Pembekalan Pengurus Mumtaza dan Sekjen Nihai 2026–2027: Jangan Mengecilkan Amanah, Semua Dipertanggung Jawabkan Pada Allah

Pengarahan Mudir al-Ma’had K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T. menekankan bahwa kepemimpinan di Mumtaza adalah proses belajar memimpin diri, bekerja dalam sistem, dan menjadi bagian dari kemaslahatan pondok.

Jumat malam, 18 September 2026, Ballroom Asy-Syahid menjadi ruang pertemuan, di mana para pengurus Mumtaza, Student Mobilizer, dan Federasi Ekstrakurikuler masa khidmat 2026–2027 berkumpul untuk menerima pengarahan mengenai amanah yang akan mereka jalankan selama satu tahun ke depan.

Pertemuan tersebut menghadirkan Mudir al-Ma’had Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., didampingi Ibu Hj. Nyai Lilis Hafidzoh, S.K.M., bersama Dr. Wahyuni Nafis, M.A., Dr. Abdul Latief, dan para Wakil Mudir. Mereka memberikan perspektif yang saling melengkapi tentang kepemimpinan, organisasi, kedisiplinan, pembagian peran, hingga cara memaknai amanah sebagai bagian dari proses pendidikan santri.

Kepemimpinan sebagai Bagian dari Pendidikan

K.H. Zahid Purna Wibawa, S.T., membuka arahannya dengan menjelaskan bahwa keberadaan organisasi di Dza ‘Izza tidak dapat dipisahkan dari cara pondok mendidik santri. Menurut Kiai Zahid, visi Dza ‘Izza tentang pembentukan generasi Ahlul ‘Izzah diturunkan ke dalam tiga orientasi utama, yaitu Ahluz-Ziyadah yang mencakup Mutakhalliq, Muta’allim, dan Mutamaddin; Ahlul-Qiyadah sebagai mundzir wa qaidil qawm; serta Ahlur-Riyadah sebagai munzirul qawm.

Karena itu, kepemimpinan bukan sekadar teori yang dipelajari melalui penjelasan di kelas. Ia harus dijalani melalui pengalaman nyata dalam organisasi.

“Karena itu kepemimpinan, leadership, atau Ahlul-Qiyadah serta nilai Ahlur-Riyadah untuk menciptakan santri yang Ahluz-Ziyadah—santri yang berperadaban—itu praktiknya, tidak hanya teorinya, adanya di organisasi ini.”

Dari sinilah keberadaan berbagai organisasi santri di Dza ‘Izza memperoleh maknanya. Proses tersebut bahkan dimulai sejak santri memegang peran sederhana di kelas dan kamar, kemudian berkembang melalui berbagai struktur hingga sampai pada Mumtaza sebagai organisasi yang disebut paling paripurna.

“Organisasi di Dza ‘Izza itu banyak, dari mulai yang terkecil sampai Mumtaza adalah yang paling paripurna. Dimulai dari ketua kelas, dari semenjak kelas satu sudah dilatih. Ada wakil ketua kelas, kemudian ada ketua kamar, kemudian ada pengurus yang sekarang disebut dengan penggerak atau mobilizer. Kemudian di situ juga ada namanya federasi, kemudian ada ketua konsulat dan organisasi di bawahnya, kemudian paripurnanya adalah Mumtaza.”

Struktur tersebut, lanjut Kiai Zahid, tidak berdiri sendiri. Setiap bagian saling berkaitan dan membutuhkan koordinasi agar seluruh sistem berjalan dengan baik. Beliau memberi gambaran mengenai hubungan antara Mumtaza, para ketua konsulat, ketua kamar, gubernur asrama, hingga mobilizer. Masing-masing memiliki wilayah kerja dan tantangan yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi ruang bagi para santri untuk mengembangkan kreativitas kepemimpinannya.

“Semua organ itu saling terkait satu sama lain.”

Dalam struktur tersebut, sinergi menjadi salah satu kata kunci. Keberhasilan satu wilayah bukan alasan untuk merendahkan wilayah lain, karena setiap pemimpin bekerja dengan tantangan yang berbeda.

