
Alhamdulillah rutinitas kegiatan belajar-mengajar dapat kembali saya jalani dengan sehat dan senang hati sebagai guru di Pondok Pesantren Dza Izza, Jayanti, Tangerang di tahun ajaran 2026-2027. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya, Ahmad Nizamuddin Qisti diberikan kepercayaan oleh bagian pengajaran pesantren untuk mengampu materi yang di pondok dikenal dengan sebutan al-Muthala’ah wal Insya’. Di pondok pesantren, guru dituntut untuk menjadi spesialis di banyak bidang pelajaran. Sebab, slogannya tidak ada kata tidak siap, siap tidak siap harus siap. Tidak ada kata tidak bisa. Kita dilatih memaksakan diri untuk terbiasa hingga menjadi bisa. Begitulah kira-kira.
Dalam rangka mengupayakan diri memenuhi tuntutan besar itu, saya coba membiasakan diri untuk mendokumentasikan kegiatan belajar-mengajar materi al-Muthala’ah wal Insya’ di kelas 11 SMA dalam bentuk catatan harian guru. Tujuannya bukan hanya mengabadikan momen kebersamaan di kelas. Lebih dari itu, tulisan ini juga dibuat untuk memuat konten materi pelajaran yang sarat hikmah. Sehingga bukan hanya santri di kelas 11 saja yang dapat memetik buahnya. Namun, juga para pembaca di mana pun berada. Tulisan ini secara tidak langsung menyulap ruang kelas berukuran 6,5 meter x 7,5 meter bertransformasi menjadi kelas yang lebih luas jangkauannya dan memuat lebih banyak siswa di dalamnya. Tentu hanya yang mengosongkan wadahnya saja yang mau masuk menikmati rindang jamuan pengetahuan di dalamnya.
Setelah sebelumnya para pengajar di pesantren ini membuat rancangan dan menyiapkan perangkat pembelajaran di tiap-tiap mata pelajaran yang diampu, hari Selasa, 14 Juli 2026 kemarin menjadi pembuka kegiatan belajar formal. Masing-masing guru memulai pertemuan pertamanya dengan membangun komitmen kelas dan melakukan sosialisasi terhadap target, objek dan metode ajar yang akan dilangsungkan selama satu tahun ajaran ke depan. Tidak terkecuali saya sebagai guru al-Muthala’ah wal Insya’. Al-Muthala’ah sendiri merupakan pelajaran yang bertujuan untuk mengasah kemampuan anak memahami nas berbahasa Arab dengan menjadikan hikayat adabiyat sebagai objeknya.

Sambil menyelam minum air, selain menambah khazanah kosa kata Bahasa Arab, anak-anak juga diharapkan mampu mengambil hikmah dan teladan baik dari setiap kisah yang dipelajari. Ada pun al-Insya’, lebih kepada uji kompetensi anak meresume judul-judul muthala’ah ke dalam bentuk tulisan berbahasa Arab. Tujuannya untuk menajamkan kemampuan gramatikal Bahasa Arab para santri. Sehingga secara tidak langsung, pada pelajaran ini, mereka sedang mengaplikasikan teori-teori ilmu nahwu mau pun sharaf yang diajarkan juga pada kesempatan yang lain. Begitulah bagaimana pelajaran Bahasa Arab dan Dirasah Islamiyah saling bersinggungan.
Judul pertama yang disepakati oleh dewan guru pada tahun ajaran ini adalah (نُكْرَانُ الجَمِيْلِ) yang berarti mengingkari kebaikan. Sebelum masuk ke dalam pembahasan, saya terlebih dahulu membuat perjanjian dengan para santri kelas 5 SMAWI B untuk membawa kamus Bahasa Arab pada tiap pertemuan pelajaran al-Muthala’ah wal Insya’. Selanjutnya, anak-anak diberikan pemahaman tentang metode apa yang akan digunakan dalam proses mengajar. Secara umum, saya mengisi waktu pembelajaran dengan tiga bentuk kegiatan: penjelasan kosa kata dan materi secara bertahap, penulisan catatan di buku tulis, dan evaluasi. Setelah menyepakati perjanjian dan memahami aktivitas kelas, barulah saya masuk kepada tahap pertama: penjelasan.

Semasa menjadi santri dahulu, saya ingat bagaimana Ustazah Hj. Dra. Enah Huwaenah melatih bagaimana cara mengajarkan pelajaran Muthala’ah dengan baik. Salah satunya adalah dengan melibatkan para santri ke dalam setiap aktivitas pembelajaran di kelas. Karena pelajaran ini berisi kisah yang diceritakan, jika tidak dibuat aktif, anak-anak akan larut ke dalam perenungan hingga hilang sadarnya di bawa kantuk yang menguasainya. Cara itu juga yang saya gunakan pada proses mengajarkan materi Muthala’ah. Metode tersebut terbukti efektif mengusir kejenuhan dari dalam kelas. Hal itu ditandai dengan riuhnya suara santri saat saya bertanya tentang makna dari salah satu kosa kata dalam kisah yang sedang dibahas.
Setelah rampung membahas kosa kata asing dalam kisah tersebut, kami beranjak kepada pembahasan selanjutnya berkenaan dengan rangkaian kisah yang dimulai dengan munculnya sosok raja yang gemar berdayung. Perangai buruknya, membuat kesialan menghampiri dirinya di tengah ia asyik mendayung sekocinya. Nasib buruk membalikkan perahu kecilnya, hingga ia terombang-ambing tenggelam ditelan kedalaman sungai. Namun, takdir masih berbelas kasih, seorang budak kebetulan sekali menyusuri tepi sungai itu. Sayup-sayup terdengar suara air beriak dan teriakan tolong samar-samar. Sontak saja tanpa berpikir panjang, ia melemparkan dirinya ke dalam sungai dan lekas menarik tangan sang raja, membawanya ke tepian sungai. Sementara raja kalut dan pucat terlalu banyak menelan air.

