Program SMAWI Dza ‘Izza Menembus Kampus Internasional di Turki
Smiling person in a black puffer jacket standing in front of a large historic domed building with bare trees in foreground


Dunia internasional kini semakin terbuka bagi generasi muda Indonesia, termasuk para santri. Tidak sedikit alumni pesantren yang mulai melanjutkan pendidikan ke berbagai negara dengan membawa pengalaman, nilai, dan karakter yang ditempa selama mondok. Perjalanan itulah yang kini dijalani Muhammad Singgih Kusuma, alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, program SMAWI, yang melanjutkan studi di Turki.

Keinginan untuk melangkah jauh menuntut ilmu tumbuh sejak masih menjadi santri di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Lingkungan pesantren yang akrab dengan semangat “go global and be global player” perlahan membentuk cara pandangnya tentang masa depan.

“Sebagai alumni Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza yang mempunyai tagline ‘go global and be global player’, ingin menjadi global player yang bisa mengangkat derajat keluarga. Saya juga sangat senang untuk mencoba sesuatu yang baru, sehingga termotivasi untuk mencoba kehidupan yang baru dengan tingkat kesulitan lebih tinggi yang akan dihadapi di depan atau disebut ‘survival life’,” jelas Singgih saat diwawancara pada Kamis, 14 Mei 2026 yang kini tengah berada di Istanbul.

Bagi dirinya, perjalanan pendidikan selalu identik dengan keberanian meninggalkan zona nyaman. Sejak kecil, ia terbiasa berpindah lingkungan demi mencari pengalaman dan tantangan baru.


Perjalanan Pendidikan yang Terus Berpindah
Semangat untuk terus berkembang membuat Singgih tidak ingin berhenti hanya di satu tempat. Dari satu daerah ke daerah lain, perjalanan pendidikannya perlahan membentuk keberanian untuk melangkah lebih jauh hingga ke luar negeri.

“Saya juga memiliki motivasi untuk mempunyai karir pendidikan yang terus berkembang, seperti dari SD ke SMP pindah kabupaten, kemudian SMP saya di Provinsi Lampung ke Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza Tangerang, Banten pindah provinsi. Saya termotivasi untuk memiliki gelar sarjana di universitas yang pindah negara dari Indonesia,” ungkapnya.

Keinginan itu akhirnya membawanya menuju Istanbul, Turki, sebuah kota yang mempertemukan nuansa Timur dan Barat dalam satu ruang kehidupan.


Memilih Kampus di Istanbul dan Jurusan Finance
Di Turki, Singgih memilih melanjutkan studi di Kadir Has University dengan jurusan International Trade and Finance. Menariknya, pilihan itu awalnya bukan tujuan utamanya.

“Saya memilih Kadir Has Üniversitesi, Istanbul, Türkiye Jurusan International Trade and Finance. Awalnya saya tidak tertarik dengan universitas ini, namun setelah berdiskusi dengan orang tua, karena Kadir Has University merupakan salah satu kampus di Turki yang memiliki ikatan kerja sama dengan Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza akhirnya saya memutuskan untuk menjadi bagian pertama dari kerja sama tersebut,” papar Singgih.

Keputusan memilih jurusan Finance juga bukan tanpa alasan. Menurutnya, bidang keuangan akan selalu dibutuhkan di berbagai sektor kehidupan.

“Kenapa Finance? Karena saya melihat industri Finance atau Keuangan tidak akan pernah mati dan akan terus dibutuhkan oleh sebuah instansi maupun perusahaan untuk menjaga kinerja perusahaan, dan Kadir Has University termasuk dalam 800 universitas terbaik di dunia menurut Times Higher Education (THE), Top 10 kampus terbaik di Turki, dan salah satu program studi unggulannya adalah Bisnis dan Keuangan,” jelas Singgih.

Young person in a dark puffer jacket smiling in front of a grand stone gate with twin conical towers and a Turkish flag.

Bahasa, Dokumen, dan Adaptasi Kehidupan di Turki
Meski berhasil diterima di kampus impiannya, perjalanan menuju Turki, Singgih harus menempuh sejumlah tahapan. Ada banyak proses yang harus dilalui, mulai dari urusan administrasi hingga penyesuaian hidup di negeri orang.