“Karena itu kreativitas dari masing-masing pemimpin itu diuji.”

Memimpin Dimulai dari Diri Sendiri

Salah satu penekanan utama Kiai Zahid adalah bahwa kepemimpinan tidak hanya milik seorang ketua. Setiap orang yang berada dalam organisasi sedang belajar memimpin, bahkan ketika ia hanya menjalankan tugas sebagai anggota.

Menurutnya, ikrar pengurus yang memuat kesediaan untuk “siap memimpin dan siap dipimpin” harus benar-benar dipahami sebagai falsafah dalam menjalankan organisasi.

“Belajar kepemimpinan di Mumtaza itu dimulai dari memimpin diri sendiri.”

Beliau kemudian mengaitkannya dengan pesan almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin yang menekankan prinsip ibda’ binafsik, memulai perubahan dari diri sendiri.

“Kalau bahasa almarhum Pak Kiai Sahid: ibda’ binafsik, dimulai dari diri sendiri.”

Dengan demikian, tanggung jawab tidak hanya melekat kepada ketua. Seorang anggota pun memiliki kewajiban untuk melaksanakan amanahnya dengan baik.

“Tapi kamu memegang teguh tugas dan tanggung jawabmu, karena tugas dan tanggung jawab tidak melekat hanya kepada ketua, tetapi kepada kita, siapapun, apalagi memang ketua.”

Kiai Zahid juga mengingatkan bahwa seorang ketua memiliki tanggung jawab kepada anggota dan seluruh santri yang berada dalam lingkup kepemimpinannya. Sebaliknya, anggota juga memiliki tanggung jawab kepada dirinya sendiri, kepada santri, dan kepada ketua. Di situlah prinsip “Siap memimpin dan siap dipimpin” menemukan bentuk konkretnya.

Belajar dari Cara Kiai Syahid Mendidik

Pada bagian berikutnya, Kiai Zahid membawa para pengurus kepada pengalaman pribadinya ketika masih belajar menjalankan amanah di bawah bimbingan almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin.

Beliau menceritakan bagaimana dirinya pernah langsung diberi tugas mengurus Marching Band tanpa pembekalan teknis yang panjang.

“Saya dibentuk seperti ini oleh almarhum. Saya baru paham sekarang, ternyata beliau ‘menceburkan’ saya langsung: ‘Nak, urusi itu marching band!’ Tidak ada SK pengangkatan saya sebagai pengurus marching band, cuma perintah: ‘Nak, urusi marching band.’ Saya berpikir, saya harus mengurus marching band. Tidak ada arahan: ‘Kamu harus begini, begini, begini,’ tidak ada.”

Situasi itu memaksanya mencari tahu sendiri. Beliau pun mengumpulkan para pelatih, memetakan kemampuan mereka, mempelajari kebutuhan marching band, hingga kemudian mengevaluasi apakah pelatih yang ada mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dari pengalaman tersebut, beliau menemukan satu pola pendidikan kepemimpinan: seorang pemimpin tidak selalu diberi seluruh jawaban sejak awal. Kadang-kadang seseorang diberi tujuan, kemudian dituntut menemukan cara terbaik untuk mencapainya.

Hal serupa terjadi ketika Kiai Syahid memintanya membantu pengembangan teknologi informasi di Daar el-Qolam 2.

“Zaman dulu almarhum belum paham WiFi itu apa, tapi visi beliau luar biasa. Itulah seorang pemimpin: mungkin belum tahu teknis caranya, tapi tahu tujuannya.”

Pengalaman tersebut kemudian menjadi pelajaran bagi para pengurus Mumtaza. Seorang ketua, menurut Kiai Zahid, perlu memahami tujuan dari sebuah kebijakan. Adapun cara mencapainya dapat dibicarakan, dikembangkan, bahkan dicari alternatifnya bersama.

“Ketika berbicara dengan kawan yang merupakan pimpinan tertinggi atau pimpinan bagian, yang dibaca adalah pemikirannya, bukan pikirannya. Saya ulangi: yang diterjemahkan adalah pemikirannya, tujuannya, goals-nya itu apa. Jangan way-nya (caranya), karena way-nya kamu bisa melakukan alternatif apa saja yang benar, bahkan mungkin lebih benar.”