Ketika kesadarannya sepenuhnya pulih, bukan berterimakasih kepada budak yang menyelamatkannya dari kematian, raja sombong itu malah bertanya ketus kepadanya:
كَيْفَ تَجْرَأُ أَنْ تَمَسَّ سَيِّدَكَ الطَّاهِرَ المُقَدَّسَ بِتِلْكَ اليَدِ النَّجَسَةِ الذَّلِيْلَةِ؟
‘Bagaimana kau bisa lancang berani menyentuh tuanmu yang suci dengan tangan najismu yang hina itu?’
Mencoba mengurai kesalahpahaman, budak itu menjelaskan kelancangannya terhadap sang raja dengan jawaban menenangkan:
إِنَّمَأ فَعَلْتُ ذَلِكَ يَا مَوْلَايَ لِأُنْقِذَكَ مِنَ الغَرَقِ
‘Sesungguhnya aku melakukan itu untuk menyelamatkanmu dari tenggelam, duhai paduka raja.’
Bukan merendah hati, raja malah tambah jumawa dan memberikan kebijakan tak terduga pada budak yang telah menyelamatkannya.
لَقَدْ لَوَّثْتَ بَدَنِيْ أَيُّهَا العَبْدُ الوَضِيْعُ، وَلَيْسَ لَكَ عِنْدِيْ إِلَّا الإِعْدَامُ جَزَاءَ تَبَجُّحِكَ
‘Sungguh engkau telah menodai badanku, wahai budak yang lemah. Tidak ada apa pun yang akan kuberikan kepadamu selain hukuman mati sebagai balasan atas kelancanganmu!’
Tak ada daya dan upaya yang dimiliki oleh budak itu ketika harus berat hati menerima pengingkaran raja atas pertolongannya. Alih-alih mendapatkan ucapan terimakasih, ia malah dijatuhi hukuman mati. Tidak lama setelah kezaliman sang raja mengotori tanah kekuasaannya, seperti biasa ia kembali melakukan hobinya, berdayung. Ketika ia hendak berpindah dari satu perahu ke perahu lainnya, ia terpeleset jatuh ke dalam sungai. Namun, kali ini tak ada seorang pun yang mendengar teriakannya. Riak air semakin keras dan raungannya tak berhenti mencari pertolongan. Nahas, panggilannya tak terjawab dan tidak ada manusia yang menolongnya. Di ambang kematiannya, terdengar lirih suara bisikan di telinga sang raja:
هَيْهَاتَ، هَيْهَاتَ! بَعْدَ عَمَلٍ مِنْكَ قَدْ فَاتَ، فَذُقْ كَأْسَ المَمَاتِ
‘Mustahil, mustahil ada yang menolongmu setelah kezaliman yang telah kau lakukan! Rasakanlah kematian!’
Bersama suara sumpah serapah itu, sang raja tewas tenggelam dilahap sungai. Ia menjumpai balasannya persis setelah ia dengan keji menghilangkan nyawa tak bersalah. Mengakhiri cerita, saya bertanya kembali memastikan pemahaman mereka terhadap kisah yang barusan disampaikan. Dengan pertanyaan yang mengacu pada isi cerita, saya dapat menerka presentase pemahaman mereka. Saat itu, mereka cukup antusias menjawab pertanyaan yang dilayangkan, dan itu adalah momen paling menyenangkan bagi seorang guru. Yaitu, ketika melihat muridnya dapat dengan mudah memahami pelajarannya. Setelah puas menggali pemahaman dengan pertanyaan, saya menutup kelas dengan tantangan:
من منكم يستطيع أن يأخذ الدروس والعبر من هذه القصة؟
‘Siapa di antara kalian yang dapat mengambil pelajaran dari kisah ini?’
Saya tidak menyangka akan ada banyak tangan yang mengacung untuk berebut menjawab pertanyaan ini. Saya lebih dulu memilih tangan kecil di barisan belakang. Ternyata tangannya Emery, santriwan berambut keriting.
لا بد لنا أن نشكر من نصرنا
‘Kita harus berterimakasih kepada orang yang telah menolong kita.’
Jawab Emir singkat. Saya tetap mengapresiasi keberaniannya menjawab pertanyaan tersebut. Ada lagi yang menjawab dari barisan putri. Kali ini saya memilih tangan yang berada di sudut kanan barisan santriwati. Jihan namanya.
فجزاء سيئة سيئة مثلها
‘Balasan dari keburukan adalah keburukan serupa.’
Cerdas sekali dia menjawab pertanyaan dengan ungkapan hikmah yang ia pelajari dalam pelajaran Mahfuzhat. Ketika hendak beranjak kepada jawaban lainnya, tak terasa jarum jam tangan menunjukkan akan berakhirnya masa pembelajaran. Akhirnya, saya urungkan dan merangkum nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kisah serta mengutip ayat dan hadits yang selaras dengan jawaban Emery dan Jihan.
وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَاۚ
Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. (Asy-Syura : 40)
من لم يشكرِ النَّاسَ لم يشكرِ اللَّهَ
Barang siapa yang tidak berterimakasih kepada manusia, maka ia sama seperti tidak bersyukur kepada Allah swt
Entah kapan mereka akan membaca catatan kecil ini. Tapi saya berharap, semoga pada saat tulisan ini berada di hadapannya, ilmu yang kemarin saya sampaikan masih melekat dan mengalir dalam nadinya. Amin. Rabu, 22 Juli 2026.