Panduan Zikir Setelah Salat



Pondok Pesantren Dza Izza sejak awal berdirinya konsisten mencetak generasi yang tidak hanya pandai dalam bidang keilmuan, namun juga memiliki jiwa spiritual yang baik. Hal tersebut diupayakan dengan membiasakan santri menghidupkan tradisi zikir bersama tiap selesai melakukan salat wajib berjamaah di masjid secara terpimpin. Atas arahan pimpinan pesantren, DKM menyusun tulisan ini untuk menyertakan keutamaan dari tiap bacaan zikir yang dirutinkan oleh para santri Dza Izza dengan bersandar pada kitab rujukan karya Imam an-Nawawi yang berjudul al-Adzkar dan juga kitab Tanqih al-Qaul karya ulama nusantara, Syekh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Bantani. Harapannya, mereka tidak lagi berzikir hanya karena dibiasakan. Namun, menyadarinya sebagai sebuah kebutuhan untuk menenangkan hati dan pikiran. Pada halaman terakhir dari tulisan ini, penulis juga akan melampirkan bacaan zikir tersebut setelah memaparkan keutamaannya satu per satu berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ dan kalam para ulama.

Sebelum memulai penjelasannya tentang keutamaan serta tuntunan zikir setelah salat, Imam an-Nawawi lebih dulu menjelaskan tentang kesunnahan zikir setelah salat yang disepakati oleh para ulama. Bahkan beliau menerangkan bahwa ada banyak dalil sahih yang menguatkan hal tersebut. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Abu Umamah ra. beliau berkata bahwa suatu saat, Rasulullah ﷺ pernah ditanya: ‘Wahai Rasulullah, doa apa yang paling mustajab?’ Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab:

جَوْفُ اللَّيْلِ الآخِرِ وَدُبُرُ الصَّلَوَاتِ المَكْتُوْبَاتِ

Doa yang paling mustajab adalah doa pada pertengahan malam terakhir dan doa setiap usai salat wajib.’

Selain itu, Imam an-Nawawi juga meriwayatkan hadits mauquf yang dinisbahkan kepada sahabat Abdullah bin Abbas ra., beliau berkata:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bahwa mengangkat suara dengan berzikir setelah jamaah menunaikan salat fardu berjamaah sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ.’

Berdasarkan dalil di atas, apa yang sudah menjadi tradisi di Pesantren Dza Izza adalah sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

Selanjutnya, pemaparan keutamaan zikir akan disusun sesuai dengan urutan bacaannya di Pondok Pesantren Dza Izza.


Istighfar

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ اَلَّذي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الحَيَّ القَيُّوْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْه 3 مِنْ جَمِيْعِ المَعَاصِيْ وَالذُّنُوْبِ

Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan yang tiada tuhan selain-Nya, Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, aku bertaubat pada-Nya dari segala macam kemaksiatan dan dosa.

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Tsauban ra. beliau berkata:

كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهِ عليه وسلم إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِستَغْفَرَ ثَلَاثًا

Biasanya, Rasulullah ﷺ apa bila telah selesai dari salatnya, beliau beristighfar sebanyak tiga kali.’
Imam al-Auza’i, dan beliau merupakan salah satu perawi hadits pernah ditanya tentang bagaimana lafaz istighfar yang dimaksud? Kemudian beliau menjawab:

اَسْتَغْفِرُ اللهِ

Dalam kitabnya, Syekh Nawawi al-Bantani membuat satu bab yang membahas tentang keutamaan beristighfar. Salah satu hadits yang beliau riwayatkan dari Imam ad-Dailami adalah sebagai berikut:

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ وَدَوَاءُ الذُّنُوْبِ الاِسْتِغْفَارُ

Setiap penyakit ada obatnya. Obat dari dosa adalah istighfar.

