
Perjalanan menuju Al-Azhar University terus dijalani para alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza angkatan 2026. Salah satunya adalah Dzanuba Elmira Bilqisth dari Program MADRIS, yang saat ini tengah berada dalam proses seleksi menuju kampus ternama di Mesir tersebut. Seluruh pendidikan yang diperolehnya di pesantren ini melalui Program MADRIS telah memberinya bekal menuju kampus yang menjadi pusat tradisi intelektual Islam.
Saat wawancara pada Kamis, 30 April 2026, Dzanuba mengungkapkan bahwa Program MADRIS yang diikutinya selama di Daar el-Qolam 3 dapat dirasakan manfaatnya, khususnya dalam menjalani proses masuk al-Azhar. Program MADRIS (Markaz al-Dawly fi al-Dirasat al-Islamiyah) merupakan program persiapan masuk perguruan tinggi internasional dengan jenjang pendidikan 3 tahun (SMA) yang bekerja sama dengan perguruan tinggi Timur Tengah dan Afrika Utara.
“Alhamdulillah selama 3 tahun saya masuk jurusan Dirasah Islamiyyah, saya merasakan banyak manfaat, yang sekarang menjadi bekal saya ke mesir. Karena program ini memang program persiapan bagi siapa yang ingin kuliah ke timur. Terutama, dalam pendalaman bahasa arab. Qoidah nahwu shorf yang ditekuni serta balaghah yang menjadi tambahan penting,” ungkapnya.
“Selain pendidikan di program Dirasah yang bagus, juga ada nasihat-nasihat dari para dosen di sela-sela belajar. Beliau-beliau selalu menasihati kami tentang keseriusan kami dalam belajar supaya diterima di perguruan tinggi,” imbuhnya
Dzanuba juga menyebutkan bahwa pada angkatan 2026 terdapat lima santri Daar el-Qolam 3 yang tengah mengikuti proses seleksi. Hingga saat ini, seluruh peserta masih berada pada tahap pembinaan dan belum memasuki ujian akhir seleksi.
“Sejauh ini, angkatan saya yang mengikuti seleksi Al-Azhar sebanyak 5 orang. Untuk angkatan saya sendiri belum ada yang diterima karena kami masih dalam proses bimbingan, tapi alumni Daar el-Qolam 3 alhamdulillah banyak yang diterima di Al-Azhar lebih dari 10 orang,” ujarnya.
Menurutnya, proses menuju Al-Azhar terdiri dari tiga tahap utama. Setelah bimbingan bahasa dan ujian tahdid mustawa, peserta akan memasuki daurah ta’hiliyah, yaitu fase pendalaman materi-materi keilmuan yang akan diujikan dalam seleksi utama.
“Proses yg pertama ialah bimbingan bahasa serta ujian tahdid mustawa, langkah kedua terdapat daurah ta’hily yang di mana pendalaman materi-materi Al-Azhar serta ujian seleksi Al-Azhar yang dilaksanakan Juli nanti. Proses yang ketiga ialah pemberkasan berupa paspor, KK yang bisa disiapkan dari bulan Agustus,” paparnya.
Baginya, proses ini bukan sekadar jalan akademik, tetapi juga jalan perjuangan yang membutuhkan keteguhan niat dan keseriusan dalam belajar. Karena itu, ia menekankan bahwa tujuan utama belajar di Al-Azhar haruslah dilandasi keikhlasan, bukan semata prestise.
“Harapan saya terhadap santri yang kuliah di Al-Azhar ialah niat untuk belajar disana lillahi ta’alaa bukan yang semata mata karena gengsi.”
Ia juga menaruh harapan besar terhadap generasi santri Daar el-Qolam 3 yang melanjutkan pendidikan di Al-Azhar agar kelak dapat memberi sumbangsih keilmuan yang luas bagi umat dan bangsa.
“Saya juga berharap akan lahir guru-guru besar dari alumni DQ3 yang melanjutkan pendidikannya di Al-Azhar. Secara yang kita tahu, bahwa Al-Azhar ialah kampus besar dan kampus ternama yang dikenal dengan ilmu Islamnya, jadi saya harap orang-orang yang akan kuliah disana ialah orang yang serius,” pungkasnya.
Perjalanan Dzanuba dan rekan-rekannya menjadi cerminan bahwa menembus Al-Azhar bukan hanya soal kemampuan akademik, tetapi juga keteguhan niat, kesabaran, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.