
Barisan santri memenuhi lapangan Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, Sabtu (25/7/2026) atau bertepatan dengan 5 Safar 1448 H. Di bawah langit pagi yang cerah, Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy (PPKA) Tahun 2026 resmi dibuka melalui upacara yang mengusung tema “Memperkokoh Silaturahmi, Meraih Keberkahan, Memantapkan Langkah Menuju Masa Depan.”
Upacara tahunan ini dihadiri oleh Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza K.H Zahid Purna Wibawa, didampingi Ibu Nyai Hj. Lilis Hafidzoh, S.K.M. Hadir Majelis Khidmah Ustaz Wahyuni Nafis, M.A., Prof. Dr. Ismatu Ropi, Dr. Aan Rukmana, M.A., M.M., Dr. Ferdinal Lafendry, M.M., M.A. beserta seluruh dewan guru dan santri.
Bertindak sebagai pembina upacara, Mudir al-Ma’had K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. menyampaikan amanat yang sarat dengan nilai pendidikan, pembentukan karakter, dan arah hidup seorang santri.
Turut hadir pula para tamu kehormatan dari Keluarga Besar Pondok Pesantren Daar el-Qolam Ibunda Umi Ade Zamzami, K.H. Odhy Rosikhuddin, M.Pd., Ibu Hj. Nenah Hasanah, Ibu Hj. Uum Umroh, Ibu Hj. Farihah, Ibu Hj. Dhofiah, Ibu Dra. Hj. Enah Huwainah, Ibu Hj. Lela Jumislah, Ibu Hj. Jauhar Latifah, K.H. Fairus Nahiduddin, Kiai Ahmad Reza Zaki Aulia, K.H. Muhammad Arinal Haq. Hadir pula Dr. Nerru Pranuta Murnaka, S.Si., M.Pd. Kaprodi Magister Pendidikan IPA UNPAR Bandung.
Dalam pembukannya, beliau mengajak para santri memahami bahwa Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy bukan sekadar kegiatan penyambutan, melainkan pintu masuk untuk mengenal jati diri pesantren.
Beliau kemudian menegaskan makna yang terkandung dalam kegiatan tersebut.
“Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy ini bukanlah sekadar masa orientasi biasa. Khutbatul Arsy berarti khotbah atau wejangan yang sangat tinggi nilainya. Di pekan inilah kalian akan dikenalkan pada ‘ruh’ pondok pesantren, pada panca jiwa pesantren, dan pada arah ke mana kapal besar pondok pesantren ini akan berlayar.”
Kiai Zahid memahami bahwa hari-hari pertama di pesantren bukanlah masa yang mudah bagi santri baru. Kerinduan kepada keluarga, lingkungan baru, dan kehidupan yang berbeda merupakan bagian dari proses yang hampir selalu dialami setiap santri.
Dengan penuh empati, beliau mengingatkan bahwa para kiai dan guru pun pernah melalui fase yang sama.
“Mungkin hari ini, di antara kalian masih ada yang meneteskan air mata karena teringat rumah. Masih ada yang canggung berbaur dengan teman baru. Percayalah, perasaan itu adalah hal yang sangat lumrah. Semua orang hebat, para kiai, ustadz, dan ustadzah di depan kalian ini, pernah merasakan tangis rindu yang sama di minggu-minggu pertama mereka.”
Namun, rasa rindu itu tidak boleh menjadi penghalang untuk bertumbuh. Pesantren, menurut beliau, merupakan tempat menempa pribadi agar tumbuh menjadi insan yang kuat lahir dan batin.
“Namun, anak-anakku, hapus air mata kalian. Tatap ke depan. Kalian berada di sini bukan untuk bersedih, melainkan untuk ditempa. Pesantren ini ingin mencetak kalian menjadi generasi Ahlul Izzah—generasi yang memiliki kemuliaan, kehormatan, dan harga diri karena agama dan akhlaknya.”

Tiga Pilar Ahlul ‘Izzah
Dalam amanatnya, Kiai Zahid menguraikan tiga fondasi yang harus menjadi pegangan seluruh santri selama menempuh pendidikan di Daar el-Qolam 3, yaitu Ahlu Ziyādah, Ahlu Qiyādah, dan Ahlu Riyāḍah.
Selalu Bertambah Menjadi Lebih Baik
Pilar pertama adalah Ahlu Ziyādah, yakni pribadi yang terus bertumbuh dan tidak pernah merasa cukup dengan capaian hari ini.
