Apresiasi Prestasi Santri, Juara Olimpiade Daar el-Qolam 3
Poster advertising "Olimpiade Sains & Dirasah" at Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3, with a large purple title, a photo of students launching a colourful water rocket outdoors, a green sidebar listing subjects such as Matematika, IPA, IPS, Geografi, Ekonomi, Komputer, Biologi, Kimia, Fisika, Robotik and Roket Air, and logos and contact details along the bottom.

Apresiasi atas prestasi memiliki makna penting dalam menumbuhkan semangat dan motivasi agar para santri terus berjuang lebih sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas diri. Penghargaan tidak dimaksudkan sebagai sarana berbangga diri atau ajang pamer, melainkan sebagai pemantik untuk melahirkan capaian yang lebih baik di masa mendatang. Semangat inilah yang mewarnai kegiatan pengumuman sekaligus pemberian penghargaan juara Olimpiade Sains dan Dirasah bagi para santri Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, yang berlangsung pada Rabu (28/1/2026) di Aula Tasabuq.

Kegiatan olimpiade tersebut mencakup berbagai bidang keilmuan. Di antaranya olimpiade mata pelajaran dan kompetisi robotik yang meliputi sumo robot, soccer robot, dan roket air. Seluruh rangkaian lomba ini dilaksanakan sejak Jumat (23/1/2026). Selain itu, terdapat pula cabang Qira’atul Kutub yang dilaksanakan pada Sabtu dan Ahad (24–25/1/2026) dengan dua kitab yang dikaji, yakni Fathul Qarib dan Fathul Mu’in.

Menjelaskan pelaksanaan dan bentuk penghargaan yang diberikan, Ustaz Cucu Sudiana, S.Pd., selaku penanggung jawab kegiatan, menyampaikan bahwa apresiasi diberikan kepada para pemenang dari seluruh cabang lomba yang dipertandingkan.

“Ada apresiasi untuk pemenang lomba olimpiade keilmuan, baik itu olimpiade mata pelajaran, robotik yang terdiri dari sumo robot dan soccer robot dan roket air. Pembagiannya ada yang individu, ada juga yang pertim,” ujar Ustaz Cucu Sudiana, S.Pd. selaku penaggung jawab saat diwawancara pada Rabu (28/1/2026).

Groups of school students wearing patterned shirts and lanyards gather indoors and outdoors to test small wheeled robots on a tabletop green mini-football pitch and on the grass while peers operate controllers and adjust a larger robot.

Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa setiap cabang lomba memiliki sasaran yang berbeda sesuai dengan karakter dan tujuan pembinaannya.

“Setiap lomba punya target masing-masing. Misalkan olipiade, diharapkan akan menjadi bibit baru calon tim inti, yang insyaallah nanti akan diikutsertakan, akan kita dampingi, diikutsertakan di olimpiade tingkat lanjut,” ungkapnya.

Khusus pada bidang robotik, Ustaz Cucu menyoroti peran penting kolaborasi dengan perguruan tinggi yang turut menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan.

“Kalau robotik ini kan hasil kerja sama UIN dari Fakultas Sains dan Teknologi. Kemarin pun ketika perlombaan alat-alatnya mereka yang sediakan, mereka prepare semuanya, dari arena lombanya, dari alat-alatnya, termasuk pelatihnya juga, yang teknis lapangannya, itu sangat membantu sekali, sangat support sekali,” jelas Ustaz Cucu.

Sementara itu, untuk cabang Qira’atul Kutub, ia menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah melatih kemampuan berpikir santri melalui kajian kitab turats.

“Kalau Qira’atul Kutub untuk mengasah critical thinking anak-anak, dengan kajian Kitab Fathul Qarib dan Fathul Mu’in,” sambungnya.

Dengan adanya berbagai perlombaan tersebut, Ustaz Cucu berharap tumbuh dorongan internal dalam diri santri untuk lebih aktif mengembangkan potensi mereka, termasuk dalam kegiatan ekstrakurikuler.

“Harapannya anak-anak termotivasi tentunya dengan adanya lomba-lomba ini yang tadinya kurang berminat ikut ekskul jadi lebih tertarik ikut ekskul,” ujar Ustaz Cucu dengan penuh harap.

Menutup keterangannya, ia menyampaikan harapan agar kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan standar yang semakin baik melalui sinergi berbagai pihak.

“Semoga saja ini jadi jalan ya kalau kita mau mengadakan event. Kemarin standarnya sudah bagus sebetulnya. Kita melibatkan pihak-pihak yang sudah bekerja sama dengan Daar el-Qolam 3. Ada dari UIN, ada juga dari UPI,” pungkasnya.

Students in white school uniforms, including girls wearing hijabs, sit at desks working on exam papers while a male invigilator in a suit stands supervising, with the school logo visible at the top of the collage.