Dalam sunan Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَالَ: (أَسْتَغْفِرُ اللهَ اَلَّذي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الحَيَّ القَيُّوْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْه) غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنَ الزِّحَفِ

Barang siapa yang mengucapkan Astaghfirullah alladzi Laa Ilaaha Illa Huwal Hayyul Qayyum wa Atubu Ilaih, niscaya dosanya akan diampuni meski pun ia telah lari dari medan perang (dan itu adalah termasuk dari perbuatan dosa besar)

Bacaan Tahlil

لا إله إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر

Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kerajaan dan pujian. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan. Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin az-Zubair ra. bahwa ia terbiasa membaca zikir di atas setiap kali selesai salat. Beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca zikir tersebut setiap kali selesai salat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَانَ لَهُ عَدْلُ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكُنَّ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ سَائِرَ يَوْمِهِ إِلَى اللَّيْلِ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا أَتَى بِهِ إِلَّا مَنْ قَالَ أَكْثَرَ

Dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa setiap harinya membaca zikir Laa Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarikalah Lahul mulku wa Lahul hamdu wahuwa Alaa Kulli Syai’in Qadir sehari sebanyak seratus kali, maka pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang budak, akan di tulis baginya seratus kebaikan, dan dihapuskan darinya seratus kesalahan, dan kalimat tersebut akan menjadi pelindung baginya dari setan di sepanjang hari sampai malamnya. Dan tidaklah seorangpun yang akan (datang mengalahkannya) dengan membawa amalan yang lebih utama dari amalan yang dibacanya kecuali jika ia membaca kalimat tersebut lebih banyak lagi.”

Dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari sahabat Abu Dzar, Rasulullah ﷺ juga pernah bersabda:

مَنْ قالَ فِي دُبُرِ صَلاةِ الصُّبْحِ وَهُوَ ثانٍ رِجْلَيهِ قَبْلَ أنْ يَتَكَلَّمَ: لا إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِي ويُمِيتُ وَهُوَ على كُلّ شئ قَدِيرٌ عَشْرَ مرَّاتٍ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَناتٍ، ومُحِيَ عَنْهُ عَشْرُ سَيِّئاتٍ، وَرُفِعَ لَهُ عَشْرُ دَرَجاتٍ، وكانَ يَوْمَهُ ذلكَ فِي حِرْزٍ مِنْ كُلّ مَكْرُوهٍ وَحُرِسَ مِنَ الشَّيْطانِ ولَمْ يَنْبَغِ لِذَنْبٍ أنْ يُدْرِكَهُ في ذلكَ اليَوْمِ إِلاَّ الشِّرْكَ باللَّهِ تَعالى

Barang siapa yang mengucapkan zikir Laa Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarikalah Lahul mulku wa Lahul hamdu Yuhyi wa Yumit wahuwa Alaa Kulli Syai’in Qadir sebanyak sepuluh kali di setiap selesai salat Subuh ketika kakinya masih dalam keadaan posisi tahiyyat akhir sebelum ia berbicara, niscaya akan dicatat baginya sepuluh kebaikan, dihapuskan sepuluh keburukan, diangkat baginya sepuluh derajat, harinya akan dijaga dari hal buruk yang tidak diinginkan, dilindungi dari godaan setan dan tidak ada satu pun dosa yang seharusnya ia lakukan melainkan syirik kepada Allah swt.
At-Tirmidzi mengatakan bahwa status hadits tersebut adalah sahih.


Allahumma Ajirna Minannar

اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّار

Ya Allah, lindungilah kami dari neraka.
Dari kitab Sunan Abu Dawud ra. diriwayatkan dari sahabat Muslim bin al-Harits ra. mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

إذَا انْصَرَفْتَ مِنْ صَلاةِ المَغْرِبِ فَقُلِ: اللَّهُمَّ أجِرْنِي مِنَ النَّارِ سَبْعَ مَرَّاتٍ، فإنَّكَ إذَا قُلْتَ ذلكَ ثُمَّ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ كُتِبَ لَكَ جِوَارٌ مِنْها، وإذَا صَلَّيْتَ الصُّبْحَ فَقُلْ كذَلِكَ، فإنَّكَ إنْ مُتَّ مِنْ يَوْمِكَ كُتِبَ لَكَ جِوَارٌ مِنْها

Apa bila engkau telah selesai salat Maghrib, maka bacalah doa di atas sebanyak tujuh kali. Karena sesungguhnya engkau apa bila berzikir dengan zikir Allahumma Ajirni Minannar, kemudian engkau meninggal pada malam itu, maka engkau akan dicatat sebagai hamba yang jauh dari neraka. Dan apa bila engkau telah selesai salat Subuh, berzikirlah dengan zikiran serupa. Karena apa bila engkau meninggal pada hari itu, maka engkau akan dicatat sebagai hamba yang jauh dari neraka.