“Untuk persiapan menuju Kadir Has University tidak cukup sulit. Dokumen yang dibutuhkan di awal untuk pendaftaran hanya transkrip nilai dari semester 1-5 dan identitas pribadi seperti paspor. Kemudian proses dokumen selanjutnya seperti pembuatan visa dan dokumen lainnya saya dibantu oleh agensi (agensi tersebut juga memiliki kerja sama dengan Dza ‘Izza),” ungkapnya.

Namun, tantangan sesungguhnya baru terasa ketika ia mulai hidup di Turki. Bahasa menjadi hambatan pertama yang harus dihadapi setiap hari.

“Ada beberapa tantangan besar kuliah di luar negeri, khususnya di Turki. Pertama, yang pasti digunakan sehari-hari adalah bahasa. Turki adalah negara yang sangat minoritas sekali dalam berbahasa Inggris. Jadi untuk berinteraksi sehari-hari dengan masyarakat lokal setidaknya harus bisa bahasa dasar. Itu saya biasakan dengan sering berkomunikasi dengan teman-teman Turki, bertanya dan belajar tanpa perlu malu,” jelas Singgih.

Selain bahasa, persoalan legalitas warga asing di Turki juga menjadi tantangan tersendiri.

“Karena Turki negara yang paling ketat akan legalitas warga asing, dokumen pengurusan legalitas cukup rumit dan panjang, namun karena kami hadapi bersama-sama sesama mahasiswa Indonesia di Turki, semua juga selesai dengan lancar,” ungkapnya.

Young man in a black puffer jacket leaning on a white railing with a ferry and city skyline across blue water

Belajar Hidup Mandiri di Negeri Orang
Di luar urusan akademik dan administrasi, kehidupan sehari-hari di Turki juga menghadirkan tantangan yang berbeda, terutama soal makanan dan biaya hidup.

“Terakhir, yang paling penting yaitu perbedaan makanan. Tidak seperti di Indonesia yang bisa makan di warteg maupun sarapan nasi uduk, kami sebagai mahasiswa Indonesia harus bisa masak (jika ingin berhidup hemat) karena hidup Turki sedang mengalami inflasi dimana harga makanan jadi sangat mahal, namun bahan-bahan pokok dan biaya hidup sama seperti di Jakarta,” paparnya.

Kondisi itu membuat Singgih belajar banyak hal, mulai dari mengatur keuangan hingga hidup mandiri jauh dari keluarga.

Mahfudzat Pesantren yang Terus Dibawa Hingga Istanbul
Di tengah kehidupan baru yang serba berbeda, ada satu hal yang tetap ia bawa dari Daar el-Qolam 3: nilai-nilai kehidupan pesantren.

“Banyak sekali manfaat yang saya dapat ketika belajar di Ponpes Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Yang paling saya terus ingat dan bawa setiap hari adalah Mahfudzat yang pertama saya pelajari ketika saya menjadi santri yaitu ‘La Tuakhir Amalaka Ilal Ghad’ yaitu jangan menunda pekerjaan sampai besok jika bisa dilakukan hari ini, dan juga ‘Al-waqtu astmanu minad dzahabi’. Pesantren mengajarkan saya banyak sekali ilmu kehidupan, dan yang paling terasa adalah mengatur waktu. Ketika di pesantren sangat ditekankan kedisiplinan, dan itu sangat berpengaruh untuk kehidupan di kota besar seperti Istanbul, semua harus tepat waktu dan disiplin yang kuat,” terangnya.

Tidak hanya itu, kebiasaan menggunakan bahasa asing selama di pesantren ternyata menjadi bekal berharga ketika hidup di lingkungan internasional.

“Kemudian terbiasa berbahasa asing, ini salah satu skill yang paling berharga. Tidak ada ilmu yang tidak berguna untuk kehidupan seseorang. Saya ketika menjadi santri berpikir bahwa tidak akan menggunakan bahasa Arab, namun ternyata saya salah. Ketika di Turki, saya berinteraksi dengan teman-teman yang berasal dari Timur Tengah menggunakan bahasa Arab, dan bahasa adalah senjata sangat penting untuk mengarungi kehidupan luar negeri,” jelasnya.

Dari ruang-ruang belajar di Daar el-Qolam 3 hingga hiruk-pikuk Istanbul, perjalanan Singgih menjadi gambaran bahwa nilai-nilai pesantren tidak berhenti di dalam kelas. Nilai itu tumbuh, hidup, dan terus menemani langkah santri ketika menghadapi dunia yang jauh lebih luas.


Mari bergabung mengukir prestasi di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza.

Berikut link pendaftarannya:

https://psb.daarelqolam3.sch.id/auth/login