
Yunus Emre Enstitüsü Hadiri Penobatan Juara Kelas dan Bintang Santri Daar el-Qolam 3
Suasana Aula Tasabuq Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza pada Ahad (19/7/2026) terasa penuh semangat. Tepuk tangan bergema saat Penobatan Juara Kelas dan Bintang Santri Tahun Ajaran 2025/2026. Di balik penghargaan yang diberikan kepada para santri berprestasi, tersimpan makna yang lebih luas: ikhtiar pesantren membangun budaya prestasi akademik dan membentuk akhlak yang mulia.
Acara tersebut dihadiri Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., para asatiz, seluruh santri, serta tamu dari Yunus Emre Enstitüsü (YEE) Jakarta, yaitu Fiqhy Rodhiyya Purnama, B.A., Abdul Fattah Alfat, B.A., dan Zuhdi Izdihar, B.Sc.
Sebelum prosesi penobatan dimulai, pihak YEE memperoleh kesempatan menyampaikan sambutan sebagai mitra yang saat ini bekerja sama dengan Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 dalam pengembangan pembelajaran bahasa Turki melalui program LOTEA (Language Other Than English and Arabic).
Jejak Panjang Persahabatan Indonesia dan Turki
Dalam sambutannya, Fiqhy Rodhiyya Purnama, B.A. menyampaikan salam dari Direktur Yunus Emre Enstitüsü Jakarta, Dr. Cemal Şahin, yang berhalangan hadir.
Dengan penuh antusiasme, ia mengajak para santri melihat bahwa hubungan Indonesia dan Turki bukanlah hubungan yang baru lahir, melainkan memiliki akar sejarah yang panjang.
Menurutnya, kedua negara memiliki banyak kesamaan, mulai dari mayoritas penduduk yang beragama Islam hingga karakter masyarakat dan kebudayaannya.
Ia kemudian mengulas hubungan historis antara Kesultanan Utsmani dan Kesultanan Aceh yang telah terjalin sejak abad ke-16. Salah satu bentuk hubungan tersebut adalah korespondensi antara Sultan Aceh dan Sultan Suleiman al-Qanuni ketika Aceh menghadapi ancaman Portugis di kawasan Selat Malaka. Hubungan itu terus berkembang hingga pada masa akhir Kesultanan Utsmani berdiri kantor perwakilan diplomatik di Batavia.
“Jadi, kita memiliki sejarah hubungan yang panjang dengan Utsmani,” katanya.
Melalui Yunus Emre Enstitüsü, hubungan sejarah tersebut kini dilanjutkan melalui jalur kebudayaan dan pendidikan, salah satunya lewat pengajaran bahasa Turki di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bahasa Menjadi Jembatan Kebudayaan
Kehadiran Yunus Emre Enstitüsü di Daar el-Qolam 3 bukan sekadar kunjungan seremonial. Di balik pertemuan tersebut terjalin semangat membangun jembatan kebudayaan melalui bahasa.
Ustaz Faza Haikal dari University Center Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menjelaskan bahwa kehadiran perwakilan YEE merupakan bentuk dukungan terhadap berbagai program pendidikan yang dikembangkan pesantren, terutama pembelajaran bahasa Turki dalam program LOTEA.
Usai mengikuti rangkaian penobatan, kedua belah pihak melanjutkan diskusi khusus mengenai perkembangan pembelajaran bahasa Turki yang telah berjalan selama sepekan. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk mengevaluasi pelaksanaan program sekaligus membahas berbagai masukan dari para pengajar YEE agar kualitas pembelajaran terus meningkat.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat hubungan kerja sama yang telah terjalin antara pondok pesantren dan Yunus Emre Enstitüsü, khususnya dalam penyelenggaraan program LOTEA (Language Other Than English and Arabic) untuk bahasa Turki,” ujar Ustaz Faza.
Ia menambahkan, evaluasi bersama menjadi bagian penting agar pembelajaran bahasa Turki dapat berlangsung semakin efektif serta memberi manfaat yang optimal bagi para santri.
Dukungan terhadap Budaya Prestasi
Menurut Ustaz Faza, kehadiran YEE dalam penobatan Juara Kelas dan Bintang Santri juga menjadi bentuk apresiasi terhadap budaya prestasi yang terus dibangun di lingkungan Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.
Pesantren tidak hanya berupaya membentuk santri yang unggul dalam bidang akademik dan keagamaan, tetapi juga membekali mereka dengan kemampuan bahasa asing sebagai bekal menghadapi dunia yang semakin terbuka.
Melalui program LOTEA, santri memiliki kesempatan mempelajari berbagai bahasa internasional, termasuk bahasa Turki, sehingga mampu memperluas wawasan sekaligus membuka peluang studi dan kolaborasi di tingkat global.
Membuka Peluang bagi Santri
Kerja sama dengan Yunus Emre Enstitüsü diharapkan tidak berhenti pada pembelajaran bahasa semata, tetapi terus berkembang menjadi berbagai program yang memberi manfaat lebih luas bagi para santri.
“Kami berharap kegiatan ini dapat semakin memperkuat sinergi antara pondok pesantren dan Yunus Emre Enstitüsü dalam mengembangkan program bahasa Turki. Kerja sama yang baik ini diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi santri untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing, memperluas wawasan internasional, serta mengenal budaya Turki secara lebih mendalam,” ungkap Ustaz Faza.
Ia juga berharap komunikasi dan koordinasi yang telah terjalin dapat menjaga keberlanjutan program yang ada sekaligus melahirkan berbagai inovasi baru dalam pengembangan pendidikan di pesantren.
“Selain itu, kami juga berharap komunikasi dan koordinasi yang terjalin melalui kegiatan seperti ini dapat mendukung keberlanjutan program yang sudah ada, sekaligus menghadirkan berbagai inovasi dan kesempatan baru yang bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di pondok pesantren,” pungkasnya.
Penobatan Juara Kelas dan Bintang Santri tahun ini menjadi lebih dari sekadar penghargaan atas capaian akademik. Kehadiran Yunus Emre Enstitüsü memperlihatkan bahwa budaya berprestasi di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza berjalan seiring dengan perluasan jejaring internasional.