Santri Daar el-Qolam 3 Lolos ke Tahap Nasional di Olimpiade Bahasa Arab Provinsi Banten


Dari ruang belajar menuju arena kompetisi, perjuangan santri Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza berlanjut dalam Olimpiade Bahasa Arab Ke-9 Tahun 2026 Tingkat Provinsi Banten. Dengan semangat berprestasi, perjalanan ini juga menjadi ruang untuk bertemu, belajar, dan memperluas wawasan dan persaudaraan pencinta bahasa Arab.

Sabtu pagi, 29 Agustus 2026, perjalanan itu kembali dimulai. Dengan semangat yang telah dipersiapkan melalui latihan dan pembinaan, santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza bertolak menuju Al-Fityan School Tangerang untuk melanjutkan perjuangan dalam Olimpiade Bahasa Arab.

Perjalanan menuju arena kompetisi bukanlah sesuatu yang terjadi dalam satu malam. Di balik keberangkatan para peserta, terdapat rangkaian persiapan yang terus dilakukan, baik melalui pembelajaran langsung maupun pendampingan daring.

Ajang Olimpiade Bahasa Arab sendiri merupakan program yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Arab se-Indonesia sebagai wadah pengembangan kemampuan bahasa Arab bagi pelajar dan guru. Pada tingkat provinsi, para peserta yang lolos dari tahapan sebelumnya kembali dipertemukan dalam persaingan yang lebih luas.


Persaingan yang Terus Berpacu
Ustaz Alif Hendrawan, Lc., selaku pembimbing peserta Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, menggambarkan OBA tingkat Provinsi Banten sebagai arena yang menghadirkan persaingan sangat ketat.

Menurutnya, kekuatan setiap peserta tidak pernah bisa diprediksi hanya dengan melihat hasil pada tahun-tahun sebelumnya.

“Secara umum, seluruh sekolah bersaing dengan ketat. Jika diamati dari OBA tahun-tahun sebelumnya, sekolah yang mendominasi selalu berbeda-beda. Ini membuktikan bahwa setiap sekolah berjuang keras dan terus berkembang,” ujar Ustaz Alif saat diwawancara pada Ahad (30/8/2026).

Pada OBA tahun ini, beberapa lembaga yang turut menunjukkan kekuatan dalam persaingan antara lain Al-Wildan Islamic School dan PKBM Ibnu Abbas BSD.

Persaingan yang berubah dari tahun ke tahun justru memperlihatkan satu hal: pembelajaran bahasa Arab terus tumbuh di berbagai sekolah. Tidak ada ruang untuk merasa cukup. Setiap lembaga datang dengan persiapan, strategi, serta harapan terbaiknya. Di tengah peta persaingan itulah santri Dza ‘Izza mengambil tempat.


Tidak Ada Alasan untuk Berhenti Berlatih
Menghadapi tingkat provinsi tentu membutuhkan persiapan yang berbeda. Karena itu, tim pembimbing memperkuat proses pembinaan para peserta. Ustaz Alif menjelaskan bahwa personel pengajar ditambah agar persiapan dapat berjalan lebih maksimal.

“Untuk persiapan, personel pengajar kami tambahkan. Daring maupun luring kami maksimalkan. Tidak ada halangan untuk tidak berlatih di tahap ini,” ungkapnya.

Latihan tidak hanya diarahkan pada penguasaan materi. Dalam kompetisi, kemampuan menjawab soal memang penting, tetapi kesiapan menghadapi situasi ujian juga memiliki pengaruh besar.

Para peserta harus belajar menghadapi tekanan waktu, beradaptasi dengan sistem perlombaan, serta menjaga ketenangan ketika berhadapan dengan puluhan soal dalam waktu yang terbatas.


75 Soal, 120 Menit, dan Ujian Mental
Pada pelaksanaan kompetisi, setiap peserta membawa perangkat masing-masing. Perangkat tersebut digunakan untuk mengikuti sistem ujian sesuai ketentuan yang berlaku.

Ketika perlombaan dimulai, para peserta dihadapkan pada 75 butir soal yang harus diselesaikan dalam waktu 120 menit. Dua jam mungkin terdengar panjang. Namun, ketika puluhan pertanyaan harus dianalisis dan dijawab dengan ketelitian, waktu dapat terasa berjalan jauh lebih cepat.

Salah seorang peserta Dza ‘Izza, Muhammad Nabil Na’imullah, merasakan perbedaan antara simulasi dan suasana kompetisi sesungguhnya.

“Ini berbeda dengan waktu kemarin saat simulasi,” ujarnya.

Kalimat singkat itu menggambarkan pengalaman yang tidak selalu dapat dipelajari hanya melalui latihan. Simulasi memberikan gambaran tentang sistem. Namun, ketika perlombaan benar-benar dimulai, suasana berubah. Ada ketegangan, tekanan waktu, konsentrasi yang harus dijaga, serta mental yang diuji dalam situasi nyata.

Ustaz Alif mengakui bahwa ujian dengan sistem yang berbeda memiliki tantangannya masing-masing.

