Santri Dza ‘Izza Tembus Final International Culture Fest 2026


Lima santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menunjukkan kemampuannya dalam ajang IC Fest 2026 yang diselenggarakan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Ajang ini mempertemukan peserta dari jenjang SMA atau sederajat serta mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 mengirimkan lima peserta, yakni Mahfud Bashir Yusuf, Rahman Emirsyah Santoso, Naufal Najmi Almusyafa, Nayla Adriyani, dan Ahmad Falahudin Alfarobi.
Dari lima peserta tersebut, dua santri berhasil melaju ke tahap berikutnya. Nayla Adriyani lolos melalui cabang Storytelling, sementara Ahmad Falahudin Alfarobi melaju melalui cabang Khitobah Arabiyah.

Capaian itu menjadi penting bukan hanya karena mereka berhasil melewati tahap penyisihan, tetapi juga karena persaingan dalam IC Fest 2026 berlangsung cukup ketat. Peserta datang dari sekolah-sekolah dengan prestasi yang baik, bahkan sejumlah mahasiswa turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

Persiapan Secara Intensif
Tahap penyisihan IC Fest 2026 berlangsung secara daring. Para peserta diminta mengumpulkan video yang berisi penampilan masing-masing.

Format perlombaan semacam itu membuat persiapan tidak berhenti pada penguasaan materi. Penampilan harus disiapkan dengan baik, mulai dari teks, cara penyampaian, hingga proses pengambilan video.

Karena itu, persiapan dilakukan secara intensif. Setiap sore menjadi waktu latihan bagi para peserta untuk mematangkan penampilan mereka.

“Untuk itu kami mempersiapkan semuanya sebaik mungkin. Setiap sore kami berlatih menyiapkan semuanya, entah itu teks pidato, take video yang berulang-ulang hingga konsultasi teks ke guru-guru kompeten. Karena tentu kami ingin menjaga konsistensi kami dalam prestasi lomba ini,” ungkap Ustaz Alif Hendrawan selaku guru pembimbing.

Proses tersebut memperlihatkan bahwa sebuah penampilan yang tampak singkat di layar pada dasarnya lahir dari latihan yang berulang. Teks diperiksa, penampilan dicoba kembali, video direkam berulang-ulang, sementara materi juga dikonsultasikan kepada guru-guru yang memiliki kompetensi di bidangnya.

Menjaga Jejak Prestasi
Tahun lalu, Dza ‘Izza berhasil meraih juara pertama dalam Lomba Speech pada ajang tersebut, dengan mengungguli peserta dari sekolah maupun universitas lain.

Prestasi itu menjadi pijakan sekaligus tantangan ketika para santri kembali mengikuti IC Fest tahun ini. Persaingan yang dihadapi pun tidak ringan. Di antara peserta yang menjadi perhatian adalah perwakilan Universitas Indonesia dan Universitas Pendidikan Indonesia.

“Alhamdulillah tahun lalu kami meraih juara pertama Lomba Speech mengalahkan sekolah dan universitas lain, semoga ini bisa kami pertahankan,” ujar Ustaz Alif.

Harapan tersebut membuat capaian dua santri yang lolos menjadi langkah awal yang patut disyukuri. Nayla Adriyani dan Ahmad Falahudin Alfarobi kini memiliki kesempatan untuk melanjutkan perjuangan pada tahapan berikutnya, sekaligus membawa nama Dza ‘Izza dalam kompetisi yang mempertemukan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah.

Bagi Ustaz Alif, keberhasilan dalam perlombaan tidak semata-mata diukur dari posisi akhir yang diperoleh.

Lebih dari Sekadar Juara
Di balik latihan sore, teks yang berkali-kali diperiksa, dan video yang harus direkam ulang, terdapat tujuan yang lebih panjang: membentuk kebiasaan belajar dalam diri santri.

Kompetisi menjadi salah satu ruang untuk menguji kemampuan yang telah dipelajari. Tetapi lebih dari itu, proses persiapannya mengajarkan bahwa kemampuan tidak lahir dalam sekali latihan. Ada proses mencoba, memperbaiki, berkonsultasi, kemudian mencoba kembali.

Dalam pandangan Ustaz Alif, pengalaman mengikuti lomba diharapkan dapat menumbuhkan keinginan para santri untuk terus berkembang.

“Dalam kegiatan ini, selain juara, kami ingin menanamkan dalam diri setiap anak khususnya para peserta, keinginan untuk tumbuh dan terus belajar. Jangan pernah merasa cukup dan harus selalu ingin tahu atas banyak hal-hal baik dan bermanfaat,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadikan IC Fest 2026 bukan sekadar perjalanan menuju podium. Ada proses yang berlangsung jauh sebelum hasil diumumkan: keberanian tampil, kesediaan menerima masukan, kesabaran mengulang latihan, serta kemauan untuk memperbaiki diri.