
Masih banyak orang menilai bahwa kecerdasan hanya diukur lewat angka dan nilai ujian. Padahal, anak-anak punya cara unik dalam mengekspresikan kecerdasannya—ada yang piawai berbicara, ada yang lincah bergerak, ada pula yang peka terhadap perasaan orang lain. Dalam wawancara pada Ahad (20/7/2025) ini, Ustazah Sustia Ningsih, guru di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, mengajak kita melihat lebih luas tentang dunia multiple intelligence. Ia menjelaskan bagaimana guru bisa menyentuh potensi terdalam siswa, kendala yang sering dihadapi, serta pentingnya menghargai kecerdasan di luar logika dan matematika. Sebuah diskusi yang membuka wawasan bahwa setiap anak layak dikenal lebih dekat—bukan sekadar dinilai dari angka.
Tiap anak memiliki potensi kecerdasan yang berbeda-beda. Bagaimana cara kita mengenali kecerdasan yang dominan pada tiap-tiap anak?
Kecerdasan dominan pada anak dapat dikenali dengan cara melihat perilaku yang paling sering mereka tunjukkan dalam kehidupannya. Biasanya, perilaku itu merujuk pada hobi atau minat anak tersebut. Observasi disertai asesmen juga bisa mengonfirmasi terkait kepuasan anak terhadap hasil dari perilakunya. Yang paling berdampak, itulah yang kita simpulkan.
Bagaimana guru bisa mengembangkan multiple intelligence di kelas, sementara setiap anak membutuhkan pendekatan berbeda? Apakah ini terlalu rumit?
Pembelajaran berdiferensiasi adalah salah satu contoh pendekatan yang bisa dilakukan guru untuk mengembangkan multiple intelligence di kelas. Butuh perencanaan matang dan persiapan ekstra sebelum memulai pelajaran. Terlihat rumit dalam mengidentifikasi, tetapi mudah ketika proses pembelajaran. Apalagi manfaat yang diterima anak akan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan.
Apa saja kendala utama dalam mengembangkan potensi unik tiap anak?
Orang tua, guru, atau institusi pendidikan yang kurang mendukung pengembangan potensi unik anak karena kurangnya pemahaman terhadap jenis-jenis kecerdasan yang diakui dalam dunia pendidikan. Pengukuran kecerdasan pada umumnya berporos pada nilai akademik semata. Atau mungkin mengerti tetapi tidak tahu bagaimana cara menerapkannya dalam pembelajaran.
Ekstrakurikuler yang kurang memadai sehingga anak tidak bisa menemukan potensi uniknya, bisa jadi karena kurangnya sumber daya manusia seperti pelatih yang berpengalaman atau keterbatasan finansial sehingga anak tidak mampu mengikuti kegiatan lain di luar sekolah.
Mengapa masyarakat cenderung hanya menghargai kecerdasan logis/matematis? Bagaimana dampaknya pada anak yang berbakat di bidang lain?
Karena kecerdasan logis-matematislah yang paling bisa dinilai dengan angka, sehingga terlihat nyata dan dipahami kebanyakan orang. Masyarakat juga menilai bahwa kecerdasan ini yang paling sering dibutuhkan dalam dunia kerja. Dampaknya pada anak yang berbakat di bidang lain adalah kurangnya percaya diri atau bahkan tidak menyadari kecerdasan yang dimilikinya. Bakat terpendam itu tidak akan muncul di permukaan karena kurangnya stimulus dari lingkungan yang sering mengabaikannya.
Benarkah hanya kecerdasan logis/matematis yang menjamin keberhasilan akademik, karier, dan kesuksesan? Bagaimana dengan peluang sukses melalui kecerdasan lain seperti musik, kinestetik, atau interpersonal?
Penentu keberhasilan akademik, karier, dan kesuksesan tidak bisa hanya mengandalkan satu kecerdasan, misalnya kecerdasan logis-matematis. Setiap orang mempunyai semua potensi jenis kecerdasan dengan porsi yang berbeda-beda sesuai dengan tujuan hidupnya. Peluang sukses sangat terbuka untuk kecerdasan lainnya seperti musik, kinestetik, atau interpersonal. Kesuksesan itu didukung dengan kreativitas, ketekunan, dan kemampuan melihat peluang. Kecerdasan musik, contohnya, adalah menjadi musisi, penyanyi, komposer, produser musik, penulis lagu, dan lain-lain. Kecerdasan kinestetik contohnya adalah menjadi penari, instruktur olahraga, atlet, paramedis, mekanik, pembalap, dan lain-lain. Kecerdasan interpersonal contohnya adalah menjadi psikolog, konselor, guru, motivator, trainer, coach, dan lain-lain.