Dari sana beliau mengingatkan para pengurus agar tidak berhenti pada persoalan teknis, tetapi memahami arah dan tujuan setiap program.

“Di situlah ajang diskusi pikiran. Jangan terjerembap membahas pikirannya, tapi diskusikan pemikirannya.”

Mumtaza sebagai Hidden Curriculum Kepemimpinan

Kiai Zahid kemudian menjelaskan bahwa keberadaan Mumtaza merupakan bagian dari pendidikan yang tidak selalu ditemukan dalam pembelajaran formal.

“Manajemen pondok tanpa Mumtaza pun sebenarnya bisa jalan, tapi pondok punya program hidden curriculum, yaitu kurikulum kepemimpinan melalui wadah Mumtaza.”

Dalam kerangka tersebut, Mumtaza menjadi ruang bagi santri untuk belajar menjalankan fungsi organisasi sekaligus membantu manajemen inti dan para asatiz. Karena itu, para pengurus tidak diminta hanya menunggu arahan. Mereka harus berani bertanya ketika menghadapi persoalan.

“Dan Kakak-kakak jangan hanya pasif menunggu dibantu.”

Kiai Zahid menggunakan perumpamaan seseorang yang sedang menyelam. Jika air semakin dalam, seseorang tidak akan selamat jika hanya diam menunggu pertolongan.

“Karena kalau diam saja, kalian akan tenggelam semakin dalam. Falsafahnya: belajar harus siap bertanya.”

Bagi Kiai Zahid, keberanian bertanya merupakan bagian dari proses belajar kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak harus mengetahui semuanya sejak awal, tetapi harus memiliki kemauan untuk mencari tahu.

Siap Dikoreksi

Kiai Zahid juga mengisahkan pengalaman ketika mendampingi almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin dalam berbagai kegiatan. Beliau teringat ketika melihat Kiai Syahid berada sendirian di atas panggung saat kegiatan Khutbatul ‘Arsy. Beliua kemudian memilih maju dan mendampingi ayah sekaligus gurunya tersebut, meskipun menyadari mungkin ada orang yang menganggap tindakannya sebagai upaya mencari perhatian. Namun, baginya, tujuan saat itu adalah belajar.

“Saya niatnya belajar bagaimana cara beliau memimpin.”

Dari posisi tersebut, Kiai Zahid justru mendapatkan tugas-tugas kecil yang mengajarinya kepekaan terhadap situasi di lapangan. Pengalaman itu kemudian beliau jadikan pesan kepada para pengurus. Mereka perlu hadir untuk saling membantu, bukan sekadar menunggu pemimpin menyelesaikan semuanya sendiri.

Kiai Zahid juga menekankan bahwa belajar kepemimpinan berarti siap dikoreksi.

“Belajar kepemimpinan itu harus siap dikoreksi. Tetapi pemimpin juga harus siap berdiskusi.”

Beliau mengenang Kiai Syahid sebagai sosok yang terbuka terhadap gagasan dan perbedaan pendapat, bahkan ketika berdiskusi dengan anak-anak muda yang berada di sekelilingnya.

“Beliau pernah berpesan: ‘Nak, Ayah tidak pernah takut untuk menelan ludah sendiri.’ Artinya, kalau sebuah kebijakan keliru, ya diubah, tidak perlu gengsi atau takut malu.”

Nilai tersebut, menurut Kiai Zahid, perlu dibawa dalam kepemimpinan Mumtaza: terbuka terhadap diskusi, siap menerima koreksi, dan menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.

Setiap Bagian Memiliki Peran

Dalam pengarahan tersebut, Kiai Zahid juga memberikan arahan spesifik kepada sejumlah bagian dalam kepengurusan. Bagian bendahara, misalnya, diarahkan untuk belajar mengelola anggaran sekaligus memahami pentingnya administrasi keuangan. Pengelolaan dana tidak cukup hanya memastikan uang tersedia dan tidak hilang, tetapi juga harus disertai pencatatan serta bukti transaksi yang tertib.