“Seorang santri tidak boleh hidup dalam stagnasi. Seorang Ahlu Ziyadah adalah pribadi yang selalu haus akan nilai tambah, tidak pernah merasa puas dengan capaian hari ini, dan senantiasa berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari.”
Beliau mengingatkan bahwa semangat bertumbuh dan bertambah itu sejalan dengan doa yang diajarkan Allah Swt. dalam Al-Qur’an
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Ṭāhā: 114)
Menurut beliai, pertumbuhan bukan hanya terlihat dari pencapaian besar, melainkan lahir dari kebiasaan memperbaiki diri secara konsisten setiap hari, baik dalam ilmu, ibadah, hafalan Al-Qur’an, adab, akhlak, maupun kemampuan berbahasa.
Belajar Memimpin Dimulai dari Diri Sendiri
Pilar kedua adalah Ahlu Qiyādah, yaitu karakter kepemimpinan.
Kiai Zahid mengutip sabda Rasulullah ﷺ sebagai dasar bahwa setiap manusia pada hakikatnya adalah seorang pemimpin.
“كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ”
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”
Beliau menjelaskan bahwa kepemimpinan pertama bukanlah memimpin orang lain, melainkan mengendalikan diri sendiri.
“Kepemimpinan selalu dimulai dari diri sendiri. Pimpin hawa nafsu agar tidak dikuasai kemalasan, pimpin lisan agar terjaga dari ucapan yang sia-sia, dan pimpin hati agar dipenuhi kasih sayang kepada saudara-saudara sesama santri.”
Kehidupan bersama di pesantren, lanjut beliau, merupakan ruang terbaik untuk belajar melayani, saling membantu, serta mendahulukan kepentingan bersama dibandingkan kepentingan pribadi.
Menjadi Pelopor Kebaikan
Pilar ketiga adalah Ahlu Riyāḍah, yaitu membiasakan diri menjadi pelopor dalam setiap kebaikan.
Menurut Kiai Zahid, kepemimpinan tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan terus-menerus.
“Pesantren adalah gelanggang Riyāḍah. Riyāḍah yang kita maksud bukan sekadar latihan menahan diri, tetapi latihan untuk menjadi pelopor dalam kebaikan.”
Beliau mencontohkan bentuk kepeloporan yang dapat dimulai dari kehidupan sehari-hari, seperti menjadi yang pertama datang ke masjid, paling siap mengikuti pelajaran, menjaga kebersihan lingkungan, membantu teman, dan menaati seluruh aturan pesantren.
Untuk menguatkan pesan tersebut, beliau mengutip hadis Rasulullah saw:
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
“Barang siapa memulai suatu kebaikan dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim)
Beliau kemudian mengajak seluruh santri agar tidak menunggu orang lain berubah terlebih dahulu.
“Maka jadilah santri yang berani memulai kebaikan. Jangan menunggu orang lain berubah terlebih dahulu, tetapi jadilah orang yang mengawali perubahan.”

Menjawab Harapan Orang Tua
Menjelang akhir amanatnya, suasana upacara berubah semakin khidmat. Kiai Zahid mengajak para santri mengingat kembali pengorbanan orang tua yang mengantarkan mereka ke pesantren dengan penuh keikhlasan dan doa.
“Ketahuilah, di setiap sujud malam orang tua, guru, kiai kalian, ada nama kalian yang selalu disebut dalam tangis dan doa mereka.”
Beliau mengingatkan bahwa orang tua menitipkan anak-anaknya di pesantren bukan karena ingin berjauhan, melainkan karena berharap mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
“Mereka menyerahkan permata-permata terindahnya ke pesantren ini dengan harapan kelak kalianlah yang akan menggandeng tangan mereka menuju syurga Allah.”
Karena itu, kerinduan kepada keluarga hendaknya diubah menjadi tenaga untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
“Maka, saat rasa rindu itu datang menyapa, saat lelah mulai berbisik, ingatlah senyum orang tua kalian. Jadikan rindu itu sebagai bahan bakar semangatmu.”
Mengakhiri amanatnya, Kiai Zahid menyampaikan doa dan harapan agar seluruh santri menjalani perjalanan pendidikan di pesantren dengan hati yang teguh dan langkah yang mantap.