Program I’zaz: Proses Shibghah Dza ‘Izza’s Values


Tahun ajaran 2026-2027 menjadi langkah awal Dza ‘Izza memulai inovasi terbarunya yang terbentuk dalam program yang disebut dengan I’zaz. Setelah proses panjang, perancangan matang, pembentukan struktural, rumusan konsep dan teknis rampung didesain, Villa Laa Ghofla bertransformasi menjadi miniatur Dza ‘Izza dalam bentuk yang lebih kecil. Hampir kurang lebih sebulan, santri yang baru 10 hari tidur di ranjang barunya, diboyong lengkap dengan perkakasnya ke vila yang semula hanya digunakan setahun sekali saja dalam program rihlah tahunan.

Nama I’zaz sendiri diambil dari Bahasa Arab (أَعَزَّ-يُعِزُّ-إِعْزَازٌ) yang memiliki arti proses membuat sesuatu menjadi mulia. Bukan tanpa alasan pimpinan pesantren, K.H. Zahid Purna Wibawa menginisiasikan program ini. Justru, program ini berdiri atas motivasi yang besar dalam mewujudkan pola pendidikan berkarakter yang lebih kuat, tanpa menyamarkan corak didik dan asuh generasi yang saat ini dikenal dengan sebutan ‘Gen Alpha’. Di samping itu, program ini merupakan salah satu bentuk keseriusan Pesantren Dza ‘Izza dalam mencetak generasi yang Ahlul ‘Izzah. Hal itu tercermin dari kegiatannya yang secara garis besar mendukung tercapainya nilai-nilai Dza ‘Izza atau yang digaungkan oleh Pak Kiai dengan sebutan Dza ‘Izza’s Values.

16 nilai-nilai itu merupakan turunan dari Panca Jiwa dan Motto Pondok yang diperas hingga mengeluarkan empat nilai-nilai fundamental: keluhuran budi, kesehatan jasmani & rohani, keluasan pengetahuan dan kebebasan pikiran. Masing-masing dari empat prinsip luhur ini melahirkan empat karakter dasar lainnya. Itulah bagaimana 16 nilai-nilai Dza ‘Izza lahir. Berikut poin-poinnya.

Keluhuran Budi

  • Keikhlasan
  • Kesederhanaan
  • Kejujuran
  • Bertanggung Jawab
  • Kesehatan Jasmani & Rohani
  • Disiplin Diri
  • Kebersihan
  • Daya Tahan
  • Keseimbangan Hidup
  • Keluasan Pengetahuan
  • Keingintahuan
  • Keterbukaan Pikiran
  • Kreatif
  • Inovatif
  • Kebebasan Pikiran
  • Inisiatif
  • Berpikir Kritis
  • Moderat
  • Toleran
    16 nilai di atas terjasad dalam segala macam bentuk aktivitas santri di pesantren. Baik di jalur asuh mau pun jalur ajar. Kesemuanya mengacu pada empat prinsip di atas. Sehingga tidak ada satu pun kegiatan yang sia-sia di Dza ‘Izza. Seperti jargonnya yang kerap digemakan oleh Pak Kiai:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.

Dalam wawancara dengan Ustaz Muhammad Ilham Lazuardi Hanif, Lc, selaku kepala pelaksana program I’zaz, beliau menjelaskan bahwa program ini dapat terealisasi dengan perencanaan yang matang dan penuh pertimbangan. Berikut jawaban Ustaz Ilham tentang bagaimana beliau merealisasikan program ini sehingga dapat berjalan dengan baik.

“Kami merealisasikan Program I’zaz dengan menjadikan setiap kegiatan sebagai sarana pembentukan karakter, bukan hanya penyampaian materi. Fokus utama kami adalah menanamkan Dza ‘Izza Values: keluhuran budi, kesehatan jasmani dan rohani, keluasan pengetahuan serta kebebasan berpikir.

Implementasinya dilakukan melalui pembiasaan disiplin dalam ibadah dan kehidupan berasrama. Karena kami meyakini bahwa karakter yang kuat lahir dari konsistensi dalam menjalankan aturan dan tanggung jawab. Selain itu, pembinaan tahsin Al-Qur’an dan imla’ (menulis Bahasa Arab) juga kami galakkan agar santri memiliki fondasi untuk mencapai kompetensi membaca, menulis dan memahami al-Quran mau pun kitab turats secara baik dan benar.

