Santri Dza ‘Izza Raih 4 Medali Emas di Indonesia Pencak Silat Banten Championship 2026


Latihan panjang sejak awal tahun ajaran berbuah manis. Di tengah persaingan sekitar 1.400 pesilat dari berbagai daerah, santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza pulang membawa empat medali emas, enam perak, serta sejumlah medali perunggu.

Sejak awal masuk pesantren pada Agustus 2026, latihan demi latihan terus dijalani. Waktu demi waktu diisi dengan penguatan kemampuan, pengulangan gerakan, pembentukan ketahanan, dan persiapan menghadapi pertandingan yang telah menanti di depan.

Semua proses itu akhirnya menemukan ujiannya dalam Indonesia Pencak Silat Banten Championship 2026, kejuaraan tingkat nasional yang berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di Kota Serang, Banten.

Ajang tersebut mempertemukan pesilat dari berbagai sekolah, pesantren, perguruan, dan padepokan dari berbagai daerah di Indonesia. Pelaksanaannya di Stadion Maulana Yusuf, Serang.

Di tengah persaingan sekitar 1.400 peserta, kontingen Dza ‘Izza tidak sekadar hadir untuk menambah daftar peserta. Mereka datang untuk bertanding. Mereka datang untuk menguji hasil latihan. Dan ketika pertandingan berakhir, perjuangan itu meninggalkan jejak yang membanggakan: empat medali emas, enam medali perak, serta sejumlah medali perunggu.

“Alhamdulillah, santri kita juara nasional, bisa meraih empat medali emas, enam medali perak, sisanya perunggu,” ungkap Ustaz Heriyansah, pembimbing tim pencak silat Dza ‘Izza, saat diwawancarai pada Ahad, 30 Agustus 2026.

Ustaz Heriyansah menggambarkan betapa luasnya peta kekuatan yang harus dihadapi para pesilat Dza ‘Izza.

“Sekolah yang menjadi pesaing kita banyak sekali, karena pencak silat ini merata dan hampir pondok pesantren memiliki atlet-atlet yang kompeten,” ujarnya.

Pencak silat memang tumbuh di banyak ruang. Di sekolah, di perguruan, di padepokan, dan juga di lingkungan pesantren. Setiap tempat melahirkan atlet dengan karakter serta kemampuan yang berbeda. Hal itulah yang menjadikan setiap pertandingan sulit diprediksi. Tidak ada kemenangan yang datang hanya karena nama sebuah lembaga. Di atas arena, yang berbicara adalah kemampuan, ketenangan, kesiapan, dan hasil dari proses yang telah dijalani.


Latihan yang Dimulai Sejak Awal
Prestasi yang diraih para santri Dza ‘Izza bukanlah hasil dari persiapan singkat menjelang kejuaraan. Menurut Ustaz Heri, latihan telah ditekankan sejak awal para santri kembali memasuki kehidupan pesantren pada Agustus.

“Persiapan kita, sebenarnya kita sudah latihan itu dari awal masuk pesantren, Agustus. Kita terus genjot, terus latihan. Tapi memang sebelumnya anak-anak kita sudah prepare untuk latihan maksimal,” jelasnya.

Hari-hari latihan menjadi bagian dari perjalanan para atlet. Ada gerakan yang harus diulang. Ada teknik yang harus diperbaiki. Ada kemampuan fisik yang harus terus diasah. Dan ada ketahanan mental yang tidak dapat dibangun dalam waktu singkat.

Semua itu dijalani sebagai bagian dari proses panjang sebelum akhirnya para santri berdiri membawa nama Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza di arena nasional.

“Itu prosesnya sangat panjang dan sungguh melelahkan,” kata Ustaz Heri.

Namun, justru di dalam proses panjang itulah sebuah prestasi menemukan maknanya.


Empat Emas untuk Pesilat Dza ‘Izza
Dari rangkaian pertandingan Indonesia Pencak Silat Banten Championship 2026, empat pesilat Dza ‘Izza berhasil mencapai posisi tertinggi. Mereka membawa pulang medali emas sekaligus menempatkan nama Dza ‘Izza di podium juara.

