
Aula Tasabuq Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza dipenuhi suasana hangat pada Ahad, 19 Juli 2026. Wajah-wajah baru memenuhi ruangan dengan beragam ekspresi. Ada yang masih menyimpan rindu kepada keluarga, ada pula yang menatap penuh rasa ingin tahu terhadap kehidupan baru yang akan dijalani.
Saat itu, berlangsung Penobatan Juara Kelas dan Bintang Santri Tahun Ajaran 2025/2026. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya perjalanan baru sekaligus peneguhan nilai-nilai yang akan menyertai kehidupan santri selama menuntut ilmu di pesantren.
Acara dihadiri Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., beserta seluruh dewan guru dan santri. Hadir pula perwakilan Yunus Emre Institute Jakarta—yakni Fiqhy Rodhiyya Purnama, B.A. (General Secretary), Abdul Fattah Alfat, B.A. (Coordinator of Education), serta Zuhdi Izdihar, B.Sc. (Coordinator of Media Relations).
Seusai prosesi penobatan, K.H. Zahid Purna Wibawa menyampaikan taujihat al-‘ammah yang sarat dengan pesan pendidikan, kemandirian, akhlak, dan makna kehidupan di pesantren.
Belajar Kemandirian
Mengawali tausiyahnya, Kiai Zahid menyampaikan rasa syukur karena dapat kembali berkumpul bersama seluruh keluarga besar Daar el-Qolam 3. Beliau memberi perhatian khusus kepada para santri baru yang baru saja memulai kehidupan sebagai santri.
Menurut beliau, hari-hari pertama di pesantren merupakan awal dari proses pendewasaan. Untuk pertama kalinya, banyak santri harus tinggal jauh dari kedua orang tua, mengatur kebutuhan sendiri, bangun sebelum fajar tanpa dibangunkan keluarga, merapikan tempat tidur, mengelola lemari, hingga belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Beliau melihat optimisme terpancar dari wajah para santri.
“Mudah-mudahan ini adalah awal dari keberhasilan dalam menggapai cita-cita,” kata Kiai Zahid.
Kiai Zahid mengingatkan bahwa kehidupan di pesantren bukan sekadar latihan hidup mandiri. Lebih dari itu, setiap santri sedang belajar menyerahkan seluruh perjalanan hidupnya kepada Allah Swt.
Dengan keikhlasan orang tua yang mengantarkan putra-putrinya menuntut ilmu, beliau berharap para santri mampu membuktikan bahwa mereka sanggup menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan bertanggung jawab.

Pesantren Adalah Rumah Kasih Sayang
Kiai Zahid mengajak para santri memandang pesantren sebagai keluarga besar. Beliau menegaskan bahwa para guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas, melainkan orang tua yang akan mendampingi perjalanan para santri selama berada di pesantren.
“Kami guru-guru pengajar adalah ayah bunda kalian. kalian tidak sendirian. Kami sebagai orang tua pengganti orang tua kandungmu fin-nasab di rumah. kami adalah orang tua kandungmu fil ilmi, siap untuk berbagi bersama, belajar bersama, membimbing kalian untuk menggapai masa depan yang cerah. kita semua di sini adalah satu keluarga, satu keluarga yang saling menyayangi dan saling menjaga,” ujar beliau.
Beliau juga mengingatkan bahwa kecintaan seseorang terhadap suatu tempat sering kali bukan ditentukan oleh kemegahan bangunannya, melainkan oleh orang-orang yang menghidupkan tempat tersebut.
Bangunan megah, fasilitas lengkap, ataupun ruangan berpendingin udara tidak akan bermakna apabila kehilangan kehangatan hubungan antarmanusia. Sebaliknya, lingkungan sederhana akan terasa begitu indah apabila dipenuhi kasih sayang, kepedulian, dan saling menjaga.
Nilai itulah yang menurut beliau harus menjadi budaya kehidupan pesantren.
“Nilai itu lebih penting. value itu lebih penting daripada sebuah bangunan,” ucap beliau.
