ILTP Dza ‘Izza Kupas Empat Kunci Leadership bagi Santri


Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza kembali melaksanakan Intermediate Leadership Training Program (ILTP), salah satu program unggulan pesantren yang difokuskan pada pembinaan kepemimpinan santri. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 2 Mei 2026 di Ballroom Asy-Syahid ini diikuti oleh santri kelas 5 dan 2 SMAWI sebagai bagian dari proses pembentukan karakter, kemampuan memimpin dan berorganisasi.

Pada kesempatan tersebut, materi disampaikan oleh Ustaz Wahyuni Nafis, M.A., dari Majelis Khidmah Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Penyampaian materi berlangsung secara interaktif, dengan melibatkan partisipasi aktif santri melalui pertanyaan, tanggapan, dan diskusi yang membuat suasana pelatihan hidup serta dinamis.

Dalam wawancara bersama Ustaz Nafis, pada Sabtu (25/2026), beliau merujuk pemikiran Warren G. Bennis dalam bukunya On Becoming a Leader (New York: Basic Books, 1989), tentang hakikat kepemimpinan . Menurutnya, kepemimpinan adalah kemampuan mengubah visi menjadi kenyataan.

“Warren Gamaliel Bennis menjelaskan bahwa Leadership is the capacity to translate vision into reality, kepemimpinan adalah kemampuan atau kapasitas untuk menerjemahkan visi ke dalam realitas. Jadi semua konsep dan rencana diterapkan ke dalam kenyataan yang sebenarnya,” jelas beliau.

Dari definisi tersebut, Ustaz Nafis menjelaskan bahwa kepemimpinan memiliki tiga unsur utama yang menjadi inti dalam membangun pengaruh terhadap orang lain, yaitu menginspirasi, memotivasi, dan mengajak.

“Leadership menyangkut tiga kata kunci (key words), yaitu menginspirasi, memotivasi, dan mengajak,” ungkapnya.

Menurut Ustaz Nafis, tiga unsur tersebut menjadi pembeda utama antara seorang pemimpin dan seorang atasan biasa atau bos.

“Dari situlah ada perbedaan antara bos dan leader. Bos itu ada di belakang dan memberikan perintah. Leader ada di depan, mengajak,” ujarnya.

Audience in purple uniforms and black caps seated facing a panel of three speakers at a draped table on stage.

Dalam sesi diskusi yang berlangsung aktif, salah satu santri menambahkan perspektif bahwa komunikasi yang ramah juga menjadi bagian penting dalam kepemimpinan. Hal ini mendapat perhatian khusus dari Ustaz Nafis sebagai pelengkap dari tiga unsur utama tersebut.

“Selain ketiga key words itu, ada santri yang menambahkan, yaitu menggunakan komunikasi yang ramah,” imbuhnya.

Ustaz Nafis kemudian menekankan bahwa pemahaman tentang kepemimpinan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Menurutnya, ilmu yang tidak diterapkan hanya akan berhenti sebagai pengetahuan tanpa dampak.

“Maka penting applying, yaitu mengamalkan ilmu dan pemahaman tentang what is leadership and character. Jadi kalau ada yang melakukan bullying, berarti applying-nya tidak benar, tidak diamalkan. Mahfuzhat menyebutkan, al-‘ilmu bila ‘amalin ka syajarin bila tsamarin, ilmu yang tidak diamalkan seperti pohon tanpa buah.”

Dalam penjelasan selanjutnya, Ustaz Nafis membagi kualitas manusia ke dalam dua kategori besar, yaitu mediokritas (mediocrity) dan keagungan (greatness). Ia menggambarkan mediokritas sebagai sikap yang mudah terombang-ambing oleh keadaan dan cenderung menyalahkan lingkungan.

“Mediokritas itu mengikuti arah angin. Dia terpengaruh dan mengikuti ego serta perasaan buruknya. Dan dia merasa menjadi korban dari keadaan,” terangnya.

Sebaliknya, keagungan menurutnya lahir dari keteguhan prinsip, keberanian mencari jalan keluar, dan kemampuan berdiri kokoh di tengah situasi yang tidak ideal.

“Keagungan (greatness), dia berdiri di atas prinsip. Meskipun, misalnya, keadaan sekitar tidak kondusif, namun dia tidak mengikuti arah angin, dan dia menghadapinya dengan kreatif. Dia mencari solusi,” ungkapnya.

Ustaz Nafis juga menggarisbawahi pentingnya menemukan inner voice atau suara hati sebagai dasar dalam membangun karakter pemimpin. Baginya, suara hati adalah sumber dorongan kebaikan yang menjadi fondasi lahirnya pemimpin sejati.

“Suara hati (inner voice) atau suara batin adalah pangkal kesucian dan keinginan baik. Misalnya keinginan untuk berbuat baik, rajin ibadah, menolong orang lain, senang belajar, dan sebagainya. Puncaknya nanti insan kamil (manusia sempurna). Suara hati inilah yang menjadi syarat leadership,” paparnya.

Sebagai penutup, Ustaz Nafis mengaitkan konsep tersebut dengan nilai Al-Qur’an sebagai landasan pembentukan karakter manusia.

“Dalam al-Qur’an disebutkan, fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā. Fujur itu mediokritas, greatness itu takwa,” pungkasnya.