“Kami menyadari bahwa memang ujian secara online dan offline memiliki kesulitannya masing-masing. Terlebih perihal mentalitasnya,” ungkapnya.

Di titik inilah sebuah kompetisi tidak lagi hanya berbicara tentang seberapa banyak materi yang telah dipelajari. Ketahanan diri menjadi bagian penting dari perjuangan.


Ketika Bahasa Arab Mempertemukan Saudara Baru
Namun, target perjalanan ke Al-Fityan School Tangerang tidak hanya berhenti pada podium kemenangan. Bagi tim Dza ‘Izza, Olimpiade Bahasa Arab juga menjadi ruang perjumpaan. Para peserta datang dari sekolah dan lembaga yang berbeda, membawa latar belakang pendidikan yang beragam, tetapi dipertemukan oleh kecintaan yang sama terhadap bahasa Arab.

“Harapan kami dari kegiatan ini, selain juara, kami ingin mengenal banyak saudara sesama pencinta bahasa Arab dari sekolah lain melalui silaturahmi. Alhamdulillah, itu terwujud,” ujar Ustaz Alif.

Inilah salah satu wajah pendidikan yang sering kali tidak tercatat dalam daftar peringkat. Sebuah perlombaan memang akan menghasilkan pemenang. Namun, perjalanan menuju arena kompetisi juga mempertemukan para pelajar dengan teman-teman baru, pengalaman baru, serta pandangan yang lebih luas tentang dunia pendidikan.

Guru Pun Turut Menguji Kemampuan
Olimpiade Bahasa Arab tidak hanya menjadi arena bagi peserta didik. Dalam sistem OBA, tersedia pula kategori bagi guru. Ustaz Alif menjelaskan bahwa secara sistem, kategori guru memiliki mekanisme yang tidak jauh berbeda dengan kategori siswa. Akan tetapi, tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi dan membutuhkan persiapan yang sungguh-sungguh.

“Untuk kategori guru, secara sistem tidak jauh berbeda dengan kategori siswa. Namun, tingkat kesulitannya sangat berbeda dan perlu persiapan sebaik mungkin,” jelasnya.

Dalam kategori tersebut, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza mengirimkan Ustaz Ahmad Ramdani sebagai peserta. Hasilnya, ia berhasil meraih Juara Harapan II.

Di tengah persaingan para pendidik dari berbagai lembaga, keberhasilan itu menunjukkan bahwa semangat belajar tidak berhenti ketika seseorang telah berdiri di depan kelas sebagai pengajar.
Guru tetap belajar. Guru tetap mengasah kemampuan. Guru pun terus menantang dirinya untuk berkembang.


Prestasi Dza ‘Izza dan Tiket Menuju Tingkat Nasional
Perjuangan tim Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza dalam Olimpiade Bahasa Arab tingkat Provinsi Banten membuahkan sejumlah capaian membanggakan.

Pada kategori guru, Ustaz Ahmad Ramdani berhasil meraih Harapan II. Sementara itu, pada kategori siswa, Muhammad Nabil Na’imullah berhasil meraih Juara III dan memastikan diri lolos ke tahap Nasional.
Keberhasilan Nabil menjadi catatan istimewa bagi Tim Dza ‘Izza. Selain itu, M. Yusuf Afandi berhasil meraih Harapan III, sedangkan Fatuh Aulia Hanifah tercatat sebagai Peserta Tingkat Provinsi.

Rangkaian capaian tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan Dza ‘Izza dalam pengembangan kemampuan bahasa Arab tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Para guru dan santri bersama-sama membawa semangat belajar itu ke arena yang mempertemukan peserta dari berbagai sekolah di Provinsi Banten.

Perjuangan yang Menginspirasi
Setiap peserta yang berangkat ke arena kompetisi membawa semangat perjuangan para peserta. Ada waktu latihan yang disisihkan, materi yang dipelajari berulang kali, kesalahan yang diperbaiki, serta ketegangan yang harus dihadapi.

Karena itu, perjalanan OBA diharapkan tidak hanya menjadi pengalaman bagi mereka yang secara langsung mengikuti perlombaan.

Ustaz Alief berharap perjuangan tersebut dapat menumbuhkan semangat baru bagi santri-santri lainnya.

“Semoga kegiatan ini menjadi motivasi bagi santri lain untuk meneruskan perjuangan ini,” ungkapnya.

Hari ini, sejumlah santri melangkah menuju arena Olimpiade Bahasa Arab. Esok, mungkin akan muncul peserta-peserta baru yang meneruskan perjalanan tersebut. Ada yang datang dengan kemampuan lebih baik. Ada yang membawa pengalaman dari para pendahulunya. Ada pula yang menjadikan perjuangan kakak-kakaknya sebagai motivasi untuk mulai belajar lebih sungguh-sungguh. Dari situlah sebuah tradisi prestasi tumbuh. Bukan semata-mata dari keinginan untuk menjadi pemenang, melainkan dari keberanian untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan melangkah lebih jauh.