. Jalan yang dahulu terasa biasa, tiba-tiba terasa seperti jalan menuju masa lalu. Pepohonan seperti mengenaliku. Udara seperti membawa kembali suara-suara lama. Dan ketika rumah itu mulai terlihat, ada bagian dari diriku yang seperti sedang dikembalikan kepada dirinya sendiri. Aku menyadari sesuatu: Selama ini aku mengira bahwa aku sedang pergi meninggalkan kampung untuk mencari kehidupan. Ternyata aku hanya sedang berjalan jauh untuk suatu hari mengerti bahwa kehidupan yang kucari itu pernah diberikan kepadaku sejak pertama kali aku membuka mata.
Di rumah itu, aku kembali melihat tangan ibu. Tangan yang dahulu menyuapiku. Tangan yang dahulu memandikanku. Tangan yang dahulu mengusap dahiku ketika demam. Tangan yang dahulu menggandengku ketika aku belum mampu berjalan. Kini tangan itu terbaring lemah. Dan aku berdiri di sampingnya dengan tangan yang sudah jauh lebih kuat daripada tangannya. Ada semacam lingkaran kehidupan yang tiba-tiba menjadi sempurna. Dulu aku yang disuapi, kini aku yang menyuapi. Dulu aku yang dituntun, kini aku yang harus menuntun. Dulu ibu yang berjaga ketika aku sakit, kini giliranku berjaga ketika ibu terbaring. Barangkali beginilah cara kehidupan mengajarkan keadilan yang paling lembut, yaitu cinta yang dahulu kita terima suatu hari akan datang menagih dirinya dalam bentuk pengabdian.
Aku pernah belajar banyak tentang agama. Tentang manusia. Tentang Tuhan. Tentang makna kehidupan. Tentang bagaimana manusia seharusnya mendekat kepada-Nya. Tetapi hari ini aku mulai bertanya: Jangan-jangan selama ini aku terlalu sibuk mencari Tuhan di tempat-tempat yang jauh, sementara Dia menitipkan jalan pulang melalui sepasang tangan yang semakin renta. Jangan-jangan ibadah tidak selalu berbentuk panjangnya doa. Kadang-kadang ia berbentuk bangun di tengah malam untuk memastikan ibu masih bernapas. Kadang-kadang ia berupa menyuapkan makanan perlahan-lahan. Kadang-kadang ia hanya berupa duduk diam di samping ranjang, tanpa percakapan apa-apa. Kadang-kadang ia berupa mengusap kening seorang ibu sambil menahan air mata agar ia tidak melihat kesedihan anaknya. Dan mungkin, di situlah cinta menjadi ibadah yang paling sunyi. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada panggung. Tidak ada sertifikat. Tidak ada orang yang mengetahui. Bukankah sebagian besar amal yang paling dekat dengan Tuhan memang tumbuh dalam kesunyian?
Aku kemudian teringat pada ajaran yang dulu sederhana sekali diucapkan oleh orang tuaku, unggah-ungguhing rasa lan tata krama. Kini aku semakin mengerti. Unggah-ungguh bukan sekadar sopan santun. Ia adalah kesadaran bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri. Ada ibu yang harus dihormati. Ada bapak yang harus dimuliakan. Ada orang lain yang harus dijaga perasaannya. Ada kehidupan yang tidak boleh dilukai hanya karena kita merasa paling benar. Dan ada cinta yang harus ditempatkan lebih tinggi daripada ego.
Mungkin orang tuaku tidak pernah membaca kitab-kitab filsafat, tetapi mereka telah menjalani apa yang sering kali gagal dipahami oleh orang-orang yang terlalu banyak membaca, bahwa ilmu yang tidak menjadikan manusia lebih lembut kepada orang lain hanyalah pengetahuan yang belum menemukan rumahnya. Aku memperoleh gelar dari kampus, tetapi ibu memberiku pelajaran yang tidak pernah tertulis dalam transkrip akademik, yaitu bagaimana menjadi manusia.
Aku belajar teori tentang kasih. Ibu mengajarkanku bagaimana mengasihi. Aku membaca tentang pengabdian. Ibu memperlihatkan pengabdian melalui seluruh hidupnya. Aku mempelajari agama. Ibu menghidupkan nilai-nilainya dalam kesunyian. Maka hari ini aku mengerti bahwa ada ilmu yang ditulis dengan tinta, dan ada ilmu yang ditulis dengan pengorbanan. Dan sering kali, ilmu yang kedua jauh lebih lama tinggal di dalam jiwa.
Barangkali inilah yang disebut pulang. Bukan sekadar berpindah dari kota menuju kampung. Bukan sekadar menempuh ratusan kilometer untuk kembali ke rumah. Pulang adalah ketika kesombongan yang tumbuh di perjalanan mulai kita lepaskan satu per satu. Pulang adalah ketika gelar tidak lagi terasa penting. Pulang adalah ketika jabatan tidak lagi terasa tinggi. Pulang adalah ketika kita kembali menjadi anak kecil di hadapan orang tua. Pulang adalah ketika kita sadar bahwa sejauh apa pun kaki berjalan, manusia tetap memiliki satu tempat yang membuatnya rela menundukkan kepala. Dan mungkin, pulang yang paling sejati bukanlah pulang kepada rumah, melainkan pulang kepada asal diri. Kepada kesederhanaan. Kepada kasih. Kepada rasa hormat. Kepada manusia yang dahulu menggendong kita ketika kaki belum mengenal jalan. Kepada dua orang yang bahkan ketika tubuh mereka semakin renta, namanya tetap menjadi doa yang paling sering kita sembunyikan di dalam dada.