Peraih medali emas atau Juara I adalah:
M. Firash Rabbani Sirait — Kelas 3D
Faeyza Ramadhan Qian Albasyir — Kelas 3E
M. Fazil Rais — Kelas 5 SMAWI C
Wildan Aufa — Kelas 6 Madris

Empat nama tersebut menjadi bagian dari perjalanan membanggakan kontingen Dza ‘Izza di tengah persaingan yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai latar belakang. Setiap medali emas memiliki cerita yang tidak terlihat ketika penghargaan dikalungkan.


Enam Perak yang Tak Kalah Membanggakan
Selain empat emas, kontingen Dza ‘Izza juga berhasil membawa pulang enam medali perak. Para peraih medali perak atau Juara II adalah:
A. Faisal Mukhibun — Kelas 3C
M. Rasya — Kelas 3A
Daffa Nurali Alvarul — Kelas 3A
Juanda Afrullah — Kelas 3D
Hafiz Baihaqi — Kelas 3A
M. Darel Evander

Sebuah pertandingan tidak selalu menghasilkan akhir yang sesuai dengan harapan tertinggi. Namun, perjalanan seorang atlet tidak hanya ditentukan oleh warna medali yang dibawanya pulang.
Keberanian untuk masuk arena, menghadapi lawan, menguji kemampuan, dan bertahan dalam persaingan merupakan bagian penting dari pembentukan seorang pesilat.

Sementara itu, kontingen Dza ‘Izza juga meraih sejumlah medali perunggu, melengkapi perolehan prestasi mereka dalam kejuaraan nasional tersebut.


Lebih dari Sekadar Kejuaraan
Pencak silat memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan bangsa Indonesia. Selain sebagai cabang olahraga, seni bela diri ini juga berkaitan dengan pembentukan disiplin, ketahanan, dan karakter. IPSI sendiri secara resmi menaungi pembinaan pencak silat Indonesia serta pengembangan prestasi olahraga tersebut.

Nilai-nilai itu pula yang tampak dalam perjalanan para santri Dza ‘Izza.
Latihan mengajarkan bahwa kemampuan tidak lahir secara instan.
Kemenangan mengajarkan bahwa hasil membutuhkan perjuangan.
Sementara kekalahan dan hasil yang belum sesuai harapan mengajarkan bahwa perjalanan belum berhenti.

Bagi Ustaz Heri, pengalaman dalam Indonesia Pencak Silat Banten Championship 2026 harus menjadi pijakan untuk menghadapi kompetisi-kompetisi berikutnya.

Ia berharap pembinaan para atlet, termasuk dalam bidang olahraga dan seni lainnya, terus memperoleh dukungan agar para santri dapat berkembang secara lebih optimal.

“Harapan kami untuk perlombaan selanjutnya, baik pencak silat, futsal, atau olahraga dan seni lainnya, bisa selalu disupport, didukung, dan juga anak-anak bisa latihan lebih fokus dan lebih giat,” harapnya.

Harapan itu bukan hanya berbicara tentang satu cabang olahraga.
Di dalamnya terdapat keinginan agar potensi para santri mendapatkan ruang untuk tumbuh. Bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Ada pembelajaran tentang disiplin di lapangan.nAda pendidikan tentang ketekunan dalam latihan. Dan ada pembentukan keberanian ketika seseorang harus menghadapi tantangan.


Latihan untuk Menjadi Lebih Baik
Di akhir wawancara, Ustaz Heri menyampaikan satu kalimat yang merangkum perjalanan para pesilat Dza ‘Izza.

“Latihan bukan untuk lomba, tapi latihan adalah proses untuk menjadi yang terbaik.”

Kalimat itu terasa lebih luas daripada sekadar persiapan menuju pertandingan. Sebab, seorang santri yang berlatih tidak hanya sedang mempersiapkan dirinya untuk memenangkan sebuah pertandingan. Ia sedang belajar mengalahkan rasa malas. Ia sedang belajar bertahan ketika tubuh mulai lelah. Ia sedang belajar memperbaiki kesalahan. Dan ia sedang membangun keyakinan bahwa kemampuan selalu dapat ditingkatkan melalui proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh.