Catatan Harian Guru al-Muthala’ah wal Insya’: al-I’tiraf bil Jamil



Setelah sebulan tidak berjumpa dengan anak-anak kelas 5 SMAWI C karena ada tugas pokok yang harus dikerjakan, alhamdulillah, Ahad, 06 September 2026 kami dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbahagia. Nampaknya begitu. Pasalnya, mereka terlihat antusias sekali ketika saya menginjakkan kaki ke lantai kelasnya. Suara riuh kesenangan mengantarkan saya menuju meja guru bertaplak biru. Keramaian itu dipecah oleh selaan salah satu santriwati bersuara cempreng: “Ustaz, kok lama banget pulangnya?!” Tidak lama kemudian, yang lain menyahut: “Iya, Ustaz. Kita kangen diajar Ustaz.” Berusaha menjaga penampilan, saya mempertahankan wajah datar saya tanpa sedikit pun menunjukkan kesenangan yang saya rasakan saat itu. Tidak ada jawaban. Celetukan berlalu begitu saja, pergi bersama kegaduhan yang mereka buat sebelumnya.

Hingga akhirnya suasana hening, saya membuka kelas dengan salam dan mengabsen nama mereka yang satu per satu mulai hilang dari ingatan. Usai mengunduh ulang nama-nama mereka, dengan elegan dan bijak, saya mencoba untuk menyisipkan nilai-nilai kebajikan dari apa yang baru saja saya dapatkan dari mereka. “Begitulah keramahan. Tanpa sadar, diam-diam ia telah menebar benih kerinduan pada tiap objek kebaikan. Semoga kangen kalian menjadi tanda keramahan saya. Karena kalau saja saya pemarah, barangkali ketiadaan saya lebih kalian senangi. Bukan begitu?” Sambil tersenyum, saya menutup ungkapan.

Mengejar ketertinggalan target capaian pada semester ganjil ini, saya tidak sudi berlama-lama bertegur sapa. Biarkan kerinduan mereka terurai bersama uraian penjelasan saya akan kisah yang hari ini akan dipelajari dan dipetik hikmahnya. Kisah itu berjudul ( الاعتراف بالجميل ), yang berarti menyadari kebaikan. Jika dilihat dari namanya saja, sepertinya kisah merupakan kebalikan dari kisah sebelumnya yang berjudul ( نكران الجميل ), mengingkari kebaikan.

Seperti biasa, saya memulai kelas dengan menjelaskan satu per satu kosa kata asing yang terdapat dalam kisah tersebut. Setelah tuntas, baru mereka diperkenankan memasuki gerbang rangkaian cerita. Mulanya, ada salah seorang Khalifah (sebutan bagi seorang pemimpin pada zaman khilafah islamiyah) dari Dinasti Bani Umayyah bernama al-Manshur. Di antara kebiasaan baiknya adalah ia kerap berkeliling hanya sekadar memastikan keadaan rakyatnya.

Di tengah perjalanannya, ia dihampiri oleh salah seorang pelayan yang menyampaikan kabar akan keberadaan seorang syekh yang masyhur pada masa itu sedang sambang ke wilayah kekuasaannya. Mendengar kabar tersebut, sontak saja ia teringat bahwa syekh yang dimaksud merupakan teman sejawat Hisyam bin Abdul Malik yang tidak lain adalah musuh sang khalifah. Al-Mansur berniat untuk mengundang syekh itu ke istana dan bermaksud mencari tahu tentang siasat Hisyam. Akhirnya, ia pun mengutus utusan untuk menyampaikan undangan kerajaan.

Tidak lama kemudian, syekh datang memenuhi undangan. Mereka berdua bertemu dan memulai perbincangan hangat. Hingga sampai pada pertanyaan raja yang sedang berusaha mengorek informasi dari syekh tentang Hisyam. “Bagaimana siasat Hisyam ketika melakukan peperangan melawan kaum Khawarij?”, tanya raja mulai serius. Syekh memberikan jawaban dengan proporsional, tidak lebih dan tidak kurang. Sebagaimana mestinya dan apa adanya. Hanya saja, ada satu kalimat yang akhirnya membuat raja merasa gusar kepadanya.

فعل رحمه الله كذا وكذا

Khalifah Hisyam -rahimahullah- semoga Allah merahmatinya, ini dan lain sebagainya.

Meluapkan amarahnya, sang khalifah memotong jawaban syekh lalu berkata:

قم عنّي ! تطأ بساطي وتترحم على عدوّي !

Pergi anda dari sisiku! Beraninya anda menginjakkan kaki di atas permadaniku lalu mendoakan rahmat Tuhan untuk musuhku!

Karena diusir, syekh bangun dari duduknya, menjaga harga dirinya sebagai orang alim yang bijaksana, tidak berkecil hati ketika tidak mendapatkan kursi di kerajaan, lalu perlahan memunggungi khalifah. Sesaat sebelum ia berlalu pergi, syekh berkata kepada khalifah:

إن نعمة عدوك لقلادة في عنقي، لا ينزعها إلا غاسل

Sesungguhnya kebaikan musuhmu itu, salah satunya adalah kalung yang menggantung di leherku. Dahulu, ia tidak pernah melepaskan kalung itu kecuali ketika ia dimandikan setelah wafat.