Aku tidak tahu berapa lama lagi Tuhan mengizinkan aku menikmati kebersamaan ini. Tidak ada anak yang benar-benar siap kehilangan ibunya. Sebab kehilangan ibu bukan sekadar kehilangan seseorang. Ia seperti kehilangan sebuah alamat di dunia—tempat kita bisa kembali bahkan ketika seluruh dunia terasa asing. Karena itu, selama Tuhan masih memberiku kesempatan, aku ingin belajar pulang. Pulang sebelum terlambat. Pulang sebelum suara ibu menjadi kenangan. Pulang sebelum tangan yang dahulu menggenggamku hanya bisa kusentuh melalui nisan. Pulang bukan karena aku telah selesai dengan segala urusan dunia. Justru karena aku sadar bahwa tidak ada urusan dunia yang lebih penting daripada berbakti kepada mereka yang menjadi jalan hadirnya kita ke dunia.
Jika esok aku kembali ke kota, aku akan kembali membawa pekerjaan. Membawa tanggung jawab. Membawa buku-buku. Membawa gelar. Membawa segala sesuatu yang selama ini kukumpulkan dari perjalanan panjang kehidupan. Tetapi semoga aku tidak lupa membawa satu hal, yaitu kerendahan hati yang dulu kutanam di kampung. Sebab pada akhirnya, manusia boleh pergi sejauh apa pun. Boleh belajar setinggi apa pun. Boleh mengenal dunia sedalam apa pun. Tetapi jika ia kehilangan kemampuan untuk mencintai orang tuanya, untuk menghormati yang lebih tua, untuk menjaga rasa, dan untuk merendahkan hati di hadapan kehidupan—barangkali ia sebenarnya belum pergi ke mana-mana—ia hanya tersesat terlalu jauh dari dirinya sendiri.
Maka hari ini aku pulang. Aku duduk di sisi ibu. Aku menggenggam tangannya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak ingin menjadi siapa-siapa. Aku hanya ingin menjadi anak. Anak yang dahulu pernah digendongnya. Anak yang dahulu disuapinya. Anak yang dahulu ditunggunya pulang. Dan kini, ketika ibu sedang sakit, aku ingin menjadi rumah bagi tubuhnya yang mulai lelah. Sebab, mungkin begitulah cinta bekerja, ia tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tangan. Dulu dari tangan ibu kepada tangan kita. Kelak, dari tangan kita kepada tangan anak-anak kita. Dan sepanjang perjalanan itu, Tuhan sedang mengajarkan satu rahasia yang sangat sederhana bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar kaya karena apa yang berhasil dikumpulkannya, tetapi karena seberapa banyak cinta yang sanggup diteruskannya.
Maka, jika suatu hari nanti aku ditanya, apa yang paling berharga dari seluruh perjalanan hidupku? Bukan gelar jawabku. Bukan jabatan. Bukan kota-kota yang pernah kutinggali. Bukan pula buku-buku yang pernah kubaca. Aku akan menjawab, pernah ada sepasang tangan petani yang kasar karena tanah, tetapi lembut ketika menyentuh kepalaku. Dan dari tangan itulah aku belajar bahwa cinta adalah bentuk ilmu yang paling tinggi, bahwa pengabdian adalah bentuk doa yang paling sunyi, dan bahwa sejauh apa pun manusia berjalan mencari Tuhan selalu ada jalan pulang yang bernama kasih.
Dan pada akhirnya, setelah segala perjalanan, segala ilmu, segala kesibukan, dan segala jarak yang pernah kutempuh, aku hanya ingin menitipkan satu doa kepada-Nya: Ya Allah, Tuhan yang menggenggam hidup dan mati, sembuhkanlah ibuku. Pulihkan tubuhnya yang sedang lelah, ringankan sakit yang sedang ditanggungnya, tenangkan hatinya, dan panjangkan usianya dalam kesehatan, keberkahan, serta ketenteraman.
Jika sakit ini adalah jalan untuk menggugurkan dosa-dosanya, maka jadikanlah setiap nyerinya sebagai cahaya. Jika sakit ini adalah jalan untuk mendekatkannya kepada-Mu, maka dekatkanlah ia tanpa membuatnya kehilangan kekuatan. Dan jika masih ada umur yang Engkau titipkan kepadanya, izinkan aku mengisinya dengan lebih banyak bakti, lebih banyak waktu, lebih banyak pelukan, dan lebih banyak kata-kata cinta yang selama ini mungkin terlalu sering kutunda.
Ya Allah, jangan biarkan aku menjadi anak yang baru memahami arti kehilangan setelah kehilangan itu benar-benar datang. Beri aku kesempatan untuk berbakti selagi tangannya masih bisa kugenggam, selagi suaranya masih bisa kudengar, dan selagi pintu rumah itu masih terbuka untuk kepulanganku. Sebab aku tahu, kelak akan tiba satu hari ketika aku pulang tidak lagi menemukan ibu di sana.
Maka sebelum hari itu tiba, izinkan aku pulang berkali-kali. Izinkan aku mencintainya lebih lama. Izinkan aku merawatnya dengan segenap yang kupunya. Dan jika boleh aku meminta satu hal lagi kepada-Mu, Ya Allah, sembuhkanlah ibuku, agar aku masih memiliki kesempatan untuk menjadi anaknya. Sebab di hadapan dunia, aku boleh menjadi apa saja. Tetapi di hadapan ibu, aku hanyalah seorang anak yang masih ingin pulang.