Ngaji Literasi Bersama Ustaz Dodi Mawardi: Santri “Kampung Pena” Harus Erat Dunia Menulis
Poster titled Ngaji Literasi 2026 in large purple type announcing Haul Ke-2 K.H. Ahmad Syahiduddin Bin H. Qasad Mansyur at Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza 'Izza, dated 23–25 Januari 2026 with venue Aula Tasabuq dan Ballroom, showing three speaker headshots across the centre, sponsor logos along the top and a green decorative band at the bottom.

Kegiatan Haul Tahun ke-2 Almarhum K.H. Ahmad Syahiduddin disemarakkan dengan agenda Ngaji Literasi yang digelar pada Jumat (23/1/2026) bekerja sama dengan Gramedia. Kegiatan ini dibuka dengan menghadirkan Ustaz Dodi Mawardi, penulis, jurnalis, sekaligus dosen yang telah melahirkan lebih dari 100 judul buku. Salah satu karya terbarunya berjudul Seperti al-Ghazali: 7 Alasan Kenapa Santri Wajib Menulis. Bertempat di Ballroom Asy-Syahid Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ’Izza, kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat dan antusias dari para santri.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Dodi membagikan pengalaman hidupnya sejak masa kecil. Ia mengisahkan perjalanan yang dilalui dalam kondisi penuh kesederhanaan hingga akhirnya dikenal luas sebagai penulis. Ketertarikannya pada dunia literasi sudah tumbuh sejak dini, terutama melalui kebiasaan membaca dan mengkliping koran bekas, yang kemudian memberi pengaruh besar terhadap jalan hidupnya di dunia tulis-menulis.

“Bisa jadi apa yang menjadi hobi kalian sekarang, kelak akan menjadi profesi kalian,” ujarnya.

Sejalan dengan kisah hidup yang disampaikannya, Ustaz Dodi juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan membaca, memperluas pergaulan dengan komunitas menulis, serta melakukan journaling atau mencatat pengalaman dalam buku harian. Menurutnya, ketiga hal tersebut merupakan bekal penting untuk terus mengasah kemampuan menulis secara berkelanjutan.

Dalam kesempatan wawancara, Ustaz Dodi kembali menegaskan nilai penting aktivitas menulis dalam lintas zaman.

“Di setiap era, menulis buku itu penting, bukan hanya di era sekarang. Setiap era ada tantangan yang berbeda-beda, tetapi itu sama-sama pentingnya, mau di era sekarang, era digital atau kapanpun. Kenapa? Karena buku ini adalah salah satu karya manusia yang, menurut saya, paling monumental. Ketika pikiran, perasaan, pengalaman dan lain-lain yang dimiliki itu bisa dibaca, diketahui oleh generasi berikutnya. Maka generasi manapun itu, sangat penting menuliskan pikiran, ide, gagasan, pengalaman dan lain-lain dalam bentuk buku, sehingga bisa mengalir, diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya,” papar Ustaz Dodi.

“Bayangkan kalau generasi sebelum kita itu tidak menulis buku, kita tidak mendapatkan view, tidak mendapatkan pengetahuan, kita tidak mendapatkan pemahaman dan lain-lain kebijaksanaan dari generasi sebelumnya,” sambungnya.

Lebih lanjut, Ustaz Dodi menekankan bahwa fondasi awal dalam menulis buku terletak pada niat yang jelas dan lurus.

“Tujuan paling penting yang harus dimiliki seseorang sebelum memulai menulis buku adalah niat. Dalam agama kita kan selalu disampaikan semuanya tergantung dari niatnya. Jadi niatnya harus lurus, apa tujuan kita menulis buku,” ujarnya.

Ia kemudian menjelaskan pandangan pribadinya mengenai profesi kepenulisan yang ia jalani.

“Saya memang menjadi profesi. Tentu profesi adalah mencari nafkah. Tapi niat saya yang utama adalah bagaimana saya berkarya, membuat karya yang baik, yang bermanfaat, berguna buat orang lain. Jadi niat saya adalah niatnya untuk kebaikan, berkarya yang bermanfaat buat orang lain sesuai dengan tujuan Allah menciptakan saya. Sehingga ketika saya menulis, pengalaman yang baik saja yang keluar dari diri saya, di buku-buku yang saya tulis. Jadi, yang pertama adalah niat yang lurus,” jelasnya.

Berbicara tentang sumber gagasan, Ustaz Dodi memaparkan bahwa ide menulis dapat lahir dari dua arah, yakni dari dalam diri dan dari lingkungan sekitar.

“Bagaimana mencari ide itu ada dua, yang utama, dari diri sendiri dan dari luar kita. Dari diri sendiri apa? Pengalaman kita yang mungkin sama dengan pengalaman orang lain, pengalaman kita yang mungkin bisa bermanfaat buat orang lain. Hobi kita, pengetahuan atau skill kita atau pekerjaan kita yang mungkin bisa bermanfaat buat orang lain,” terangnya.

Sementara itu, sumber ide dari luar diri dinilainya tidak kalah luas dan kaya. “Yang kedua di luar diri. Di luar diri, kita bisa lihat sekitar kita, apa hal-hal yang mungkin bisa membuat orang lain butuh. Karena buku itu ada dua hal, satu kebutuhan dan dua keinginan. kita penuhi kebutuhan orang lain dan penuhi keinginan orang lain. Dua itu saja. Untuk memahami hal itu, perlu banyak baca, banyak gaul, banyak nonton, banyak melihat, banyak mendengar, sehingga ide-idenya tidak hanya dari diri sendiri saja. Ide dari diri sendiri ini kan terbatas. Paling pengalaman saja, pekerjaan, hobi, tapi di luar sana begitu luar biasa. Banyak sekali sumber-sumber ide yang melimpah yang bisa kita pakai sebagai bahan untuk kita,” katanya.

Menutup pemaparannya, Ustaz Dodi memberikan dorongan khusus kepada para pemula agar tidak takut memulai.

“Untuk pemula, dia berani dulu. Setelah berani, kualitas menyusul. Jadi, untuk proses di awal teman-teman yang masih di awal, keberanian memang nomor satu. Urusan sempurna itu akan menyusul. Bisa karena biasa, sempurna karena latihan. Jadi, latihan, proses, praktik maka lama-lama akan juga sempurna. Kita belajar terus memperbaiki diri, sehingga proses sempurnanya itu adalah bertahap. Semua orang tidak ada yang ujung-ujung karyanya jadi bagus. Jadi prosesnya bertahap, langkah demi langkah. Tapi kalau tidak ada keberanian di awal, tidak akan jadi,” paparnya.

Ustaz Dodi pun menegaskan pentingnya perencanaan dalam proses menulis, baik untuk karya fiksi maupun nonfiksi.

“Dalam menulis itu ada perencanaan yang baik, menulis fiksi maupun nonfiksi. Semuanya harus kita siapkan, kita rencanakan dengan sebaik-baiknya. Jadi kalau mau menulisnya lancar, kalau menulisnya tidak berhenti di tengah jalan, maka rencanakan dengan sebaik-baiknya. Perencanaan menjadi sangat krusial,” pungkasnya.