Untuk memperkuat pesan tersebut, Kiai Zahid mengutip sabda Rasulullah saw.: “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”
Karena itu, kehidupan di pesantren adalah ruang untuk saling menguatkan dalam perjalanan mencari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Santri Ahlul ‘Izzah
Kiai Zahid kemudian mengajak para santri melihat perjalanan hidup para nabi sebagai pelajaran berharga. Nabi Musa a.s., kata beliau, dibesarkan di istana Fir’aun, penguasa yang kelak menjadi musuhnya. Nabi Yusuf a.s. justru ditempa melalui kesunyian penjara sebelum akhirnya memimpin sebuah negeri. Perjalanan hidup para nabi menunjukkan bahwa Allah sering kali menyiapkan manusia besar melalui jalan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Begitu pula dengan kehidupan para santri. Menurut beliau, boleh jadi Allah memilih Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 sebagai tempat untuk membentuk pribadi-pribadi yang kelak memikul amanah jauh lebih besar. Beliau mengingatkan bahwa sepuluh, lima belas, atau dua puluh tahun mendatang, para santri hari ini dapat menjadi pemimpin umat.
Beliau kembali mengingatkan jati diri santri Daar el-Qolam 3 sebagai Ahlul ‘Izzah, yaitu pribadi-pribadi yang dipersiapkan menjadi Ahlul Ziyadah, Ahlul Qiyadah, dan Ahlul Riyadah.
Ahlul Ziyadah adalah mereka yang terus bertumbuh sebagai pribadi yang berakhlak (mutakhalliq), pembelajar (muta’allim), dan berperadaban (mutamaddin). Ahlul Qiyadah adalah generasi pemimpin yang mampu menjadi pemberi peringatan sekaligus pemimpin umat (mundzir wa qâ’id al-qaum). Sementara Ahlul Riyadah merupakan pribadi-pribadi yang siap menjadi pembaharu masyarakat (muslih al-qaum), berani menyampaikan kebenaran meskipun harus berdiri sendirian.

Prestasi Tidak Hanya Soal Nilai, tetapi Karakter, Adab, dan Ketakwaan
Kiai Zahid menjelaskan, penghargaan yang diterima para santri bukan sekadar bentuk apresiasi atas nilai akademik yang tinggi. Lebih dari itu, penghargaan tersebut merupakan penghormatan atas proses panjang yang mereka jalani dengan penuh kesungguhan.
Beliau menjelaskan bahwa sistem penilaian di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 tidak bertumpu pada angka rapor semata. Sejak semester kedua tahun ajaran sebelumnya, unsur akademik dan nonakademik dipadukan sehingga yang dinilai adalah keseluruhan kepribadian seorang santri.
“Peringkat di pondok tidak hanya ditentukan dari nilai rata-rata, tetapi dari keseluruhan pribadimu. Prestasi akademikmu, prestasi nonakademikmu. Nilai bukan nomor satu. Nomor satu di pondok adalah karakter yang kuat,” jelas Kiai Zahid.
Apresiasi yang diberikan kepada para santri sesungguhnya merupakan penghargaan atas perjuangan yang mungkin tidak pernah terlihat. Di balik keberhasilan berdiri di atas panggung, ada malam-malam panjang yang diisi dengan belajar, ada rasa rindu kepada keluarga yang harus dikalahkan, ada kelelahan yang harus dilawan, serta ada doa yang terus dipanjatkan.
“Sesungguhnya yang sedang kita apresiasi bukan hanya hasil akhirnya. Kakak-kakak yang tadi naik ke atas panggung tidak serta-merta bisa berdiri di sana tanpa perjuangan, tanpa proses belajar yang panjang, tanpa melawan rasa rindu kepada rumah. Kami mengapresiasi zuhdun, kedisiplinanmu, kesabaranmu, keteguhan jiwa dan mentalmu, serta kesungguhanmu yang tidak pernah berhenti,” ungkap Kiai Zahid.
Beliau pun menyampaikan rasa hormat kepada seluruh santri, bukan hanya mereka yang memperoleh penghargaan, tetapi juga mereka yang masih terus berjuang kualitas diri.
