
Rangkaian Intermediate Leadership Training Program (ILTP), salah satu program unggulan Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza dalam pembinaan kepemimpinan santri, berlanjut pada sesi kedua, Sabtu (2/5/2026), di Ballroom Asy-Syahid. Setelah sesi pertama membahas fondasi kepemimpinan, sesi lanjutan kali ini mengangkat tema Pemimpin Visioner dengan pemateri Ustaz Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M., Majelis Khidmah Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza sekaligus dosen Falsafah dan Agama Paramadina University.
Dalam wawancara pada Sabtu, (2/5/2026) Ustaz Aan memaparkan bahwa kepemimpinan visioner memiliki karakter yang berbeda dari pola kepemimpinan tradisional. Jika kepemimpinan tradisional cenderung fokus pada kondisi saat ini, kepemimpinan visioner justru menjadikan masa depan sebagai orientasi utama.
“Kepemimpinan visioner itu berbeda dengan kepemimpinan tradisional. Kepemimpinan visioner akan selalu berusaha melihat visi masa depan sebagai orientasi pengembangan organisasi. Makanya nanti, pilihan kepemimpinannya biasanya, yang visioner itu lebih kreatif, inovatif, dan yang jelas berusaha mengatasi semua tantangan kekinian, untuk mempersiapkan organisasi menghadapi masa depan,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan kepemimpinan saat ini semakin kompleks karena dunia sedang berada dalam era disrupsi, sebuah fase yang ditandai perubahan cepat dan ketidakpastian tinggi. Dalam situasi seperti itu, seorang pemimpin dituntut memiliki kepekaan terhadap perubahan dan kemampuan membaca arah perkembangan zaman.
“Sekarang ini kan masuk ke era disrupsi, era penuh ketidakpastian, makanya karena era tidak menentu, pemimpin visioner itu harus mengetahui apa yang terjadi saat ini, termasuk progres pengembangan ke depan seperti apa, termasuk tantangan-tantangannya,” ungkapnya.
Ustaz Aan menguraikan tiga hal utama yang menjadi pijakan kepemimpinan visioner di masa depan. Pertama adalah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan digitalisasi yang akan menjadi warna dominan dalam berbagai sektor kehidupan.
“Ada tiga hal penting terkait kepemimpinan visioner. Pertama, masa depan itu akan diwarnai oleh artificial intelligence (AI) dan digitalisasi. Jadi pemimpin yang visioner itu jangan mengenyampingkan kecenderungan ke arah itu. Sekarang kan sudah banyak penggunaan AI,” ujarnya.
Poin kedua adalah pentingnya memahami arah perkembangan ekonomi hijau (green economy) dan keberlanjutan (sustainability), terutama dalam konteks meningkatnya perhatian dunia terhadap isu lingkungan.
“Kedua, green economy. Pemimpin yang visioner juga harus tahu mengenai ide-ide green economy dan sustainability. Sekarang ini eranya orang lebih banyak fokus mengembangkan model kepemimpinan yang berhaluan pada isu-isu lingkungan. Itu di banyak sektor. Apalagi kita yang ada di pesantren, mau tidak mau, santri-santri kita punya kesadaran ke arah itu,” imbuhnya.
Sementara poin ketiga adalah pengembangan sumber daya manusia (human resources). Menurutnya, meskipun teknologi terus berkembang, manusia tetap menjadi pusat utama dalam kepemimpinan.
“Ketiga, human resources. Banyak yang berkembang itu model-model ekonomi yang berbasiskan human touch, tentang manusia, human development. Jadi, bukan lagi mesinnya. Karena mesinnya sudah tuntas dengan adanya AI. Tapi berbicara bagaimana manusia itu berhadapan dengan mesin. Makanya, human development menjadi hal penting dalam kaitannya dengan kepemimpinan visioner,” sambungnya.

Lebih jauh, Ustaz Aan menegaskan bahwa pelatihan kepemimpinan di pesantren bukan hanya untuk kebutuhan internal organisasi santri, tetapi sebagai ruang latihan jangka panjang untuk kehidupan yang lebih luas di masa depan.
“Para santri menjadi pemimpin bukan hanya untuk di pondok saja, tapi ini menjadi media latihan untuk mereka ke depan. Bukan mendidik semata-mata untuk kepemimpinan santri, tetapi di pondok ini adalah fase pelatihan bagi mereka untuk menjadi pemimpin. Jadi, orientasi kepemimpinan tetap diarahkan ke masa depan, ketika mereka ada di luar pesantren,” paparnya.
Ia menambahkan, kepemimpinan visioner akan melahirkan budaya organisasi yang lebih bermakna. Setiap program atau kegiatan tidak hanya berjalan sebagai rutinitas, tetapi lahir dari visi dan tujuan yang jelas.
“Dampak kekiniannya, setidaknya anak-anak sudah mengenal visi organisasi. Ketika mereka mengembangkan organisasi ini, mereka akan mengembangkannya dengan visi. Contoh misalnya ketika mereka membuat program, mereka harus tahu alasan di balik itu semua, sehingga kegiatan itu selalu punya makna. Itu sangat mungkin dengan model kepemimpinan yang visioner. Jadi, bukan semata-mata program kerja, tapi kegiatan bermakna,” jelasnya.
Ustaz Aan memaparkan tiga karakter utama yang harus dimiliki pemimpin visioner.
“Ada tiga karakter pemimpin visioner. Pertama, terbuka, open minded, punya kemampuan mengakses referensi bacaan yang luas. Tidak boleh terbatas atau sempit pikirannya,” ungkapnya.
“Kedua, kepemimpinan visioner mesti punya nilai-nilai luhur, seperti daya tahan (resilience), keberanian, critical thinking, dan sebagainya,” imbuhnya.
“Ketiga, mengetahui lingkup teknologi, tidak mengabaikan perkembangan yang ada. Karena generasi Z yang dipimpin mereka adalah produk dari generasi yang sudah terpapar teknologi digital. Jadi, mau tidak mau, pendekatannya tidak bisa lagi berpusat kepada pemimpinnya, tetapi harus meluas. Tidak menekankan otoritas, tetapi menekankan komunikasi dan kolaborasi,” sambungnya.
Menutup pemaparannya, Ustaz Aan menegaskan bahwa kolaborasi menjadi unsur penting dalam membangun kepemimpinan yang efektif. Tanpa sinergi, kebijakan yang baik sekalipun akan sulit berjalan maksimal.
“Kolaborasi itu suatu langkah kepemimpinan supaya bisa mengelola keberbedaan yang ada di tim. Kalau bicara tim kan bukan hanya satu atau dua orang, tetapi banyak orang. Tanpa kolaborasi yang mendorong sinergi, tentu kepemimpinan tidak akan berjalan. Jiwa kepemimpinan itu diturunkan dalam kebijakan, itu tidak akan berjalan dengan efektif manakala tim-timnya tidak ada sinergi dan kolaborasi,” pungkasnya.