Allahumma Antassalam

اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ، وَأَدْخِلْنَا الجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Ya Allah, Engkau adalah Sang Maha Keselamatan, dari-Mu-lah keselamatan, hanya kepada-Mu keselamatan kembali. Maka hidupkanlah kami dengan keselamatan, masukkanlah kami ke dalam surga, tempat keselamatan. Maha Suci Engkau Tuhan kami dan Maha Luhur. Wahai yang Maha Agung lagi Maha Mulia.
Imam Muslim dalam sahih-nya meriwayatkan hadits dari Tsauban ra. beliau berkata:

كان رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اِسْتَغْفَرَ ثَلَاثاً وَقَالَ: اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلامُ وَمِنْكَ السَّلامُ، تَبارَكْتَ يا ذَا الجَلالِ وَالإِكْرامِ

Biasanya Rasulullah ﷺ setelah selesai salat membaca istighfar sebanyak tiga kali dan membaca zikir Allahumma Antassalam waminkassalam Tabarakta Ya dzal Jalali wal Ikram.

Surat al-Ikhlas

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Dalam kitab Amal al-Yaum wa al-Lailah karya Ibnu as-Sunniy, Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, Syu’ab al-Iman, dalam kitab al-Mustadrak milik Imam al-Hakim dan Sunan at-Tirmidzi diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَرَأ فِي لَيْلَة (إذَا زُلْزِلَتِ الأرْضُ) كانَتْ لَهُ كَعِدْلِ نِصْفِ القُرآن، وَمَنْ قَرأ (يا أيُّها الكافِرُونَ) كَانَتْ لَهُ كَعِدْل رُبْعِ القُرآنِ، وَمَنْ قَرأ قُلْ (هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) كانَتْ لَهُ كَعِدْلِ ثُلُثِ القُرآن

Barang siapa yang pada malam hari membaca surat az-Zalzalah, maka ia sama seperti membaca separuh al-Qur’an. Barang siapa yang membaca surat al-Kafirun, maka ia sama seperti membaca seperempat al-Qur’an. Barang siapa yang membaca surat al-Ikhlas, maka ia sama seperti membaca sepertiga al-Qur’an.


(al-Mu’awwidzatain) Surat al-Falaq dan an-Nas

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3)
وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan yang (menjaga) fajar (subuh) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan (penyihir) yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَٰهِ النَّاسِ (3) مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي
صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, sembahan manusia dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

Abu Dawud dalam sunan-nya, begitu juga at-Tirmidzi dan an-Nasa’i meriwayatkan hadits dari Uqbah bin Amir ra. beliau berkata:

أَمَرَنِي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَقْرَأَ بِالمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ

Rasulullah ﷺ memerintahkanku untuk membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas setiap usai salat.
Dalam Sunan Abu Dawud dan at-Tirmidzi disebutkan riwayat sahih dari Abdullah bin Khubaib ra. beliau berkata bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أحَدٌ وَالمُعَوِّذَتَيْنِ حِينَ تُمْسِي وَحِينَ تُصْبِحُ ثَلاثَ مَرَّاتٍ تَكْفِيكَ مِنْ كُلّ شئ

Surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, bacalah ketika sore dan pagi hari sebanyak tiga kali, niscaya ia akan mencukupkanmu dari segala sesuatu.