Al-Qur’an Mengajarkan Ukuran Kemuliaan
Kiai Zahid kemudian mengajak para santri merenungkan cara Al-Qur’an memandang kemuliaan manusia. Di tengah kehidupan modern, katanya, banyak orang menilai keberhasilan berdasarkan harta, jabatan, atau popularitas. Padahal ukuran tersebut tidak selalu menjadi ukuran di hadapan Allah Swt. Yang dinilai Allah bukanlah apa yang dimiliki seseorang, melainkan siapa dirinya.
Beliau kemudian membacakan firman Allah Swt. dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut, menurut beliau, menjadi fondasi pendidikan pesantren.
Pesantren tidak semata-mata ingin melahirkan orang-orang yang cerdas secara intelektual. Banyak lembaga pendidikan lain mampu menghasilkan lulusan yang cerdas. Akan tetapi, pesantren memiliki cita-cita yang lebih tinggi.
Pesantren ingin membentuk manusia yang ilmunya melahirkan adab, kekuatannya melahirkan amanah, keberhasilannya melahirkan rasa syukur, dan kedudukannya membawa manfaat bagi orang lain. Nilai-nilai itulah yang menjadi ruh pendidikan di Daar el-Qolam 3.
Adab Didahulukan Sebelum Ilmu
Kiai Zahid mengutip nasihat masyhur Imam Malik rahimahullah:
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Beliau menjelaskan bahwa kalimat singkat tersebut menjadi fondasi pendidikan Islam, termasuk yang diajarkan dalam Ta’lim al-Muta’allim karya Imam Az-Zarnuji.
Karena itu, para santri tidak boleh menganggap remeh hal-hal kecil yang diajarkan di pesantren. Menghormati buku, menjaga kebersihan kamar, berbicara dengan santun, menghargai guru, menyayangi teman, serta menjaga lingkungan merupakan bagian dari pendidikan karakter yang memiliki nilai sangat besar.
Menurut beliau, apabila seorang santri belum mampu menghormati buku yang menjadi sumber ilmu, akan sulit baginya menghormati guru yang menyampaikan ilmu. Begitu pula jika seseorang belum mampu menjaga kebersihan dirinya sendiri, akan lebih sulit baginya menjaga kebersihan lingkungan.
Seluruh kebiasaan yang nampak kecil tersebut sesungguhnya sedang membangun akhlak kolektif, yakni kesadaran untuk hidup berdampingan dengan penuh penghormatan terhadap orang lain.
Pondok Berdiri karena Saling Menyayangi
Menjelang akhir tausiyahnya, Kiai Zahid mengajak seluruh santri melihat kehidupan pesantren sebagai rumah yang dibangun di atas kasih sayang. Beliau mengingatkan bahwa setiap santri sedang menjalani perjalanan yang berbeda.
Ada yang hari itu naik ke panggung menerima penghargaan.
Ada yang masih berusaha memperbaiki prestasi akademiknya.
Ada pula santri baru yang sedang berjuang mengatasi rasa rindu kepada orang tua agar mampu bertahan menjalani kehidupan pesantren.
Meski berbeda perjalanan, seluruh santri memiliki tujuan yang sama.
Pondok ini hidup bukan karena siapa yang paling unggul, melainkan karena seluruh penghuninya saling menjaga, saling menghormati, dan saling menguatkan.
“Nilai yang sama yang kita perjuangkan adalah bahwa di pondok ini kita semua saling menyayangi, saling menjaga, dan saling menghormati, bukan karena siapa yang lebih unggul,” kata Kiai Zahid.
Di penghujung tausiyahnya, Kiai Zahid mengajak seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza memasuki tahun ajaran baru dengan tekad yang sama: menjadikan pesantren sebagai rumah yang damai, penuh kekeluargaan, serta dipenuhi semangat belajar yang tinggi.
“Mari kita bulatkan tekad untuk menjadikan menjadikan pondok pesantren kita ini sebagai tempat yang penuh dengan kedamaian pondok yang penuh dengan rasa kekeluargaan dan semangat belajar yang tinggi. saya ingin lingkungan pondok ini menjadi lingkungan yang harmonis,” ujar beliau.