Khutbatul ‘Arsy Daar el-Qolam 3: Menanamkan Nilai-nilai Pesantren, Membentuk Generasi Ahlul ‘Izzah

Khutbatul ‘Arsy Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza kembali menjadi pintu awal perjalanan para santri memasuki tahun ajaran baru. Bertempat di Aula Tasabuq pada Ahad/Senin, 26-27 Juli 2026, kegiatan tersebut dihadiri oleh Mudir al-Ma’had K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., didampingi Ibu Hj. Nyai Lilis Hafidzoh, S.K.M. serta diikuti oleh seluruh santri dan guru. Dalam suasana yang khidmat, di babak pertama (terdiri dari tiga babak) para santri diajak menelusuri sejarah berdirinya Daar el-Qolam, memahami falsafah pendidikan pesantren, serta menyerap nilai-nilai yang menjadi ruh kehidupan di Kampus Dza ‘Izza sebagai bekal menapaki perjalanan menuntut ilmu.

Kiai Zahid Menjelaskan, Khutbatul ‘Arsy bukanlah sekadar tradisi tahunan. Ia merupakan titik awal pembentukan cara berpikir, menuntut ilmu, sekaligus cara memaknai kehidupan sebagai seorang santri.

Mengawali penyampaiannya, Kiai Zahid mengajak seluruh santri memahami mengapa setiap tahun ajaran selalu diawali dengan Khutbatul ‘Arsy. Beliau mengatakan, seseorang tidak akan mampu menerima ilmu apabila masih merasa dirinya telah penuh.

Beliau mengibaratkannya seperti sebuah botol. Botol yang telah penuh tidak mungkin diisi kembali. Bahkan botol yang kosong sekalipun, apabila tertutup rapat, tetap tidak akan dapat menerima air. Demikian pula manusia. Selama hati dan pikirannya masih dipenuhi rasa paling tahu atau merasa tidak membutuhkan bimbingan, ilmu akan sulit masuk dan bersemayam.

Karena itulah Khutbatul ‘Arsy menjadi ikhtiar untuk mengosongkan diri, mempersiapkan hati, serta membuka ruang agar seluruh proses pendidikan selama di pesantren dapat diterima dengan baik.

Setelah mengajak santri memahami makna menuntut ilmu, beliau membawa seluruh peserta menelusuri perjalanan panjang berdirinya Pondok Pesantren Daar el-Qolam.

Satu demi satu kisah para pendiri dihadirkan kembali. Nama Abah H. Qasad Mansyur dan K.H. Ahmad Rifai Arif disebut bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, melainkan sosok yang meletakkan fondasi perjuangan dengan pengorbanan yang luar biasa.

Beliau menceritakan bagaimana cita-cita mendirikan pesantren bermula dari keinginan Abah H. Qasad Mansyur agar lulusan Madrasah Ibtidaiyah Masyariqul Anwar memiliki tempat melanjutkan pendidikan. Pilihan jatuh kepada sistem pendidikan Pondok Modern Gontor melalui kurikulum Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah (KMI). Dari sinilah lahir gagasan besar yang kemudian diwujudkan oleh putra sulungnya, K.H. Ahmad Rifai Arif.

Beliau juga mengisahkan perjalanan K.H. Ahmad Rifai Arif ketika menempuh pendidikan di Pondok Modern Gontor. Masa studi yang ditempuh selama tujuh tahun bukan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, melainkan karena beliau pernah mengalami sakit hingga harus mengulang kelas sesuai aturan pesantren saat itu.

Usai menyelesaikan pendidikan, K.H. Ahmad Rifai Arif tidak langsung pulang. Atas permintaan gurunya, K.H. Imam Zarkasyi, beliau terlebih dahulu mengabdi di Gontor. Ketika akhirnya meminta izin untuk kembali dan mendirikan pesantren, K.H. Imam Zarkasyi hanya mengajukan satu pertanyaan, “Untuk apa engkau mendirikan pondok?”

Jawaban yang disampaikan sangat singkat, namun menjadi ruh Daar el-Qolam hingga hari ini.

“Ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Jawaban itulah yang akhirnya mengantarkan beliau memperoleh izin kembali ke Tangerang untuk mewujudkan cita-cita mendirikan Pondok Pesantren Daar el-Qolam.

Tidak berhenti pada sejarah awal berdirinya pesantren, Kiai Zahid juga mengajak para santri memahami perjalanan estafet kepemimpinan Daar el-Qolam. Setelah wafatnya K.H. Ahmad Rifai Arif pada 1997, perjuangan diteruskan oleh Drs. K.H. Ahmad Syahiduddin, bersama K.H. Adrian Mafatihullah Karim, M.A., Drs. Hj. Enah Huwainah, dan keluarga besar Daar el-Qolam.

