
Kabar menggembirakan datang dari alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Abdurrauf Said, tengah menjalani proses masuk di University of Edinburgh untuk program magister bidang sejarah. Pencapaian ini menjadi langkah penting dalam perjalanan akademiknya sekaligus menunjukkan bahwa alumni pesantren mampu bersaing di ruang akademik internasional.
Rauf mengikuti program History MSc by Research, sebuah jalur magister berbasis penelitian yang menitikberatkan pada riset mandiri di bawah bimbingan para ahli.
Menurutnya, model pembelajaran dalam program tersebut lebih mendekati pola studi doktoral dibanding perkuliahan magister pada umumnya.
“Program yang saya ikuti adalah History MSc (master of science) by Research, model studinya seperti kuliah S3. Tidak banyak kelas yang wajib diambil karena fokus utamanya adalah riset independen di bawah bimbingan pakar,” ungkapnya saat diwawancara pada Sabtu (2/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa proses seleksi menuju program tersebut membutuhkan persiapan yang matang. Kemampuan bahasa Inggris, capaian akademik, proposal riset, dan rekam jejak akademik menjadi unsur utama yang dinilai dalam proses penerimaan.
“Agar lolos seleksi di program ini, hal-hal yang mesti dipersiapkan adalah hasil tes kemampuan bahasa Inggris (IELTS/TOEFL), IPK yang memuaskan, proposal riset, serta pengalaman akademik yang menunjang riset yang ingin kita lakukan. Alhamdulillah persyaratan tersebut saya penuhi, tapi dengan persiapan yang berbeda-beda,” jelasnya.
Meski telah berhasil memperoleh surat penerimaan, perjuangannya belum selesai. Saat ini, Rauf tengah berupaya mencari beasiswa penuh agar dapat memulai studinya di Edinburgh.
“Setelah lulus di Edinburgh, kini tantangan saya adalah mencari beasiswa penuh untuk memulai studinya. Mohon doanya agar dilancarkan! Amin,” harapnya.
Dalam perjalanannya, kemampuan bahasa Inggris menjadi fondasi utama yang ia bangun sejak lama. Menariknya, Rauf mengaku tidak pernah mengikuti kursus bahasa Inggris sejak kecil. Ia memilih jalur pembiasaan mandiri dengan menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kesehariannya.
“Yang paling utama dan sangat lama adalah bahasa Inggris. Sejak kecil saya tidak pernah mengikuti kursus bahasa Inggris, maka yang saya lakukan adalah menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian kehidupan sehari-hari,” terangnya.
Sejak duduk di kelas lima, ia mulai membiasakan diri membaca buku berbahasa Inggris, selama versi aslinya tersedia. Kebiasaan itu terus diperkuat dengan latihan berbicara, baik melalui pidato maupun percakapan ringan bersama teman-temannya di pesantren.
“Sejak kelas 5 saya sudah meniatkan diri untuk tidak membaca buku terjemahan selama versi berbahasa Inggrisnya tersedia, selain itu melatih diri berbicara dalam bahasa Inggris lewat pidato atau percakapan-percakapan ringan dengan teman waktu di pondok,” kenangnya.
Kebiasaan tersebut terus berlanjut hingga masa kuliah sarjana. Pengalaman mengikuti konferensi ilmiah internasional dan proyek riset bersama peneliti asing semakin memperkaya kapasitas akademiknya.
Di sisi lain, Rauf menilai pengalaman belajar di pesantren, khususnya melalui program MADRIS (dulu CIISP), menjadi fondasi penting yang tanpa disadari sangat berguna dalam perjalanan riset sejarahnya.
“Waktu di pesantren saya tergabung dalam program MADRIS (dulu namanya CIISP). Di sini saya mengenal guru-guru menakjubkan seperti Dr. Ahmadi (alm.), Ustaz Saepul, dan Ustaz Yunal. Mereka adalah orang-orang yang berperan besar dalam mengembangkan kemampuan saya dalam bahasa Arab seperti nahwu dan sharf,” ungkapnya.
“Setelah semester ke-4, saya mulai mengkaji manuskrip-manuskrip Nusantara yang umumnya ditulis dalam aksara Arab atau Jawi (Bahasa Melayu bertukiskan Arab). Kemampuan yang diasah sejak di MADRIS semakin bermanfaat,” sambungnya.
Menurutnya, kemampuan membaca manuskrip Islam itulah yang menjadi salah satu kekuatan utama dalam risetnya dan membuka peluang hingga lolos seleksi di Edinburgh.
Selain pembelajaran formal, Rauf juga menyoroti satu unsur yang menurutnya sangat berharga selama menjadi santri: perpustakaan Dza ‘Izza. Baginya, ruang baca itu bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang yang membentuk arah berpikir dan cita-citanya sebagai peneliti.
“Jarang ada yang menyoroti ini, tapi bagi saya perpustakaan Dza Izza adalah harta karun terbesar bagi santri,” kenangnya.
Ia menyebut sejumlah buku seperti Guns, Germs, and Steel karya Jared Diamond dan Eden in the East karya Stephen Oppenheimer sebagai bacaan yang banyak memengaruhi cara pandangnya terhadap sejarah dan riset.
Buku-buku tersebut, menurutnya, tidak ditemukan dalam pelajaran formal, tetapi justru sangat berpengaruh dalam membentuk perspektif akademiknya. Pengalaman membaca sejak di pesantren membuatnya lebih siap menghadapi diskusi akademik di dunia kampus.
Menutup wawancaranya, Rauf menyampaikan harapannya bagi para santri yang melanjutkan studi ke luar negeri agar ilmu yang diperoleh dapat membawa manfaat lebih luas.
“Saya berharap santri-santri yang berkuliah di luar negeri bisa berkontribusi, secara langsung atau tidak, pada pengembangan kapasitas santri,” pungkasnya.