Kajian Rutin Al-Asma al-Husna: Upaya Mengenal Allah

Selasa, 14 Juli 2026 menjadi langkah awal santri Dza ‘Izza kembali melanjutkan perjuangan menuntut ilmu setelah kurang lebih sebulan berlibur. Hari ini kegiatan belajar-mengajar di kelas sudah mulai berjalan sebagaimana mestinya. Begitu pun peraturan disiplin serta kegiatan pondok lainnya kembali aktif ditandai dengan nyaringnya suara bel yang mengatur mulai dan berhentinya rangkaian aktivitas. Termasuk di antaranya adalah kegiatan kajian rutin mingguan yang dilaksanakan sebelum Maghrib di Masjid al-Ibad ash-Shalihun.

Program kajian kitab turats yang sudah berjalan beberapa tahun belakangan menjadi salah satu kegiatan yang diaminkan oleh pimpinan pesantren sebagai media para santri mendalami ilmu agama dan menjaga warisan dan tradisi ulama salaf saleh. Sehingga bagian DKM periode 2026-2027, mendesain rapi program kajian ini demi terlaksana dengan baik dan mengkhatamkannya pada waktu yang ditentukan mencangkup capain-capaiannya.

Pada tahun ini, kitab yang dipilih untuk menjadi objek kajian para santri di masjid adalah kitab yang berjudul Syarah Asma Allah al-Husna karangan ulama tasawwuf asal Maroko, Syekh Ahmad Zarruq al-Fasi. Namanya tidak asing lagi bagi penggelut dunia tasawwuf, khususnya bagi pengikut Tarekat Syadziliyah. Dalam kitab tersebut, beliau mengupas secara ringkas satu persatu nama-nama Allah Swt yang berjumlah 99 itu. Beliau bukan hanya membahas maknanya saja. Lebih dari itu, beliau juga memberikan tuntunan bagaimana kita membangun ikatan kepada Allah Swt melalui nama-Nya. Juga bagaimana kita menghidupkan nama-Nya dalam kehidupan.

Kajian Asmaul Husna menjadi penting karena di Pondok Pesantren Dza Izza, santri dibiasakan untuk melafalkan Asmaul Husna sebanyak dua kali dalam sehari: sebelum azan subuh dan sebelum azan maghrib. Kebiasaan baik ini sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Hingga suatu saat, Ustaz H. Indra Jaya, M.A sebagai salah satu guru yang sempat mengalami masa kepemimpinan Alm. Drs. K.H. Ahmad Rifa’i Arief, pernah ditanya tentang awal mula tradisi pembacaan Asmaul Husna. Beliau menjelaskan bahwa pada zaman Kiai Rifa’i, tradisi ini belum ada. Pembacaan Asmaul Husna dipelopori oleh Alm. Drs. K.H. Ahmad Syahiduddin pada saat kepemimpinan beliau. Alhamdulillah hingga hari ini pesantren yang ditinggalkan beliau senantiasa menjaga warisan luhur yang beliau tanam sejak saat itu. Semoga setiap zikir yang keluar dari lisan santri yang melafalkan Asmaul Husna menjadi pahala bagi beliau. Amin.

Pada majelis perdananya, dimulai dengan pembukaan kajian Asmaul Husna yang akan dikaji pada tahun ini. Hal ini berlandaskan pada hadits Rasulullah ﷺ riwayat at-Tirmidzi tentang jumlah nama-nama Allah yang indah dan keutamaan menghafalnya. Hadits tersebut sebagai berikut:


إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدَةً، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah swt memiliki 99 nama: 100 kurang satu. Barang siapa yang menghafalnya, niscaya ia akan masuk surga.”

Dari hadits di atas, Syekh Ahmad Zarruq menjelaskan lima tingkatan pengamalan Asmaul Husna: pertama, menghafalnya; kedua, menjadikannya sebagai zikir harian; ketiga, memahaminya; keempat, menjalin ikatan batin dengan nama-Nya; kelima, menjadikannya sebagai akhlak dalam kehidupan.

Dalam rangka melestarikan tradisi luhur ini, DKM mengadakan kajian Asmaul Husna. Sehingga santri tidak berhenti pada lafaz dan hafalan. Ada makna yang harus dipahami dan ilmu yang mesti terbentuk dalam kehidupan. Memahami makna Asmaul Husna bukan hanya menjadi wasilah mengenal Allah Swt. Namun, juga upaya untuk berakhlak dengan akhlak Allah Swt kepada makhluk-Nya. Harapannya, dengan menghafal dan memahami Asmaul Husna, santri benar-benar mampu menjadi generasi yang berhak mendapatkan ‘Izzah, kemuliaan dari Allah swt. Amin.