
Bagi Muthia Zia Sa’adah, tulisan tidak harus langsung sempurna untuk layak dimulai. Dalam Dza ‘Izza Inteleksia, ia mengajak santri mengenali prokrastinasi sebagai salah satu penghambat terbesar lahirnya sebuah karya.
“Lebih baik kita memulai dengan tulisan yang jelek daripada tidak pernah memulai,” ungkapnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi seorang penulis, ia menyentuh persoalan yang sering kali lebih sulit daripada sekadar menemukan kata pertama: keberanian untuk memulai.
Kalimat tersebut disampaikan Muthia Zia Sa’adah, santriwati kelas 1 SMAWI A, saat menjadi pembicara dalam kegiatan Dza ‘Izza Inteleksia pada Rabu, 30 September 2026. Didampingi Ustazah Adinda Neila, S.Si., Zia membagikan pengalamannya dalam menulis sekaligus mengajak para santri melihat salah satu musuh terbesar lahirnya sebuah gagasan: kebiasaan menunda.
Bagi Zia, menulis bukan sesuatu yang baru. Ia telah menyukai aktivitas tersebut sejak duduk di bangku SMP. Ketertarikannya itu kemudian berkembang menjadi karya yang lebih nyata. Salah satu puisinya masuk dalam buku Antologi Puisi Aksara Jiwa, yang dikatapengantari oleh Prof. Dr. Samsiady, M.Hum., Guru Besar Sastra Indonesia Universitas Bengkulu.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari cara Zia memandang proses kreatif. Sebuah tulisan tidak selalu lahir dalam keadaan sempurna. Ia justru perlu dilahirkan terlebih dahulu agar memiliki kesempatan untuk diperbaiki.

Ketika Ide Kalah oleh Kebiasaan Menunda
Dalam pemaparannya, Zia memperkenalkan istilah Greatest Killer of Ideas, yakni procrastination atau kebiasaan menunda.
Gagasan yang bagus, menurut pesan yang ia sampaikan, tidak otomatis menjadi sebuah karya. Di antara gagasan dan karya terdapat satu pekerjaan sederhana sekaligus menentukan: memulai.
Sering kali seseorang sudah memiliki ide, tetapi terlalu lama menunggu waktu yang tepat, suasana yang tepat, atau hasil yang dianggap sempurna. Akibatnya, gagasan tetap berada di kepala tanpa pernah berubah menjadi sesuatu yang dapat dibaca, dinilai, dan dikembangkan.
Zia merumuskan prinsip itu dengan kalimat sederhana:
“Make it exist first, you can make it better later,” katanya.
Ada tahap ketika sebuah karya memang perlu dinilai dan diperbaiki. Namun, sebelum sampai pada tahap tersebut, karya itu harus terlebih dahulu ada. Karena itu, Zia kembali menegaskan:
“A messy execution today is far more valuable than a perfect idea rotting in your head,” ujarnya.
Sebuah tulisan yang masih berantakan masih memiliki kemungkinan untuk diperbaiki. Sebaliknya, gagasan yang tidak pernah diwujudkan tidak memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi karya.
Melawan Prokrastinasi dari Hal-Hal Kecil
Setelah mengidentifikasi masalah, Zia kemudian membagikan beberapa cara yang ia sebut sebagai trick to kill procrastination.
Cara pertama adalah amati, tiru, modifikasi. Bagi seorang penulis yang sedang belajar, melihat karya orang lain dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana sebuah tulisan dibangun. Dari sana, seseorang dapat belajar, mencoba, kemudian menemukan bentuk dan suara tulisannya sendiri.
Cara kedua adalah memulai dari sesuatu yang kecil. Zia menyarankan latihan menulis selama lima menit. Bukan berapa panjang tulisan yang dihasilkan yang menjadi perhatian utama, melainkan keberanian untuk membuka halaman dan mulai menuliskan sesuatu.
Lima menit mungkin terasa singkat. Namun, dalam proses melawan kebiasaan menunda, lima menit dapat menjadi jarak antara niat dan tindakan.
Setelah tulisan mulai terbentuk, barulah masuk tahap berikutnya: memperbaiki dan menyempurnakannya.
Urutannya menjadi sederhana: mulai, tulis, lalu perbaiki. Dengan cara itu, kesempurnaan tidak lagi ditempatkan sebagai syarat untuk memulai. Kesempurnaan justru menjadi bagian dari proses setelah tulisan berhasil dilahirkan.
Dari Halaman Kosong Menjadi Sebuah Kemungkinan
Pengalaman Zia sebagai penulis muda memperlihatkan bahwa perjalanan sebuah karya dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: kesediaan untuk menulis meskipun hasil pertama belum bagus.
Pesan itu kemudian ia padatkan dalam satu kalimat:
“A bad draft can be edited, a blank page can not,” ucapnya.
Kalimat tersebut merangkum seluruh gagasan yang ia sampaikan. Draf yang buruk masih dapat diperbaiki. Kalimat yang belum tepat dapat disusun kembali. Paragraf yang terasa berantakan dapat diedit. Bahkan sebuah tulisan yang belum menemukan bentuk terbaiknya masih memiliki kemungkinan untuk berkembang.
Yang jauh lebih sulit diperbaiki adalah sesuatu yang tidak pernah dimulai. Di ruang Dza ‘Izza Inteleksia, pengalaman Zia akhirnya tidak hanya berbicara tentang teknik menulis. Ia berbicara tentang keberanian untuk memberi jalan kepada sebuah gagasan agar menjadi nyata.