Mendengar kalimat itu, perhatian sang khalifah tercuri dan membuatnya kembali memanggil syekh untuk duduk menyempurnakan ucapannya. Setelah menduduki kursinya seperti semula, syekh melanjutkan pembicaraannya dengan khalifah. Lalu, beliau memberi petuah:

إنّ أكثر الناس لؤما، من لم يجعل دعاءه لمن أحسن إليه، وثناءه عليه، وحمده لمعروفه عنده وفاء له. ولو أمكنني القدر، وأقدرني القضاء

على الوفاء لهشام بأكثر من ذلك، لوجدني أمير المؤمنين وافيا له به

Sesungguhnya orang yang paling banyak kejelekannya adalah ia yang tidak pernah mendoakan orang lain yang berbuat baik padanya, tidak pernah memujinya atau berterima kasih sebagai balasan kebaikan baginya. Jika saja takdir memberikanku kesanggupan untuk membalas budi kepada Hisyam dengan sesuatu yang lebih banyak dari pada apa yang sudah ia berikan, niscaya Amirul Mukminin (khalifah) akan mendapatkan saya melakukannya.

Khalifah Mansur dibuat terperanga oleh petuah syekh yang menohok. Ia kemudian memasang pendengarannya baik-baik menikmati nasihat syekh yang merekonstruksi pandangannya terhadap Hisyam bin Abdul Malik. Hingga sang syekh menyelesaikan untaian kalam hikmahnya, Khalifah Mansur memberinya hadiah berupa harta dan pakaian. Alih-alih menerima hadiah raja, syekh masyhur itu malah berkata:

واللهِ يا أمير المؤمنين ما بي من حاجة. ولقد مات عني من كنتُ في ذكره. فما أحوجني إلى وقوفي على باب أحد بعده. ولولا جلال أمير

المؤمنين، ولزوم طاعته، وإيثار أمره، لما لبستُ نعمة أحد بعده

Demi Allah, wahai Amirul Mukminin. Aku tidak membutuhkannya. Sungguh, telah wafat orang yang aku berada dalam ingatannya. Apa yang menjadi kebutuhanku untuk berdiri di hadapan pintu orang lain setelah kepergiannya (Hisyam bin Abdul Malik)? Kalau bukan karena kewibawaan Amirul Mukminin, kewajiban mematuhi perintahnya dan menghormati perintahnya, niscaya aku tidak akan pernah menikmati kebaikan siapapun setelah kematiannya.

Menutup percakapan mereka, Khalifah Mansur menunjukkan sikap hormatnya lewat pujian yang ia layangkan kepada sang syekh, seraya berkata:

للهِ أنتَ لو لَمْ يَكُنْ لِقَومِهِ غيرك، لكنتَ أبقيتَ لهم ذكرًا مخلَّدًا، ومجدا باقيا بوفائك لمن أحسن إليك

Demi Allah, seandainya jika tidak ada orang lain dari kaumnya selain dirimu, maka engkau sudah cukup memberikan mewariskan kepada mereka kenangan baik yang abadi, serta pujian yang langgeng karena kesetiaanmu terhadap orang yang telah berbuat baik padamu.

Tiba saatnya, saya meminta mereka untuk mengambil nilai keteladanan yang terkandung dalam kisah tersebut.

من يستطيع أن يستخرج من هذه القصة الحِكَم والعِبر؟

Siapakah di antara kalian yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah ini?

Dari barisan santriwan, ada Hazlam yang mengangkat tangan memberanikan diri untuk berpartisipasi menghidupkan suasana belajar aktif di kelas. Bersamaan dengan itu, ada juga Ameera yang tidak sungkan menuangkan pendapatnya setelah mendengarkan kisah teladan. Setelah saya persilakan, Hazlam dengan lantang mengatakan:

خير الناس من أحسن إلى من أحسن إليه

Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang berbuat baik pula kepada orang yang telah berbuat baik padanya.
Memberikan apresiasi atas keaktifannya, saya memberikan pujian yang diiringi tepukan tangan. Setelah hening, giliran Ameera melanjutkan apa yang dimulai oleh Hazlam.

إن لم تكن قادرا على إحسان من أحسن إليك، فلك الدعاء

Jika kamu tidak mampu membalas kebaikan orang yang berbuat baik padamu, maka kamu masih bisa membalasnya dengan doa.

Hal serupa saya berikan kepada Ameera sebagai bentuk terima kasih karena sudah ikut meramaikan kelas dengan pendapatnya yang tidak kalah menarik. Menyempurnakan hikmah yang disarikan oleh mereka berdua, saya membawakan ayat 86 surat an-Nisa dan mengutip salah satu kalam hikmah yang termaktub dalam buku Lutfatul Hikmah.

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu. (an-Nisa : 86)

مَا خِفْتُ أَنْ يُهَاجِرَنِي الخَيْرُ مَادُمْتُ قَائِمًا بِتَرْكِ الضَّيرِ

Aku tidak takut ditinggalkan kebaikan, selama aku teguh meninggalkan keburukan.