Di sisi lain, kami berusaha menciptakan lingkungan belajar yang mendorong santri untuk berpikir kritis, berdiskusi dengan adab, serta terus menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat. Dengan demikian, Program I’zaz tidak hanya menghasilkan santri yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kedisiplinan, kemandirian, dan kesiapan menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi umat seperti yang diaminkan oleh Mudir Al-Ma’had.

Harapan kami, setelah Program I’zaz selesai, para santri tidak hanya mengalami peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga mengalami perubahan karakter yang nyata. Mereka memiliki kedisiplinan dalam beribadah, mampu menjaga adab dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadikan Dza ‘Izza Values sebagai pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan.”

Selain itu, kami juga mewawancarai Ustaz H. Firza Nofdi Muhammad, Lc., M.A selaku wakil koordinator Program I’zaz, beliau berpandangan bahwa Program I’zaz merupakan salah satu program yang sangat penting dalam proses pendidikan santri baru. Perpindahan dari lingkungan rumah menuju kehidupan pesantren merupakan perubahan yang besar bagi seorang anak. Karena itu, mereka memerlukan masa transisi agar dapat beradaptasi secara bertahap, baik secara mental, emosional, maupun spiritual.

“Program I’zaz hadir sebagai jembatan antara kultur rumah dan kultur pesantren. Selama satu bulan, santri dibimbing untuk mengenal nilai-nilai kepesantrenan, mulai dari adab dan akhlak, perbaikan praktik ibadah, perbaikan bacaan Al-Qur’an, hingga berbagai rutinitas kehidupan santri. Dengan proses adaptasi yang bertahap ini, diharapkan santri merasa lebih nyaman, lebih percaya diri, dan mampu mengikuti kehidupan di pesantren tanpa mengalami culture shock. Sehingga ketika mereka kembali ke pesantren dan bergabung bersama santri lama, mereka sudah memiliki kesiapan yang lebih baik.” Begitu pungkasnya.

Ustaz Firza juga menjelaskan durasi pelaksanaan serta gambaran besar kegiatan apa saja yang dilakukan selama masa transisi yang dilakukan di Vila Laa Ghofla, dan output seperti apa yang diharapkan dari pelaksanaan Program I’zaz.

“Pelaksanaan Program I’zaz dilakukan selama satu bulan penuh di vila la ghofla yang kami siapkan sebagai tempat pembinaan khusus santri baru. Suasana yang lebih tenang , fun dan jumlah peserta yang lebih terbatas membuat proses pendampingan dapat berlangsung lebih intensif.

Selama program berlangsung, santri tidak hanya mengikuti pembelajaran di kelas, tetapi juga menjalani pembiasaan hidup sebagai santri selama 24 jam. Mereka dibimbing untuk membangun kedisiplinan, menjaga adab kepada guru dan teman, membiasakan ibadah berjamaah, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, serta mempraktikkan amaliah ibadah sehari-hari.

Selain itu, para guru juga melakukan pendampingan secara personal terhadap perkembangan setiap santri. Pendekatan ini membantu santri yang masih mengalami kesulitan beradaptasi agar dapat menyesuaikan diri secara perlahan. Dengan demikian, setelah menyelesaikan Program I’zaz, mereka tidak hanya memahami aturan pesantren, tetapi juga telah terbiasa dengan ritme kehidupan pesantren dan siap mengikuti pendidikan secara optimal.”

Kamis lalu, 30 Juli 2026, Komite Pembinaan & Pengasuhan Santri Baru (KP2SB) menggelar prosesi pelepasan santri baru yang akan mengikuti Program I’zaz. Acara tersebut dihadiri oleh K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T, Ibu Nyai Hj. Lilis Hafidzoh, S.K.M beserta para wakil mudir dan jajaran pengajar yang kerap hadir menambahkan suasana khidmat pada acara tersebut. Dalam kesempatan yang singkat itu, Mudir al-Ma’had menekankan bahwa program ini dititikberatkan untuk pendalaman materi baca tulis al-Quran dan materi dasar Bahasa Arab, Fikih dan Akhlak. Harapannya, santri baru kembali ke pesantren mampu mengikuti dan memahami pelajaran pondok pesantren yang sebagian besar berbasis Bahasa Arab.

Mengakhiri nasihatnya, Mudir al-Ma’had berpesan agar santri-santri menjalani program ini dengan senang hati sebagai proses yang mesti dilalui untuk menjadi generasi tangguh yang beriman, berilmu dan berbudi tinggi. Lalu, beliau melepas kepergian para santri dengan doa dan ridanya. Semoga keduanya menjadi sebab kelancaran dan kesuksesan progam yang perdana diselenggarakan pada tahun ajaran ini. Amin.