
Rangkaian Intermediate Leadership Training Program (ILTP) Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza berlanjut pada sesi ketiga, Sabtu (2/5/2026), di Ballroom Asy-Syahid. Dalam sesi ini, santri kelas 5 dan 2 SMAWI mendapatkan penguatan mengenai karakter dasar kepemimpinan dari Ustaz Dr. Abdul Latief, Majelis Khidmah Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza sekaligus Head of CS Network and People Development Astra International.
Pada sesi kali ini Ustaz Abdul Latief banyak mengupas prinsip-prinsip Ten Laws of Leadership, konsep kepemimpinan yang dikenal luas dalam literatur pengembangan diri dan manajemen modern.
Dalam wawancara pada Sabtu (2/5/2026), Ustaz Latief mengaitkan prinsip-prinsip itu dengan nilai-nilai khas Dza ‘Izza, menunjukkan bahwa fondasi kepemimpinan modern sejatinya telah hidup dalam tradisi pendidikan pesantren.
Menurutnya, Daar el-Qolam 3 sesungguhnya telah memiliki kerangka kepemimpinan yang kokoh melalui nilai Ahlul ‘Izzah, khususnya konsep Ahlu Ziyadah, Ahlu Riyadah, dan Ahlul Qiyadah.
“Saya berbicara tentang karakteristik dasar menjadi seorang pemimpin. Sesungguhnya Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza sudah punya satu nilai yang sangat kuat, yaitu Ahlu Ziyadah. Konsep Dza ‘Izza itu dikaitkan dengan seluruh model dari leadership itu bisa sangat bermanfaat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa konsep Ahlul ‘Izzah bukan sekadar identitas pesantren, melainkan rangkaian nilai yang relevan dengan berbagai model kepemimpinan di berbagai bidang kehidupan.
“Kalau kita lihat dari konsep Ahlul ‘Izzah itu adalah Ahlu Ziyadah, Ahlu Riyadah, Ahlul Qiyadah, ini adalah rangkaian dari berbagai macam jenis dan karakteristik leadership yang ada di manapun. Apa pun itu pasti kaitannya sama ini,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Ustaz Abdul Latief juga membawa konsep Ten Laws of Leadership, yaitu sepuluh prinsip kepemimpinan yang meliputi kebijaksanaan (wisdom), disiplin (discipline), visi (vision), keberanian (courage), dan berbagai unsur lainnya. Menurutnya, seluruh prinsip tersebut sejatinya telah memiliki irisan kuat dengan nilai-nilai Dza ‘Izza.

“Saya kan membawa Ten Laws of Leadership. Ada wisdom, discipline, vision, courage, dan lain sebagainya, sebenarnya Ten Laws of Leadership ini kalau kita kaitkan dengan konsep Dza ‘Izza sebenarnya sudah ada. Bagaimana Ahlu Ziyadah, Ahlul Riyadah, dan Ahlul Qiyadah itu konsepnya ke arah sana,” imbuhnya.
Lebih jauh, Ustaz Abdul Latief menekankan bahwa jiwa kepemimpinan bukan hanya penting bagi orang yang memegang jabatan formal, tetapi menjadi kebutuhan dasar bagi setiap individu. Dalam Islam, hal itu ditegaskan dalam hadis Nabi: Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi (setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya).
“Bagi setiap individu wajib punya jiwa kepemimpinan. Kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi. Buat santri, buat siswa, buat guru, bagi siapapun penting. Minimal apa? Memimpin diri sendiri,” ujarnya.
Menurut Ustaz Abdul Latief, kepemimpinan dimulai dari lingkup paling kecil, yaitu diri sendiri, lalu berkembang dalam keluarga, pekerjaan, hingga kehidupan sosial.
“Nanti ketika, misalnya, menjadi seorang kepala keluarga atau ibu rumah tangga, memimpin diri kita dan keluarga. Kalau sudah menjadi orang tua, memimpin keluarga bersama dengan anak. Kalau sudah bekerja memimpin diri sendiri dan cara bergaul dengan orang lain,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa apa pun profesi seseorang, jiwa kepemimpinan tetap menjadi kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.
“Mau apapun profesinya, mau apapun jabatannya, setinggi atau serendah apapun, tetap dibutuhkan jiwa kepemimpinan. Untuk apa? Untuk diri sendiri dan bagaimana berinteraksi dengan orang lain,” jelasnya.

Dalam konteks santri, Ustaz Abdul Latief menilai ada satu keunggulan yang membedakan santri dari banyak kalangan lain, yakni kepemimpinan yang dibangun di atas fondasi nilai-nilai Islam.
“Dalam konteks santri, santri punya satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu tentang bagaimana memimpin dengan nilai-nilai Islam,” ungkapnya.
Ia pun menegaskan bahwa kepemimpinan seorang Muslim harus selalu berpijak pada nilai-nilai Al-Qur’an dan hadis, dengan orientasi menghadirkan kebaikan yang membawa manfaat luas bagi masyarakat.
“Kalau kita berada di Indonesia, kita sebagai orang muslim, setiap kepemimpinan yang kita lakukan harus berdasarkan al-Qur’an dan hadis, harus didasarkan nilai-nilai Islam—tidak mesti menerapkan secara saklek—semua kebaikan dalam bentuk rahmatan lil ‘alamin. Setiap kita berperilaku, kita punya integritas. Ini kan nilai Islam,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Ustaz Abdul Latief menegaskan bahwa ketika seorang santri menjadi pemimpin, maka kepemimpinannya tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga bernilai ibadah dan kemaslahatan.
“Seorang santri kalau jadi pemimpin maka dia akan menjadi pemimpin yang punya nilai ibadah dan kemaslahatan. Bahwasannya apa pun yang dilakukan harus maslahat buat umat. Kalau santri menerapkan itu semua, pasti Indonesia akan jaya, sejahtera bukan hanya komunal tetapi sejahtera untuk yang lain, untuk satu bangsa, bahkan rahmatan lil ‘alamin. Itu yang menjadi pembeda,” pungkasnya.