“Banyak kasus hukum di luar terjadi bukan karena uangnya diambil, melainkan karena administrasinya berantakan dan tidak ada bukti pertanggungjawabannya.”

Bagian kesekretariatan dan tata usaha diminta memperhatikan administrasi surat-menyurat. Sementara bagian Bapenta atau Penerimaan Tamu harus menyiapkan diri karena akan berhadapan langsung dengan tamu dan kegiatan pendidikan di luar pondok.

“Jangan pernah mengecilkan amanah sekecil apapun, karena semuanya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.”

Kiai Zahid juga mengingatkan bagian media dan sarana agar mempersiapkan kemampuan teknis yang semakin dibutuhkan dalam berbagai kegiatan pondok, seperti tata pencahayaan, tata suara, kamera, dan penataan panggung.

Hal itu berkaitan dengan rencana pengembangan kegiatan santri, termasuk rencana menghidupkan kembali panggung gembira Nihai bagi kelas lima, training camp persiapan masuk perguruan tinggi, hingga berbagai kegiatan yang membutuhkan kemampuan manajemen panggung.

Dari Pengalaman Panjang Marching Band

Pengarahan Kiai Zahid kemudian membawa para santri kepada pengalaman panjang dalam membangun prestasi marching band. Beliau menceritakan bagaimana perjuangan tersebut berlangsung bertahun-tahun, termasuk ketika tim harus menjalani latihan fisik dan persiapan lomba dengan keterbatasan fasilitas dan biaya.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kepemimpinan membutuhkan strategi, kesabaran, kemampuan meyakinkan pimpinan, serta kecakapan menghimpun sumber daya.

Kiai Zahid juga menceritakan bagaimana prestasi akhirnya dapat diraih setelah proses panjang dan kerja bersama.

“Ini semua bukan karena saya pribadi, melainkan sinergi kerja tim antara pengurus, pelatih, dan santri.”

Pengalaman tersebut sekaligus menjadi pelajaran bahwa sebuah pencapaian besar hampir selalu lahir dari kerja banyak orang. Pemimpin bukan orang yang mengerjakan semuanya sendirian, melainkan orang yang mampu menggerakkan banyak pihak menuju tujuan yang sama.

Karena itu, Kiai Zahid mengingatkan bahwa tidak ada pemimpin yang langsung mahir sejak pertama kali menerima amanah.

“Tidak ada pemimpin yang lahir langsung mahir, dan tidak ada organisasi yang berjalan mulus tanpa ujian.”

Ia kemudian mengutip sebuah peribahasa:

“Tidak ada nakhoda yang tangguh yang terlahir dari lautan yang tenang.”

Organisasi yang Aman, Nyaman, dan Bebas dari Bullying

Selain membicarakan struktur dan prestasi, Kiai Zahid memberikan perhatian pada kehidupan santri sehari-hari. Pembagian tugas antara gubernur, mobilizer, koordinator ketertiban, dan pengurus pusat perlu dibuat jelas. Aturan lokal asrama dapat disesuaikan dengan tingkat kelas santri, tetapi prinsip dasarnya harus tetap sama.

“Jadikan pondok ini rumah yang aman, nyaman, bersih, dan bebas dari bullying.”

Arahan tersebut juga menyentuh bidang bahasa. Pengurus bahasa diminta mengembangkan kemampuan berbahasa Arab dan Inggris secara praktis di lapangan serta menyelaraskannya dengan pembelajaran bahasa di kelas.

Bagian ibadah mendapat perhatian khusus dalam persoalan kedisiplinan waktu salat berjamaah. Kiai Zahid menyinggung masih adanya santri yang baru mengambil wudu ketika iqamah telah berkumandang. Karena itu, pengurus ibadah diharapkan membangun kebiasaan santri untuk bersiap lebih awal, sekaligus tetap santun dalam melayani tamu dan wali santri yang melaksanakan salat di masjid.

