Kajian Rutin Jumat: Meraih Rahmat dengan Taubat



Pada hari Jumat, 31 Juli 2026 DKM Masjid al-Ibad ash-Shalihun menggelar kajian yang memang sudah menjadi kegiatan rutin tiap pekannya. Bedanya, kajian kali ini mengusung tema kajian tasawuf yang merujuk pada kitab al-Minah as-Saniyyah ala al-Washiyyat al-Matbuliyah, karya Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani. Kitab ini merupakan syarah dari kitab induknya yang berjudul al-Washiyyat al-Matbuliyah, himpunan wasiat seorang guru kepada muridnya. Guru tersebut tidak lain adalah Syekh Ibrahim bin Ali al-Matbuli.

Ustaz Nur Ramadhan, S.Hum yang merupakan pemateri kajian menyampaikan pada pembukaan majelisnya tentang urgensi peran ilmu tasawuf di samping ilmu akidah dan fikih. Di antaranya adalah sebagai kesantunan bagi tegasnya akidah dan kelembutan bagi kerasnya fikih.

Pada awal kajian, Ustaz Rama menegaskan bahwa taubat merupakan langkah pertama yang wajib ditempuh oleh setiap hamba yang ingin mendekat kepada Allah swt.

Lanjutnya, beliau juga memaparkan makna taubat yang terangkum dalam empat poin penting:

Hakikat dan Tingkatan Taubat
“Secara bahasa, taubat berarti “kembali”. Secara syariat, taubat adalah kembali dari sesuatu yang tercela dalam syariat menuju sesuatu yang terpuji dalam syariat.” Begitu penjelasan singkat Ustaz Rama mengenai makna taubat.

Dalam menerangkan tingkatan taubat, beliau membaginya secara garis besar menjadi dua bagian: permulaan taubat dan akhir dari taubat.

Berikut tahapan taubat pada tingkat pemula yang dipaparkan Ustaz Rama ketika kajian sedang berlangsung.

“Para ulama menjelaskan bahwa taubat memiliki awal dan akhir. Awal taubat dimulai secara bertahap: dari dosa besar, lalu dosa kecil, kemudian perkara makruh, lalu meninggalkan yang lebih utama berupa kebaikan yang ditinggalkan, hingga taubat dari perasaan bahwa diri sudah termasuk orang fakir kepada Allah atau sudah jujur dalam taubatnya. Puncaknya adalah bertaubat dari setiap lintasan hati disaat merasa jauh dari keridhaan Allah swt.”

Ada pun akhir tingkatan dari tahapan taubat adalah senantiasa bertaubat setiap kali hati lalai dari mengingat Allah Ta’ala, walau hanya sekejap mata. “Inilah taubatnya orang-orang khusus yang hatinya selalu hadir bersama Allah.” Pungkasnya

Syarat dan Cakupan Taubat
Seperti ibadah yang lain, taubat juga memilki syarat yang harus terpenuhi demi kesempurnaan pelaksanaannya. Syarat-syarat itu adalah meninggalkan dosa yang dilakukan dan bertekad kuat untuk tidak kembali lagi pada perbuatan dosa. Di tengah penjelasannya, Ustaz Rama mengingatkan bahwa taubat dapat menggugurkan dosa seorang hamba kepada Tuhannya, Allah swt. juga dosa terhadap kepada dirinya sendiri dengan berbuat zalim atas dirinya.

“Namun taubat tidak menghapus dosa kepada makhluk (seseorang), baik berupa materi maupun perasaan. Kesalahan dosa ini harus diselesaikan terlebih dahulu, dikembalikan atau dimaafkan oleh orang tersebut.” Demikian penekanan beliau.

Kedudukan Taubat sebagai Pondasi
Pada bagian ini, Ustaz Rama menjelaskan alasan mengapa Syekh al-Matbuli memulai wasiatnya dengan perkara taubat. Beliau mengatakan bahwa taubat adalah pondasi bagi maqam (kedudukan seorang hamba di hadapan Tuhan) yang akan terus ia naiki hingga ajal menjemputnya. Setiap kali bertambah keyakinan dan amal salehnya, maka bertambah pula tingkatan maqamnya di sisi Allah swt. Kemudian beliau mengibaratkan taubat seperti dasar bangunan yang tanpanya tidak akan berdiri apa pun di atasnya.

Ustaz Rama menegaskan, “Tanpa taubat, amal tidak akan bersih dari noda. Dengan taubat, seorang hamba akan dijaga oleh Allah swt dari berbagai penghalang yang menjauhkannya dari Allah swt.”

Kunci Utama: Istikamah
Dalam surat Hud ayat 112, Allah swt berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Pada ayat ini, Allah swt berfirman kepada kekasih-Nya Nabi Muhammad ﷺ untuk senantiasa istikamah terhadap apa yang Allah perintahkan. Salah satunya adalah bertaubat. Padahal, beliau adalah seorang Rasulullah yang maksum (terlindung dari dosa). Walau demikian, beliau dalam sehari tidak pernah kurang dari seratus kali beristighfar, memohon ampunan Allah swt. Terlebih kita yang berlumuran dosa.

Di antara penjelasan itu, ada kutipan hikmah yang mengetuk pintu hati dari Sayyid Muhammad bin Annan rahimahullah:

من استقام في توبته عن المعاصي، ارتقى إلى التوبة من كل ما لا يعنى ومن لا يستقم فيها
لايشم من التوبة عن الفضول رائحة ولا يقدر على رعاية خاطره أبداً، بل يغلب عليه خواطر
المعاصي حتى في صلاته

Barangsiapa istikamah dalam taubatnya dari maksiat, maka ia akan naik ke derajat taubat dari segala hal yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, orang yang tidak istikamah tidak akan mencium aroma taubat dari hal sia-sia, bahkan tidak mampu menjaga lintasan hatinya. Lintasan maksiat akan mengalahkannya sampai ke dalam shalatnya.

Menutup kajiannya, Ustaz Rama memberikan nasihat kepada para santri Ahlul Izzah.

“Dari wasiat pertama ini kita memahami bahwa perjalanan ruhani tidak dimulai dari karamah, tidak dimulai dari ilmu yang banyak, tetapi dimulai dari taubat yang istiqamah. Taubat membersihkan, zuhud meringankan, dan keduanya menjadi kunci terbukanya seluruh pintu kebaikan.

Maka hendaklah setiap kita senantiasa memeriksa diri di pagi dan sore: apakah anggota tubuh kita telah menjaga batasan Allah atau melampauinya? Jika taat, bersyukurlah. Jika bermaksiat, segera menyesal, beristighfar, dan kembali kepada-Nya.

Karena sesungguhnya, siapa yang kokoh pondasinya, maka kokoh pula bangunannya.