Al-Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا
الضَّالِّينَ (7)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

Dalam kitab Syu’ab al-Iman, Imam al-Baihaqi meletakkan satu bab khusus yang membahas tentang keutamaan surat al-Fatihah. Di antara hadits yang beliau riwayatkan di dalamnya adalah hadits Abdullah bin Jabir ra. bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya:

يا عبدَ اللهِ بْنِ جَابِرٍ أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ سُوْرَةٍ نَزَلَتْ فِي القُرْآن؟ ” قَالَ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُوْلَ الله! قال: “فَاتِحَةُ
الكِتَاب” قَالَ عليٌّ وأحسبه قال: “فِيْهَا شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ

Wahai Abdullah bin Jabir, maukah engkau kuberi tahu surat terbaik yang pernah turun dalam al-Qur’an? Jabir berkata: ‘Tentu saja, wahai Rasulullah ﷺ’ Beliau menjawab: ‘Ia adalah al-Fatihah. Di dalamnya terdapat penyembuh bagi segala penyakit.’
Al-Baqarah Ayat 163

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ (البقرة : 163)

Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsrinya meriwayatkan hadits berkenaan keistimewaan ayat di atas dari Asma binti Yazid bin as-Sakan berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

اِسْمُ اللهِ الأَعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الآيَتَيْنِ : ( وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ ) وَ
( الم اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ )

Ismullah al-A’zham (nama Allah yang Agung) terdapat di dalam dua ayat ini: al-Baqarah ayat 163 dan Ali Imran ayat 1-2)

Ayat Kursi

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ
عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (البقرة : 255)

Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya (ilmu dan kekuasaan-Nya) meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

Dalam kitab Syu’ab al-Iman, Imam al-Baihaqi meriwayatkan hadits keutamaan ayat kursi dari sahabat Abu Dzar berkata bahwa suatu hari, ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang ayat apa yang paling mulia dalam al-Qur’an. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

قال: {اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} وذكر الآية حتى ختمها

Beliau membaca ayat kursi hingga tuntas.
Dalam riwayat Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

سُوْرَةُ البَقَرَةِ فِيْهَا آيَةٌ سَيِّدَةُ آيِ القُرْآنِ، لَا تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ فِيْهِ شَيْطَانٌ إِلَّا خَرَجَ مِنْهُ، آيَةُ الكُرْسِيِّ

Di dalam surat al-Baqarah terdapat satu ayat yang merupakan ayat yang paling mulia dalam al-Qur’an. Ayat itu tidak dibacakan di dalam rumah yang ada setan, melainkan setan itu akan keluar dari rumah tersebut. Ayat tersebut adalah Ayat Kursi.


Tasbih, Tahmid dan Takbir

سُبْحَانَ اللهِ، الحَمْدُ لِلهِ، اللهُ أَكْبَرُ

Dalam sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i, Abdullah bin Amr ra. meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada dua amalan yang apabila seorang muslim menjaganya, niscaya ia akan masuk ke dalam surga. Dua amalan itu sangat ringan. Namun, sedikit yang mengamalkannya. Dua amalan itu adalah pertama, membaca tasbih, tahmid dan takbir masing-masing sepuluh kali setiap selesai salat. Kedua, membaca takbir tiga puluh empat kali, tasbih dan tahmid masing-masing sebanyak tiga puluh tiga kali. Lalu para sahabat keheranan dan bertanya:

يارسولُ اللهِ كَيْفَ هُمَا يَسِيْرٌ، وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيْلٌ؟

Wahai Rasulullah ﷺ, bagaimana bisa dua amalan itu ringan, namun, sedikit yang mengamalkannya?

يأتِي أحَدَكُمْ – يعني الشيطان – في مَنامِهِ، فَيُنَوِّمُهُ قَبْلَ أنْ يَقُولَهُ، ويأتِيهِ في صَلاتِهِ، فَيُذَكِّرَهُ حاجَةً قَبْلَ أنْ
يَقُولَهَا

Rasulullah ﷺ menjawab: ‘Setan datang menghampiri salah satu di antara kalian saat sebelum tidur, kemudian setan membuatnya tertidur sebelum hamba itu mengamalkan zikir tersebut. Setan juga datang menghampirinya setelah salat, namun setan membuatnya mengingat hajatnya sebelum hamba itu mengamalkannya.
Dalam kitab Sahih Muslim diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ في دُبُرِ كُلِّ صَلاةٍ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلاثاً وَثَلاثينَ، وكَبَّرَ اللَّهَ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ، وَقالَ تَمامَ
المِائَةِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيرٌ، غُفِرَتْ خَطاياهُ وَإنْ
كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْرِ

Barang siapa yang bertasbih setelah salat sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali dan menyempurnakannya dengan zikir Laa Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarikalah Lahul Mulku walahul Hamdu wahuwa Alaa Kulli Syai’in Qadir, niscaya dosanya akan diampuni meski pun sebanyak buih di lautan.

