Pelantikan Pengurus Mumtaza dan Sekjen Nihai 2026–2027: Menjadi Pemimpin, Belajar Menjadi Amanah


Di hadapan seluruh guru dan santri, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. menegaskan bahwa kepengurusan Mumtaza dan Sekjen Nihai bukan sekadar pergantian struktur organisasi, melainkan bagian dari kurikulum pesantren untuk menumbuhkan Ahlul ‘Izzah—santri yang belajar memimpin, menjadi pelopor, sekaligus terus bertumbuh melalui pengalaman.

Aula Tasabuq Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza menjadi ruang peralihan sebuah amanah. Pada Kamis, 17 September 2026, para santri yang akan menjalankan kepengurusan Mumtaza dan Sekjen Nihai periode 2026–2027 dilantik di hadapan seluruh guru dan santri.

Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., dalam tausiyahnya mengingatkan bahwa kepemimpinan merupakan bagian dari proses pendidikan di pesantren.

“Alhamdulillah, pada pagi menjelang siang ini kita berkumpul di tempat ini dalam rangka menjalankan salah satu kurikulum pondok pesantren untuk mencetak generasi Ahlul ‘Izzah. Ciri Ahlul ‘Izzah yang kedua adalah Ahlul Qiyadah—di situ ada jiwa kepemimpinan. Wadah Mumtaza dan Muntaha ini adalah tempat belajar kepemimpinan, sekaligus melatih Ahlur Riyadah yaitu jiwa kepeloporan.”

Di situlah pelantikan menemukan maknanya. Pengurus tidak hanya menerima jabatan, tetapi juga memasuki sebuah fase pendidikan kepemimpinan yang dijalankan melalui pengalaman nyata.


Dilantik Berarti Siap Belajar Memimpin
Kiai Zahid memberikan apresiasi kepada para santri yang dilantik. Menurutnya, kesiapan menerima amanah kepemimpinan membutuhkan kesiapan mental. Bahkan, ia secara khusus menyinggung para santri yang tetap hadir meskipun sedang dalam kondisi kurang sehat.

“Saya ingin mengucapkan selamat kepada anak-anakku yang dilantik. Dilantik itu tidak mudah, mentalnya harus siap. Akhir-akhir ini banyak orang tidak siap belajar memimpin. Saya apresiasi setinggi-tingginya bagi anak-anakku yang hari ini sedang sakit pun tetap rela datang untuk dilantik. Saya berhusnuzan bahwa kedatangan kalian dengan kondisi tubuh yang sakit berniat sungguh-sungguh untuk siap diajar menjadi seorang pemimpin.”

Kepada para santri kelas nihai yang telah menyelesaikan masa kepengurusan, Kiai Zahid menyampaikan penghargaan atas proses yang telah mereka jalani bersama para asatiz dalam membimbing adik-adik kelas.

“Bagi anak-anakku kelas nihai (pasca-kepengurusan) yang telah purnatugas belajar memimpin di Mumtaza, Ustadz ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kebersamaan dan dedikasi kalian yang telah bersama-sama para asatiz membimbing adik-adik kelasnya. Namanya proses belajar, ada yang memperoleh nilai 9, ada yang pas KKM, bahkan ada yang di bawah KKM. Selama Allah masih memberikan nikmat hidup sebelum ruh dicabut dari jasad kita, jangan pernah berhenti belajar.”

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah tausiyah Kiai Zahid: kepemimpinan tidak pernah selesai pada satu periode kepengurusan. Ketika satu amanah berakhir, proses belajar tetap berlangsung.


Tiga Pilar Ahlul ‘Izzah
Bagi santri kelas satu hingga kelas empat, khususnya mereka yang mulai memasuki jenjang kepemimpinan organisasi, Kiai Zahid menunjukkan tiga pilar Ahlul ‘Izzah yang perlu dipahami dan dipraktikkan. Pertama, Ahluz Ziyadah: mutakhalliq, muta’allim, mutamaddin. Kedua, Ahlul Qiyadah: menjadi mundzir wa qaidil qawm.
Ketiga, Ahlur Riyadah: menjadi muslihul qawm.

Ketiga nilai tersebut menjadi kerangka yang menghubungkan pendidikan karakter, kepemimpinan, dan kepeloporan. Santri tidak hanya diarahkan menjadi pribadi yang terus bertambah dalam kualitas diri dan ilmu, tetapi juga mampu memimpin serta memberi penerangan dan manfaat bagi orang lain.

Karena itu, organisasi santri diposisikan sebagai ruang praktik. Apa yang dipelajari secara konseptual memperoleh bentuknya ketika santri mulai menerima tugas, berkoordinasi dengan bagian lain, menyelesaikan persoalan, dan mengambil keputusan.