Pada masa kepemimpinan beliau, Daar el-Qolam berkembang semakin luas. Lahir Daar el-Qolam 2, kemudian Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, disusul Daar el-Qolam 4 dan Daar el-Qolam 5. Seluruh perkembangan tersebut, menurut Kiai Zahid, merupakan kesinambungan dari cita-cita besar para pendiri, bukan sekadar pembangunan fisik.

Dalam kesempatan itu, beliau juga mengenang sosok almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin yang wafat pada 26 Februari 2024. Para santri tidak hanya mendengar sejarah, tetapi turut merasakan bagaimana perjuangan para pendahulu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Memasuki bagian berikutnya, Kiai Zahid menjelaskan mengapa kampus ini dinamakan Dza ‘Izza. Menurut beliau, “‘izzah” berarti kemuliaan, keluhuran, dan kehormatan. Namun kemuliaan itu bukan sesuatu yang otomatis dimiliki ketika seseorang menjadi santri. Daar el-Qolam 3 adalah tempat untuk mencari kemuliaan melalui ilmu, adab, ibadah, dan proses pendidikan yang panjang.

Beliau menegaskan bahwa santri datang ke pesantren bukan karena telah mulia, melainkan untuk belajar menjadi pribadi yang dimuliakan Allah melalui ilmu dan akhlak.

Penjelasan tersebut kemudian disambung dengan uraian mengenai filosofi logo Daar el-Qolam 3. Setiap unsur dalam logo dijelaskan maknanya, mulai dari bintang sebagai lambang cita-cita yang tinggi, kubah sebagai simbol ibadah, Ka’bah sebagai lambang persatuan umat, Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar pendidikan, bulan sabit sebagai semangat pembaruan, pena sebagai lambang ilmu pengetahuan, pedang sebagai keberanian menegakkan kebenaran, hingga bingkai segi lima yang menggambarkan nilai-nilai Islam.

Tidak hanya mengenalkan identitas pesantren, Kiai Zahid juga menanamkan arah pendidikan Daar el-Qolam 3 melalui visi membentuk generasi Ahlul ‘Izzah. Visi tersebut diterjemahkan ke dalam tiga karakter utama, yakni Ahluz Ziyadah, Ahlul Qiyadah, dan Ahlur Riyadah, yang diharapkan menjadi identitas setiap lulusan Daar el-Qolam.

Nilai-nilai tersebut kemudian diperkokoh dengan penjelasan mengenai Panca Jiwa Pondok, yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan. Menurut beliau, seluruh kehidupan pesantren bertumpu pada lima nilai tersebut. Dari sanalah lahir pribadi yang berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas.

Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan. Semua memerlukan proses panjang, sebagaimana perjalanan para pendiri Daar el-Qolam. Karena itu, setiap santri diminta memanfaatkan waktu selama berada di pesantren untuk belajar, menjaga adab, menaati peraturan, menghormati guru, serta menjaga nama baik keluarga dan almamater.

Bagi Kiai Zahid, sejarah bukan sekadar kisah masa lampau. Mengutip pemikiran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, beliau menjelaskan bahwa sejarah merupakan pelajaran yang mengandung penelitian dan hikmah bagi kehidupan.

“Sesungguhnya sejarah, pada lahirnya, hanyalah berita tentang hari-hari dan peristiwa-peristiwa masa lampau. Akan tetapi, hakikatnya merupakan kajian yang mendalam, penelitian yang cermat, serta pelajaran tentang sebab-sebab terjadinya berbagai peristiwa”

Melalui sejarah, seseorang tidak hanya mengetahui apa yang pernah terjadi, tetapi juga memahami sebab-sebabnya serta mengambil pelajaran untuk masa depan.

Khutbatul ‘Arsy hari itu akhirnya tidak hanya menjadi forum pengenalan lingkungan pesantren. Lebih dari itu, ia menjadi ruang pewarisan nilai, tempat sejarah bertemu dengan cita-cita, dan saat ketika para santri mulai memahami bahwa perjalanan mereka di Daar el-Qolam bukan sekadar menempuh pendidikan, melainkan melanjutkan estafet perjuangan yang telah dirintis oleh para pendiri.

Dengan bekal sejarah, nilai, dan falsafah yang ditanamkan sejak hari pertama, para santri diharapkan tumbuh sebagai generasi Ahlul ‘Izzah—generasi yang unggul dalam ilmu, kokoh dalam akhlak, matang dalam kepemimpinan, serta siap menjadi pelopor dan pembaruan bagi umat, bangsa, dan peradaban.