
Suasana dini hari di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza tampak hidup. Sejumlah santri kelas II SMP bergegas menuju ruang makan untuk santap sahur. Mereka berniat bersama untuk menunaikan ibadah puasa sunnah.
Pada tahun ajaran ini, Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 membiasakan para santri melaksanakan puasa sunnah Senin dan Kamis secara terjadwal. Program tersebut diawali oleh santri kelas II SMP yang memperoleh giliran pada pekan pertama.
Bagi pesantren, puasa sunnah bukan sekadar ibadah yang dikerjakan sesekali, melainkan salah satu ubudiyah membangun karakter melalui kebiasaan yang dilakukan secara berkesinambungan.
“Kita ingin membiasakan santri-santri Daar el-Qolam 3 ini terbiasa dengan ibadah sunnah, jadi kita ‘mewajibkan’ dari segi kedisiplinan,” kata Ustaz Nur Ramadhan, S.Hum. selaku guru pelaksana kegiatan ini saat diwawancara pada Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, pembiasaan tersebut merupakan sarana pendidikan agar para santri memiliki kedisiplinan dalam menjalankan amalan-amalan yang dianjurkan dalam Islam.
“Kita memberikan pemahaman kepada para santri, walaupun ini puasa sunnah, tapi kita memberikan ‘kewajiban’ untuk dilaksanakan sebulan dua kali, Senin dan Kamis,” sambungnya.
Program ini dilaksanakan secara bergiliran agar seluruh santri dapat mengikutinya dengan tertib. Pada pekan pertama, giliran santri kelas II SMP yang menjalankan puasa sunnah. Sementara itu, santri kelas I SMP belum mengikuti program ini karena masih menjalani rangkaian kegiatan La Ghofla. Selanjutnya, jadwal puasa dilanjutkan oleh santri kelas III pada pekan kedua, sedangkan kelas IV dan V memperoleh giliran pada pekan ketiga dan keempat.
Menariknya, semangat beribadah para santri tidak berhenti pada jadwal yang telah ditentukan. Tidak sedikit santri dari kelas lain yang tetap menjalankan puasa sunnah meskipun bukan giliran mereka.
“Bahkan saat giliran jadwalnya berpuasa, ada juga kelas lain yang tetap ikut berpuasa, karena dia sudah terbiasa dengan puasa sunnah ini,” ujar Ustaz Rama.
Agar para santri dapat menjalankan ibadah dengan nyaman, pesantren juga menyediakan fasilitas makan sahur dan berbuka puasa.
“Mereka difasilitasi dengan makan sahur dan buka puasanya. Alhamdulillah ini memberikan kemudahan bagi mereka,” ungkapnya.
Melalui program ini, puasa sunnah tidak hanya menjadi rutinitas ibadah, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter. Kesabaran ketika menahan lapar dan dahaga, kejujuran saat berpuasa, kedisiplinan mengikuti jadwal, hingga keteguhan menjaga kebiasaan baik merupakan nilai-nilai yang terus ditanamkan kepada para santri.
Nilai-nilai tersebut juga sejalan dengan tuntunan Rasulullah ﷺ yang mendorong umat Islam untuk mengisi waktu dengan amalan yang membawa manfaat. Beliau bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al-Albani menilai hadis ini sahih.)
Pembiasaan puasa sunnah menjadi salah satu ikhtiar pesantren untuk mengarahkan para santri memanfaatkan waktu dengan ibadah dan aktivitas yang bernilai, sekaligus melatih pengendalian diri dari hal-hal yang tidak bermanfaat.
Pembiasaan tersebut melengkapi berbagai amalan sunnah yang lebih dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di pesantren, seperti salat rawatib, salat duha, dan salat tahajud.
“Semoga para santri bisa terbiasa dengan amalan sunnah. Anak terbiasa dengan salat sunnah rawatib, salat duha dan tahajud. Selanjutnya ditingkatkan dengan puasa sunnah,” pungkasnya.