Penyusunan Zikir Setelah Salat
Ada pun penyusunan zikir setelah salat sebagaimana yang telah diamalkan di Pondok Pesantren Dza Izza merujuk kepada tradisi zikir masyarakat Banten yang berinduk kepada tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah. Jika kita perhatikan dengan seksama dari kitab referensi zikir-zikir seperti al-Adzkar karya Imam an-Nawawi, Bidayah al-Hidayah karya al-Ghazali atau Hishnu al-Muslim karya al-Qahthani, maka kita akan mendapatkan kenisbian urutan zikir pada masing-masing kitab tersebut.
Secara tidak langsung, para ulama memberikan isyarat bahwa penyusunan urutan zikir setelah salat bersifat relatif, bisa berbeda sesuai dengan ijtihad (pandangan) tiap-tiap ulama. Itulah mengapa kita dapat menemukan beragam risalah yang berisi susunan zikir berasal dari tarekat yang juga berbeda. Contohnya seperti zikir Ratib al-Attas, susunan Syekh Abdurrahman al-Attas dan Ratib al-Hadda, susunan Syekh Abdullah al-Haddad, keduanya dari kalangan tarekat Alawiyyah. Ada juga zikir dari tarekat Syadziliyah seperti Hizb al-Bahr, susunan Abu al-Hasan asy-Syadzili. Begitu pun yang kami alami semasa menuntut ilmu di Tunisia bersama ulama-ulama yang kredibilitas keilmuannya tak diragukan lagi. Misalnya saja, Syekh Ali bin Saleh Bafadhal asal Yaman, urutan zikir yang beliau ajarkan kepada kami tidak sama dengan yang diajarkan oleh Syekh Ahmad bin Mansur Qurtom asal Palestina. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa, amalan yang hari ini dilazimkan oleh para santri di Pondok Pesantren Daar el Qolam secara umum adalah rumusan yang diramukan oleh para penggagas dan pendiri pondok tersebut. Bukan tanpa dasar para ulama menyusun lafaz zikir yang berbeda-beda. Dalil al-Qur’an yang melandasi keragaman mereka dalam berzikir adalah ayat 41 dari surat al-Ahzab, Allah swt berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًاۙ

Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan zikir sebanyak-banyaknya.
Para ulama memandang perintah berzikir dalam ayat ini bersifat hipernim. Allah swt tidak menjadikannya hiponim dengan lafaz zikir tertentu. Pada ayat itu, Dia hanya memerintahkan orang beriman untuk sebanyak-banyaknya zikir kepada-Nya.
Mengakhiri tulisan ini, DKM menyuguhkan kepada para pembaca susunan zikir yang dibaca di Pondok Pesantren Dza Izza seperti yang telah dijanjikan. Semoga menambah semangat dan kekhusyukan kita dalam berzikir kepada Allah swt. Amin.


Daftar Pustaka
Tafsir Ibnu Katsir
Sahih al-Bukhari
Sahih Muslim
Sunan Abu Dawud
Sunan at-Tirmidzi
Sunan an-Nasa’i
Al-Adzkar, an-Nawawi
Syu’ab al-Iman, al-Baihaqi
Tanqih al-Qaul, Nawawi al-Bantani
Amal al-Yaum wallailah, Ibnu as-Sunniy
Al-Mustadrak, al-Hakim