Kepemimpinan, dalam kerangka tersebut, tidak hanya terlihat ketika seorang pengurus berbicara di depan banyak orang. Ia juga tampak dalam hal-hal kecil: ketepatan waktu, kebersihan, pelayanan, administrasi, kemampuan berkomunikasi, dan kesediaan menyelesaikan persoalan.

Kepemimpinan yang Berlandaskan Rahmah

Setelah pengarahan Kiai Zahid, Dr. Wahyuni Nafis, M.A., memperluas pembahasan dengan menempatkan pengalaman berorganisasi sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Beliau menyebut apa yang disampaikan Mudir al-Ma’had sebagai konsep praksis, yakni belajar melalui kerja dan pengalaman nyata.

“Anak-anakku yang saya banggakan, apa yang disampaikan Mudir Ma’had tadi adalah konsep praksis—belajar sambil bekerja, memadukan teori dengan praktik nyata di lapangan.”

Beliau kemudian mengutip Warren Bennis:

Leadership is the capacity to translate vision into reality.”

Menurut Ustaz Nafis, terdapat tiga hal mendasar yang perlu diperhatikan para pengurus.

Pertama, kepemimpinan harus dipraktikkan. Ia mengibaratkan belajar kepemimpinan seperti belajar berenang yang tidak cukup hanya dilakukan melalui teori, tetapi harus masuk ke “kolam” organisasi dengan bimbingan para asatiz.

Kedua, organisasi harus menjadi ruang pembelajaran yang ramah anak. Pengurus Mumtaza bukan penguasa atau diktator. Penegakan disiplin tidak boleh dilakukan secara sepihak tanpa kejelasan kesalahan dan bukti pelanggaran.

Dalam konteks tersebut, lembaga tahkim memiliki fungsi penting sebagai ruang penilaian yang bijaksana. Paradigma disiplin harus tetap berlandaskan rahmah, dengan tujuan membina, bukan membalas.

Ketiga, kepemimpinan diarahkan untuk membentuk pribadi Ahlul ‘Izzah. Ustaz Nafis menjelaskan bahwa nilai ‘Izzah berakar dari sifat Al-‘Aziz yang berkaitan dengan kemuliaan dan kekuatan, sekaligus harus diiringi sifat Al-Hakim, yakni kebijaksanaan.

Ustaz Nafis kemudian mengingatkan empat sifat utama Nabi yang perlu hadir dalam karakter seorang pemimpin: shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

“Karakter otentik ini muncul dari kebersihan hati dan keistiqomahan.”

Tidak Ada Peran yang Remeh

Dr. Abdul Latief kemudian memberikan perspektif lain melalui analogi tim pit stop Formula 1. Beliau mengajak para pengurus membayangkan bagaimana sebuah tim dapat mengganti empat ban, mengisi bahan bakar, membersihkan kaca helm pembalap, hingga memberikan aba-aba dalam hitungan detik.

Pertanyaannya, apakah ada bagian yang paling penting dan ada yang paling remeh? Jawabannya, menurut Ustaz Latief, tidak.

“Jawabannya: semuanya sama-sama penting!”

Kesalahan satu orang dapat memengaruhi keseluruhan proses. Karena itu, prinsip yang sama berlaku dalam organisasi Mumtaza.

“Begitupun dalam organisasi Mumtaza: tidak ada bagian yang lebih hebat atau lebih remeh antara ketua umum, bagian ibadah, kesekretariatan, ataupun kebersihan.”

Ustaz Latief kemudian menegaskan pentingnya menghindari ego personal dalam organisasi.

“There is no “I” in team: Tidak ada ego “saya yang paling berjasa”. Kita semua adalah kepingan puzzle yang saling menggenapi.”

Bagi Ustaz Latief, amanah organisasi perlu dikembalikan kepada niat pengabdian. Ia juga mengenang pesan almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin yang pernah disampaikan kepadanya.

“Cari lahan pengabdianmu di mana pun kau berada, jangan khawatirkan lahan penghidupanmu.”

Pesan tersebut kemudian ia kaitkan dengan cara santri memandang tugas organisasi: bukan sebagai beban yang harus dikeluhkan, melainkan sebagai ruang pengabdian.

