
Kebaikan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa tumbuh dari cara seorang santri berbicara, menjaga kedisiplinan, membantu teman, atau memberi contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Gagasan itulah yang menjadi napas Pengukuhan, Penetapan, dan Pembekalan Anggota Duta Kebaikan Santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ’Izza Tahun Ajaran 2026–2027 di Ballroom Asy-Syahid, Sabtu (22/8/2026).
Sebanyak 66 santri putra dan putri dikukuhkan, ditetapkan, dan mengikuti pembekalan sebagai Duta Kebaikan Santri dengan tema “Menjadi Teladan, Menebarkan Kebaikan, Menginspirasi Perubahan.” Di antara 66 santri yang terpilih ada Rafka Yura Alfarizki (2 A), Ahmad Zalif Ali Abbasy (4 SMAWI A), Alvin Fairuz Adya Kumara (3 SMAWI A), Ratu Nayla Mustika (3A), Tenri Elsica Putri Yasir (6 SMAWI A), dan Tiara Aprilia Putri Rusdiana (4 Madris).
Program tersebut menjadi bagian dari kaderisasi santri teladan yang diharapkan mampu merepresentasikan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan sehari-hari. Duta Kebaikan Santri tidak berdiri sebagai organisasi tersendiri, melainkan menjadi mitra strategis bagian Pengasuhan dalam membangun budaya keteladanan, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta menumbuhkan kepedulian di antara sesama santri.

Berangkat dari Falsafah Pesantren
Program Duta Kebaikan Santri berangkat dari falsafah Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ’Izza:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”
Falsafah tersebut menjadi pijakan untuk menanamkan kesadaran bahwa kehidupan seorang santri diisi dengan aktivitas yang bernilai, produktif, dan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan.
Karena itu, predikat Duta Kebaikan tidak dimaknai sekadar sebagai penghargaan, melainkan sebagai ruang pembelajaran. Para santri yang terpilih diharapkan mampu menjadi teladan dalam disiplin, ibadah, akademik, kepemimpinan, komunikasi, hingga kepedulian sosial.
Para peserta merupakan santri yang dinyatakan lulus melalui rangkaian seleksi administrasi, rekomendasi, observasi, wawancara, serta penetapan oleh Mudir al-Ma’had. Mereka dipilih berdasarkan sejumlah aspek, antara lain akhlak dan kepribadian, kedisiplinan, prestasi akademik dan nonakademik, kemampuan komunikasi, kepedulian terhadap teman sebaya, potensi kepemimpinan, serta kesesuaian dengan nilai-nilai pesantren.

Keteladanan Dimulai dari Diri Sendiri
Dalam tausiyahnya, Mudir al-Ma’had K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., mengingatkan bahwa menjadi Duta Kebaikan berkaitan erat dengan keteladanan Rasulullah ﷺ.
Kiai Zahid merujuk pada firman Allah Swt. dalam QS Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”
Ayat tersebut menjadi landasan bahwa keteladanan bukan sekadar sesuatu yang ditampilkan di hadapan orang lain, tetapi tercermin dalam keseluruhan sikap dan perilaku.
Menurut Kiai Zahid, terpilihnya seorang santri sebagai Duta Kebaikan merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan.
“Ini adalah bagian dari ibadah ananda kepada Allah Swt. yang Allah berikan spesifikasi khusus kepada ananda semua menjadi Duta Kebaikan,” ujar Kiai Zahid.
Beliau berharap para santri terpilih mampu menjadi role model sekaligus sumber inspirasi bagi teman-temannya. Karena itu, keteladanan perlu dijaga dalam berbagai sisi kehidupan, mulai dari cara berbicara, berpakaian, hingga perilaku sehari-hari. Menurut beliau, standar yang digunakan bukan sekadar kenyamanan pribadi, melainkan kesesuaian dengan syariat agama.

Menjadi Baik Tidak Mengenal Batas Waktu
Kiai Zahid menegaskan bahwa Duta Kebaikan bukan jabatan struktural yang memiliki batas masa. Menjadi pribadi baik merupakan proses yang tidak selesai hanya karena seseorang telah ditetapkan sebagai duta.
“Jadi orang baik itu harus selamanya,” ujar beliau.
Penetapan Duta Kebaikan, lanjutnya, merupakan bagian dari upaya pesantren memberikan motivasi kepada para santri agar terus memperbaiki diri sekaligus menginspirasi orang lain.
“Dengan penilaiaan itu diharapkan memotivasi dirimu sendiri, dipercaya oleh gurumu menjadi orang baik dan menginspirasi yang lain untuk menjadi orang baik,” kata beliau.
Kebaikan yang dilakukan pun tidak berhenti pada manfaat bagi diri sendiri. Ketika sebuah perilaku baik ditiru oleh orang lain, nilai positif tersebut dapat berkembang lebih luas.
Ketika Kebaikan Menjadi Kebiasaan
Dalam tausiyahnya, Kiai Zahid juga menyinggung sosok B.J. Habibie sebagai contoh pribadi yang menjalani kehidupan dengan kebiasaan positif. Ia menggambarkan Habibie sebagai ilmuwan, negarawan, dan presiden yang energik, rajin, serta disiplin.
Kebiasaan yang terus dipelihara, menurut Kiai Zahid, pada akhirnya membuat kebaikan menjadi sesuatu yang natural, bukan tindakan yang terasa sebagai beban.
“Kami memberikan amanah ini dan dilaksanakan dengan niat ibadah kepada Allah Swt. sehingga tidak menjadi beban bagi dirimu. Kenapa menjadi berat, kalau hanya acting, bukan karena habit yang baik. Kalau kita nature-nya baik maka kehidupan ini tidak menjadi beban.,” jelas Kiai Zahid.
Di sinilah Duta Kebaikan diharapkan tidak sekadar mampu menunjukkan perilaku baik ketika diperhatikan, tetapi menjadikannya bagian dari karakter.
“Mulia sekali ananda-ananda ini. Kenapa? Karena sudah di-laqab-kan menjadi role model,” kata Kiai Zahid.
Bersama Menumbuhkan Kebaikan
Menjadi pribadi yang baik, menurut Kiai Zahid, bukan proses yang selalu mudah. Dibutuhkan pembiasaan, kesediaan untuk saling mengingatkan, serta kemauan untuk berjalan bersama dalam lingkungan pendidikan.
Beliau menyampaikan rasa syukur sekaligus kebanggaan kepada para santri yang terus berusaha membangun kebiasaan baik. Proses tersebut, menurutnya, dapat diwujudkan melalui hubungan antara murid dan mursyid serta budaya saling mengingatkan.
“Kita sama-sama ingin meraih kebaikan di dunia dan di akhirat,” ungkap beliau.
Pesan tersebut sekaligus mengembalikan makna Duta Kebaikan kepada tujuan awalnya. Mereka bukan hanya santri yang dipilih karena memiliki rekam jejak baik, tetapi juga diharapkan mampu memperluas pengaruh kebaikan di lingkungan sekitarnya.
Menjelang akhir tausiyah, Kiai Zahid menitipkan pesan sederhana yang menjadi bekal bagi para santri terpilih.
“Jadilah anak yang baik, jadilah anak yang amanah, karena itu akan menjadi bekal kamu masa depan,” pesan beliau menutup tausiyahnya agar setiap kita menjadi inspirasi bagi kebaikan.