Zikir & Doa Setelah Salat

أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ اَلَّذي لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الحَيَّ القَيُّوْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْه 3 مِنْ جَمِيْعِ المَعَاصِيْ وَالذُّنُوْبِ
لا إله إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر 3
اللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّار 7
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ، وَمِنْكَ السَّلَامُ، وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ، وَأَدْخِلْنَا الجَنَّةَ دَارَ السَّلَامِ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا
وَتَعَالَيْتَ يَاذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4) 3
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِن شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4)
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَٰهِ النَّاسِ (3) مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4)
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6)
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
(5) اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ (البقرة : 163)
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (البقرة : 255)
إِلهَنَا يَا رَبَّنَا سُبْحَانَ الله 11
سُبْحانَ اللهِ العَظِيْمِ دَائِمًا قَائِمًا أبَدًا
الحمدُ لِلّه 11
الحمدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَنِعْمَةٍ يَاكَرِيْم
اللهُ أَكْبَر 11
اللهُ أَكْبَر كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا، وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلًا، لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِيْ
وَيُمِيْتُ وَهًوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر، وَلَا حَولَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم
أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ 3
الحمدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِيْن حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزِيْدَة يَا رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الكَرِيْمِ وَ عَظِيْمِ سُلْطَانِك
اللّهُمَّ صَلِّ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الأَهْوِالِ وَ الآفَاتِ وَ تَقْضِيْ لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الحَاجَاتِ وَ تُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ
جَمِيْعِ السِّيِّآتِ وَ تَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَ تُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الخَيْرَاتِ فِي الحَيَاةِ وَ بَعْدَ المَمَاتِ إِنَّكَ
عَلى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر
اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدِيْنَا وَ ذُنُوْبَ أَسَاتِذَتِنَا وَ ذُنُوْبَ جَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ وَ المُسْلِمَاتِ وَ المُؤْمِنِيْنَ وَ المُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَ الأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ يَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ
اللّهُمَّ بِنُوْرِكَ اِهْتَدَيْنَا وَ بِفَضْلِكَ اِسْتَغْنَيْنَا وَ بِكَ أَصْبَحْنَا وَ أَمْسَيْنَا ذُنُوْبَنَا بَيْنَ يَدَيْكَ وَ نَسْتَغْفِرُكَ وَ نَتُوْبُ إِلَيْكَ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا بُرْهَانًا يُوَرِّثُنَا أَمَانًا وَ أَنِسْنَا بِكَ عَلى كُلِّ مَطْلُوْب وَ أَصْحِبْنَا بِعَوْنِ عِنَايَتِكَ فِي نَيْلِ كُلِّ مَرْغُوْب يَا قَرِيْب يَا جَلِيْل
يَا قَاهِر يَا عَظِيمْ يَا نَاصِر كَتَبَ اللهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَ رُسُلِيْ إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيْز
اللّهُمَّ يَسِّرْ لَنَا أُمُوْرَنَا مَعَ الرَّاحَةِ لِقُلُوْبِنَا وَ أَبْدَانِنَا وَ السَّلَامَةِ وَ العَافِيَةِ فِي دِيْنِنَا وَ دُنْيَانَا وَ كُنْ لَنَا صَاحِبًا فيِ سَفَرِنَا وَ خَلِيْفَةً فِي
أَهْلِنَا وَ اطْمِسْ عَلى وُجُوْهِ أَعْدَائِنَا وَ امْسَخْهُمْ عَلى مَكَانَتِهِمْ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ المُضِيَّ وَ لَا المَجِيْءَ إِلَيْنَا وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلى
أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُوْنَ وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوْا مُضِيًّا و َلَا يَرْجِعُوْن
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلَامَةً فِي الدِّيْن وَ عَافِيَةً فِي الجَسَد وَ زِيَاَدَةً فِي العِلْمِ وَ بَرَكَةً فِي الرِّزْقِ وَ تَوْبَةً قَبْلَ المَوْت وَ رَحْمَةً عِنْدَ المَوْت
وَ مَغْفِرَةً بَعْدَ المَوْت، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِي سَكَرَاتِ المَوْت وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّار وَ العَفْوَ عِنْدَ الحِسَاب
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْم وَ تُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَابُ الرَّحِيْم رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا
عَذَابَ النَّار
وَ صَلَّى اللهُ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِ عِلى آلِهِ وِ صَحْبِهِ وَ سَلَّم سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلَامٌ عَلى المُرْسَلِيْنَ وَ الحَمْدُ
لِلّهِ رَبِّ العَالمِيْن