“Jadikan setiap amanah yang kalian emban sebagai mahakarya terbaik kalian di hadapan Allah Swt.”

Dari Shalih Menjadi Mushlih

Pengarahan berikutnya disampaikan Ustaz H. Indra Jaya, M.A. Beliau mengaitkan materi yang telah disampaikan sebelumnya dengan pengalamannya ketika menjadi pengurus santri kelas enam sekitar tahun 1992–1993.

Ustaz Indra merenungkan bagaimana keteraturan tugas dalam penciptaan para malaikat memberikan pelajaran tentang sistem dan pembagian peran. Dari sana, beliau menggambarkan organisasi sebagai sistem yang membutuhkan setiap bagian untuk menjalankan fungsinya tanpa merasa lebih tinggi atau lebih rendah.

“Dari situ saya belajar bahwa organisasi yang rapi adalah sistem di mana setiap anggotanya menekan ego pribadi untuk saling melengkapi: atap genting tidak pernah iri kepada lantai, dan lantai tidak pernah iri kepada dinding pembatas.”

Ustaz Indra kemudian menguraikan tiga konsep yang menurutnya penting dalam pendidikan pesantren: nizhom, mushlih, dan mutamaddin.

Nizhom berkaitan dengan sistem dan keteraturan, dari intizham, munazzhim, munazzham, hingga munazzhamah. Artinya, pendidikan organisasi tidak berhenti pada pembagian jabatan, tetapi membangun sistem yang membuat setiap bagian bekerja secara teratur.

Konsep kedua adalah bergerak dari shalih menjadi mushlih. Santri tidak cukup menjadi pribadi baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga dituntut menghadirkan perbaikan bagi lingkungan.

Adapun konsep ketiga adalah mutamaddin: pribadi yang tidak berhenti pada muta’allim yang berilmu dan mutakhalliq yang berakhlak secara personal, tetapi mampu menginternalisasikan etika sosial untuk berkontribusi terhadap kemajuan peradaban umat.

Ia juga mengingatkan para santri agar mampu mengambil hikmah dari teguran guru.

“Marahnya orang berilmu jauh lebih bermanfaat daripada pujiannya orang bodoh.”

Ustaz Indra kemudian memberikan perumpamaan bahwa teguran guru seperti air kolam yang diaduk. Air mungkin tampak keruh sesaat, tetapi ada sesuatu yang lebih penting untuk dilihat setelahnya.

“Marah guru itu laksana mengaduk kolam air; jangan fokus melihat air lumpur yang keruh sesaat, melainkan lihatlah ikan-ikan kebaikan yang muncul ke permukaan.”

Menjadi Ahlul ‘Izzah

Menjelang akhir kegiatan, Kiai Zahid berkesempatan untuk menyampaikan penutup. Beliau menyampaikan apresiasi kepada Ustaz Nafis, Ustaz Latief, dan seluruh asatiz yang telah memberikan arahan dan motivasi kepada para pengurus.

“Luar biasa. Terima kasih kepada Ustadz Nafis, Ustadz Latif, dan segenap asatiz atas wejangan dan motivasinya.”

Kiai Zahid kemudian mengingatkan kembali bahwa fase yang sedang dijalani para pengurus merupakan bagian dari perjalanan pendidikan mereka.

“Inilah tahapan hidup kalian: belajar menjadi pemimpin dengan mengorbankan sedikit waktu istirahat demi kemaslahatan santri lainnya.”

Doa pun dipanjatkan agar para pengurus diberi kesehatan, keselamatan, dan keistiqomahan dalam menjalankan amanah serta tumbuh menjadi generasi yang sesuai dengan visi pendidikan Dza ‘Izza.

“Semoga Allah menganugerahkan kesehatan, keselamatan, keistiqomahan, dan menjadikan anak-anakku sekalian insan Ahlul ‘Izzah, Ahluz-Ziyadah, Ahlul-Qiyadah, dan Ahlur-Riyadah.”

Pertemuan kemudian ditutup dengan membaca Surah Al-Fatihah bersama-sama.