Upacara PPKA 2025: Penguatan Jati Diri Santri

Pada Selasa, 22 Juli 2025, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menyelenggarakan Upacara Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy (PPKA). Acara ini merupakan salah satu tradisi penting yang menjadi bagian dari sunnah pondok. Upacara tahunan ini dihadiri oleh segenap keluarga besar pondok, yaitu Majelis Khidmah, Ibu Nyai Hj. Lilis Hafidzoh, S.K.M., seluruh dewan guru dan santri. Bertindak selaku pembina upacara adalah Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., yang menyampaikan amanat penuh makna dan inspirasi.

Turut hadir pula para tamu kehormatan dari Keluarga Besar Pondok Pesantren Daar el-Qolam dan La Tansa, antara lain Drs. K.H. Mohammad Mahdi, Ibunda Dra. Hj. Enah Huwaenah, Umi Ade Zamzami, Hj. Nenah Hasanah, Hj. Dhofiah, K.H. Adrian Mafatihullah Kariem, M.A., K.H. Nahrul Ilmi Arief, S.Ag., K.H. Odhy Rosikhuddin, M.Pd., K.H. Fairus Nahidhuddin, S.Pd.I., Kiai Ahmad Harismawan Muhtarif, M.Pd., Kiai Ahmad Reza Zaky Aulia, M.Pd., serta Keluarga Abah H. Qasad Manshur yang terundang.

Amanat Mudir al-Ma’had

Dalam amanatnya, Mudir al-Ma’had menyampaikan bahwa apel tahunan ini bukan hanya sekadar kegiatan seremonial belaka, namun merupakan kesempatan yang bernilai untuk memperbarui semangat kebersamaan dan memperkuat fondasi kehidupan pesantren.

“Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy merupakan sunnah pondok. Hari ini kita semua berdiri dalam apel tahunan Khutbatul ‘Arsy, merupakan sebuah momen, yang bukan hanya sekadar tradisi atau seremonial. Ini adalah momentum untuk memperbarui niat, menguatkan kembali hati, dan mengokohkan ikatan kita sebagai satu keluarga besar pondok pesantren,” ucap beliau membuka amanatnya.

Mudir al-Ma’had menambahkan bahwa momen ini adalah kesempatan berharga untuk mengenal dan memahami nilai-nilai pesantren secara menyeluruh.

“Momen ini juga menjadi momentum untuk mengenal, mengerti, dan memahami pondok secara utuh. Ini jauh lebih penting daripada sekadar tinggal di dalam pondok. Maka bagi santri, bagi guru, termasuk keluarga guru wajib hukumnya mengerti dan memahami pondok agar tidak terjadi salah persepsi terhadap pondok,” lanjutnya.

Beliau pun menekankan bahwa seluruh aktivitas di dalam pondok memiliki nilai pendidikan. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan oleh santri harus mengandung unsur pendidikan. Termasuk segala persiapan pelaksanaan PPKA ini, mengandung unsur pendidikan.

Santri Sebagai Calon Pemimpin Umat

Tak lupa, beliau menekankan visi besar pondok pesantren sebagai tempat mencetak generasi pemimpin masa depan.

“Anak-anak yang ada di hadapan kita ini merupakan wajah-wajah Indonesia masa depan. Wajah-wajah pemimpin umat, pemimpin bangsa. Pemimpin yang terdidik dengan konsep pendidikan yang komprehensif dan integralistik, yang penuh keilmuan dan akhlak mulia.”

Dengan pendidikan seperti itu, lanjut beliau, santri diharapkan tumbuh menjadi generasi yang baik dan istimewa.

“Dengan pendidikan semacam ini insya Allah kelak akan menjadi generasi Ahl al-‘Izzah. Mutafaqqih fi al-Din, Mundzir al-Qaum, generasi intelektual yang mengerti agama, sehingga menjadi pencerah umat dan bangsanya.”

