Santri Dza ‘Izza Lolos Semifinal Olimpiade Bahasa Prancis 2026


Bahasa Prancis mungkin bukan bahasa yang pertama terlintas ketika membicarakan pembelajaran bahasa asing di pesantren. Namun, tiga santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menunjukkan bahwa ruang belajar itu dapat dibuka lebih luas

Pada Olimpiade Bahasa Prancis 2026, tiga santri Dza ‘Izza ambil bagian dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Institut Français d’Indonésie (IFI), lembaga kebudayaan Prancis yang berada di bawah Kedutaan Besar Prancis. Kompetisi tersebut berlangsung secara daring pada Kamis, 10 September 2026, dan diikuti 192 siswa SMA/SMK dari 64 sekolah.

Dari tiga santri yang dikirim Dza ‘Izza, dua di antaranya berhasil menembus babak semifinal. Mereka adalah Azkayra Kirana Winadia dan Bebe Shaista Shafaramadhanisa B, keduanya dari kelas 5 SMAWI A. Sementara itu, satu peserta lainnya, Fiyki Tazkiyah Aula dari kelas 2 SMAWI, turut mengikuti babak penyisihan.

Pada babak tersebut, Bebe menempati peringkat ke-42, sedangkan Azkayra berada di peringkat ke-84. Hasil itu mengantarkan keduanya masuk ke dalam 100 peserta yang dipilih untuk melanjutkan kompetisi ke semifinal.

Persiapan yang Matang
Capaian tersebut tidak datang secara tiba-tiba. Persiapan para santri telah dilakukan sekitar satu bulan sebelum perlombaan. Latihan kemudian diperkuat melalui training centre sehari menjelang kompetisi.

Menurut Ustazah Vini Safitri, selaku guru pembimbing, materi yang diujikan pada babak penyisihan mencakup dua bagian, yakni kemampuan membaca dan pengetahuan kebudayaan Prancis.

“Lomba OBP pada babak penyisihan ini terdiri dari 2 materi yang diujikan, reading dan kebudayaan, untuk latihannya sudah dimulai dari 1 bulan sebelumnya, dan training centre h-1 perlombaan,” ungkapnya.

Pola persiapan tersebut menjadi bagian penting karena kompetisi mempertemukan siswa dari berbagai sekolah. Dengan jumlah peserta mencapai 192 orang, para santri Dza ‘Izza harus berhadapan dengan peserta yang memiliki kemampuan bahasa Prancis dari sekolah-sekolah lain.
Salah satu sekolah yang disebut menjadi pesaing ketat dalam kompetisi tersebut adalah SMA Labschool.

Persaingan itu sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi para santri. Mereka tidak hanya diuji dalam penguasaan bahasa, tetapi juga ditantang memahami kebudayaan yang menjadi bagian dari materi perlombaan.

Belajar Bahasa Asing Lebih Luas
Keikutsertaan dalam Olimpiade Bahasa Prancis ini memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar hasil perlombaan. Bagi Ustazah Vini, capaian para santri dapat menjadi gambaran bahwa lingkungan pesantren mampu memberikan ruang bagi pembelajaran bahasa asing yang beragam.

Bahasa Arab dan bahasa Inggris memang memiliki posisi penting dalam kehidupan pendidikan pesantren. Namun, pengalaman tiga santri Dza ‘Izza di Olimpiade Bahasa Prancis menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa dapat berkembang ke arah yang lebih luas.

Dua santri yang berhasil masuk semifinal kini membawa harapan untuk melanjutkan capaian tersebut pada tahap berikutnya. Bagi Dza ‘Izza, perjalanan mereka menjadi bagian dari pengalaman belajar yang mempertemukan kemampuan bahasa, pengetahuan kebudayaan, persaingan akademik, sekaligus keberanian untuk mengambil peluang di luar lingkungan sekolah.

Ustazah Vini berharap capaian terbaik dapat diraih pada babak semifinal.

“Harapannya pasti yang menjadi dan mendapatkan hasil yang terbaik di babak semifinal ini, agar menjadi syiar bagi Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 bahwa belajar bahasa asing di pesantren selain Arab dan Inggris mampu dilaksanakan dengan baik oleh seorang santri,” ujarnya.

Harapan itu membuat Olimpiade Bahasa Prancis 2026 tidak berhenti sebagai catatan kompetisi. Ada pesan yang lebih jauh: santri dapat belajar berbagai bahasa, mengenal kebudayaan yang lebih luas, dan berkompetisi di ruang akademik yang beragam tanpa kehilangan identitasnya sebagai bagian dari pesantren.