
Pesantren tak hanya menjadi tempat belajar ilmu agama dan membentuk akhlak mulia, tetapi juga rumah kedua bagi para santri. Di tengah suasana disiplin dan padatnya aktivitas, pesantren tetap memelihara suasana yang ramah dan menyenangkan bagi anak-anak santri. Untuk menggali lebih dalam tentang konsep “pesantren ramah anak”, kami mewawancarai Ustaz Ihsan Ahmadi, S.Pd. guru di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, pada Ahad (20/7/2025). Dalam wawancara ini, Ustaz Ihsan membagikan pandangannya tentang bagaimana pesantren dapat menjadi tempat tumbuh kembang yang positif bagi santri—secara fisik, mental, maupun spiritual.
1. Bisa sedikit dijelaskan apa yang dimaksud pesantren ramah anak?
Pesantren ramah anak adalah konsep yang menekankan pada penciptaan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan mendukung bagi santri. Lingkungan aman dan nyaman ini berarti pesantren menyediakan lingkungan yang aman dari segi fisik, emosional, dan psikologis bagi santri. Dalam lingkungan seperti ini, santri diberikan kesempatan dalam berbagai macam aktivitas yang mendukung setiap perkembangan mereka. Jadi, pesantren ramah anak bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung bagi santri untuk belajar, berkembang, dan tumbuh dalam lingkungan yang positif dan Islami.
2. Apa saja yang dilakukan pihak pesantren agar anak-anak merasa betah dan senang belajar?
Agar santri betah di pesantren, beberapa hal berikut bisa dilakukan.
Pertama, menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman. Hal ini dapat membuat santri merasa betah dan nyaman tinggal di pesantren.
Kedua, membina hubungan yang baik antar santri, seperti adik kelas kepada kakak kelas dan ustaz. Hubungan yang baik antara santri dan pengajar (ustaz) dapat membuat mereka merasakan hubungan kekeluargaan di antara mereka.
Ketiga, menyediakan kegiatan yang menarik dan bermanfaat. Kegiatan yang menarik dan bermanfaat Ini dapat membuat santri merasa terlibat dan memiliki kesibukan yang positif.
Keempat, menciptakan suasana yang Islami dan kondusif. Suasana yang Islami dan kondusif dapat membantu santri merasa nyaman dan fokus pada tujuan belajar di pesantren.
Kelima, mengadakan kegiatan yang meningkatkan kebersamaan dan kekompakan. Kegiatan yang meningkatkan kebersamaan dan kekompakan antar santri dapat membuat mereka merasa seperti bagian dari komunitas.
Dengan melakukan hal-hal di atas, pesantren dapat menciptakan lingkungan yang membuat santri betah dan nyaman tinggal di dalam pesantren.
3. Bagaimana cara ustaz atau ustazah mendidik santri dengan cara yang baik, ramah, dan penuh kasih sayang, tapi tetap menjaga disiplin pesantren sehingga tetap seimbang?
Menjadikan santri seperti anak kandung sendiri. Ada istilah di pondok melalui jalur fi ilmi. Walaupun mereka bukan anak kandung, tetapi tetap mereka harus kita perlakukan seperti anak kandung sendiri—tentu dengan batasan-batasan yang sudah tertanam dalam adab sehari-hari.
Disiplin wajib ditegakkan. Tegas adalah salah satu hal yang harus dilakukan oleh para asatiz dalam menjalankan disiplin.
4. Bagaimana menjaga suasana belajar di pesantren agar anak-anak tidak merasa takut atau tertekan?
Rasulullah saw bersabda:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
“Barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia, maka tuntutlah ilmu. Dan barang siapa yang ingin kebahagiaan akhirat, tuntutlah ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya, tuntutlah ilmu pengetahuan.”
Kembali ke niat awal, tujuan masuk pesantren adalah menimba ilmu, bukan yang lain. Jadikan pesantren sebagai rumah kedua bagi para santri.
5. Apa harapan Ustaz dengan pesantren sebagai tempat yang ramah untuk anak-anak sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berakhlak mulia?
Seperti kata pepatah Arab:
ذَكَاءٍ وَ حِرْصٍ وَ اصْطِبَارٍ وَ بُلْغَةٍ # وَ إِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَ طُولِ زَمَانٍ
Kecerdasan, ketekunan, kesabaran, dan bermodal petunjuk guru, serta waktu yang tidak sebentar.
Yang penting adalah mengikuti petunjuk guru, atau irsyād al-ustādzin. Dalam mencari ilmu, seseorang sering kali tidak bijak bila menyimpulkan sesuatu sendiri secara terburu-buru, atau berdasarkan pengetahuannya sendiri secara serampangan. Karena itu, petunjuk dan pengarahan dari seorang guru yang arif dan bijak menjadi penting. Guru adalah orang yang memberikan arahan dalam perjalanan mencari ilmu sehingga seorang pelajar tidak tersesat bahkan keliru dalam tujuan maupun pemahaman.