Organisasi Ibarat Mesin yang Harus Bergerak Bersama
Untuk menjelaskan hubungan antarbagian dalam organisasi, Kiai Zahid menggunakan perumpamaan sebuah kendaraan. Ketua Mumtaza diibaratkan sebagai mesin. Bagian-bagian organisasi menjadi instrumen, asrama menjadi roda, sementara santri kelas empat berperan seperti tekanan angin dalam ban. Tanpa tekanan yang terjaga, roda tidak akan bergerak dengan baik.

Perumpamaan tersebut memperlihatkan bahwa sebuah organisasi tidak berdiri hanya karena seorang ketua. Setiap bagian memiliki fungsi dan saling menentukan gerak satu sama lain.

Cara pandang serupa diterapkan pada pengembangan kegiatan ekstrakurikuler. Para kasubag di bawah bidang ekstrakurikuler—seni, olahraga, bela diri, dan keilmuan—diberikan tugas untuk menghidupkan setiap kegiatan yang menjadi bidangnya.

Pada bidang seni, misalnya, Dza ‘Izza Symphony menaungi paduan suara dan instrumen musik. Di samping itu terdapat musik tradisional Islami seperti marawis dan hadrah, seni rupa dan kaligrafi atau fine art, serta Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffazh.

Kiai Zahid mengingatkan bahwa latar belakang seorang pengurus tidak boleh membuatnya hanya memperhatikan cabang yang ia sukai.

“Meskipun latar belakang kalian dari klub musik/band, kalian tidak boleh pilih kasih; semua cabang seni menjadi amanah kalian.”

Sementara itu, Kabag Ekstrakurikuler bertugas mengoordinasikan seluruh cabang agar dapat berkembang dan menghasilkan prestasi. Regenerasi juga harus disusun secara terstruktur antara tim inti dan tim non-inti dari kelas empat, sehingga kesempatan latihan dapat diberikan secara adil kepada para santri.


Menyiapkan Kelas Akhir Menuju Perguruan Tinggi
Perhatian Kiai Zahid juga diarahkan kepada santri kelas akhir. Pada Januari mendatang, santri kelas akhir akan mengikuti program pembinaan intensif atau training camp selama satu bulan penuh di Villa La Ghofla, Cisarua.

Program tersebut difokuskan pada pendalaman materi UTBK serta persiapan seleksi SNBP perguruan tinggi negeri. Dalam pelaksanaannya, pengurus Mumtaza diharapkan membantu menjaga kedisiplinan teman-temannya agar proses pembinaan di La Ghofla berlangsung tertib.

Kepemimpinan, dalam konteks ini, tidak berhenti pada urusan internal organisasi. Pengurus juga belajar menjadi bagian dari proses pendidikan teman-temannya.

Kepada santri kelas satu hingga kelas empat, Kiai Zahid memberikan arahan agar mereka mendukung para pengurus yang sedang belajar menjalankan amanah.

“Untuk seluruh santri kelas satu hingga kelas empat: taati dan dukung arahan kakak-kakak pengurus Mumtaza dan ketua kamar yang sedang belajar memimpin. Jadilah makmum yang baik agar kelak saat kalian memimpin, kalian pun dimudahkan oleh Allah Swt. Setiap ujian dan gesekan dalam organisasi adalah proses penempaan agar kalian naik kelas kehidupan.”


Doa untuk Para Pengurus yang Baru Dilantik
Setelah menyampaikan berbagai arahan, Kiai Zahid mengajak seluruh hadirin berdoa. Beliau berdoa bagi seluruh keluarga besar pesantren, keberkahan ilmu dan umur para santri, serta kekuatan bagi mereka yang baru menerima amanah kepengurusan.

Sebelum mengakhiri tausiyah, Kiai Zahid menyampaikan terima kasih kepada seluruh asatiz, bagian disiplin, pengasuhan, serta Komisi Organisasi Santri (KOS) yang telah mendukung proses kepengurusan santri.

Beliau juga mengingatkan pada agenda akademik yang segera dihadapi. Mulai hari berikutnya, para santri akan menjalani Penilaian Tengah Semester atau Mid Exam.

“Persiapkan diri kalian dengan matang karena rekam jejak nilai rapor ini sangat menentukan keberhasilan masuk perguruan tinggi negeri impian kalian kelak.”

Pesan tersebut kembali menghubungkan kehidupan organisasi dengan tanggung jawab akademik. Menjadi pengurus tidak berarti mengabaikan kewajiban belajar. Justru kepemimpinan di pesantren menuntut santri mampu mengatur waktu, menjalankan amanah, dan tetap menjaga prestasi akademiknya.