Memperkuat pernyataan tersebut, beliau mengutip ayat Al-Qur’an dalam Surah At-Taubah ayat 122:

“فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ”
“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Kepemimpinan Orang Saleh

Lebih lanjut, Mudir al-Ma’had menjelaskan urgensi kepemimpinan dalam pendidikan pesantren:

“Orang yang baik banyak, tapi yang mampu memimpin sedikit. Jika orang-orang yang baik dan saleh tidak memiliki kualifikasi kepemimpinan yang baik maka umat akan terpaksa dipimpin oleh orang-orang yang tidak baik atau di bawah standar. Akibatnya umat dan bangsa mengalami defisit pemimpin. Di sinilah positioning pondok pesantren, sebagai tempat lahirnya manusia unggul, manusia masa depan, dan calon pemimpin umat dan bangsa Indonesia.”

Beliau pun menjelaskan bahwa pondok pesantren bukan hanya membangun manusia dari aspek ilmu, tetapi juga karakter.

“Peradaban besar tidak lahir dari pembangunan fisik semata, tapi dari karakter dan akhlak manusia yang mengisinya. Maka pendidikan karakterlah fondasi utama peradaban. Dan pesantren telah menjalankan fungsi ini sejak dahulu. Pesantren ibarat kawah candradimuka membentuk manusia yang memiliki nilai integritas, loyalitas, totalitas, dan kapasitas di tengah krisis identitas, degradasi moral, dan disorientasi arah pembangunan. Pesantren hadir sebagai moral force, kekuatan moral yang mengakar dan akan terus memberikan kontribusi pada Indonesia masa depan.”

Mengutip pandangan Ibn Khaldun dalam Kitab al-Muqaddimah, Mudir al-Ma’had menjelaskan bahwa peradaban adalah kehidupan sosial manusia yakni aktivitas manusia dalam bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, membangun pemukiman dan kota, mengelola pemerintahan, serta mengembangkan profesi dan ilmu pengetahuan. Nilai-nilai tersebut, menurut beliau, direfleksikan dalam Panca Jiwa, Moto Pondok, dan Dza ‘Izza Values.

Mudir al-Ma’had menyampaikan visi besar Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza sebagai pesantren yang siap menghadapi tantangan global. Pesantren ini terus berupaya untuk mengembangkan diri menjadi lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren yang go global. Ini tidak terlepas dari cita-cita para pendiri, K.H. Ahmad Rifa’i Arief (alm.), K.H. Ahmad Syahiduddin (alm.), untuk mengembangkan pesantren yang maju, modern, dan berpikiran ke depan dalam menghadapi tantangan zaman.

Santri Ahl al-‘Izzah

Mudir al-Ma’had kembali menegaskan nilai-nilai karakter utama bagi para santri Ahl al-‘Izzah sebagai Ahl al-Ziyadah, Ahl al-Qiyadah, dan Ahl al-Riyadah:

“Maka dari itu anak-anakku, santriwan dan santriwati Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza diharapkan menjadi Ahl al-Ziyadah, yaitu pribadi pemilik keistimewaan, yang berakhlak dan berperilaku baik (Mutakholliq), terpelajar dan berilmu (Muta’allim), serta berperadaban dan berwawasan modern (Mutamaddin).”

“Kemudian Ahl al-Qiyadah, yaitu santri memiliki jiwa dan keterampilan kepemimpinan yang baik, yang menjadikannya sebagai pemimpin dan pengingat umat, Mundzir al-Qaum di masa yang akan datang.”

“Selanjutnya Ahl al-Riyadah, santri diharapkan menjadi kader, pelopor, dan sumber perubahan umat (agent of change), karena telah memiliki bekal akhlak, bekal ilmu, wawasan, dan keterampilan, serta kepemimpinan yang baik.”

Menutup amanatnya, Mudir al-Ma’had menyampaikan apresiasi dan doa. Beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada para guru dan santri yang telah mencurahkan tenaga dan pikirannya hingga berhasil terlaksananya kegiatan PPKA 2025.

“Semoga hari ini menjadi awal yang baik bagi kita semua, seluruh elemen yang ada di dalam pondok pesantren ini. Mari bersama-sama kita jalani dengan keikhlasan. Guru mengajar dengan penuh keikhlasan, anak-anakku belajar dengan penuh keikhlasan, orang tua menitipkan dan berdoa di rumah dengan penuh keikhlasan,” pungkas beliau penuh harapan akan keberkahan bersama.